
Lambat, setiap hari waktu berjalan begitu sangat lambat. Bumi masih saja terus berputar, siang berganti malam, matahari selalu menyongsong di hari baru menggantikan rembulan di kala malam. Hujan berhenti dan cuaca menjadi terik, begitu pula sebaliknya. Semua itu terus saja berulang setiap hari, seakan-akan tidak memedulikan rasa kedukaan siapapun.
Waktu serasa tidak memedulikan dunia seseorang yang sudah hancur. Ia masih saja berjalan untuk orang itu hingga semakin hari semua hal menjadi tak berarti. Semua itu karena rasa rindu yang terus menerpa dirinya. Kerinduan akan seseorang yang selalu dirinya rasakan setiap kali ia melangkah dan setiap kali dirinya menghembuskan napas.
Jika melupakan dirimu hanya untuk membuat hidupku tenang, maka aku rela menderita selamanya di sisa hidupku. Karena bagiku, ketika bumi berhenti berputar di saat itulah kebahagiaanku datang.
Tristan terus berdiri di depan rak roti tawar. Ia terdiam memandangi deretan roti tawar yang tersusun rapi dengan berbagai merek. Siapapun akan mengira kalau pria itu sedang sibuk memilih roti tawar mana yang akan ia ambil. Namun yang terlihat tidak seperti pada kenyataannya.
Pikiran pria itu menerawang pada suatu hal. Ia mengenang kembali sebuah momen bersama wanita yang dicintainya. Saat ketika mereka berdua menghabiskan waktu berbelanja di sela waktu kuliahnya dulu.
Mereka akan sering berdebat kecil hanya untuk memilih merek mana yang harus dibeli. Namun mereka pun tahu kalau itu hanya sebuah perdebatan sederhana yang mereka buat hanya untuk menggoda satu sama lain. Percakapan yang menggunakan bahasa negara tersebut bercampur dengan bahasa Indonesia.
"Oke, kamu aja yang pilih. Semua keputusan selalu akan aku berikan padamu."
Perkataan sang kekasih dengan memeluk Tristan selalu mengakhiri perdebatan tersebut. Pada akhirnya selalu Tristan yang akan mengambil apapun yang akan mereka beli. Pria itu akan mengalah dengan mengambil pilihan wanita yang dicintainya atau pun mengambil keduanya.
"Sudah aku duga keputusanmu nggak akan pernah salah, sayang."
Sang kekasih terus saja mendekap tubuh Tristan dan pria itu selalu senang ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. Maklum saja udara dingin di negara itu membuat siapapun merasa kedinginan, apalagi untuk Tristan yang besar di negara beriklim tropis.
"Hari ini kamu harus membuat sayur asam. Sudah lama kita nggak makan itu. Hari ini suhu hanya 5° makan sayur asam sangat tepat."
Tristan hanya menyunggingkan senyumnya ketika mendengar permintaan sang kekasih yang berjalan dengan masih memeluknya.
"Sayur basi. Itu kata mommy setiap kali makan sayur itu." Lanjutnya dan membuat Tristan tertawa. "Bagaimana rasanya sayur asam yang basi, Tan?"
Tristan memikirkannya sesaat, ia belum pernah memakannya sehingga dirinya tidak mungkin tahu bagaimana rasanya.
"Oke, bagaimana kalau nanti kita memakannya saat sayur asamnya sudah basi?" Jawab Tristan menghentikan langkahnya dan tersenyum.
"Ya, kamu dulu yang memakannya ya, perutmu sangat kuat, bahkan kamu nggak pernah sakit perut setiap makan banyak sambal."
"Nggak masalah, tapi kalau aku mati karena makan sayur asam yang basi, itu sangat nggak keren." Ucap Tristan.
Percakapan sederhana waktu itu berakhir ketika wanita yang dicintainya itu mencium bibir Tristan dengan sebuah tawa.
"Apa ada membernya?"
Suara kasir memecahkan lamunan Tristan yang mengenang masa yang sudah sangat lama berlalu. Namun ketika mengingatnya dirinya masih bisa merasakan bagaimana perasaannya pada saat itu. Rasa kebahagiaan yang sangat ingin ia rasakan kembali hingga membuat dadanya menjadi sesak sekarang.
Setelah membayar semua barang belanjaannya, Tristan kembali ke rumahnya. Ia memfokuskan dirinya membuat beberapa tangkap sandwich di dapur.
"Kenapa banyak banget Bang sandwich-nya?" Tanya Sasha ketika melihat Tristan hampir selesai dengan kesibukannya. "Ngomong-ngomong gimana tadi? Claudia ada bilang sesuatu nggak, Bang?"
