
Tristan tampak tertegun tanpa ekspresi saat melihat kehadiran wanita yang sangat tidak ingin dirinya temui. Ia menjadi tidak habis pikir kenapa wanita itu masih saja datang menemuinya padahal sewaktu wanita itu datang ke rumahnya, sudah sangat tegas dirinya katakan agar keluar dari hidupnya.
Wajah Melissa yang tersenyum semakin membuat Tristan merasa muak pada wanita tersebut. Tentunya ia berpikir kalau kehadiran mantan kekasihnya itu pastinya karena sang ibu yang memanggilnya.
"Kamu sudah datang, Lisa?" Suara Deborah membuat Tristan mengalihkan tatapannya dari Melissa.
"Sudah, Tante." Jawab Melissa yang langsung bergegas mendekati Deborah ke arah meja dapur. "Apa ada yang Lisa bisa bantu?"
"Tolong masukkan semua ini ke tas saja." Jawab Deborah.
Tristan menahan perasaannya yang merasakan ketidaknyamanannya pada kehadiran Melissa di sana. Ia ingin secepatnya pergi dari rumah itu.
"Kak, kita pergi sekarang aja. Aku tunggu di mobil ya." Ujar Tristan pada Evelyn yang tampak memperhatikan ekspresinya sejak kehadiran Melissa.
"Oke. Kakak ke kamar mandi dulu ya." Jawab Evelyn sambil bangkit berdiri.
Tristan juga segera beranjak dari duduknya hendak segera pergi keluar rumah. Ia ingin menunggu Evelyn di mobil saja.
"Bang!" Panggil sang ibu menahan langkah Tristan yang langsung menoleh ke arahnya. "Ngantar ke bandaranya dengan Lisa. Biar ada yang nemanin pas jalan pulang."
Meski sejak melihat kehadiran Melissa, Tristan sudah dapat mengira jika akan seperti itu namun tetap saja rasanya seperti ada taburan bara api ke kepalanya hingga membuat dirinya tidak mampu menahan kemarahannya lagi.
"Apa Itan minta ditemanin?! Kalau Itan minta ditemanin sejak awal pasti bilang, kan? Lagian kenapa harus dia yang nemanin Itan?!" Seru Tristan pada Deborah yang langsung membatu dengan kemarahan Tristan. "Mama harusnya tahu kalau Itan nggak akan mau pergi dengan dia!! Ngelihat mukanya aja Itan muak!! Harus berapa kali Itan bilang, hah?!"
Kemarahan Tristan sudah sampai puncaknya, semua itu karena ibunya seperti tidak ingin mendengarkan apa yang dikatakannya waktu itu mengenai penolakannya pada Melissa, bahkan ia juga sudah terlalu sering mengatakannya namun tetap saja, sepertinya sang mama tetap ingin Melissa bersama dengannya. Itu yang membuat Tristan sangat heran saat ini.
"Bang, jangan ngomong gitu. Nggak bagus ngomong kasar kayak gitu pada perempuan apalagi Lisa ada di sini." Ujar Deborah yang merasa tidak enak pada Melissa karena perkataan kasar Tristan.
"Nggak apa-apa, Tante. Lisa nggak masalah, Lisa maklum kok." Jawab Melissa dengan nada suara yang terdengar sangat meyakinkan di telinga Deborah yang pada dasarnya tidak pernah berpikiran buruk pada siapapun.
Tristan hanya bisa mendengus mendengar perkataan Melissa. Ia tahu kalau ibunya pasti tetap akan melihat Melissa seperti wanita ideal untuk putranya yang bertemperamen buruk.
Sejak Tristan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Melissa dulu, wanita itu tetap sering datang ke rumahnya meski Tristan sudah meninggalkan Indonesia untuk kembali berkuliah. Wanita itu sering menemui Deborah, dan entah apa yang dikatakannya pada ibu Tristan tersebut. Bahkan Melissa masih beberapa kali datang di saat pria itu sudah memiliki kekasih baru di negara sana, padahal Melissa pun juga sudah memiliki pria lain sebagai kekasihnya. Namun wanita itu masih sering menemui ibunya.
Beberapa kali juga Melissa masih sering datang ketika Tristan lulus kuliah dan kembali ke Indonesia. Bahkan pernah ketika Tristan membawa wanita yang dicintainya datang ke rumah, Melissa juga berada di sana. Beruntung kekasih Tristan tidak pernah mempermasalahkannya meski ia tahu kalau pastinya akan ada rasa cemburu yang muncul di hati wanita yang sangat berharga untuk Tristan itu.
"Bang, Lisa udah datang hingga nggak praktek biar bisa nemanin Abang ke bandara—"
"Bukan Itan yang minta, Ma!!" Ucap Tristan yang mencoba untuk menahan emosinya lagi karena merasa percuma berkata kasar pada ibunya, tetap saja perkataannya tidak akan didengar. "Lisa, kemarin aku udah bilang ke kamu, bahkan udah beberapa kali aku bilang nggak akan pernah aku membiarkan kamu masuk ke hidupku lagi."
