
Jika dengan menghukum diriku semua rasa kepedihan tak lagi aku rasakan. Jika membuat diri ini masuk ke dalam lubang penderitaan mampu mengembalikan dirimu padaku. Maka akan aku lakukan meski selama apapun itu. Aku akan menahan semua air mata dan tangis kesedihan saat menanggungnya. Namun jika aku harus mengatakan selamat tinggal, maka aku menyerah.
Tak akan pernah aku mengatakan kalimat tersebut. Sebuah kalimat yang memiliki makna kesedihan terdalam. Ya, aku tidak mau mengucapkan salam perpisahan karena aku tahu kali ini adalah untuk selamanya.
"Bang!! Woy!! Bangun!!"
Tristan terbangun dengan tersentak kaget. Setiap kali dirinya mendengar suara sang adik yang membangunkannya, ia akan selalu terkejut. Bagaimana tidak, selain suara Sasha yang menggelegar di penjuru rumah, gedoran pintu juga membuat suara kegaduhan yang sangat risih di telinga pria itu.
"Bang!! Lo tidur?? Kok nggak jawab?" Suara Sasha semakin terdengar kuat.
Tristan mengusap wajahnya untuk membersihkannya dan untuk mengembalikan tatapan matanya agar fokus. Sambil menuju pintu, ia melihat kalau saat ini sudah pukul setengah sebelas siang.
"Kenapa lama banget bukanya? Tumben, biasanya langsung bangun. Gue udah panggil dari tadi nggak ada jawaban. Bikin takut aja!" Seru Sasha.
Tristan melihat raut wajah khawatir dari sang adik menatapnya ketika ia membuka pintu kamar. Bahkan kakak sepupunya—Evelyn berdiri di belakang Sasha. Wajahnya langsung kembali biasa saat Tristan membuka pintu kamar.
Memang baru saja Tristan tertidur lelap setelah berniat menghilangkan rasa sedih yang ia rasakan karena mengingat beberapa kenangan kebersamaan dirinya dengan sang tunangan.
"Apaan? Jangan mikir yang berlebihan!" Kesal Tristan karena sepertinya Sasha berpikiran kalau dirinya mengakhiri hidupnya.
"Ya, syukurlah... Jangan gitu ya abangku sayang yang ganteng." Ujar Sasha dengan sedikit meledek dan senyum serta tawa kecil.
Mendengarnya Tristan hanya mendesis kesal. Meski tenggelam dalam kedukaan yang amat sangat akan tetapi ia terlalu pengecut untuk melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya sendiri. Terkadang Tristan pun sangat ingin mengakhiri hidupnya namun ia tidak memiliki sedikit pun keberanian untuk melakukannya. Sehingga pria itu hanya berharap kalau Tuhan segera mengambil hidupnya secara alami.
"Lo jadi ikut nggak, Bang?" Tanya Sasha. "Ini kita mau jalan sekarang."
"Udah dibilang nggak." Jawab Tristan sedikit kesal karena Sasha terus saja berusaha mengajak dirinya untuk ikut ke waterpark bersamanya dan kakak sepupu—Evelyn.
"Ikut aja, Tan." Ajak Evelyn.
"Nggak Kak, Di sana cuma ada anak kecil." Jawab Tristan mundur masuk ke dalam kamarnya.
"Kalau gitu anterin, Bang." Pinta Sasha menahan pintu kamar Tristan yang hendak ditutup.
"Naik motor aja kan bisa, atau bawa mobil sekalian." Jawab Tristan setelah itu menutup pintu kamar.
"Ibadah minggu, Bang. Streaming!! Mama tadi ingetin!!" Seru Sasha dengan suara keras ciri khasnya.
"Hhmm." Jawab Tristan sekedarnya.
Diambilnya salah satu ponsel miliknya yang ada di meja komputer. Ponsel tersebut merupakan ponsel yang ia gunakan untuk berkomunikasi untuk masalah pekerjaan paruh waktu, tentu saja ponsel tersebut sangat jarang dirinya lihat.
Sebuah pesan dari orang yang memiliki sebuah portal berita online yang merupakan kenalan Tristan, mengirimkan chat WhatsApp. Di sana juga Tristan terdaftar sebagai pekerja freelance.
Tan, gimana jadi nggak masalah kerjasama untuk buka restoran di Bali?
Awal tahun ini kakak perempuan tunangannya akhirnya memiliki kekasih dan sudah merencanakan pernikahan mereka tahun depan di bulan Mei. Sehingga Tristan berencana untuk menikah dengan tunangannya tahun selanjutnya lagi, lalu satu tahun setelahnya ketika masa kerja sang tunangan habis dan kembali ke Indonesia, mereka ingin menetap di Bali.
