
Keyla mulai menjalani kehidupan normal, tak ada masalah yang menghampiri nya, bahkan Alaskar menghilang setelah kejadian itu. Namun bukannya bahagia Keyla justru curiga, dia takut setelah ini akan ada masalah besar.
Keyla menatap pantulan dirinya di cermin, dia juga membasuh wajahnya berkali-kali. Keyla merasa tak tenang dan gelisah semenjak pagi tadi, dia bahkan tak fokus pada pelajaran.
Keyla menarik nafas panjang, dia melangkah keluar dari toilet. Saat ingin melewati lorong dia tak sengaja mendengar percakapan seseorang, awalnya dia tak peduli tapi saat orang itu menyebut nama Alaskar Keyla berhenti dan menguping, jujur saja dia juga penasaran kenapa Alaskar menghilang begitu saja.
"Gimana keadaan Alaskar?" tanya Zidan sambil meminum air mineral ditangannya.
"Parah, dia benar-benar dihabisi sama si ban*sat" jawab Bintang yang terlihat emosi, lelaki itu bahkan mengepalkan tangannya hingga memerah.
"Setau gue Alaskar ga selemah itu.." ucap Zidan lirih. Walaupun Zidan dikenal tak waras, tapi jika itu sudah menyangkut sahabatnya maka jiwa gila nya akan menghilang.
"Dia di jebak."
Keyla terbelalak, dari percakapan kedua orang itu dapat disimpulkan bahwa Alaskar sedang dalam keadaan tak bagus, apalagi melihat Bintang yang terlihat sangat emosi.
"Mau ketemu Alaskar?"
Keyla membalikkan badannya, dia menatap ragu pada Semesta. Dia sebenarnya sangat ingin melihat keadaan Alaskar tapi dia takut jika kehadiran nya justru membuat Alaskar marah.
"Apa boleh?" gumam Keyla yang didengar Semesta, lelaki itu tersenyum singkat.
"Kenapa? kalian lagi ada masalah?" tanya Semesta yang langsung mendapat gelengan dari Keyla, memang benar mereka tak sedang bertengkar kan?
"Yakin ga mau liat Alaskar? dia lagi sakit." sambung Semesta.
"Anterin ya?" ucap Keyla sedikit memohon, Semesta mengangguk.
"Loh ngapain lo berdua?" tanya Zidan yang lebih dulu menyadari kehadiran dua manusia gaib itu.
"Hari ini ga usah ke RS, Keyla mau kesana." ucap Semesta tanpa menjawab pertanyaan Zidan.
"Oke, gue juga mau ngurus sesuatu." Zidan mengangguk membenarkan ucapan Bintang. Semesta mengangkat sebelah alisnya, lelaki itu kemudian menatap tajam sahabat itu.
"Jangan gegabah, gue ga mau ngurus tiga orang sekaligus." ucap Semesta yang kemudian berlalu pergi, Keyla ikut pergi karna tak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
0~0~0
Keyla menatap lirih pada seseorang didepannya yang sedang berbaring dengan luka di sekujur tubuh, cowo yang sering membuat Keyla marah ternyata juga bisa menjadi selemah ini. Keyla masuk sendiri ke ruang rawat inap karna Semesta sudah pulang, cowo itu hanya mengantar karna sedang sibuk.
"Jangan natap gue dengan tatapan kasian." perlahan Alaskar membuka matanya, wajah tenang tadi dalam sekejap berubah menjadi datar.
"Terus? gue harus natap lo dengan tatapan ngejek gitu?? lo tuh ya, sakit aja banyak mau." omel Keyla, ingin sekali dia menampar wajah tampan Alaskar itu karna kesal.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Alaskar yang tak menghiraukan ocehan Keyla.
"Menurut lo?"
"Minimal bawa sesuatu." sindir Alaskar yang tak melihat Keyla membawa apapun selain tas sekolah.
"Tuh kan banyak mau, emang lo ga dikasih makan apa sama dokter? yang pakai bpjs aja dikasih." wajah Keyla sudah berubah menjadi masam, dia menyesal sudah khawatir dengan makhluk tak tau diri seperti Alaskar.
