
Air hujan turun ke bumi hari itu, hari di mana aku menghentikan mimpiku tentang hari esok. Matahari tidak bersinar dengan cerah seperti hari sebelumnya. Semenjak hari itu, bagiku tak ada lagi matahari yang bersinar di sepanjang hari sekarang ini. Setiap hari hanya sebuah kegelapan yang kelam, sesuatu yang membuat diri ini tidak lagi memiliki hal sebagai penyemangat hidup.
Genggaman tanganmu ketika kau hendak pergi untuk selamanya, masih begitu terasa membekas hingga saat ini. Jika saja waktu itu aku tahu kalau itu adalah kali terakhir kita bisa saling menggenggam satu sama lain, aku pasti tidak akan pernah melepaskannya.
Semua terjadi begitu sangat cepat hingga siapapun tidak akan bisa mengira. Semuanya usai seperti garis akhir sebuah pencapaian. Namun bukanlah pencapaian yang kita inginkan melainkan akhir yang pasangan manapun tidak menginginkannya.
Meski kita tak lagi bersama, hanya satu kalimat yang ingin aku sampaikan padamu. Langit malam tanpa bintang mengakhiri pertemuan kita, bukan menghentikan kisah cinta kita berdua.
Kepala Tristan terasa sakit saat bangun tidur. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, dirinya baru bisa tidur ketika matahari terbit setelah semalam menghabiskan waktu dengan bermain game di ponselnya. Selain kepala, jari-jari tangannya juga sangat sakit saat ini karena semalaman memegang ponsel.
Hari ini ia berencana untuk pulang ke rumahnya karena merasa tidak ada yang ingin dirinya lakukan di rumah orang tuanya itu. Entah kenapa untuknya lebih nyaman berada di rumahnya sendiri dari pada di rumah orang tuanya, meski terkadang dirinya tidak teratur dalam masalah makan.
Setelah mandi Tristan menuruni tangga dan mendapatkan sambutan dari ibunya yang sedang membawa kantong belanjaan menuju dapur.
"Abang baru bangun?" Tanya Deborah sambil meletakkan kantong belanjaan. "Mau sarapan sekarang? Biar mama buatin sandwich, atau mau makan sekalian? Masih ada rica-rica daging dan sayur daun singkong."
"Makan nasi langsung aja, Ma." Jawab Tristan duduk di salah satu kursi meja makan sambil membuka tudung saji yang menutupi makanan.
Deborah menyendok nasi ke piring dan meletakkannya ke hadapan Tristan, dan langsung mengisi piring tersebut dengan lauk pauk yang ada di sana. Ya begitulah, saat berada di rumah orang tuanya, ibunya selalu mengambilkan makanan untuk putra tercintanya. Tristan yang sudah terbiasa dengan perlakuan ibunya itu membuat dirinya terkadang malas makan jika tidak ada yang menyiapkannya saat berada di rumahnya sendiri.
"Sasha mana, Ma?" Tanya Tristan sambil siap menyendok makanannya ke mulut.
"Ke rumah sakit tempat Lisa praktek." Jawab Deborah sambil duduk di kursi yang ada di hadapan Tristan.
Mendengarnya Tristan menjadi sangat kesal. Padahal dirinya sudah menyuruh Sasha agar tidak datang ke ke tempat Melissa praktek tapi tetap saja gadis itu tidak mendengarkan perkataan kakak laki-lakinya.
"Jam berapa dia jalan, Ma? Naik apa?" Tanya Tristan lagi sambil membuka ponselnya mencari nomer WhatsApp adiknya yang disimpan dengan nama Tok Petok.
"Sepuluh menit yang lalu sebelum abang bangun. Naik gocar." Jawab Deborah. "Abang kenapa nggak mau ikut ke tempat Melissa juga? Sasha bilang Abang nolak ya?"
Tristan tidak menjawab pertanyaan ibunya karena dirinya sudah menekan tombol panggilan untuk menelepon sang adik.
"Kenapa Bang?" Suara Sasha terdengar di ujung telepon.
"Cepat pulang!! Udah gue bilang jangan ke sana!! Kenapa nggak denger omongan gue?!" Seru Tristan dengan suara keras.
