
Tristan memilih untuk duduk di sofa dengan menghidupkan YouTube dan menonton animasi anak-anak untuk mengalihkan rasa sedihnya.
Beberapa kali saat dirinya merasakan suatu kesedihan, ia akan memilih untuk menonton animasi SpongeBob, ataupun animasi balita yang ringan seperti Cocomelon dan channel YouTube anak dari Rusia, Vlad and Niki. Itu akan membuat dirinya tertawa meski lelucon yang ditampilkan tidaklah seberapa lucu.
Tontonan tersebut sebenarnya merupakan tayangan favorit dari wanita yang dicintainya. Wanita yang menyukai segala hal sederhana dan tidak serumit diri Tristan.
Pria itu sesekali tertawa dengan apa yang ditontonnya. Ia selalu kembali teringat momen ketika dirinya menonton bersama sang tunangan dulu saat menyaksikan episode dari serial tersebut.
Hingga akhirnya, terdengar suara mobil yang Tristan kenal. Ia yakin kalau Sasha sudah pulang. Sejak awal pria itu juga sudah bisa mengira kalau adiknya itu akan segera pulang untuk memenuhi permintaannya tadi di telepon.
"Bang, Lisa udah pulang?" Tanya Sasha yang langsung membuka pintu ruangan TV di mana Tristan berada. "Ada apa, Bang? Kenapa bisa dia pulang cepat?" Kali ini Sasha bertanya saat sudah menghampiri Tristan.
Sasha melihat ke atas meja di mana terdapat box makanan yang dibawa Melissa untuk Tristan. Gadis itu mendekatinya.
"Kenapa nggak dimakan?" Tanya Sasha dengan tatapan heran pada Tristan, meski kakak laki-lakinya itu tidak menoleh padanya. "Lo belum makan, Bang?" Sekali lagi Sasha bertanya meski semua pertanyaannya tidak ada yang dijawab oleh Tristan yang tetap menonton.
Dengan berdecak, Sasha duduk di sofa samping Tristan dengan mendekati box makanan yang ada di hadapannya.
"Kalau nggak mau, gue makan ya, Bang? Gue laper." Ujar Sasha langsung mengambil sumpit bawaan dari makanan Jepang tersebut. "Lo mau gue pesanin makanan? Mau makan apa, Bang?"
"Berisik banget sih?!" Kesal Tristan yang sudah tidak kuat mendengar ocehan Sasha. "Gue lagi nonton, lo ngoceh terus!! Ngapain lo pulang? Dah sana main air lagi aja!!"
Sasha meletakkan sumpit dari genggamannya dan menoleh dengan mengernyitkan dahinya. Tristan tahu adiknya itu pasti tersulut emosi karena mendengar kemarahannya.
"Lo kebangetan banget, Bang!! Gue lagi enak-enak berenang disuruh pulang, tapi malah kena omelan!! Tahu begitu mending gue berenang aja!! Ngapain juga gue nurutin omongan lo yang ngeselin begini!! Emangnya enak diomelin padahal gue sudah bela-belain pulang biar lo nggak sendirian sama Lisa!!" Seru Sasha dengan wajah tertekuk tampak marah luar biasa. "Argh, kesal gue!! Ngapain juga gue mikirin lo!!"
Setelah meluapkan rasa marahnya pada kakak laki-lakinya, Sasha keluar dari ruangan tersebut dengan membanting pintu. Rasa kekesalannya pada Tristan tidak bisa dibendung setelah mendengar perkataannya.
Bukannya merasa bersalah, Tristan malah tertawa melihat kemarahan adik perempuannya. Setiap kali dirinya membuat sang adik marah, hanya ada rasa kepuasan yang membuat Tristan menjadi terhibur. Begitu juga dengan kali ini.
Merasa kelaparan melanda dirinya, Tristan memilih memakan sisa makanan yang sudah dimakan adiknya sedikit. Ya, ini sudah hampir jam dua belas siang. Perutnya belum terisi apapun sehingga pria itu tidak bisa menahan perut yang sudah keroncongan sejak tadi.
Sehabis memakan makanannya, Tristan keluar dari ruangan tersebut dan membuka pintu kamar adiknya namun Sasha tidak ada di sana. Terdengar suara dari lantai satu, segera ia menuruni tangga untuk menghampiri adiknya. Saat ini pasti Sasha sedang bersama Evelyn.
Tristan hanya ingin bersikap biasa lagi pada Sasha agar adiknya itu tidak marah padanya lagi. Selalu seperti itu, saat ia membuat adiknya marah, ia akan tetap bersikap biasa seperti tidak terjadi apapun. Itu agar Sasha tidak marah lagi dan melupakan kemarahannya.
Namun langkah Tristan melambat saat berada di sisa lima anak tangga yang mengarah ke lantai satu. Seharusnya ia tidak turun dan berada di dalam kamarnya saja, karena sepasang mata langsung melihat kehadirannya dengan sebuah senyum tipis.
