3A

3A
16



Keyla bersiap untuk jalan-jalan malam di sekitar rumahnya, mumpung kedua orangtuanya sedang ada acara untuk para pembisnis, jika bunda dan ayahnya tau Keyla pasti di ceramahin hingga pagi, yang di bahas hanyalah 'Anak gadis jangan keluar malam, kalo terjadi apa-apa gimana' hanya itu yang terus di ulang.


Untungnya waktu dia berkerja part time orangtuanya mau mengerti dan membolehkan nya dengan syarat tidak boleh pergi kemana-mana setelah pulang kerja, daripada tidak sama sekali akhirnya Keyla mengiyakan.


Setelah selesai dia turun kebawah, di lihat nya bibi yang biasa membantu membersihkan rumah, dia memikirkan alasan apa yang bisa membuat bibi itu percaya dan tidak membuka mulut di hadapan bunda dan ayahnya.


"Eh non, mau kemana?" tanya bibi.


"Eh anu bi, Keyla mau nyusul bunda sama ayah. iya mau nyusul." ucap Keyla gugup.


Bibi menatap Keyla dengan dahi berkerut, sangat langka jika nona muda nya ini mau menyusul, apalagi itu adalah acara para pembisnis.


"Key di paksa sama Bunda bi, kalo Keyla ga datang uang jajan Key bakal di potong." ucap Keyla sambil tersenyum menutupi rasa gugupnya.


"Owlah gitu toh, yasudah hati-hati ya non." ucap bibi.


Keyla bernafas lega, dia menyalami bibi dan berlalu pergi. Keyla sudah menganggap bibi sebagai bunda ke 2 nya, karna bibi itu sudah berkerja di keluarga nya saat dia masih kecil, jadi tak heran jika Keyla sangat dekat dengan bibi.


Keyla tak membawa mobilnya, dia berniat berjalan kaki untuk mencari cemilan dan menikmati angin malam, kapan lagi dia bisa melakukan itu.


Awalnya niat Keyla memang hanya jalan-jalan di sekitar rumahnya, namun langkah nya seperti membawa gadis itu untuk berjalan lebih jauh, Keyla berhenti di depan toko yang menjual martabak manis, dia sedang ingin memakan yang manis-manis sekarang.


Keyla memesan 3 martabak manis dengan rasa yang berbeda, setelah selesai dia membayar dan melanjutkan perjalanan.


Keyla terus berjalan tanpa tujuan, tiba-tiba langkahnya berhenti di gang sepi, Keyla terkejut karna dia tak tau ada tempat seperti ini.


Dia merogoh sakunya untuk mencari hp, namun dia baru sadar jika hp nya tertinggal di kamar, Keyla ingin menangis saat itu karna gang itu benar-benar sepi dan gelap.


"Wah, ada makanan baru nih." ucap seseorang dari arah depan, Keyla tidak dapat melihat nya karna cahaya yang minim, namun dapat di pastikan jika orang itu bukanlah orang yang baik.


Keyla terus berjalan mundur, ingin lari juga percuma karna dia pasti tertangkap apalagi dia tidak tau tempat ini, jika dia malah justru masuk ke markas mereka akan lebih bahaya.


Langkah orang itu semakin mendekat, Keyla semakin panik dan mencoba mundur lebih cepat namun dia tak melihat jika ada batu yang cukup besar alhasil Keyla terjatuh.


Kini Keyla dapat melihat wajah cowo yang tadi bicara, bukan hanya sendiri ternyata juga ada kedua temannya disisi kanan dan kiri, Keyla benar-benar takut dan hanya bisa pasrah dia menutup matanya sambil menangis.


"Ck, berani nya sama cewe." teriak seseorang dari arah belakang, Keyla membuka mata nya dan menatap ke belakang, mungkin orang ini bukan orang jahat.


Entah dapat keberanian dari mana, Keyla berlari dan bersembunyi di balik tubuh lelaki itu, ah bau mint. Keyla menatap punggung lelaki itu, dia berharap jika lelaki itu tidak berniat jahat.


"Siapa lo, ini kekuasaan gue." teriak salah satu dari tiga lelaki itu.