"Apa sih, biarin ah... Gue mau scaling, Bang." Jawab Sasha terdengar kesal.
"Mau gue seret? Balik sekarang!! Ke dokter gigi lainnya, biar gue yang bayar!!" Tristan semakin kesal dengan nada suara yang meninggi setelah itu menutup telepon tersebut.
Bisa ia rasakan bagaimana kepalanya kembali menjadi sakit saat ini. Ia mengusap tengkuknya dengan kasar, rasa marah pada adiknya masih sangat besar. Pria itu sangat tidak suka jika adiknya tidak mendengar perkataannya. Apalagi yang terjadi sekarang ada kaitannya mengenai mantannya itu.
Tristan berdecak kesal mendengar perkataan Deborah. Itu semua menyulut dirinya semakin marah. Ibunya ingin dirinya menjalin hubungan kembali dengan Melissa, jadi sudah pasti Deborah akan berkata seperti itu.
"Mama nggak usah ikut campur dalam masalah ini, Ma. Percuma, Itan nggak akan dengerin ocehan siapapun." Seru Tristan dengan sangat kesal. "Hidup Itan, Itan yang jalanin. Jangan ada yang ikut campur!!"
Tristan meletakkan sendoknya ke piring dengan kasar. Meskipun baru makan beberapa suap, napsu makannya sudah menghilang setelah yang dilakukan Sasha, dan mendengar perkataan Deborah—Ibunya.
Secepatnya Tristan meninggalkan meja makan dan mengarungi tangga lalu masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar dirinya mencoba menahan rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi. Kebiasaannya yang tidak suka meminum obat membuatnya lebih memilih untuk menikmati rasa sakit yang ia rasakan.
Selama beberapa menit Tristan berdiam diri di dalam kamar sambil melihat ponsel satunya yang diberikan Sasha padanya. Dibukanya sebuah aplikasi namun tidak ada niatan untuknua melakukan apa-apa pada aplikasi tersebut.
Ia memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya, namun walaupun baru saja tidur sebentar, Tristan sama sekali tidak merasa mengantuk sehingga dirinya bangun dan beranjak turun dari tempat tidur.
Setelah memikirkannya, memang lebih baik jika dirinya kembali ke rumahnya. Berdiam diri di dalam kamar dan mengunci jiwanya dalam kesunyian.
Dengan langkah lebar ia ke luar dari kamar dan kembali turun ke lantai satu.
"Awas lo ya, kalo nggak bayarin gue scaling, Bang!" Saat yang bersamaan Sasha masuk ke dalam rumah ketika Tristan melangkah turun.
"Lho kamu pulang?" Sang ibu yang sedang berada di depan ruang keluarga menoleh ke arah pintu masuk.
"Ma, Itan balik dulu ya." Ujar Tristan pada Deborah.
"Kenapa balik? Tinggal di sini aja, Bang." Jawab Deborah. "Evelyn hari ini datang."
"Iya Bang, barusan Kak Eve bilang kalau udah ada di pesawat. Dia minta jemput di airport." Seru Sasha menimpali perkataan sang Mama.
"Jemput? Nggak! Gue mau balik!" Jawab Tristan dengan wajah tidak menyenangkan. "Gue juga nggak mau ketemu dia."
"Ish, lo ini ya! Sama saudara sendiri begitu. Ck!" Sasha berdecak dengan wajah yang tertekuk.
"Iya Bang, jangan gitu sama saudara. Sana jemput." Deborah menimpali.
Tristan mendengus semakin kesal karena terperangkap di tengah-tengah anggota keluarganya yang sangat suka mengatur dirinya.
Akhirnya dengan setengah hati dan separuh jiwa Tristan dengan di temani Sasha pergi hendak menjemput sepupu mereka di bandara. Dalam hati dirinya berjanji kalau ini terakhir kalinya ia pergi keluar. Setelah ini ia akan kembali ke lubangnya untuk menikmati kesendiriannya, tenggelam dalam dunia yang ia ciptakan sendiri.
...–NATZSIMO–...