
Tatapan dingin Tristan begitu tajam menatap pada Melissa, wanita yang sekitar sepuluh tahun lalu mengisi hatinya. Sangat sulit melupakan apa yang dilakukan wanita itu padanya.
Ketika Tristan berkuliah di luar negeri hampir setiap kali mereka berkomunikasi diakhiri dengan kemarahan Melissa. Wanita itu selalu menuduh Tristan berselingkuh di sana, padahal sama sekali pria itu tidak melakukannya. Bahkan kesibukan kuliahnya membuat dirinya tidak pernah terpikirkan untuk melakukan hal tersebut.
Tristan yang berkuliah di negara dengan bahasa asing yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, harus lebih berusaha mengikuti setiap mata kuliah. Karena itu dirinya selalu sibuk belajar bahasa di mana ia berkuliah ketika sedang tidak ada kelas.
Meski begitu Tristan masih memaklumi kecurigaan Melissa yang terus menuduhnya berselingkuh. Ia tahu jarak yang terbentang jauh membuat siapapun merasa ragu pada hubungan yang terjalin. Karena itu selama satu tahun dirinya menahan rasa sakit hati atas semua kata-kata buruk yang dilontarkan wanita itu padanya dulu.
Tapi semuanya berubah ketika Tristan yang kembali ke Indonesia saat libur kuliah. Kecurigaannya muncul saat Melissa menolak beberapa kali dijemput kuliah olehnya. Hingga satu waktu Tristan diberitahu oleh temannya yang bernama Daniel, kalau temannya itu pernah melihat Melissa keluar dari sebuah apartemen di Ibukota.
Tentu saja Tristan tidak percaya begitu saja. Meski begitu untuk meyakinkan hatinya, Tristan menanyakannya langsung pada Melissa. Ia bertanya mengenai siapa saja teman-teman wanita itu dan di mana mereka tinggal. Tak ada satupun yang diceritakan Melissa tinggal di sebuah apartemen.
Pria yang tidak pernah berpikiran negatif itu merasa tidak perlu memikirkan hal-hal buruk lagi mengenai Melissa. Ia hanya menganggap mungkin saja Daniel salah menduga, wanita yang dilihatnya sebenarnya bukanlah Melissa.
Akan tetapi suatu hari ketika dirinya sedang pergi bersama dengan Melissa, ponsel wanita itu berbunyi terus menerus saat mereka berada di dalam mobil. Anehnya, Melissa tidak menjawab panggilan tersebut dan memilih untuk mematikan ponselnya. Hal itu membuat Tristan merasa aneh.
Melissa hanya mengatakan kalau telepon tersebut dari orang iseng yang sudah beberapa hari ini mengerjainya. Namun jawabannya semakin membuat Tristan berpikiran curiga karena sebelumnya Melissa sama sekali tidak pernah mengatakan mengenai hal tersebut padanya.
Itu membuat Tristan merampas ponsel wanita itu, lalu menghidupkannya. Sebuah telepon langsung masuk ke ponsel tersebut. Nama yang tertera sempat membuat Tristan terkejut karena dirinya mengenal siapa pria yang menelepon kekasihnya saat itu.
"Sayang, kenapa nggak diangkat teleponnya? Kenapa juga dimatikan? Kenapa akhir-akhir ini kamu susah dihubungi? Katanya mau ke apartemen malam ini? Apa mau dijemput?" Suara seorang pria di ujung telepon yang merupakan teman Tristan saat di bangku sekolah menengah atas terdengar.
Tristan yang sebelumnya menghentikan mobil di pinggir jalan menatap pada Melissa yang terlihat panik.
"Ini gue Tristan. Apa hubungan lo dengan Lisa?" Tanya Tristan dengan nada dingin.
"Tristan? Ke—kenapa lo yang angkat? Bukannya lo ada di luar negeri? Bukannya juga lo dan Melissa udah putus?"
Mendengar perkataan temannya itu sudah menjawab semua pertanyaan Tristan saat ini. Ia memang tahu kalau temannya berkuliah di universitas yang sama dengan Melissa dan tinggal di sebuah apartemen yang dekat dengan kampus mereka. Itu berarti yang dikatakan Daniel adalah benar.
Tak ada yang dikatakan Tristan pada Melissa, ia sudah terlalu malas untuk mengatakan apapun saat itu. Dirinya yang merasa kesetiaannya tidak dihargai tidak membutuhkan alasan untuk mendengarkan perkataan Melissa.
"Tan, dengar dulu!!" Seru Melissa dengan panik ketika Tristan keluar dari mobil dan berjalan ke pintu di mana Melissa duduk.
Segera Tristan membuka pintu mobil dengan tatapan dingin pada Melissa. Pria itu ingin agar Melissa keluar dari mobilnya bahkan dari hidupnya. Untuknya semua yang dilakukan wanita itu sudah sangat keterlaluan. Bukan saja ia berkhianat namun dirinya juga seperti diolok-olok oleh kelakuannya yang terus menerus menuduh Tristan berselingkuh.
