3A

3A
02



2 hari berlalu, tibalah hari terakhir MOS. Keyla sengaja datang pagi-pagi sekali agar tidak di hukum, Keyla juga males untuk berhadapan dengan wakil ketos itu.


Karna datang terlalu pagi alhasil hanya ada beberapa murid di sekolah salah satunya Keyla, bosen menunggu Keyla berjalan menuju taman sekolah, di taman benar-benar sejuk dan tenang, tidak ada murid yang pergi ke taman semua memilih pergi ke kelas masing-masing. anw mereka udah dapat kelas masing-masing, Keyla sekelas sama Senja dan Rindu di X MIPA 1, sedangkan Kyra dan Fely di X MIPA 2.


"Enak banget tenang gini, hanya ada gue." ucap Keyla sambil menutup matanya menikmati angin pagi yang sejuk.


"Gue juga ada disini." Angkasa berjalan menuju Keyla dan duduk di samping gadis itu.


"E-eh, kak ketos." dengan spontan Keyla berdiri dan menunduk, jangan heran jika Keyla terlalu berlebihan, dia memang sangat suka melebih-lebihkan sesuatu.


Angkasa menaikkan sebelah alisnya, dan kemudian tersenyum tipis.


"Gadis aneh." gumam Angkasa, walaupun cukup pelan Keyla dapat mendengar nya karna di sana benar-benar hening.


"Enak aja, itu tuh tanda nya sopan." gerutu Keyla kesal karna di sebut aneh.


"Gue liat akhir-akhir ini Lo datang pagi-pagi, takut sama Alaskar?" Angkasa mengalihkan topik karna dia tak suka berdebat dengan seorang gadis.


"Ga tuh." Keyla kembali duduk di samping Angkasa, dia mencari posisi enak untuk memejamkan matanya sebentar, Keyla tak terbiasa bangun pagi jadi dia benar-benar mengantuk sekarang.


"Sini, nyender aja di bahu gue." karna tak juga mendapat respon dari Keyla, Angkasa menarik tangan Keyla untuk menyandar di bahunya.


"Eh? ga usah." Keyla berniat menjauh, namun tangannya sudah terlanjur di genggam Angkasa.


"Tidur aja kalo ngantuk, nanti gue bangunin kalo udah bel." Angkasa melepas genggaman nya dan beralih mengusap pelan kepala Keyla.


Untung saja Keyla tidak mudah baper, jadi dia biasa saja dan memilih untuk tidur, toh bukan dia yang mau melainkan tawaran dari ketos, daripada menolak lebih baik dia ikuti saja apalagi dia juga sudah benar-benar mengantuk.


20 menit berlalu, tiba-tiba Alaskar datang dengan wajah datarnya. Dia menatap Keyla sebentar dan kemudian beralih menatap Angkasa.


"Yang lain nyari lo, ada persiapan yang mereka ga ngerti." ucap Alaskar sambil sesekali melirik ke arah Keyla.


"Kenapa ga Lo aja? gadis ini lagi tidur, ga mungkin kalo gue bangunin." Angkasa terus menatap Keyla dari samping, dia tak memperdulikan Alaskar yang berada di depan nya.


"Tinggal lo bangunin, bentar lagi bel kalo lo lupa." Alaskar ingin berlalu pergi, namun ucapan Angkasa membuat nya berhenti.


"Oke, tapi Lo gantiin gue. Masih ada 5 menit jadi biarkan gadis ini tidur di bahu lo." Angkasa kini menatap Alaskar, dia sudah tau kalo Alaskar akan menolak.


"Oke." Angkasa tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Alaskar, benar-benar suatu keajaiban seorang Alaskar mau meminjamkan bahunya, biasanya jangankan meninjamkan bahu sebentar untuk di sentuh saja dia tak sudi.


"Lo serius?"


"Hanya 5 menit."


Kini kedua lelaki itu bertukar posisi, Jujur saja Angkasa masih ragu untuk meninggalkan Keyla hanya berdua dengan Alaskar, namun mau bagaimana lagi dia juga harus mempersiapkan acara terakhir MOS.


"Ck, nyusahin." Alaskar hanya berdiam diri layaknya patung, pandangan nya lurus ke depan, hanya keheningan yang ada di taman itu.


Tak terasa bel berbunyi, menandakan semua murid harus segera berkumpul di lapangan.


"Bangun."


Tak ada jawaban, bahkan Keyla sama sekali tak bergerak membuat Alaskar kesal. Dengan santainya lelaki itu mendorong tubuh Keyla membuat gadis itu jatuh dan terbangun dengan wajah menahan sakit.


"Sialan, kan lo-" Keyla tak melanjutkan ucapannya, dia terkejut karna bukan Angkasa yang ada dihadapannya sekarang melainkan orang yang paling dia hindari.


"Iler lo netes, jelek banget kalo tidur." setelah mengatakan itu Alaskar berlalu pergi.


Keyla benar-benar kesal, ingin sekali dia menendang lelaki gila itu, tapi itu tidak mungkin.


...*****...


"Ini hari terakhir kalian MOS, jadi hari ini kita hanya mengadakan permain untuk setiap kelas bakal ada perwakilan, tapi sebelum itu kalian bakal di kasih tantangan untuk meminta tanda tangan OSIS, nanti OSIS bakal bagikan kertas dan di kertas itu terdapat nama-nama anggota OSIS, kalian wajib meminta tanda tangan mereka." ucap Angkasa, dan kemudian memerintahkan anak-anak OSIS untuk membagikan kertas yang dia maksud.


Keyla tak memperhatikan Angkasa, dia menatap penuh dendam pada orang yang tepat berada di samping Angkasa, ya Alaskar.


