You Are The Apple Of My Eye

You Are The Apple Of My Eye
009. HIDUP SEPERTI SEBUAH PERAHU



Setiap malam selalu tampak kelam dengan warna hitam yang terlihat begitu pekat di mata. Desir angin malam yang bagai memutar di satu arah seakan-akan mengurung semua kesedihan yang ada dalam diri. Napas yang berhembus selalu terasa berat dengan menyesakan dada, meski sudah tak ada apapun lagi yang terdapat di dalam rongganya.


Semua hal itu membuat waktu seolah berpusat pada satu jiwa yang hampa, jiwa yang terperangkap dalam sebuah bayangan seseorang yang menghilang tanpa pernah bisa kembali.


Segala hal berubah menjadi tak berbentuk dan transparan. Sulit dimengerti dan tidak mudah untuk dicapai. Meski selalu mencoba untuk melalui semua itu dan menjadikannya sebagai masa lalu namun tentu saja, dunia yang terasa hampa membuat siapapun selalu kalah pada kenyataan.


"Semua hal yang terjadi di dalam hidup untuk sebuah alasan. Waktu terus berjalan begitu juga dengan hidup kita. Jika kita terus saja berhenti dan merenungi segala hal yang sudah terjadi tanpa melakukan apapun, itu sama saja dengan kita menghukum diri. Padahal apapun yang terjadi belum tentu semuanya salah kita. Begitu juga yang terjadi sekarang ini padamu, Tan."


Kepala pria yang terduduk dengan diam terangkat melihat pada sang kakak sepupu—Evelyn. Tampak raut wajah datar dingin tanpa ekspresi apapun yang diperlihatkan setelah mendengar perkataan wanita yang selalu berbicara dengan teratur dan nada yang tenang tersebut.


Untuk beberapa waktu, Tristan yang duduk di kursi meja makan mengobrol dengan kakak sepupunya yang baru saja datang dari kampung halaman sang ayah. Sejam yang lalu mereka baru sampai ke rumah orang tua pria itu setelah menjemput Evelyn dari bandara.


Hanya ada mereka berdua di meja makan dengan duduk berhadapan. Sedangkan sang adik—Sasha berada di kamar orang tuanya bersama Deborah—ibunya.


"Siapapun nggak ada yang mau hal buruk menimpa hidupnya. Tapi jika itu semua sudah terjadi kita hanya bisa melanjutkan hidup kita dengan lebih baik." Lanjut Evelyn. "Hadiah terindah untuk seseorang yang sudah tiada adalah sebuah keikhlasan dari orang-orang yang dicintainya."


Tristan bangkit berdiri dari duduknya. Baginya, semua hal yang dikatakan padanya tersebut hanya kata-kata mutiara biasa yang terdengar dari orang-orang yang tidak pernah berada di posisinya. Memang begitulah sifat pria itu, selalu pesimis pada segala hal. Untuknya siapapun tidak akan bisa merasakan apa yang dirinya rasakan setelah kehilangan hatinya.


"Dek, dengar dulu..."


Seruan Evelyn bagai tiupan angin lalu buat Tristan yang langsung melangkah pergi menuju pintu keluar.


Saat yang bersamaan Sasha dan sang ibu keluar dari kamar dan melihat pada pria yang sudah berjalan menyusuri ruang tamu dan keluar dari rumah itu.


Rasa kesedihan bercampur marah yang saat ini Tristan rasakan begitu membuat dirinya terasa sesak ketika memasuki mobil miliknya. Sebelum menjalankan mobilnya, pria itu sempat mendengus dengan sebuah tawa kecil untuk meluapkan rasa muak yang ia rasakan pada segalanya, keadaan, perasaan, dan kondisi dirinya saat ini.


Pria itu berniat kembali pulang ke rumahnya dan masuk ke dalam lubang terdalam yang sudah ia ciptakan sedemikian rupa agar tak ada satupun orang yang bisa mengatakan apapun pada dirinya.


Apa yang didengar oleh Tristan dari semua orang yang selama ini mencoba untuk mengerti dirinya, hanya terdengar seperti kicauan burung di pagi hari. Seolah memberikan sebuah harapan namun semuanya menghilang setelah mereka terbang tanpa memedulikan orang yang mendengarnya.


Perjalanan kembali ke rumahnya terasa begitu lambat. Hari yang akan gelap membuat perasaan Tristan semakin tak menentu. Itu membuatnya teringat sebuah kenangan pada wanita yang sudah meninggalkannya dengan duka terdalam.


Suara wanita yang ia rindukan terdengar dibenaknya ketika Tristan kembali mengingat momen kebersamaan mereka dulu. Sebuah pembicaraan sederhana di penghujung hari di dalam mobil.


