
Keyla duduk di meja makan menunggu kedua orangtuanya yang tak kunjung turun, benar-benar menyebalkan, pasti mereka sedang bermesraan di kamar. pikir Keyla.
Selang 5 menit akhirnya kedua orangtuanya nya turun, Keyla menatap kedua nya tajam.
"Pagi anak bunda yang cantik." Sapa Ratna sambil duduk di seberang Keyla, ayahnya juga melakukan hal yang sama.
Keyla tak menjawab dia hanya diam sambil memakan roti, tiba-tiba satu ide terlintas di pikiran nya, seringai muncul di wajah Keyla.
"Keyla ga mau punya adik." ucap Keyla. Dan sesuai yang di pikirkan Keyla kedua orang tuanya langsung terbatuk-batuk dan kemudian berdehem untuk terlihat tenang.
"Kenapa? punya adik seru tau." ucap Ratna sambil melirik ke arah Rendi.
"Kalo kamu punya adik, kamu bisa nyuruh-nyuruh dia nanti." sambung Rendi, Ratna mengangguk menyetujui.
"Ga mau, awas aja kalo Keyla punya adik, Keyla bakal pergi dari rumah." ucap Keyla.
Ratna dan Rendi diam, mereka takut jika yang dikatakan Keyla benar-benar terjadi nanti. Bagaimana pun Keyla adalah anak kesayangan mereka.
"Ehem, Angkasa mana? udah lama ga main kesini, suruh napa dia ke sini." ucap Ratna mencoba mengalihkan topik.
"Ga tau, Ayah. ayah hari ini kerja ga? anter Keyla ke sekolah ya? masa Keyla sama mang Udin terus sih." ucap Keyla, Keyla memang lebih manja kepada ayahnya ketimbang pada bundanya, kalo dengan bundanya dia lebih sering berantem.
"Bunda juga mau ikut, Bahan-bahan di dapur udah pada habis." ucap Ratna sambil menggandeng tangan suaminya.
Rendi tersenyum kecut, dia tau maksudnya dari istri nya. Memang ingin membeli bahan dapur tapi sekalian shopping.
"Yaudah, ayo berangkat nanti Keyla telat." ucap Rendi sambil menggandeng kedua wanita cantiknya.
"Bun, jangan lupa baju Keyla ya." ucap Keyla saat sudah masuk mobil.
"Tenang sayang, itu mah udah pasti." ucap Ratna sambil mengedipkan mata.
Memang kalo soal menghabiskan uang Rendi, kedua wanita itu pasti akur.
"Nasib-nasib." gumam Rendi sambil menjalankan mobilnya.
-
Keyla berjalan menuju kelasnya dengan bersenandung kecil, akhirnya dia punya baju baru.
Keyla berhenti di depan kelas saat melihat Angkasa yang tersenyum ke arah nya, ya lelaki itu berada di ambang pintu.
"Senang banget Lo hari ini." ucap Angkasa sambil mendekati Keyla.
"Ga tuh, biasa aja." jawab Keyla acuh.
"Masa?" Angkasa mendekat kan wajahnya untuk menatap Keyla lebih dekat, Keyla mengalihkan perhatian nya dengan pipi memerah.
"Masih pagi udah bucin aja Lo berdua, ga ingat umur." Ucap Gio saat melewati mereka.
"HEH LO PIKIR GUE UDAH TUA APA!!" teriak Keyla.
"Biarin aja, anggap angin lewat." ucap Angkasa menenangkan Keyla.
"Ayo ke taman." Ajak Angkasa.
"Berdua?" tanya Keyla.
"Ga, ajak yang lain biar rame." jawab Angkasa santai.
Keyla mengangguk, dia berjalan masuk ke kelas. Ternyata di kelas sudah banyak murid yang datang tak terkecuali teman-teman nya.
"Gabut ga?" tanya Keyla sambil meletakkan tas nya.
Mereka hanya mengangguk, dan menatap Keyla dengan dahi berkerut.
"Ayo ke taman." Ajak Keyla.
"Ga mau berduaan sama Angkasa?" tanya Gio sambil tersenyum sinis.
Keyla menabok kepala Gio membuat lelaki itu mengeluh, Gio lebih menyebalkan akhir-akhir ini.
"Ayo gas, gue mau ngambil kenangan juga." ucap Senja bersemangat.
"Kenangan apa?" tanya Rindu.
7 remaja SMA itu berjalan menuju taman, saat melewati lapangan mereka menjadi pusat perhatian, karna Angkasa ada disana.
