
Keyla dan ketiga gadis lain nya duduk dipinggir lapangan, mereka sedang menonton aksi Dinda yang sedang membully anak kelas X.
"Kalo gue jadi cewe itu, udah gue siram muka kak Dinda pake es yang dia pegang." ucap Senja menggebu-gebu.
"Gini nih kalo tolol nya di pelihara, kalo dia nyiram yang ada masalah sama kak Dinda makin besar, kaya ga tau kak Dinda aja." ucap Kyra sambil memakan kuaci yang dia beli di kantin.
"Emang guru disini kagak marah apa?" tanya Keyla, di banding yang lain Keyla lebih kuno atau tidak tau menahu tentang sekolah ini, gadis itu benar-benar tak peduli dengan apa yang terjadi di sekolah ini, ya walau kadang kepo.
"Marah lah, tapi mereka udah cape ngehukum kak Dinda, hari ini di hukum besoknya bikin masalah lagi." jelas Kyra.
"Kenapa ga di keluarin aja yak? meresahkan banget orang nya." ucap Fely.
"Ga ada yang tau soal itu, padahal banyak murid yang protes soal itu tapi guru-guru dengan tegas menolak, kayanya ada yang disembunyikan sekolah tentang kak Dinda." Jelas Kyra.
"Ko lo tau banget sih?" tanya Senja sambil menatap Kyra.
"Gue masuk gc ghibah sekolah, kalian mau masuk? nanti gue bilang sama admin nya." tawar Kyra.
Secara serentak ketiga gadis itu menolak, walupun mereka juga kepo tapi mereka enggan untuk masuk ke gc non faedah seperti itu.
Tiba-tiba Rindu dan Gio datang sambil membawa banyak cemilan, keempat gadis itu menatap Rindu dengan pandangan curiga.
"Hayoloh habis ngapain kalian, kok bisa bareng." tanya Senja sambil tersenyum jahil.
Rindu menggeleng.
"Ga ngapa-ngapain, tadi pas mau sekolah gue ketemu sama Gio jadi dia nawarin tumpangan, daripada gue telat mending gue terima aja." jelas Rindu, gadis itu kemudian membagikan cemilan yang dia bawa kepada yang lain.
"Terus nih cemilan lo yang beli?" tanya Kyra sambil diam-diam menukar cemilannya dengan milik Senja.
"Gio yang beli." jawab Rindu.
Semua menatap Gio, lelaki itu hanya diam sambil memandang Senja. Senja yang sadar di perhatikan langsung mengambil cermin kecil yang berada di saku nya.
"Kenapa Lo liatin gue? ada belek?" tanya Senja.
"Em... lo suka coklat?" tanya Gio.
"Ha? oh suka." jawab Senja santai.
Gio mengambil coklat yang berada di saku celananya, dan menyerahkan nya pada Senja.
Senja terkejut dengan pemberian Gio yang tiba-tiba, sedangkan yang lain hanya senyam senyum melihat tingkah kedua nya.
"Duh gimana ya? bukannya gue mau nolak, tapi gue lagi diet jadi ga bisa makan yang manis-manis." ucap Senja tak enak.
Wajah Gio berubah masam, Senja semakin merasa bersalah. Dia berpikir dan kemudian mengambil coklat itu.
"Oke gue ambil deh, nah sekarang ini coklat udah punya gue kan? nih Rin buat lo." ucap Senja sambil menyerahkan coklat ke arah Rindu, Senja sangat ingat jika Rindu begitu bucin terhadap coklat.
"Gila lo Senja, Gio beliin buat lo malah ngasih ke gue." ucap Rindu sambil menolak, jujur saja dia sebenarnya sangat ingin coklat.
"Tapi gue ga bisa makan, daripada mubazir." ucap Senja.
Rindu menatap Gio meminta persetujuan, Gio mengangguk dengan berat hati.
"Ish Lo tuh ya, yaudah sini tar gajian gue ganti." ucap Rindu, gadis itu mengambil coklat yang berada di tangan Senja dan menyimpan nya di saku.
"Ga usah, gaji lo mending disimpan daripada buat ganti coklat, gue bisa ko beli coklat sendiri." ucap Senja.
