3A

3A
12



1 Bulan berlalu dengan baik, tidak ada masalah yang datang. Kini kelima gadis itu berkumpul di belakang sekolah sambil membicarakan sesuatu.


"Ini uang yang gue dapat." ucap Senja sambil mengeluarkan amplop coklat, itu adalah hasil kerja keras nya selama 1 bulan di tak tahu berapa isi di dalamnya, gadis itu tidak berniat membukanya dan membiarkan Rindu yang membuka dan menghitung, kemudian Senja kembali menyerahkan amplop coklat yang berbeda.


"Ini dari ortu gue, gue ga tau mereka isi berapa."


Yang lain melakukan hal yang sama, kini di depan mereka sudah terlihat 9 amplop.


"Gimana habis pulang sekolah kita mampir ke rumah sakit sebentar? biar ke sana nya pake mobil gue." tawar Kyra, semua mengangguk menyetujui.


Ibu Rindu sudah lama di operasi, Rindu meminta dokter untuk mengoperasi ibu nya terlebih dahulu sebelum membayar, tak mungkin jika Rina harus menunggu lebih lama, untung saja dokter itu mau.


"Yaudah yuk ke kelas, udah mau bel." ajak Fely.


"Kalian duluan aja, gue mau ke toilet bentar." ucap Keyla dan berjalan menuju arah yang berbeda.


Keyla membasuh wajah nya, akhir-akhir ini dia sangat lelah dan kekurangan tidur.


Keyla menatap dirinya dipantulan cermin, mata panda nya semakin besar, wajahnya pun sudah tidak terawat, dia menghela nafas, mungkin sekarang dia harus lebih mandiri dan membiasakan diri, dia bukan Keyla kecil yang manja lagi, dia sudah menjadi Keyla yang besar dan harus berpikir dewasa.


Suara pintu terbuka, Keyla melirik ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Ah, ternyata Rinai.


Keyla tak menghiraukan kedatangan gadis itu, dia berniat pergi namun di cegah Rinai.


"Key, gue dengar hubungan Lo sama Angkasa dekat banget ya?" tanya Rinai.


Keyla mengangguk tanpa menatap Rinai, entah kenapa Keyla tidak menyukai Rinai, padahal gadis itu tidak melakukan kesalahan apapun.


"Wah, kalian emang cocok banget." ucap Rinai.


"...."


Pintu kembali terbuka menampakkan Dinda yang menatap kedua wanita itu sinis.


Dia berjalan mendekat, dan berhenti di depan Keyla.


"Hati-hati Key, cewe ini diam-diam bahaya." ucap Dinda, dia melirik ke arah Rinai dan berlalu untuk mencuci tangan nya.


Keyla menatap Rinai, dan kemudian berjalan menjauh dari toilet. Keyla bingung kenapa Dinda tak marah padanya malah justru membenci Rinai. Apa yang membuat gadis itu membenci Rinai?


Keyla sangat males masuk ke kelas, mood dia hancur saat berpapasan dengan Rinai. Kenapa Keyla seperti membenci gadis itu? padahal sebelumnya Keyla sangat mengagumi Rinai.


Keyla berjalan ke taman, setidaknya dengan tidur bisa mengembalikan mood nya.


Keyla bernafas lega karna tak ada orang di taman itu, mungkin hari ini dia sedikit beruntung.


Keyla duduk di bawah pohon, dia memejamkan matanya berharap bisa tidur. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat, huh~ baru saja dia ingin tertidur tenang malah ada yang mengganggu.


Keyla menatap Rinai, terlihat gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dia mendekat dan duduk di samping Keyla.


"Em.. kenapa lo kaya ngejauh dari gue? apa gue buat salah?" tanya Rinai, masih dengan senyum manisnya.


Keyla melirik dan menghembuskan nafas nya, dia juga tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.


"Maaf."


Keyla menatap Rinai, mata yang awalnya memancarkan kebahagiaan kini berubah menjadi sendu.


"Buat apa?" Akhirnya Keyla mengeluarkan suara, dia benar-benar tak tega melihat wajah sedih Rinai.


"Ga tau, gue cuma mau minta maaf kalo gue ada salah." ucap Rinai, dia kembali tersenyum.


Tiba-tiba Alaskar datang.


"Disini ternyata, sana ke ruang OSIS ada rapat." ucap Alaskar sambil menatap Rinai.


"Oh oke, gue duluan ya Key." Keyla hanya mengangguk tak berniat menjawab.


Rinai tak langsung pergi, dia menunggu Alaskar dan berniat pergi bersama.