Setelah berkata demikian Tristan melangkah pergi. Ketika dirinya berbalik Evelyn yang sudah keluar dari kamar mandi memperhatikan mereka. Namun pria itu segera berjalan keluar membawa koper Evelyn masuk ke dalam mobil.
"Dek, pelan-pelan." Ujar Evelyn yang duduk di samping kursi Tristan. "Kamu masih emosi ya? Lebih baik nggak usah dipikirkan lagi. Sasha udah cerita pada kakak tentang Melissa. Lebih baik kamu bicara baik-baik pada Mama dan Papa."
"Percuma, Kak. Aku udah sering bilang. Bahkan saat aku udah bertunangan mereka masih ngebiarin dia datang ke rumah. Apa lagi sekarang saat keadaan aku kayak gini." Jawab Tristan tanpa menoleh sekalipun pada Evelyn karena rasa marahnya masih membuncah.
"Kasih pengertian pelan-pelan ke Mama. Mama cuma mau yang terbaik buat kamu. Dia pasti merasa keadaan kamu yang sekarang harus diubah dan dia anggap Melissa pasti bisa menemani kamu. Apa lagi kalian dulu memang pacaran, kan?" Ujar Evelyn lagi. "Mama pasti mau kamu cepat move on karena itu dia ingin ada perempuan lain yang bersama dengan kamu, Tan."
Tristan tidak menjawab lagi perkataan Evelyn. Ia memang sudah tahu maksud dan tujuan ibunya sejak awal namun untuknya bukan hal seperti itu yang diinginkan olehnya. Ia tidak mungkin menempatkan seseorang yang pernah mengkhianati dirinya untuk menggantikan posisi wanita yang amat sangat dicintainya. Itu tidak akan pernah terjadi.
"Makasih ya, Dek. Semoga masalahmu segera selesai dan hidupmu membaik kembali." Ucap Evelyn ketika dirinya hendak masuk ke dalam bandara setelah mereka sampai. "Kalau ada apa-apa dan butuh pendapat orang lain, hubungin kakak aja ya. Kakak pasti akan bantu. Kalau bisa sibukkan diri atau bertemu teman-teman. Itu bisa membuat kamu lupa dengan kesedihan kamu."
"Hati-hati, Kak." Hanya kalimat tersebut yang diucapkan Tristan.
Sehabis mengantar Evelyn ke bandara. Tristan berpikir untuk memangkas rambutnya. Jika dilihat memang rambutnya yang sudah memanjang membuat dirinya tampak tidak segar. Selain itu pandangannya sering tertutup dengan rambut poni yang jatuh menutupi matanya.
Tristan memilih keluar tol yang berbeda untuk menuju sebuah mall. Dirinya hendak ke barber shop tempat beberapa kali dirinya memotong rambut. Mall tersebut berjarak lima belas kilometer dari tempatnya tinggal.
Setelah merapikan penampilannya, ia merasa menjadi sedikit lebih baik. Benar kata Evelyn tadi, dengan mengubah gaya rambutnya Tristan terlihat lebih fresh.
Pria itu memilih berkeliling mall sebentar untuk sekedar menghabiskan waktu. Ponsel Tristan berbunyi tepat ketika pria itu sedang berjalan menuju elevator. Temannya Daniel yang meneleponnya.
"Kenapa nggak jawab chat, Tan? Come on, bro... Udah lama kita nggak ketemu." Ujar Daniel saat Tristan menjawab teleponnya.
Sejenak Tristan berpikir. Jarak di mana mall tempatnya berada saat ini tidak jauh dari rumah Daniel. Ia juga teringat dengan perkataan Evelyn yang menyarankan agar dirinya bertemu dengan teman-teman.
"Lo di rumah, kan? Gue baru aja akan keluar dari Grand Metropolitan. Sekarang gue ke rumah lo, Niel." Jawab Tristan.
Sambil mengakhiri pembicaraannya dengan Daniel, langkah Tristan terhenti di depan Bioskop mall tersebut. Tatapannya mengarah pada poster sebuah film yang terpampang di dalam tempat itu. Segera Tristan masuk ke dalam untuk menghampiri poster tersebut.
Film mengenai superhero yang dibintangi oleh Dwayne Johnson sedang diputar di Bioskop. Ia teringat kembali dulu ketika dirinya menonton bersama wanita yang dicintainya. Mereka menonton salah satu film yang dibintangi aktor tersebut, aktor yang merupakan kesukaan dari wanita yang dicintainya itu.
"Dwayne Johnson itu sangat keren. Aku sangat suka padanya." Ujar sang wanita berbisik dengan menggunakan bahasa utama ketika mereka berdua berkomunikasi. Wanita itu memeluk lengan Tristan ketika berada di dalam Bioskop di negara yang memiliki banyak Fyord itu. "Dia benar-benar membuat aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku sangat menyukainya."
Tristan yang mendengarnya saat itu hanya menyunggingkan bibirnya. Meski ada perasaan cemburu dari perkataan wanita yang dicintainya tersebut namun ia memakluminya.
"Kamu nggak cemburu kan, Sayang?" Tanyanya.
"Mau siapapun yang kamu suka, hanya kamu yang aku cinta." Jawab Tristan dengan sebuah senyuman menggoda wanita yang dicintainya.
...–NATZSIMO–...