
Jika setiap malam terasa begitu hangat, maka malam hari ini dan selanjutnya hanya udara dingin yang menusuk kulit. Deru angin malam seperti merobek setiap sisi kehidupan, mencoba menelisik apa yang masih tersisa di dalam diri seseorang yang penuh dengan kekosongan.
Hari esok tidak akan lagi menjadi hari penting seperti sebelumnya. Ya, hari yang akan datang hanyalah sebuah hari lainnya karena tanpa dirimu. Kalau saja air mata dapat meluapkan semua rasa yang ada, bisa dipastikan hujan tidak akan pernah lagi jatuh membasahi bumi.
Sayangnya satu-satunya hal yang tidak mungkin adalah mengulang waktu. Andai semua hal yang pernah dialami dapat dimasukan ke dalam sebuah kotak, dan bisa dikeluarkan ketika ingin merasakannya kembali maka tak akan pernah ada rasa penyesalan dalam hidup seseorang. Jika seseorang mengatakan rindu itu berat, maka bagiku hidup tanpamu adalah sebuah kematian.
"Bang, seharusnya lo nggak kayak gitu ke Melissa." Seru Sasha memecahkan lamunan Tristan.
Saat ini mereka berdua berada dalam perjalanan pulang ke rumah setelah selesai berbelanja dan mengantar Melissa pulang ke rumahnya.
"Satu-satunya cewek yang masih setia nungguin lo cuma dia. Sejak dulu perasaan dia nggak berubah. Itu hal yang bagus. Lebih baik lo coba dulu jalan bareng dia. Kalau nggak bisa kayak dulu kalian kan bisa berteman." Ujar Sasha sambil mengunyah Pocky hingga suaranya tidak terlalu jelas. "Kayaknya gue kena tulah karena lo, Bang."
"Apa? Maksud lo apa kena tulah?" Sesekali pandangan Tristan terbagi antara jalanan dan pada Sasha.
"Ish, umur gue segini tapi gue belum nikah, sedangkan pacarpun belum ada. Gue yakin itu semua karena lo, bang. Melissa sampai putus dari pacarnya biar bisa dekat dengan lo lagi lho. Apa lo tahu?"
"Itu bukan urusan gue. Nggak ada kaitannya juga dengan gue. Mereka putus karena si Ayub pindah tugas ke Belanda bukannya?" Ucap Tristan dengan entengnya.
Sasha mendesis kesal mendengar perkataan kakak laki-lakinya. Ia berpikir kalau Tristan bodoh atau pura-pura bodoh. Karena selama ini meski kakaknya sudah tidak memiliki hubungan dengan Melissa, namun wanita yang merupakan mantan kekasih sang kakak selalu menanyakan apapun perihal kakaknya itu pada Sasha, dan gadis itu juga selalu memberitahu Tristan setiap kali Melissa menghubunginya.
"Bang, coba dulu aja. Nggak ada salahnya kan? Yang lalu biar berlalu dan cukup jadi kenangan, tapi lo juga masih harus menjalani hidup lo, kan? Nggak mungkin lo terus menerus kayak gini." Seru Sasha dari nada suaranya yang tinggi dan penuh dengan penekanan, Tristan tahu kalau adiknya merasa kesal pada dirinya. "Mungkin dengan gitu nanti gue dapat pacar juga Bang."
Tristan tertawa mendengar ucapan adik perempuannya. Baginya apa yang baru saja diperdengarkan oleh Sasha hanya menggelitik dirinya karena untuk pria yang sedang merasa kehampaan itu semua hanya seperti sebuah lelucon.
"Kenapa lo ketawa?" Tanya Sasha dengan kesal, karena terlalu kesal, ia memukul lengan atas kakaknya itu. "Gue ngomong serius malah ketawa. Biasa banget!!"
"Bilang aja lo mau biar gue biarin lo dengan Nathan. Benar begitu kan?" Tanya Tristan masih tergelitik geli.
