You Are The Apple Of My Eye

You Are The Apple Of My Eye
017. KELUAR DARI LUBANG



Hari demi hari berlalu begitu saja. Rasa sesak yang dirasakan Tristan akan kehilangan wanita yang sangat dicintainya semakin membuatnya ingin terus menerus mengubur diri dalam lubang persembunyiannya.


Selama satu bulan pria itu jarang keluar dari kamarnya, bahkan ia tidak pernah lagi meninggalkan rumah walau hanya sedetikpun. Semua hal ia lakukan dengan terus mengurung diri di dalam kamar. Tristan akan keluar jika Sasha berteriak hingga mengoceh dengan kata-kata dramatis padanya.


Berada di dalam kamar, Tristan hanya sibuk di depan komputer atau pun laptop. Ia juga berusaha menyibukkan diri agar rasa sedih tidak dirinya rasakan.


Namun semua itu percuma. Semakin dirinya tidak ingin memikirkan, ia akan semakin merasakan rasa sedih dan sakit luar biasa di dadanya karena teringat akan wanita yang sudah menghilang dari dunianya. Pria itu akan kembali bersedih dan memilih diam saja tanpa melakukan apapun dengan membaringkan diri di atas tempat tidur dengan menatap satu arah.


"Bang! Keluar dong! Ngapain sih di kamar terus? Apa nggak bosen?" Terdengar suara Sasha dari luar kamar. "Gue mau berangkat kerja. Nanti siang jangan lupa antar Kak Eve ke bandara. Dengar kan, Bang?"


Tristan tetap tidak menjawab. Meski begitu sepertinya hari ini mau tidak mau dirinya harus keluar dari lubangnya untuk mengantar sepupunya ke bandara. Walau sebenarnya ia sangat enggan namun karena tidak ada siapapun lagi yang bisa mengantar Evelyn selain dirinya, pria itu akan melakukannya.


Ponsel Tristan berbunyi saat baru saja memejamkan mata hendak melepas rasa mengantuk karena terus terjaga tadi malam.


"Kenapa, Ma?" Tanya Tristan.


"Kapan Abang ke sini? Nanti antar Evelyn ke bandara, kan?" Tanya Deborah di ujung telepon.


Sejak satu minggu lalu, Evelyn tinggal di rumah orang tua Tristan. Otomatis saat ini sebelum pria itu ke bandara, ia harus ke rumah orang tuanya untuk menjemput Evelyn di sana.


"Pesawatnya jam tiga kan? Itan akan jalan dari sini jam dua belas aja, Ma." Jawab Tristan masih tidak bergeming dari posisi berbaringnya.


"Datang jam sebelas aja, Bang. Makan siang di sini dulu. Abang udah sarapan?" Tanya sang Mama.


"Itan ngantuk, Ma. Mau tidur dulu. Iya nanti Itan sampai sana jam sebelas." Ujar Tristan setelahnya mengakhiri pembicaraan di telepon.


Pria itu segera memejamkan matanya kembali untuk tidur. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, ia masih memiliki waktu sekitar dua jam lebih sebelum harus bersiap ke rumah orang tuanya.


Meski mengantuk, Lagi-lagi Tristan tidak bisa tidur. Setiap kali dirinya memejamkan mata, bayang-bayang wanita yang dicintainya selalu muncul di benaknya. Ia menikmatinya namun jantungnya seakan menolak perasaan nyaman setiap dirinya ingin terbuai dengan kejadian masa lalu bersama sang kekasih.


Ia akan tersentak bangun, dan membuat jantungnya berdebar hingga rasa mengantuknya hilang. Meski begitu ia akan terus berusaha untuk tidur karena dirinya harus menyetir lumayan jauh hari ini.


Cara terakhir agar dirinya bisa benar-benar tertidur dengan melihat-lihat galeri foto dirinya bersama sang tunangan. Di gapainya ponsel yang selalu ia letakkan di meja kecil samping tempat tidur. Membuka kumpulan kenangan dirinya bersama wanita ideal yang sangat ia cintai. Ia selalu menikmatinya, dan berusaha mengingat kembali momen ketika foto atau pun video yang dilihatnya itu diambil.


Tristan akan tersenyum dengan tawa kecil saat mengingatnya, meski begitu air mata juga mengalir dari pelupuk matanya. Ia terus melakukan hal tersebut hingga akhirnya dirinya terlelap.