Disisi lain Alaskar menatap lirih ke arah seorang gadis yang sedang tersenyum ke semua orang, sudah satu tahun dia menyukai gadis itu, dia mulai menyukai gadis itu tepat pada pertama kali MOS, bisa dibilang cinta pandangan pertama.


Setelah mendapat kertas itu, semua murid berhamburan untuk meminta tanda tangan, berbeda dengan Keyla yang masih berdiam diri menatap kerta itu dengan dari berkerut.


"Aih gue ga kenal satupun diantara mereka, Senja sama Rindu mana lagi." Keyla menatap sekeliling, dan senyuman terukir di wajahnya.


"Dia pasti ada disalah satu nama ini." Keyla berjalan menuju orang yang menurutnya dapat membantu nya.


"Hai kak." sapa Keyla dengan senyum andalannya.


"Ish ga usah di bahas lagi, gue mau minta tanda tangan kak bukan ngebahas cowo aneh itu." Senyum manis yang awalnya terukir berubah menjadi senyum jengkel.


"Oh hahaha sorry, tapi emang nama gue ada disana?" tanya Angkasa dengan senyum jahilnya.


"Eh ga ada ya? terus ini yang mana aja?" tanya Keyla.


"Dia polos apa bego sih? yakali ga ada nama gue." batin Angkasa, padahal di belakang Keyla terdapat banyak murid yang sedang menunggu untuk minta tanda tangan Angkasa.


"Bercanda, sini." Setelah selesai menadatangani, Angkasa menggeser badan Keyla memberi celah untuk murid lain.


"Kak, Rinai itu yang mana?" tanya Keyla yang sibuk membaca nama-nama yang tertulis di kertas.


"Gadis yang duduk di bawah pohon itu, namanya Rinai. Samperin aja dia baik." Setelah tau Rinai yang mana, Keyla pamit untuk menghampiri Rinai.


"Permisi ka, em.. benar kak Rinai?" Keyla terihat canggung, wajah gadis ini terlihat dingin saat sedang fokus membaca.


"Ah iya? iya aku Rinai ada apa?" tanya Rinai sambil tersenyum, sangat berbeda dengan tadi Rinai terlihat lebih manis dan cantik.


"Kalo gue jadi cowo mungkin gue bakal suka sama dia." batin Keyla.


"Hei?"


"Eh maaf, aku mau minta tanda tangan." ucap Keyla berusaha tersenyum, dia benar-benar kagum dengan kecantikan Rinai.


"Oh, sini."


Rinai terus mengajak Keyla untuk berbicara, dari membahas tentang dirinya yang dijadikan primadona sekolah, sampai kejadian-kejadian kecil di sekolah, tak butuh waktu lama mereka bisa akrab.


"Pantes saja dia jadi primadona sekolah, dia tipe mudah akrab dan baik ke semua orang." gumam Keyla.


"Tapi kaya nya posisi gue bakal di gantikan nih." ucap Rinai sambil terkekeh.


Keyla bingung dengan ucapan Rinai, siapa yang bisa menggantikan kecantikan Rinai? jika Rinai saja sudah cantik bak bidadari bagaimana dengan orang itu.


"Siapa?"


"Nanti juga Lo bakal tau, mau gue temenin nyari anak OSIS yang lain ga?" tawar Rinai.


Kesempatan emas, Keyla tak ingin menyia-nyiakan itu, dengan antusias Keyla mengangguk.


20 menit berlalu akhirnya Keyla mendapat semua tanda tangan anggota OSIS kecuali satu, Alaskar.


"Udah semua?" tanya Rinai.


"Tinggal satu, kak Alaskar." jawab Keyla.


"Lo liat cowo yang berdiri disana? itu Alaskar, maaf gue ga bisa bantu Lo kali ini, gue permisi ya." Rinai pergi tanpa menunggu jawaban dari Keyla.


Keyla terlihat bingung dengan gelagat Rinai, namun pandangan nya beralih menatap cowo yang tadi di tunjuk oleh Rinai.


"HAH! ga-ga masa dia sih, pasti kak Rinai salah orang." Keyla berjalan menuju bangku yang berada dipinggir lapangan, dia masih tak percaya jika cowo yang paling dia benci adalah orang terakhir yang harus dia minta tanda tangani.


"Tapi waktu gue di hukum, kak Angkasa juga nyebut dia Alaskar, terus Fely sama yang lain juga bilang gitu. Aih gue males banget kalo harus minta tanda tangan dia." Keyla benar-benar frustasi, dia lebih memilih di beri 100 soal matematika daripada harus meminta tanda tangan cowo aneh itu.


"Kalo mau minta tanda tangan bilang, jangan kaya orang bodoh yang diam aja."


Keyla berbalik untuk melihat siapa yang berbicara pada nya, lagi dan lagi Keyla terkejut dengan kedatangan Alaskar.


"Aih, apa dia dengar yang gue omongin tadi ya?" gumam Keyla.


"Gue mau ngasih tanda tangan, asal lo mau turutin satu keinginan gua." ucap Alaskar.


"Najis, gue juga ga butuh tanda tangan lo." ucap Keyla.


"Yakin? Lo bakal jadi satu-satunya yang dapat tanda tangan gue."


"Ga peduli." Keyla benar-benar benci dengan cowo itu, apalagi jika harus menuruti keinginan cowo gila yang saat ini berdiri dibelakang nya.


Dengan santai Alaskar mengambil kertas itu dan menandatangani nya.


"Gue udah tanda tangan, nanti gue kasih tau keinginan gue." Alaskar berlalu pergi ke tengah lapangan karna memang sebentar lagi waktu untuk minta tanda tangan sudah habis.


"AAAAA, dasar cowo gila! Lo pikir gue mau? jangan harap!" Baru hari ketiga dia di sekolah ini, tapi sudah harus naik darah.