Sasha yang menyukai Nathan sejak lama memang berharap pria yang selalu berganti-ganti kekasih itu meliriknya. Hingga akhirnya mereka berdua bekerja di perusahaan yang sama. Sasha dan Nathan sering bertemu dan itu membuat mereka menjadi dekat, di tambah pria itu tiga bulan yang lalu baru saja memutuskan hubungannya dengan kekasihnya.
Gadis berkulit putih tersebut merasa seperti mendapatkan sinyal yang bagus dari Nathan karena pada akhirnya pria itu sering bertukar pesan dengan dirinya. Nathan yang merupakan supervisor divi HRD selalu menunjukkan perhatiannya pada Sasha yang ada dibawah divisi keuangan.
"Udah gue bilang, jangan sama dia. Meski dia berubah dan jadi baik, lo tetap nggak bisa dengan dia. Salah satu dari kalian harus berhenti kerja dari perusahaan itu. Apa lo mau berhenti dari sana?" Tanya Tristan.
Perkataan Sasha mengingatkan Tristan kembali dengan kisah cintanya. Dimana alasan dirinya bersama sang tunangan tidak langsung menikah karena kakak perempuan dari kekasih hatinya itu enggan untuk dilangkahi, dan meminta agar mereka berdua menunda pernikahan mereka.
Wanita yang dicintainya menurut karena merasa kasihan pada sang kakak, hingga awal tahun ini sang kakak akhirnya menemukan calon suami dan akan menikah tahun depan. Namun kenyataan pahit lebih dulu menimpa tunangannya itu. Ternyata Tuhan lebih sayang padanya.
"Lo dengar kan bang?"
"Hah?" Tristan tampak terkejut dengan pertanyaan Sasha.
Baru saja dirinya merasa kesedihan kembali menghinggapinya. Ia menjadi menyesal kenapa harus menunggu untuk menikah dengan wanita yang dicintainya hanya karena kakak perempuan sang tunangan enggan dilangkahi.
"Lo ngelamun ya? Ish!" Desis Sasha dengan kesal. "Gue nggak akan peduli kalau lo nggak mau dilangkahi. Buat apa gue nungguin lo dan sampai kapan nanti?"
"Ya, yang penting sekarang lo cari calon dulu selain si Nathan." Jawab Tristan. "Gue akan ijinkan lo langkahin gue asal bukan dengan Nathan."
"Ah parah! Kenapa sih lo nggak suka banget pada Nathan?" Tatapan Sasha semakin kesal pada kakak laki-lakinya. "Dia itu baik, Bang. Di kantor banyak yang suka padanya lho."
Tristan mendengus mendengar ucapan Sasha. Ia tahu benar bagaimana karakter Nathan, pria itu memang pria baik namun dalam arti yang tidak baik. Karena anggapan baik yang diberikan oleh para wanita pada Nathan membuat pria itu memanfaatkannya dengan baik pula.
Sewaktu di sekolah menengah atas, Tristan sangat dekat dengan Nathan namun semuanya berubah ketika waktu itu Nathan mencoba menarik hati Melissa. Melissa sempat tergoda dengan Nathan namun pria itu hanya sekedar iseng akan tetapi untuk Tristan itu merupakan sebuah tabuh perang yang dikumandangkan.
Tristan tidak menceritakan hal tersebut pada Sasha karena merasa itu hanya masa lalu yang sudah dirinya lupakan, namun begitu ia tidak akan rela jika adiknya menjadi keisengan dari seorang Nathan.
"Kalau gue pacaran dengan Nathan pasti banyak orang-orang kantor yang envy dengan gue. Ya, tapi gue juga harus merahasiakannya karena peraturan perusahaan." Kata Sasha masih terus mengunyah camilan Pocky kesukaannya. "Jadi besok ikut gue ke Melissa, Bang. Lumayan kan, sambil menyelam minum air. Gue bisa merawat gigi gratis seumur hidup kalau lo dengan dia."
Tristan berdecak kesal mendengar ocehan Sasha yang dikatakannya dengan sangat ringan.
"Besok jangan ke sana! Lo nggak boleh datang ke rumah sakit dia praktek!!" Seru Tristan memperingatkan. "Jangan harap gue mau balik dengan dia dan jangan harap juga gue ijinin lo dengan Nathan!!"
...–NATZSIMO–...