Tadinya bulan Maret Tristan berencana menemui kekasihnya itu untuk mengatakan semua rencananya, namun karena ayahnya memintanya untuk mengurus usaha keluarga sehingga dirinya mengundur kepergiannya sampai bulan Agustus. Sayangnya satu bulan sebelum dirinya menyampaikan semua rencananya, sang kekasih sudah dulu berpulang dalam damai.
Saat ini bulan September hampir berakhir, namun rasa penyesalan dirinya yang selalu menuruti keinginan semua orang disekitarnya membuatnya selalu ingin mengulang waktu kembali.
Bahkan rasa penyesalan Tristan semakin menjadi, di kala sang wanita yang dicintainya enggan kembali ke negara di mana dirinya bekerja. Saat itu adalah tahun lalu ketika sang kekasih pulang ke Indonesia untuk menemui Tristan yang ditipu oleh wanita bernama Selvi—selingkuhannya.
Sang kekasih ingin kembali ke Indonesia agar tidak hidup berjauhan dengan pria itu. Sampai-sampai dirinya tidak masalah jika harus membayar denda dari sisa kontrak.
Akan tetapi Tristan memintanya untuk menyelesaikan perjanjian kerja tersebut dan bersumpah kalau dirinya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia akan menunggu kekasih hatinya itu menyelesaikan tugasnya dengan penuh kesetiaan.
Namun semua rencana yang Tristan susun dengan sangat matang, hancur seketika saat wanita yang menjadi tujuan hidupnya meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini. Karena itu sekarang Tristan tidak ingin mendahului kehendak Tuhan dengan membuat rencana di dalam hidupnya. Ia hanya akan menjalani kesehariannya tanpa memikirkan apapun di masa depan.
Tristan meletakkan kembali ponsel tersebut tanpa membalas chat yang ia terima. Di bukanya kaos yang dikenakannya sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Hari ini begitu panas, meski pendingin ruangan selalu hidup di kamarnya, namun cuaca panas di luar membuat Tristan tetap merasa kepanasan.
Sambil mengeringkan rambut yang basah dengan handuk, Tristan memilih untuk keluar dari kamarnya hanya dengan menggunakan boxer.
Hampir setiap hari ketika siang hari, pria itu tidak pernah memakai pakaian dan hanya memakai boxer saat berada di luar kamar. Selain tiap ruangan di lantai dua, lantai satu tidak menggunakan pendingin ruangan, hal itu yang membuat Tristan selalu merasa panas saat ada di lantai tersebut.
Ia menuruni tangga menuju dapur untuk membuat sarapan beserta makan siang bagi dirinya.
Tidak biasanya Sasha tidak menyiapkan makanan untuknya. Sehingga ia mengambil mie instan dan dua butir telur hendak dimasaknya.
Untuk Tristan memasak bukanlah perkara yang sulit. Dirinya bersama sang kekasih adalah sama-sama mahir menggunakan pisau, namun tentunya jenis yang berbeda. Hal itu juga yang membuat Tristan diajak bekerja sama dengan temannya untuk membuat restoran makanan eropa di Bali, sesuai dengan yang ia kuasai.
Bahkan lima tahun lalu Tristan membuka sebuah kafe sederhana untuk menambah pemasukannya, sayangnya lagi-lagi pria itu selalu menuruti keinginan semua orang. Ayahnya—Edison memintanya untuk fokus mengurus Doorsmeers miliknya sehingga kafe yang tidak tertangani itu mau tidak mau ia tutup.
"Di mana cabainya? Apa habis?" Tanya Tristan pada dirinya sendiri ketika mencari cabai di dalam kulkas dan sekitar dapur. "Kenapa Ayam nggak beli kalau habis? Gue udah bilang kalau cabai jangan sampai habis."
Rasa kesal Tristan muncul, dirinya yang gampang menjadi kesal saat perkataannya tidak didengar ingin meluapkannya segera.
Di ambilnya ponsel yang ia letakkan di meja dapur untuk menghubungi Sasha. Ia tidak peduli meski tidak ada gunanya menghubungi adiknya itu namun ia hanya ingin mengungkapkan kekesalannya.
Namun sebelum dijawab oleh Sasha, terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Meski hanya menggunakan boxer, Tristan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Pintu rumahnya ia buka saat yang bersamaan ketika seorang wanita baru saja turun dari mobil sedan putih dan melihat ke arah Tristan dengan sebuah senyum.
"Kenapa dia ke sini?" Gumam Tristan kesal saat Melissa berjalan ke arah dirinya yang berpose santai di ambang pintu.
...–NATZSIMO–...