Rindu menendang kaki Senja kesal, gadis itu. Bisa-bisanya berbicara tanpa peduli perasaan orang lain.
Gio menatap Rindu.
"Lo suka coklat?"
Rindu hanya mengangguk, dia masih menatap tajam ke arah Senja yang hanya cengengesan.
Tiba-tiba pandangan mereka semua teralihkan saat tiba-tiba Rinai datang untuk memberhentikan acara membully Dinda.
"Apa peduli lo? bukannya Lo senang gue masuk bk?" ucap Dinda.
Rinai tersenyum lembut, dia tidak ingin bertengkar dengan Dinda, dia hanya ingin Dinda sadar dan berhenti melakukan kekacauan.
Rinai memerintah gadis yang berada disampingnya untuk pergi ke kelas, setelah gadis itu pergi Rinai juga berniat pergi.
Tiba-tiba Dinda mendorong tubuh Rinai membuat gadis itu terjatuh dengan menyedihkan.
Dinda mematung saat melihat Alaskar yang berdiri tepat di belakang gadis itu, dia menunduk dengan takut.
"Kalo bukan karna sekolah, mungkin lo udah dikeluarkan." ucap Alaskar santai namun mampu membuat Dinda ketakutan, Alaskar memang tidak pernah begitu marah sampai menghancurkan barang, karna sifat dingin nya sudah mengerikan.
Alaskar mengulurkan tangannya guna membantu Rinai, tapi gadis itu menolak dan memilih berdiri dengan tenaga nya sendiri.
"Dinda pergilah." ucap Rinai saat melihat wajah Dinda yang takut.
Dinda menatap tajam ke arah Rinai, dan kemudian berlalu pergi meninggalkan lapangan. Rinai juga pergi setelah mengucapkan makasih pada Alaskar, kini hanya lelaki itu yang berada di lapangan.
"Ga seru ah, gitu doang." ucap Senja dengan wajah kecewanya.
"Lo mulai kerja hari ini?" tanya Keyla sambil menatap Rindu.
Rindu mengangguk, kemudian gadis itu menatap ke arah Senja.
"Lo ga mau kerja juga? semalam Gio minta gue buat nanyain itu." ucap Rindu.
Senja menatap Gio dan beralih menatap Rindu.
"Ngapain gue kerja? gue mau tidur aja di rumah." ucap Senja.
"Heh Gio, gue titip teman gue ya. Awas aja sampai lecet gue tendang lo." ucap Keyla.
"Sans."
Tiba-tiba Zidan dan kedua temannya ikut duduk untuk bergabung dengan Keyla and circle, mereka saling tatap karna bingung.
Semesta mendekat ke arah Rindu, lelaki itu mengambil coklat yang berada di saku Rindu.
"Dari siapa?" tanya Semesta.
"Gue." jawab Gio.
"Eh?"
Rindu menatap Gio dengan dahi berkerut, bukannya itu dari Senja? ya walaupun memang awalnya dari lelaki itu.
Semesta memberi isyarat kepada Bintang, Bintang yang peka langsung melempar coklat yang sama seperti yang di beri Gio, lelaki itu menukar coklat Gio dengan miliknya, Dia berjalan ke arah Gio dan meletakkan coklat itu di tangannya.
"Dimakan." bisik Semesta pada Rindu dan menjauh di ikuti kedua temannya.
Rindu mematung, dia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
"Cieee." teriak Senja berhasil membuyarkan lamunan Rindu.
"Kaya nya kak Semesta suka sama lo deh." ucap Senja heboh.
"Apaan dah, ga berkelas banget ngasih coklat nya." protes Kyra.
Rindu hanya diam sambil menatap coklat itu, dia tersenyum kecil tanpa disadari teman-teman nya.
Gio menatap coklat di tangannya, dia menghela nafas dan berdiri berniat membuang coklat itu, namun dengan cepat Rindu merebut coklat itu.
"Jangan di buang, sayang." ucap Rindu.
Teman-temannya terdiam mendengar ucapan Rindu yang bisa membuat orang lain salah paham, Gio hanya diam dan menatap Rindu.