
Hari di mana kita bermimpi tentang hari esok. Berapa banyak ingatan yang menyakitkan yang kita lalu, namun semua itu tetap tak ada satupun diantaranya yang lebih menyakitkan dibandingkan harus menghadapi kenyataan diriku tanpamu di sisa hidup ini.
Semua menjadi begitu terasa berat dan menyakitkan. Setiap langkah yang aku lalui selalu mengingatkan diriku mengenai kenangan-kenangan bersama denganmu. Kenangan indah dan bahkan yang menyakitkan sekalipun. Semua itu menjadi tampak seperti sebuah khayalan belaka yang tidak pernah kita lalui. Semakin hari semua menjadi terasa hampa, dan penuh dengan kekelaman.
Seperti sebuah boneka hidup yang hanya melalui keseharian tanpa adanya tujuan. Itulah diriku saat ini. Kepergianmu membawa serta hati dan jiwaku, membuat duniaku runtuh seketika ke dasar kehidupan yang paling suram.
Ya, seperti sebuah remote kontrol yang mengendalikan diriku, itulah dirimu yang aku tahu. Mampu mengubah segalanya yang ada padaku, dan sekarang, kepergianmu bagaikan menekan tombol pause dengan membuat hidupku langsung terhenti seketika.
Waktu berdetak dengan lambat setiap harinya seolah mengolok-olok diriku yang terus bersembunyi dari diriku di masa lalu. Ingin rasanya aku melangkah dan menjelajahi waktu untuk kembali ke masa-masa di saat kita masih berpegangan tangan.
Namun untuk beranjak dan melihat keluarpun aku merasa enggan, semua itu karena rasa takut yang aku rasakan. Dulu, meski aku melangkah dan pergi jauh, tak ada rasa yang membuat hati ini ragu, karena kemanapun aku melangkah pergi, aku akan selalu kembali padamu.
Sayangnya semua petunjuk arahku sudah tidak ada, rumah bagi jiwa ini sudah pergi dengan membawa serta jiwaku dan meninggalkan tubuh yang tanpa arti di dalam kesendirian yang hampa.
"Kira-kira sudah sampai belum ya? Sepertinya belum. WA yang gue kirim masih centang satu." Ujar Sasha dengan pandangan mengarah pada layar ponsel. "Bang, nanti beli roti dulu ya, gue udah berasa lapar."
"Ya, gue juga laper." Jawab Tristan.
Dirinya tadi tidak menghabiskan makanannya dan hanya menyantapnya beberapa sendok lalu meninggalkannya begitu saja karena kemarahan. Jika mengingatnya ia menjadi menyesal karena sekarang perutnya sudah terasa membutuhkan asupan.
"Atau kita makan dulu aja bang ke KFC or MCD?" Tanya Sasha. "Kayaknya masih ada waktu sampai Kak Eve sampai."
"Hhmm." Jawab Tristan tanpa bersuara.
Setelah menempuh waktu hampir dua jam mereka berdua sampai di bandara. Seperti kesepakatan saat di jalan, kedua saudara tersebut masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji bergambar kakek tua.
Tristan mengantri di counter hendak memesan makanan yang akan dirinya beli bersama sang adik. Sedangkan Sasha memilih duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari tempat pemesanan makanan.
Saat ini restoran tersebut di penuhi banyak pengunjung karena waktu memang sudah menunjukkan jam makan siang.
Tristan yang sedang berdiri mengantri memfokuskan matanya pada layar ponsel yang sedang membuka sebuah aplikasi treding. Namun tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam antrian, menyela Tristan.
Karena kebiasaannya yang tidak terlalu suka berdiri berdekatan dengan orang lain, Tristan memang memberi ruang yang cukup luas di hadapannya antara dirinya dengan orang yang mengantri di depannya, hal tersebut membuat seorang pria bertubuh tambun mengisi kekosongan tersebut.
Mengetahuinya sontak Tristan yang sedang kelaparan naik pitam. Darah langsung naik ke kepalanya. Maklum saja, meski dirinya terlihat santai namun watak senggol bacok yang mengalir di darahnya menurun dari suku sang ayah.