Tristan tidak menggubris ucapan Sasha, ia sedang sibuk memasukan beberapa tangkap sandwich ke wadah plastik.
"Cerita dong, Bang! Gue juga mau tahu." Ujar Sasha lagi.
Bukannya menjawab, Tristan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang penuh dengan keringat setelah menyelesaikan kesibukannya.
Tristan tetap tidak menjawab. Ia keluar dari kamar mandi dan mengambil wadah makanan yang berisi sandwich untuk diberikannya pada seseorang.
"Lo kan ga suka sm Lisa, jadi mending sama Claudia, Bang. Gw rasa sifatnya ga jauh beda dengan Kak..."
Perkataan Sasha terhenti saat Tristan berbalik menatapnya. Tristan tidak ingin nama wanita yang dicintainya itu disebut, apalagi hanya untuk dibandingkan dengan wanita lainnya. Untuknya sang tunangan tidak ada bandingannya. Itu yang membuat Tristan menjadi memiliki standar yang sangat tinggi saat ini.
Tristan berjalan ke pintu keluar cluster dimana rumahnya berada. Ia membawa sandwich yang dibuatnya, menghampiri pos keamanan untuk memberikan apa yang dibawanya.
"Eh, Bos... Bawa apa nih?" Tanya si petugas keamanan yang bernama Eko.
"Ini ndan (komandan), buat ngemil." Seru Tristan sambil menyodorkan makanan yang ada di tangannya.
"Wah, makasih lho, Bos." Ujar Eko dengan tersenyum senang menyambut pemberian Tristan. "Jarang-jarang saya makan beginian."
"Gue mau minta tolong, Ndan." Ucap Tristan.
"Tolong apa, Bos? Bilang aja saya pasti bantu kalau bisa."
"Kalau ada tamu datang ke rumah gue tolong telepon gue dulu, Ndan. Apalagi kalau tamunya cewek bilang aja gue baru aja keluar." Ujar Tristan.
"Kayak tamu tadi pagi?" Tanya Eko dan Tristan mengangguk menjawabnya. "Siap, Bos. Gampang, itu semua bisa diatur."
Tujuannya sudah selesai, Tristan kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Sasha dan Evelyn berada di ruang tamu sedang menikmati sandwich buatan Tristan di sana, maklum di rumahnya tidak ada meja makan sehingga sofa di ruang tamu beralih fungsi menjadi tempat makan, bahkan menjadi tempat segalanya karena hanya ada itu yang bisa di duduki di lantai satu.
"Lo ngasih ke Pak Eko, Bang?" Tanya Sasha saat Tristan membuka pintu dan berjalan ke dapur untuk mencuci tangan di wastafel.
"Tan, nanti malam kita jalan-jalan keluar yuk." Ajak Evelyn. "Makan di luar, kakak lagi mau makan masakan Thailand."
"Sorry, Kak. Kakak sama Sasha aja ya. Aku nggak mau kemana-mana." Jawab Tristan berjalan ke arah tangga dan berhenti sebentar untuk menjawab.
"Kamu nggak bosan di kamar terus?" Tanya Evelyn. "Lebih baik jalan-jalan, Dek. Biar nggak suntuk. Kamu kayak cacing aja terus-terusan di dalam lubang. Kamar kamu dingin banget itu, kamu nggak kedinginan?"
"Dia malah sering ngeluh kepanasan kalau siang, Kak." Sahut Sasha. "Udah ikut aja Bang, gue nggak berani nyetir keluar komplek dan mall-nya jauh kan. Jangan ngerem di lubang terus."
"Iya, kamu bener-bener cacing... Cacing Alaska. Alaska dingin banget juga, kan." Timpal Evelyn.
"Nggaklah, kalian pergi berdua aja. Biarin jadi cacing juga." Jawab Tristan sambil menapaki tangga untuk naik.
"Ish, cocoklah lo, Bang!" Seru Sasha. "Nama lo beda tipis dengan Alaska. Dasar cacing!!"
Tristan tidak mau menanggapi ejekan dari adik perempuan dan kakak sepupunya itu. Untuknya itu tidak masalah. Apapun sebutannya, dirinya hanya merasa ingin terus menerus berada di dalam kamarnya.
Ya, mungkin benar, ia seperti cacing yang berada di dalam lubang. Cacing Alaska yang berada di dalam lubang yang sangat dingin. Itulah tempat yang ternyaman untuknya saat ini.
...–NATZSIMO–...