"Ck, gue yakin banyak yang ghibahin kita." ucap Kyra sambil menatap tajam anak-anak lain yang menatap mereka sinis sambil sesekali berbisik.
"Lumayan nambah pahala." jawab Senja acuh.
Saat sampai di taman mereka mencari posisi duduk masing-masing, seperti biasa Keyla lebih memilih duduk di bawah pohon di ikuti Angkasa yang duduk disamping gadis itu.
Senja mengeluarkan kamera yang dibelikan mami nya kemarin, dia mulai memotret setiap sudut taman hingga wajah konyol teman-teman, entah saat bicara atau bahkan sedang berdiam.
"Ini seriusan ke taman cuma diam-diam aja?" tanya Rindu.
"Ga, gue ngajak Lo semua kesini buat dengerin gue nyanyi, tapi lagu ini khusus buat seseorang kalian cuma penonton." ucap Angkasa, dia mengambil gitar yang berada di belakang pohon, entah sejak kapan gitar itu berada di sana.
"Heh! enak banget ngomong kaya ga ada dosa, plis deh kak, masa iya cuma jadi penonton." ucap Senja tak terima.
"Lo juga mau di nyanyiin?" tanya Gio.
"Ayo babe, nyanyi buat gue." ucap Senja diiringi tawa nya, dia merasa jijik setelah mengucapkan kata 'babe'.
Angkasa mulai mengatur kunci, dia ingin menyanyikan lagu Ardiansyah Martin - Bukan Salah jodoh, Semua diam membiarkan Angkasa menyanyi.
"Kulihat senyum manismu...
Ada cinta yang kurasa menyapa hati ini...
Tak ingin ku menunggu...
Jadikanlah aku, oh, cinta...
Kekasih pilihan di hatimu..." lirik demi lirik terdengar, semua cukup terkejut dengan kemampuan menyanyi Angkasa, ternyata lelaki itu jago menyanyi.
Tak lupa Senja memotret nya, sepertinya dia harus lebih sering mengambil gambar sekolah ini untuk dijadikan kenangan saat dia sudah lulus.
Angkasa akhirnya menyelesaikan lirik terakhir nya, dia tersenyum tulus ke arah Keyla. Jujur saja Senja sangat iri dengan gadis itu, dia selalu dikelilingi cowo yang tulus padanya, sedangkan dia? dia bahkan ragu ada cowo yang suka pada dirinya.
"Oke sekarang giliran gue, sini gitar nya." ucap Gio.
Semua mata kini tertuju pada cowo itu, Gio tersenyum dan menatap Senja.
"Lagu ini kayanya emang di buat untuk Lo, jadi gue nyanyiin ini sepenuh hati." ucap Gio, Senja menatap Gio dengan dahi berkerut, sedangkan yang lain senyum-senyum sendiri melihat dua orang yang kini menjadi pusat perhatian.
Gio mengambil hp nya, dia menghapal sedikit lirik yang dia belum hapal, lagu yang di bawakan Gio adalah Melukis Senja - Budi Doremi.
"Aku mengerti...
Perjalanan hidup yang kini kau lalui...
Ku berharap...
Meski berat, kau tak merasa sendiri.." Lagi dan lagi mereka terkejut, ternyata kedua lelaki itu memiliki suara yang indah. Sungguh ini suatu kelebihan tersembunyi, mungkin kah hanya mereka yang tau?
"Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia..." ucap Gio mengakhiri nyanyian nya.
Semua bertepuk tangan, Gio menatap Senja yang hanya diam saja, apa Senja tak menyukai lagu itu?
"Emang sih ada nama gue, tapi ko gue ngerasa lagu itu bukan buat gue." ucap Senja.
Yang lain saling pandang tak mengerti yang di maksud dengan Senja, tiba-tiba dering telpon berbunyi semua memeriksa hp mereka masing-masing.
"Ah sorry, gue angkat telpon dulu." ucap Rindu sambil menjauh dari taman.
Kurang lebih 20 menit akhirnya Rindu kembali, em.. apa yang terjadi? wajah gadis itu berubah menjadi sendu.
"Guys, izinin gue ya. Gue harus pulang cepat hari ini." ucap Rindu masih mencoba untuk senyum.
"Kenapa?" tanya Gio yang lebih dulu menyadari perubahan pada Rindu.
"Gapapa ko, gue duluan ya." ucap Rindu, Perlahan dia mulai menjauh meninggalkan taman.
"Ada yang aneh." gumam Gio.