"Apa-apaan lo?" Tanpa aba-aba pria dengan tinggi badan 178 cm tersebut menarik dan mendorong pria yang menyela antriannya.
Tentu saja semua mata langsung mengarah pada kedua pria tersebut. Begitupun dengan Sasha yang langsung beranjak dari tempatnya. Ia sudah sangat mengenal perangai sang kakak. Meski terlihat tenang, Tristan mudah tersulut emosi jika sesuatu mengganggu dirinya.
"Apa lo nggak liat semuanya pada antri, anjing?!" Tristan menghardik pria yang langsung terlihat ketakutan tersebut.
"Alesan lo, anjing!! Gue berdiri di sini kalo bukan ngantri ngapain?? Lagi bikin video klip??"
"Udah Bang." Seru Sasha memegang lengan kakak laki-lakinya yang sedang emosi. "Malu ah, jangan kayak anak kecil." Suara Sasha terdengar berbisik.
Tristan menoleh pada kehadiran adik perempuannya. Emosinya mulai teredam karena dirinya mulai sadar kalau saat ini ia menjadi pusat perhatian.
"Udah lo duduk aja, gue aja yang antri." Lanjut Sasha.
Tristan menurut, ia langsung berjalan menuju meja dengan santai meski dirinya sebenarnya merasa malu karena beberapa orang masih saja menatap padanya. Namun pria itu memilih untuk tidak menggubrisnya dan mengarahkan tatapannya ke ponsel.
"Maaf ya mas." Ujar Sasha pada pria yang mendapat amukan Tristan.
"Nggak apa-apa mbak, saya yang minta maaf karena menyela antrian." Jawab pria tadi.
Tidak berapa lama Sasha datang membawa makanan untuk dirinya dan sang kakak.
Tristan langsung mengambil minuman favoritnya Mocca Float, walaupun sebenarnya lebih tepat jika minuman tersebut merupakan minuman favorit dari sang kekasih. Pria itu tahu bagaimana wanita yang dicintainya sangat menyukai minuman dari restoran itu. Hampir setiap hari dirinya dulu mengirimkan minuman tersebut padanya melalui pesan antar.
"Cepat makan, Kak Eve udah mau keluar bandara." Seru Sasha pada Tristan yang hanya melamun sambil menyeruput minumannya.
"Yam, abis ini gue mau pulang. Lo nggak usah di rumah gue lagi." Ujar Tristan sambil merogoh saku celananya dan mengambil ponsel yang diberikan Sasha padanya. "Nih, lo aja yang pegang. Dari awal nggak ada niatan gue nulis lagi." Tristan meletakkan ponsel dari genggamannya ke meja dan menyodorkan pada Sasha.
"Kenapa Bang?" Tanya Sasha. "Gue juga ikut pulang nanti."
"Nggak usah. Lo tinggal di rumah Papa aja." Seru Tristan sambil membuka bungkusan nasi putih makanannya.
"Tapi kantor gue lebih deket dari rumah lo, Bang." Jawab Sasha. "Bisa pangkas waktu lima belas menit di perjalanan, kan lumayan, bensin juga jadi lebih irit. Motor gue juga udah butut, sering mogok. Kalau gue di rumah Papa lebih ribet karena harus berurusan dengan motor butut sebelum berangkat."
"Yaudah, motornya lo bawa aja. Anggap aja hadiah ulang tahun kemarin." Jawab Tristan dengan entengnya.
Pertengahan bulan ini adiknya tersebut memang berulang tahun dan Tristan tidak memberikan hadiah apapun bahkan mengucapkannya pun tidak. Walau sesungguhnya pria itu selalu mengingat ulang tahun seluruh anggota keluarganya, namun keadaannya saat ini membuatnya enggan untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun pada adiknya itu.
Sasha berdecak dengan wajah yang terlihat sedikit ditekuk.
"Hadiah ulang tahun ngasih bekas. Beliin yang baru dong!" Seru Sasha.
Tristan tahu kalau adiknya tidak serius mengucapkan hal tersebut padanya. Ia sangat mengenal adiknya itu yang selalu lain di mulut dan lain di hati.
...–NATZSIMO–...