You Are The Apple Of My Eye

You Are The Apple Of My Eye
019. MERASA BERUNTUNG MEMILIKIMU



Siapapun tidak akan pernah bisa berhenti berharap. Semua hal baik selalu menjadi harapan bagi semua orang. Tetapi semuanya berakhir. Aku berhenti menata masa depan, itu semua bukan karena aku berhenti berharap, melainkan karena aku tahu tak adanya dirimu di sana.


Aku akan mulai mencoba berjalan untuk menapaki kembali setiap langkah yang aku lalui, namun aku sadar aku tak mampu. Karena setiap langkah yang pernah aku jejaki dulu selalu menyertakan dirimu.


Kini langit tidak lagi sama. Warnanya yang kelabu semakin pekat karena tertutup kekecewaan dan air mata. Jika hanya Tuhan yang mampu berkehendak, maka aku pun akan berhenti berencana untuk segala hal di hidup ini.


Tristan membelah jalan dengan kecepatan yang lumayan cepat meski jalanan tampak ramai. Ia tidak memedulikan apapun dan hanya ingin melajukan mobilnya agar cepat sampai di rumah temannya.


Matahari mulai tenggelam sebagai tanda hari itu sudah berakhir, namun tetap saja rasa sedih dengan segala hal yang masih pria itu rasakan masih terus mengerubungi hidupnya. Hal itu yang membuat Tristan tidak memedulikan apapun.


Ia terus menerus membunyikan klakson agar setiap kendaraan yang menghalangi jalannya memberikan jalan agar dirinya bisa tetap melajukan mobilnya dengan cepat. Hingga beberapa pengemudi motor atau mobil yang lainnya terlihat merutuki kelakuannya.


Jalan umum yang Tristan lalui mengalami kemacetan hingga ia menginjak rem dengan suara decitan yang lumayan terdengar, meski begitu ia tetap membunyikan klakson karena tidak sabar menunggu.


"Berisik woi!! Nggak tahu lagi macet?!"


Terdengar suara dari pengendara motor yang berada di depan mobil Tristan. Melihat kekesalan pengendara motor tersebut membuat Tristan tersulut emosi juga. Bahkan teriakannya seperti memantik kemarahan pria yang pada dasarnya mudah marah. Segera ia membuka kaca mobil dan sedikit mengeluarkan kepalanya dengan tatapan penuh kemarahan menatap si pengendara motor yang menoleh padanya.


"Anjing!! Apa lo liat-liat gue?!" Seru Tristan tidak memedulikan beberapa orang yang melihat padanya.


Setiap kali berkendara Tristan memang selalu mudah menjadi emosi. Ia tidak memedulikan siapapun dan terlihat sedikit arogan. Ditambah suasana hatinya saat ini tidaklah bagus setelah mengingat sebuah kenangan yang membuat dirinya merasa bersedih.


Sebuah momen yang tidak akan mungkin bisa terulang kembali. Perasaan kebahagiaan yang tak akan pernah ia rasakan lagi di dalam hidupnya. Perkataan dan kelembutan dari wanita yang selalu mampu meredam emosinya sudah tidak akan pernah dirinya rasakan. Kenyataan itu membuat Tristan merasakan sebuah rasa sedih dan kemarahan karena tahu semua hal baik tidak akan pernah terjadi di dalam hidupnya lagi.


Suara ponsel Tristan mengalihkan perhatian pria itu dari rasa marahnya yang tidak penting. Segera ia menutup kembali kaca mobil dan menerima panggilan telepon dari Sasha.


"Halo Bang, kenapa belum pulang?" Tanya Sasha yang sudah sampai di rumah.


"Gue ke rumah Daniel dulu." Jawab Tristan.


"Oke, tapi jangan malam-malam pulangnya. Beliin martabak nanti saat pulang." Ujar Sasha. "Ingat Bang, jangan ugal-ugalan. Nggak mau kan lo masuk lambe turah."


Perkataan Sasha membuat Tristan melupakan kemarahannya. Ia menjadi tertawa kecil saat mengakhiri pembicaraannya dengan adik perempuannya yang sangat mengerti dirinya itu.


Pertemuan Tristan dengan Daniel di rumah temannya itu membuat perasaan Tristan sedikit lebih baik. Daniel adalah salah satu teman yang sangat dekat dengannya ketika masih di sekolah menengah atas dulu. Selain itu mereka juga berada di dalam tempat ibadah yang sama, hal itu yang membuat mereka lebih dekat dari pada dengan teman-teman yang lainnya.


"Gimana jadi nggak buat tato lagi? Kalau jadi biar gue buat janji sama Bang Doddy." Tanya Daniel dengan sebuah rokok terselip di bibirnya.


Mereka berdua duduk di teras rumah Daniel. Temannya itu adalah seorang perokok akut yang tidak bisa lepas dari kecanduannya tersebut. Dulu Tristan memang seorang perokok namun itu terjadi ketika ia masih sekolah. Saat pria itu kuliah di luar negeri kebiasaannya sedikit demi sedikit hilang dan dirinya berhenti total ketika bertemu dengan wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang berkuliah di jurusan kedokteran yang membuat Tristan berhenti menjadi pecandu rokok.


Saat menetapkan hatinya pada seorang wanita, Tristan akan selalu mendengarkan semua perkataan wanita tersebut. Ia akan menuruti kemauan mereka, bahkan keputusannya untuk berkuliah di jurusan yang dirinya ambil itu pun karena pria itu dulu menuruti perkataan Melissa.