Keyla bernafas lega saat kedua human itu pergi, akhirnya dia bisa tidur dengan tenang, tapi entah kenapa ada sedikit rasa sakit saat Alaskar kembali dingin padanya.


Keyla tak terlalu memikirkan itu dia ingin tidur, hanya itu.


-


Bel istirahat berbunyi Keyla belum juga kembali membuat keempat gadis yang berada di depan kelas terlihat khawatir.


"Keyla ko ga ada ya? perasaan dia cuma bilang mau ke toilet." tanya Fely.


"Ya mana gue tau Fely, gue juga bingung." jawab Senja.


"Kali aja dia tidur di uks." ucap Kyra, mereka melangkah untuk pergi ke uks.


"Keyla yuhuuu." teriak Senja.


"Heh, jangan teriak-teriak juga kali, kalo ada yang sakit gimana?" tanya Rindu.


"Hehehe maaf." ucap Senja sambil menampilkan jari telunjuk dan jari tengahnya nya membentuk v.


Mereka mencari ke setiap sudut ruangan tapi tak melihat Keyla sama sekali.


"Ga ada weh, gimana?" tanya Kyra.


"Tempat lain yang biasa Keyla kunjungi dimana?" tanya Rindu.


"Gue ga tau Keyla punya tempat favorit di sekolah ini." jawab Fely.


"Yaudah kita tunggu aja di kantin, ga mungkin tuh anak ga laper kan." ucap Senja.


Ketiga gadis itu mengangguk, mereka melangkah menuju kantin, saat sampai di kantin terlihat Keyla sedang duduk di salah satu meja sambil memakan cilok.


Keempat gadis itu terbelalak, bisa-bisanya dia santai di kantin di saat mereka sibuk mencari keberadaan gadis itu.


"Keyla!! Lo minta di tabok ya?" teriak Senja kesal.


Keyla berbalik, dia melambaikan tangannya dan tersenyum polos, gadis itu tak tau jika keempat temannya sedang mengkhawatirkan dirinya.


...*****...


Kelima gadis cantik berjalan di koridor rumah sakit dipimpin seorang gadis cantik yang terlihat lebih tinggi dari yang lain.


"Dimana ruangan nya Rindu, perasaan daritadi ga nyampe-nyampe." ucap Senja kesal, dia sudah beberapa kali mengeluh.


"Bentar lagi."


Rindu berhenti di ruangan nomor 109, ruangan sederhana tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Kelima gadis itu berjalan masuk, terlihat seorang wanita tidak terlalu tua sedang berbaring lemah.


Mereka tidak dapat menahan tangis nya saat melihat Rina dengan wajah pucat nya berbaring di ranjang rumah sakit, Rindu yang melihat teman-teman nya ingin menangis mencoba menghibur mereka, jujur saja dia juga ingin menangis apalagi saat teringat senyuman sang ibu dan wajah kesal ibunya saat memarahi bapanya, tapi dia harus kuat! dia sudah berjanji untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Rindu, Lo kuat banget ya? kalo gue ada di posisi Lo mungkin gue bakal bunuh diri." ucap Fely.


Rindu tersenyum.


"Kalo gue bunuh diri, siapa yang jaga ibu gue? lagian bunuh diri cuma memperburuk keadaan."


Keyla menatap mata Rindu, memang mata tidak pernah berbohong. Terlihat jelas di mata itu ada luka dan kesedihan, Rindu memang pintar menutupi nya dengan senyuman.


"Apa harapan terakhir bapa lo Rin?" tanya Senja, Keyla langsung menyenggol lengan gadis itu.


"Bapa pengen liat gue sukses dan punya suami yang sayang sama gue, bapa juga mau punya seorang cucu." jawab Rindu dengan senyuman nya, dia menatap ibu nya.


"Ibu juga mengharapkan hal yang sama, ibu dan bapa selalu kompak kalo soal bikin anaknya malu, tapi gue bangga walau hidup sederhana mereka ga pernah ngeluh. Senyuman mereka adalah penutup luka, gue yakin ada banyak rahasia yang ga gue tau. Mereka ga mau liat gue sedih, makanya mereka selalu terlihat bahagia walau kadang gue tanpa sengaja dengar mereka nangis tengah malam."


"Lo juga gitu Rin, senyum Lo itu memang tulus tapi di balik senyum itu ada luka. Lo selalu terlihat bahagia agar bisa membuat orang disekitar Lo juga bahagia, Lo selalu bisa menyelesaikan masalah orang lain dan melupakan masalah Lo sendiri." ucap Keyla.


Rindu cukup terkejut dengan ucapan Keyla yang memang benar adanya, dia tak menyangka gadis itu pintar melihat hati seseorang hanya dari perilaku.