Setelah lepas dari situasi dengan Melissa yang membuat dirinya kesal sekaligus bersedih, sekarang ia juga harus menghadapi wanita lainnya yang sudah lama juga menyukainya.
Claudia, wanita yang usianya sama dengan Sasha dan tinggal di cluster sebelah berada di sofa bersama Sasha dan Evelyn. Mereka sedang mengobrol di ruang tamu namun percakapan mereka terhenti saat Tristan hadir.
"Halo, Bang." Sapa Claudia pada Tristan.
Sebagai respon sapaan tersebut, Tristan hanya menyunggingkan bibirnya.
"Apa kabar, Bang? Udah lama Clau nggak liat Abang jogging?" Ujar Claudia.
Tristan memang terbiasa jogging hampir setiap hari. Biasanya di pagi hari jika hari kerja dan saat di akhir pekan ia akan melakukannya pada sore hari. Track jogging-nya di taman perumahan tempatnya tinggal, di pinggir danau. Namun itu semua ia lakukan sebelum musibah yang menimpa dirinya.
"Lagi sibuk, belum sempat lagi." Jawab Tristan, tentunya dengan tanpa berpikir. Ia pun tahu kalau wanita itu juga mengetahui apa yang terjadi pada dirinya, sehingga pria itu merasa tidak perlu mengatakan hal yang sebenarnya.
"Yam, belanja sana. Gue mau buat makanan." Ujar Tristan.
"Males! Lo aja sana! Ngapain gue belanja buat orang yang nggak ngapa-ngapain." Jawab Sasha dengan ketus, itu menandakan adik perempuannya itu masih marah padanya.
"Kamu udah makan, Tan?" Tanya Evelyn.
"Udah kak." Ucap Tristan. "Sana dek, beli roti tawar kupas, beef dan sayur-sayuran. Gue mau buat sandwich." Tristan yang mendekati Sasha memegang pundak adiknya namun oleh sang adik ditepis.
"Bodo ah!!" Kesal Sasha.
Karena jawaban enggan dari adiknya, Tristan menahan rasa kesal dengan naik ke lantai dua. Ia segera memakai celana panjang, karena mau tidak mau dirinya akan pergi sendiri ke minimarket terdekat untuk membeli bahan membuat sandwich seperti yang dikatakannya.
Segera ia menuruni tangga kembali dan mengambil kunci mobil dari tempatnya.
"Mau belanja kamu, Tan?" Tanya Evelyn.
"Iya kak. Kakak mau nitip apa?"
"Gue nitip pocky, Bang." Sahut Sasha dengan menahan senyumnya.
Tristan hanya memberikan tatapan kesal pada adiknya itu sambil berjalan ke arah pintu keluar untuk segera ke tempat tujuannya.
"Bang, apa Clau boleh nebeng?" Seru Claudia menghentikan langkah Tristan.
Tristan yang hampir berjalan keluar dari rumah langsung menekuk wajahnya sesaat sebelum berbalik melihat ke dalam rumahnya untuk menjawab permintaan wanita yang menyukainya itu.
"Iya, Tan. Anterin Clau sekalian... Kasian kalau jalan jauh, naik GO-JEK kelamaan nunggu abangnya nanti." Seru Evelyn yang tidak mengetahui apapun mengenai Claudia yang menyukai Tristan.
Sesaat Tristan menatap Sasha yang terlihat menahan tawanya. Tristan menjadi sangat kesal namun tidak ada yang bisa ia katakan untuk menolak hal tersebut.
Akhirnya dengan terpaksa dan berat hati Tristan mengiyakan permintaan Claudia. Pria itu mengantarnya sebelum dirinya berbelanja di minimarket.
"Bang, ke minimarket dulu aja. Biar Clau bantuin belanjanya." Pinta Claudia.
Tristan sudah bisa menduga kalau akan seperti itu. Namun tidak ada niatan sama sekali dirinya pergi berbelanja bersama Claudia.
"Nggak usah. Aku belanja sendiri aja." Jawab Tristan tanpa menoleh pada Claudia.
"Bang, nanti sore gimana kalau jogging bareng di pinggir danau?" Tanya Claudia.
"Aku lagi nggak mau jogging." Jawab Tristan menolak lagi.
Tak ada yang dikatakan mereka berdua lagi hingga Tristan menghentikan mobilnya di depan rumah Claudia.
"Makasih ya, Bang. Kalau ada waktu Clau mau jalan bareng Abang." Ucap Claudia terus terang. "Abang mau kan pergi dengan Clau?"
"Sorry Clau, lebih baik nggak usah. Aku nggak mau ngasih harapan dengan jalan bareng kamu. Lebih baik kamu juga nggak usah berusaha dekat denganku." Ucap Tristan tidak kalah terus terangnya.
...–NATZSIMO–...