Semua itu sudah sangat lama berlalu, namun jika mengingatnya membuat Tristan merasakan sakit hati pada wanita yang berdiri dihadapannya saat ini.
Ya, meski ia merasa sudah tak ada sedikit pun perasaan pada Melissa namun rasa sakit hati itu masih bisa ia ingat. Semua itu karena selama mereka berdua berhubungan, Tristan memberikan perasaan cinta yang sangat tulus pada wanita seegois Melissa.
"Tan, kita mulai dari awal lagi ya? Keluarga kita juga sudah setuju, kan?" Ujar Melissa mencoba memegang lengan Tristan namun pria itu langsung menepisnya. "Yang lalu biarlah berlalu. Selama ini aku sangat menyesal dengan yang terjadi. Dulu aku sangat takut kehilangan kamu makanya berpikir yang nggak-nggak terus dan menuduhmu berselingkuh. Waktu itu juga aku merasa kalau kamu benar selingkuh dariku makanya aku juga melakukan hal yang sama agar aku merasa lebih baik."
Tristan menyunggingkan senyum kecut dengan tetap memancarkan tatapan dingin pada Melissa. Apa yang dikatakan wanita itu sangatlah tidak penting saat ini, bahkan juga tidak penting ketika dirinya ketahuan berselingkuh dulu.
"Menjijikkan." Gumam Tristan dalam bahasa asing di mana dirinya berkuliah dulu sehingga ia yakin Melissa tidak mengerti.
"Oke, kalau gitu kita liat aja, Tan. Kita lihat apa kamu masih bisa menolak saat papa dan mama kamu ingin kita bersama." Ancam Melissa dengan menunjukkan wajah aslinya yang sangat suka mengancam. "Kamu menuduhku selingkuh tapi kayaknya kamu juga lupa kalau kamu pun berselingkuh darinya. Kita lihat sampai kapan kamu akan terus mengingatnya. Itu nggak mungkin kalau kamu tidak bisa melupakannya. Saat dia hidup aja kamu selingkuh, apalagi sekarang saat wanita itu sudah mati?!"
Sekuat tenaga Tristan menahan dirinya agar tidak melakukan apapun untuk menghentikan ocehan Melissa. Semua perkataan tajam itu sangat menusuk perasaan Tristan. Sebuah rasa penyesalan yang memang dirinya rasakan dikatakan dengan sebuah kalimat buruk dari seorang wanita yang tergila-gila padanya.
Ingin rasanya pria itu menampar wajahnya, namun ia masih mengingat agar tidak melakukannya. Semua akan tambah buruk jika dirinya menyakiti Melissa. Wanita itu pasti akan mengadu pada orang tua Tristan dengan kata-kata mutiara yang terdengar jika ia tidak masalah mendapatkan perlakuan seperti itu darinya. Itu akan membuat Melissa tampak baik di depan Ibunya yang mudah percaya pada semua orang.
"Apapun yang kamu mau katakan, katakan aja semuanya sekarang. Tapi setelahnya cepat pergi dan jangan pernah datang lagi ke rumah ini juga ke hidup aku." Ujar Tristan.
Melissa masih mencoba memegang lengan Tristan namun pria itu tetap menepisnya juga. Sehingga mau tidak mau wanita itu beranjak keluar dan ruangan tersebut dan pergi dari rumah tersebut.
Rasa kesal yang terus Tristan tahan membuat mata pria itu berkaca-kaca karena kesedihan akan rasa rindu yang tertahan pada wanita yang dicintainya mulai menyerangnya kembali.
Melihat sosok Melissa dengan kata-kata tajam dan keegoisan yang selalu ditunjukkan wanita itu sangat jauh berbeda dari sang tunangan yang sudah pergi meninggalkan Tristan.
Wanita dengan segala kelembutan dan kebaikan yang membuat Tristan menganggap kalau wanita itu adalah bidadari dari surga. Wanita yang selalu mementingkan perasaan Tristan dan yang selalu berusaha menyenangkannya dengan segala perhatian yang diberikan padanya untuk pria seperti Tristan.
Sebuah kalimat yang sering diucapkan wanita yang dicintainya itu terngiang di telinga Tristan. Kalimat yang dulu saat mendengarnya akan membuatnya tertawa. Namun sekarang, ketika mengingatnya membuat air mata pria itu menetes.
Kamu selalu sibuk, Itan. Karena itu aku yang akan mengingatkanmu tentang semuanya. Semua hal kamu lakukan bersamaan, memikirkan ini itu, mengurus ini itu, melakukan ini itu, ditambah kamu selalu sibuk mencintaiku.
...–NATZSIMO–...