"Oke, buat aja janji dulu. Jadi nggak jadi gue ikut ke tempat Bang Doddy." Jawab Tristan yang masih ragu karena dirinya menjadi tidak tahu apakah akan mengukir wajah wanita yang dicintainya di tubuhnya itu atau tidak. "Gimana rencana lo nikah tahun depan?"


"Nggak tau, si Talita masih labil." Ucap Daniel dengan mengepulkan asap rokok dari mulutnya. "Lo tau nggak? Dia masih aja ngetes gue dengan buat akun IG cewek lain terus DM gue. Argh! Udah berapa kali seperti itu."


"Dia masih ga percaya sama lo. Ya, lo pernah selingkuh dari dia, wajar dia begitu." Ucap Tristan.


"Tapi cewek lo nggak gitu, Tan."


Perkataan Daniel membuat Tristan kembali mengingat rasa penyesalan di dalam dirinya. Pria itu memang selalu merasa beruntung memiliki wanita yang sangat luar biasa seperti tunangannya. Wajah campuran yang cantik, lekuk tubuh yang sempurna, otak yang pintar dengan pendidikan yang bagus dan yang lebih luar biasa dari semua itu adalah sifat serta sikap yang Tristan rasa tidak ada wanita lain yang memilikinya. Baginya kekasihnya itu adalah wanita tersempurna di dunia ini.


Kalimat yang pernah Tristan ucapkan ketika dirinya dan sang tunangan saling mendekap terumbar di benaknya.


Kesedihan kembali ia rasakan ketika dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Kali ini Tristan melajukan mobilnya dengan sangat lambat untuk keluar dari komplek perumahan Daniel.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam di mana udara dingin mulai menusuk kulit. Pertemuannya dengan Daniel membuatnya sedikit merasa lebih baik. Namun ketika dirinya melangkah keluar, ingatannya akan rasa rindu pada wanita yang dicintainya kembali menyerangnya.


Ketika Tristan hampir keluar dari kawasan komplek perumahan tiba-tiba sebuah motor menyalip mobilnya, tetapi karena motor tersebut melaju dengan sangat cepat. Topi dari penumpang motor itu terbang dan jatuh ke depan jalan mobil Tristan. Si pengendara motor yang merupakan dua orang wanita muda berhenti di jarak sekitar dua puluh meter.


Tristan berdecak heran pada apa yang terjadi, namun ia menghentikan mobilnya dan segera turun untuk mengambil topi yang tepat ada di depan mobilnya. Meski rasa kesal ia rasakan karena sikap bodoh kedua orang yang mengendarai motor, pria itu berjalan menghampiri mereka untuk memberikan topi tersebut.


"Maaf, Kak." Ujar si pemilik topi yang dibonceng di motor tersebut. Wajahnya terlihat memerah karena merasa malu saat Tristan datang memberikan topinya.


"Lain kali pakai helm bukan pakai topi." Seru Tristan.


"Iya, Kak maaf. Makasih ya, Kak."


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Tristan kembali berjalan ke arah mobil. Saat melajukan kembali mobilnya, ia memperhatikan si pemilik topi tersebut yang terlihat menyembunyikan wajahnya ke punggung temannya dengan berteriak karena rasa malu.


"Bocil jaman sekarang. Ck!" Gumam Tristan langsung mengalihkan pandangannya ke jalan.


Namun yang terjadi Tristan tidak menduganya. Selang satu kilometer ketika dirinya sudah keluar dari komplek perumahan tiba-tiba kedua wanita pengendara motor tersebut menyusulnya dan berteriak memanggilnya untuk berhenti.


Merasa ada yang aneh dan karena takut dikira pengendara lain dirinya baru saja melakukan kesalahan, pria itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan membuka kaca jendela. Si teman pemilik topi yang mengendarai motor menghampirinya.


"Kak, boleh minta nomer handphone nggak?"


Tristan sempat terkejut mendengar pertanyaannya. Ia memperhatikan wanita yang berada di dekat motor yang terus memperhatikannya. Tampaknya si pemilik topi merasa terkesan dengan tindakannya, sehingga meminta temannya untuk menanyakan nomer ponsel pria itu.


"Di kasih ya, Kak!"


"Buat apa?" Tanya Tristan. "Nanti disalahgunakan."


"Nggak, Kak. Temen aku mau ngucapin makasih."


"Lho kan udah? Lagian nggak usah berterimakasih lagi. Kalian mau ke mana?"


"Mau pulang, Kak. Habis ada acara reuni sekolah." Jawab si wanita. "Boleh Kak nomer handphone-nya?"


Mau tidak mau Tristan memberikan nomer ponselnya karena tidak ingin perjalanannya semakin tertunda lama.


Si teman langsung bergegas menghampiri wanita yang meminta bantuannya setelah mengucapkan terimakasih pada Tristan. Tampak raut wajah senang yang terpancar dari wanita yang terpesona pada sikap dan wajah Tristan.


Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, Tristan sedikit memajukan mobilnya sejajar dengan motor yang di kendarai kedua wanita muda. Ia membuka kaca jendelanya untuk mengatakan sesuatu pada mereka.


"Langsung pulang ya, banyak begal. Jangan ngebut-ngebut di jalan." Seru Tristan sedikit mencondongkan tubuhnya mengarah ke kaca jendela di pintu kiri mobil.


Setelah berkata demikian, Tristan menginjak gas mobilnya dengan memikirkan apa yang terjadi barusan. Ia menjadi tidak habis pikir pada sikap kedua wanita tadi. Bisa ia kira jika kedua wanita itu masih berusia belasan tahun.


...–NATZSIMO–...