"Bersyukur dikit kek gue mau jenguk lo." gumam Keyla. Alaskar tersenyum, namun setelah nya meringis karna luka nya seperti tertarik ketika senyum.
"Bosen, makanan rumah sakit ga ada rasa nya." adu Alaskar, lelaki itu cemberut mengingat rasa makanan yang dia makan selama di rumah sakit.
"Makanya jadi cowo jangan songong, digebukin kan." ucap Keyla. Alaskar cemberut saat Keyla malah menyalahkan dirinya, padahal Alaskar lah yang menjadi korban.
"Bukan songong, mereka aja yang iri sama ketampanan gue. Makanya muka gue di bikin penyok gini biar mereka ga tersaingi." ucap Alaskar sambil memegang wajahnya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Yayaya, yaudah lo mau apa? biar gue beliin." Alaskar terlihat berpikir dan kemudian tersenyum, Keyla menatap curiga pada lelaki didepannya ini, dia sangat yakin jawaban Alaskar pasti diluar nalar.
"Gue udah kenyang, besok aja. Sebelum lo ke sekolah mampir dulu ke sini, bawain gue makanan, tapi makanannya harus lo yang masak sendiri, jangan terlalu asin ya, pokoknya yang enak." oceh Alaskar.
"Cerewet banget sih, lagian gue bukan babu lo!" ucap Keyla tajam. Harusnya tadi dia tak perlu khawatir, Keyla melupakan fakta bahwa yang sakit adalah Alaskar, si cowo gila.
"Masa lo tega liat gue menderita gini?" ucap Alaskar dengan nada menyedihkan seperti anak kecil yang tersakiti, dia bahkan melupakan sifat dingin dan datar dirinya.
"Iya iya, jangan bikin ekspresi gitu, geli gue liatnya." ucap Keyla sambil mengalihkan pandangannya, bisa-bisa dia tanpa sadar melakukan hal gila.
"Key..."
"Apa?"
"Keyla."
"Apa?!"
"Keylaa."
"Apa sih?!"
"Kenapa baru nyari gue sekarang? padahal gue udah ngilang beberapa hari." tanya Alaskar menatap tepat pada manik Keyla, tak ada tatapan dingin yang biasa Alaskar keluarkan hanya tatapan lemah dan hangat.
"...."
"Ternyata lo ga anggap ucapan gue waktu di atap." sambung Alaskar, ada sedikit kekecewaan dari nada bicaranya.
"kenapa? kenapa lo suka gue?" tanya Keyla, dari awal Keyla sudah kepikiran hal ini, bohong jika dia tak menganggap ucapan Alaskar.
"Kalo gue jawab ga tau?" Keyla mengerutkan keningnya.
"Berarti lo ga suka gue."
"Emang harus ada alasan buat suka sama seseorang? ga kan?" Keyla terdiam, benar juga. Jika ada alasan bukankah itu sama saja seperti kagum untuk hal tertentu?
"Gue tau sulit bagi lo buat percaya, apalagi dilihat dari perlakuan gue selama ini. Tapi, gue benaran suka sama lo, jujur gue juga bingung. Padahal setau gue, gue suka sama Rinai, tapi waktu lo hadir gue mulai ragu sama diri gue sendiri. Gue ragu kalo rasa suka yang selama ini gue rasain ternyata cuma sekedar rasa kasian."
Keyla diam. Dia bingung harus menjawab apa, tapi mendengar pengakuan Alaskar yang tulus membuat hati Keyla sedikit luluh. Tapi untuk membuka hati, Keyla benar-benar tak siap, dia takut. Takut jika Alaskar tak serius, dan hanya ingin memanfaatkan dirinya.
Keduanya terdiam, Alaskar bahkan tak lagi mengeluarkan suara, cowo itu menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang berkecamuk.
...*****...
...Keyla...
...Senja...
......Rindu......
...Fely...
...Kyra...
...Rinai...
...Dinda...