3A

3A
19



Keyla berjalan menuju parkiran, hari ini dia datang ke sekolah naik mobil sendiri, gadis itu berniat jalan-jalan sebelum pulang. Jika dengan mang Udin Keyla tidak bebas, dan mang Udin selalu melapor apapun yang Keyla lakukan pada Bunda nya.


Keyla melajukan mobil nya, dia ingin pergi ke tempat yang menarik, gadis itu pergi sesuai keinginannya hatinya, dia hanya ingin bersenang-senang.


Tiba-tiba mobil Keyla berhenti di tepi jalan, sepertinya kesialan selalu datang padanya disaat dia ingin bersenang-senang.


Keyla ingin kembali menjalankan mobilnya tapi nihil mobil nya sama sekali tidak bisa di nyalakan, seperti nya dia harus membeli mobil baru.


Keyla turun dan mencoba mencari tahu masalahnya, Keyla tersenyum kecut menatap mesin mobil, dia sama sekali tak mengerti hal seperti ini.


Keyla kembali ke kursi dan berniat untuk meminta bantuan pada mang Udin, seperti nya acara jalan-jalan nya gagal.


Tapi lagi dan lagi dia harus sial, bisa-bisanya hp nya mati di saat-saat seperti ini, sangat menyebalkan.


"Aakkhh, gini banget hidup gue." pikir Keyla, gadis itu berdiri disamping mobilnya berharap bertemu dengan seseorang yang dia kenal.


20 menit berlalu tapi tak ada satupun bantuan yang datang, Keyla menyerah. Dia benar-benar haus dan butuh minum sekarang.


"Kenapa?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Keyla menatap ke arah belakang. Tunggu, dia seperti mengenal orang itu.


"Aksara?!" pekik Keyla.


"Baguslah kalo Lo kenal, Lo jauh lebih ceria di banding waktu itu." ucap Aksara, lelaki itu beralih menatap seragam Keyla, Keyla panik dan menutup dada nya.


Aksara tersenyum melihat reaksi Keyla yang sudah salah paham pada nya.


"Anak SMA Dirgantara? kenapa bisa ke tempat ini?" tanya Aksara.


"Gue mau jalan-jalan tapi mobil nya malah mati." ucap Keyla, kini gadis itu juga menatap seragam yang di kenakan Aksara.


Aksara tersenyum jahil, dia menutup dada nya membuat Keyla memerah dan langsung mengalihkan pandangannya.


"Coba gue liat."


"Lo sendiri, kenapa ada disini?" tanya Keyla.


"Gue anak SMA Dewantara." Aksara memeriksa mesin mobil Keyla, dia mematung saat melihat begitu banyak tali-tali yang dia tak tau namanya.


"Tunggu bentar, gue minta bantuan teman gue." Aksara mengeluarkan hp nya berniat menelpon seseorang.


"Eh jangan, gue takut ngerepotin." tolak Keyla.


"Santai aja." Aksara terlihat sedang mengobrol dengan seseorang, selang beberapa menit akhirnya dia selesai berbicara dan kembali mendekat ke arah Keyla.


"Teman gue bakal perbaikan mobil lo, sambil nunggu mereka perbaiki lo ikut gue ke markas." ucap Aksara.


"Eh? markas? ah.. ga usah gue nunggu disini aja." Keyla panik, dia takut jika Aksara sedang menjebaknya dan berakhir di bunuh oleh lelaki itu, Keyla tidak akan bisa meminta tolong jika sudah berada di kandang nya.


"Tenang aja, gue ga bakal ngelukai lo." ucap Aksara yang seperti mengerti isi pikiran Keyla.


"Kalo terjadi apa-apa, lo bisa nelpon siapapun pake hp gue." Aksara mengeluarkan hp nya dan menyerahkan nya pada Keyla menyuruh gadis itu untuk berjaga-jaga.


Keyla menggeleng dengan cepat, dia dapat melihat keseriusan pada mata Aksara, seperti nya lelaki di depan nya tidak sejahat Alaskar.


5 menit berlalu akhirnya dua orang lelaki dengan seragam yang sama dengan Aksara datang, mereka tersenyum ramah pada Keyla.