Hidup ini seperti sebuah perahu. Kita harus menyusuri sebuah sungai yang panjang tanpa tahu di mana ujungnya. Kadang kita berjalan dengan santai ketika sungai mengalir dengan tenang, kadang arus deras membuat kita terombang-ambing di tengah sungai. Bahkan ketika gelombang besar yang terus datang membuat kita tidak bisa melarikan diri, ditambah dengan terjangan air terjun. Kita terhantam keras ke bawah aliran yang lebih rendah.


Namun perahu yang mampu menyeimbangkan keadaannya dengan kondisi sungai, ia tidak akan tenggelam atau pun hancur. Ia akan tetap berjalan menghadapi segala situasi dan kondisi arus sungai hingga akhirnya perahu itu tiba di sebuah dermaga.


"Bang!"


Kesadaran Tristan pulih dengan tersentak ketika teriakan Sasha yang memukul pintu kamarnya dari luar membangunkannya.


Napas pria itu masih terengah-engah karena dirinya memang sensitif ketika sedang tidur. Suara sekecil apapun akan membuatnya terbangun. Bahkan sering dirinya terbangun dengan rasa kaget meski tak ada suara apapun yang terdengar.


Sejenak Tristan yang masih duduk di atas tempat tidurnya mengumpulkan kesadarannya dengan mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Di liriknya ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya duduk di atas tempat tidur. Saat ini hampir pukul sembilan malam.


"Berisik!!" Seru Tristan dengan nada membentak karena kesal agar Sasha menghentikan panggilan dan gedoran pintunya.


"Makan bang, gue beli mie ayam." Seru Sasha.


Perut Tristan memang terasa lapar. Setelah sampai dari rumah orang tuanya, dirinya langsung segera merebahkan tubuh ke atas tempat tidur sambil membayangkan kembali saat-saat ia masih bersama dengan wanita yang dicintainya hingga dirinya terlelap.


Ucapan Sasha yang menyuruhnya makan dengan makanan kesukaan Tristan, membuat pria itu tidak mungkin menolaknya. Dengan segera ia beranjak turun dari tempat tidur dan membuka pintu.


"Kenapa lo masih di sini?" Tanya Tristan pada Sasha yang ternyata masih berada di depan pintu kamarnya.


Sasha yang awalnya mengarahkan pandangan ke layar ponsel menengadah melihat pada kakak laki-lakinya yang menatap heran pada dirinya.


"Gw udah bilang lo di rumah papa aja. Kenapa malah ke sini?" Ujar Tristan.


"Kan motornya masih di sini." Jawab Sasha dengan santainya, matanya kembali ke layar ponsel.


Tristan lupa mengenai hal tersebut. Motor yang diberikan padanya untuk Sasha masih ada di rumahnya. Hal itu yang membuat adik perempuan Tristan kembali ke rumah pria itu.


Dengan pandangan ke layar ponsel, Sasha berjalan mengarah ke tangga dan segera turun. Tristan yang mau makan mie ayam, tentu saja mengikuti langkah adiknya itu dengan melangkah perlahan di belakang karena Sasha berjalan dengan tatapan ke layar ponsel.


"Buruan jalan!! Jangan lihat handphone dulu saat jalan naik turun tangga!!" Seru Tristan dengan kesal pada adiknya yang selang satu anak tangga. Karena saking kesalnya Tristan mendorong Sasha perlahan dengan kaki kanan.


"Sialan lo bang!!" Kesal Sasha menoleh pada Tristan yang berdiri di belakangnya.


Tidak menggubrisnya, Tristan langsung bergegas turun menerobos Sasha yang menghalangi, dan segera menuju meja dapur untuk mengambil mie ayam yang masih ada di dalam styrofoam.


"Bang, lo nggak mau ke waterpark yang baru di buka? Lumayan lho harga tiketnya lagi promo." Tanya Sasha yang duduk di sofa ruang tamu yang letaknya tidak jauh dari dapur. "Besok yuk bang ke sana."


"Bukannya udah nggak promo?" Tanya Tristan sambil berjalan ke arah ruang tamu dan duduk di sofa satu seat dengan makanan yang sudah dibawanya.


"Masa sih?" Ujar Sasha. "Tapi nggak masalah. Lo mau kan? Temanin gue bang."


"Ogah! Gue bukan anak kecil yang suka main air." Jawab Tristan tanpa berpikir.


"Ish!" Gumam Sasha menoleh pada Tristan yang menyerong darinya. "Eh, bang... Lo tau Claudia nggak? Yang rumahnya di cluster sebelah. Dia nanyain lo, minta nomer handphone. Gue kasih ya? Besok ajak ke waterpark juga aja." Sasha memperlihatkan sebuah ruang chat di ponselnya pada Tristan.


Tristan menghentikan makannya dan menoleh dengan wajah sangar pada Sasha.


"Awas aja kalau lo berani ngasih nomer gue ke siapapun!!" Ancam Tristan.


"Udah, bang." Nyengir Sasha.


...–NATZSIMO–...