Tiga jam berlalu, meski tidur dua jam, Tristan yang bangun tepat ketika alarm berbunyi langsung bergegas ke rumah orang tuanya. Ia merupakan orang yang berpikir secara sistematis dan kemampuannya memperkirakan waktu selalu tepat. Tepat pukul sebelas siang, Tristan dengan mobilnya sampai di rumah orang tuanya.


"Kamu udah makan, Tan?" Tanya Evelyn yang duduk di meja makan sedang menikmati makanannya. Ia sudah rapi dan siap untuk berangkat. Kopernya pun juga sudah berada di samping pintu masuk.


"Abang udah datang? Ayo, makan dulu, Bang. Pasti Abang juga belum sarapan kan?" Sang ibunda langsung mengambil piring untuk menyendok makanan.


Tan, main ke rumah gue. Bukannya lo mau buat tato lagi? Ayo, bareng gue.


Membaca pesan dari Daniel mengingatkan Tristan pada perbincangan dirinya bersama sang Tunangan. Awal tahun ini ia mengatakan keinginan dirinya padanya, untuk mengukir gambar wanita yang dicintainya itu di rusuk kiri pria tersebut.


Wanita yang dicintainya itu melarangnya dengan meminta Tristan untuk mengundurnya hingga nanti saat mereka berdua resmi menikah, meski begitu Tristan tetap ingin melakukannya.


"Handphone-nya taruh, Bang. Ini makan dulu." Seru sang Ibunda yang langsung melingkarkan lengannya ke pundak anak laki-laki yang sangat dirinya sayangi.


Tristan menuruti, ia tidak membalas pesan Daniel dan meletakkan ponselnya di samping piring makanan yang sudah tersedia untuknya.


"Bang, rambutnya udah panjang banget, potong rambut sana, biar makin keliatan gantengnya." Ujar Deborah sambil memegang rambut Tristan yang memang sudah memanjang hingga poninya jika di ke depankan menutupi mata pria itu.


"Benar, Tan. Biar makin fresh juga." Tambah Evelyn. "Oh iya, kamu udah tidur kan? Bisa nyetir hingga sampai tujuan, kan?"


"Udah, tadi lumayan tidur dua jam." Jawab Tristan.


Deborah berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan oleh-oleh yang akan dibawa Evelyn untuk dibagikan ke keluarga di kampung.


"Masih susah tidur dan gampang terbangun ya?" Tanya Evelyn.


Saat Evelyn menginap di rumah Tristan, beberapa kali pria itu mengobrol dengan sepupunya tersebut. Ia juga mengatakan bagaimana dirinya sulit untuk tertidur. Bahkan ketika sudah tertidurpun dengan sangat mudahnya akan terbangun dengan kondisi kaget dan jantung yang berdebar.


"Begitulah, Kak." Jawab Tristan sambil menikmati sarapan beserta makan siangnya.


"Gimana kalau kamu ke psikiater, Dek? Konseling biar dapat penanganan agar kamu bisa tidur. Lihat, kantung mata kamu besar banget, bukan mata panda lagi." Seru Evelyn. "Saat jam tidur kurang, aktivitas sehari-hari juga akan terganggu. Emosi jadi nggak stabil dan perasaan juga terasa kacau. Temuin psikiater, Tan. Mungkin bisa membantu."


Tristan memikirkan perkataan Evelyn. Beberapa kali memang dirinya berpikir untuk konseling dengan psikiater mengenai kondisinya saat ini. Namun tetap saja ia tidak melakukannya karena merasa itu tidak perlu. Ia yang hanya ingin berdiam diri di dalam lubang persembunyiannya tidak membutuhkan bantuan siapapun dalam menangani kondisi dirinya.


"Kamu dengar kan, Tan?" Tanya Evelyn.


"Nanti aku pikirkan lagi." Jawab Tristan dengan pandangan mengarah ke piring makanannya yang sudah habis ia santap.


"Selamat siang, ternyata kamu sudah datang ya, Tan?"


Tristan mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang, ke arah datangnya suara wanita yang sudah ia kenal. Tatapannya menajam dengan rasa kesal yang langsung muncul seketika saat melihat seorang wanita menunjukkan senyumnya padanya.


"Apa kabar, Tan? Sepertinya sekarang kamu jauh lebih baik dari terakhir kali kita bertemu saat aku datang ke rumahmu." Ucap Melissa dengan sebuah senyuman.


...–NATZSIMO–...