"Bacot." Lelaki itu berjalan maju, dan memukul ketiga preman itu tanpa ampun, Keyla menganga tak percaya. Hei 3 vs 1, tapi kenapa preman itu justru kalah dan lelaki itu sama sekali tidak terluka.


Tiba-tiba pikiran buruk melintas di otaknya, melihat tenaga lelaki itu lebih mengerikan dari ketiga preman itu membuat Keyla semakin takut.


Keyla berniat kabur namun tangannya lebih dulu di pegang.


"Ampun, plis jangan bunuh gue." ucap Keyla sambil berlutut di depan lelaki itu.


Lelaki itu ikut berjongkok dan menatap lekat wajah gadis yang berada di depan nya, dia tersenyum kecil melihat air mata yang menetes.


"Berdiri, gue bukan psikopat." ucap lelaki itu.


Keyla mengangguk dan berdiri, dia masih tak berani menatap lelaki itu walau nada bicara lelaki itu tidak semengerikan Alaskar, aih kenapa dia jadi memikirkan Alaskar.


"Lo gapapa? apa ada yang sakit?"


Kini Keyla berani menatap lelaki itu, seperti nya lelaki ini tidak buruk.


"Ga, makasih." ucap Keyla dengan senyum andalannya.


Keyla kembali menunduk, dia menangis membayangkan ucapan lelaki itu.


"Maaf, siapa nama lo?" tanya lelaki itu sambil menghapus air mata Keyla.


"Keyla." gumam Keyla.


"Oke, gue Aksara. Dimana rumah lo? biar gue antar." ucap Aksara sambil menatap Keyla.


"Ah ga usah, gue bisa sendiri." tolak Keyla, dia tidak bodoh mau ikut dengan sembarang orang walaupun lelaki itu sudah menolong nya.


"Jangan takut, motor gue ga jauh dari sini." ucap lelaki itu sambil berjalan mendahului Keyla.


Keyla tak bergerak dia hanya menatap lelaki itu, Aksara yang menyadari langsung berbalik.


"Oke kalo lo ga mau, tapi hati-hati karna disini markas para preman itu, gue duluan." pamit Aksara.


Keyla terbelalak dan langsung berlari menyusul Akasara, benar juga. Jika dia tidak ikut dia mungkin akan tersesat dan tidak akan kembali.


"Em... mohon bantuannya." ucap Keyla sambil membungkuk.


Aksara tersenyum dan mengangguk, dia menyalakan motornya, Keyla dengan antusias naik ke motor besar Aksara.


"Dimana rumah lo?" tanya Aksara.


"Dijalan ***." jawab Keyla.


Aksara mengangguk dan menjalankan motornya, 10 menit berlalu akhirnya mereka sampai di depan rumah Keyla, Keyla bernafas lega, Keyla menyesal karna berpikir buruk tentang lelaki itu.


"Makasih banyak." Keyla mengeluarkan 1 martabak manis yang tadi dia beli dan menyerahkan nya kepada Aksara.


"Hahahaha." Aksara tertawa melihat wajah polos Keyla.


"Lo ngasih gue martabak manis?" tanya nya.


Keyla mengangguk.


"Kenapa?" tanya Keyla.


"Oh gapapa, sini. Makasih." ucap Aksara setelah selesai dengan tawanya.


Keyla mengangguk, Aksara menyalakan motornya dan tersenyum sebelum akhirnya menjauh.


Tiba-tiba terlihat mobil orangtua nya mendekat, Keyla panik namun tetap berusaha tenang.


"Ngapain disini?" tanya Ratna sambil menatap curiga ke arah Keyla.


"Oh ini Keyla habis ngambil pesanan, habis Key lapar." ucap Keyla sambil menunjuk martabak manis yang dia beli.


Ratna mengangguk, dan berjalan masuk sambil menggandeng tangan gadis itu.


"Keyla mau ke kamar dulu, Keyla cape eh maksudnya mau tidur besok kan harus sekolah." ucap Keyla.


Ratna tak curiga sama sekali, dia hanya mengangguk saja.


Di kamar Keyla langsung duduk di samping kasur, dia menatap martabak manis itu.


"Aksara? gue bakal selalu ingat nama itu." gumam Keyla dan berjalan menuju kamar mandi.