"Ini mobil nya?" tanya Lintang, salah satu dari dua orang itu.


"Iya, jangan ngecewain gue." ucap Aksara sambil menepuk pundak Lintang, Lintang mengangguk dan mulai memperhatikan mesin.


Aksara berjalan ke arah motornya, dia menatap Keyla menyuruh gadis itu untuk naik.


Keyla hanya menurut dan menaiki motor milik Aksara.


Keyla masih berdiam, dia menatap takut pada markas Aksara yang terbilang cukup mengerikan lebih ngeri dari rumah hantu yang sempat dia datangin dengan Angkasa, aih Keyla rasanya ingin tertawa mengingat itu.


"Kenapa? ayo masuk." ajak Aksara.


Keyla tak bergeming membuat Aksara tersenyum, gadis itu benar-benar bisa di tebak hanya dengan melihat wajahnya.


"Sini pegang tangan gue, gue jamin ga bakal ada yang berani ngelukai lo." ucap Aksara.


Keyla tanpa pikir panjang langsung menggandeng tangan Aksara, mereka berdua masuk dan di sambut dengan teman-teman Aksara, bisa dilihat karna mereka menggunakan seragam yang sama.


"Sialan ternyata banyak banget." pikir Keyla, nyalinya benar-benar menciut melihat jumlah orang yang ada di markas ini.


"Siapa?" tanya Raka mewakili teman-teman nya.


Aksara melirik ke arah Keyla, dia juga tidak tau bagaimana menjelaskan nya, disebut teman juga bukan.


"Ah gue tau, jangan bilang cewe baru lo." teriak Riski, ucapan lelaki itu berhasil membuat yang lain heboh.


"Semacam kak Zidan." pikir Keyla.


"Diam!" ajaib, dalam sedetik semua diam.


"Anak SMA Dirgantara? kenapa Lo bawa ke sini?" tanya Raka sambil menatap tajam ke arah Keyla.


Keyla menunduk, emang apa yang salah jika dia anak SMA Dirgantara?


"Ck lo buat dia takut." ucap Aksara.


"Hahaha, sans aja gue emang suka natap orang gitu. Tapi lo tenang aja gue ga bakal ngapa-ngapain lo, apalagi ada di bego ini disamping lo." ucap Raka sambil melirik ke arah Aksara.


Keyla bernafas lega, ternyata teman-teman Alaskar tidak seburuk itu. Tapi dia masih ada satu pertanyaan.


"Kenapa sama SMA Dirgantara?" tanya Keyla.


Semua saling tatap, wajah mereka berubah dalam sekejap. Apa Keyla salah bertanya seperti itu?


"SMA Dirgantara dan SMA Dewantara adalah musuh, bukan semua murid hanya geng-geng yang ada di kedua sekolah." jelas Raka.


"Maksudnya?" Keyla benar-benar tak mengerti apa yang di maksud dengan Raka, geng apa? dari sekolahnya? eh tunggu!


"Maksudnya geng kalian ini dengan geng Medusa?" tanya Keyla.


Raka mengangguk,


"Kami benci anak SMA Dirgantara terutama Alaskar! tapi lo tenang aja, selagi lo bukan mata-mata nyawa lo bakal tetap aman." ucap Raka.


Plak..


Aksara menabok lelaki itu.


"Ck drama lo buruk banget, berani lo ngebunuh orang keluar dari tempat ini dengan luka disekujur tubuh." ancam Aksara.


Keyla menatap Aksara dengan dahi berkerut.


"Kenapa kalian ga mau bunuh orang?" tanya Keyla.


"Walaupun gue cowo brengsek, tapi gue juga manusia yang punya hati, sekali pun mereka membunuh salah satu anak buah gue, gue ga bakal balas mereka." jelas Aksara.


"Emang ga dendam?"


"Kalo pun gue dendam, apa dengan cara ngebunuh seseorang itu bisa mengembalikan sesuatu yang sudah berlalu? Awalnya gue emang mikir gitu, tapi sekarang gue sadar cara balas dendam yang sebenarnya bukan seperti itu." jelas Aksara.


Keyla tertegun dengan ucapan Aksara, seperti nya lelaki itu memiliki masa lalu yang pahit dan berujung menjadi dendam.