You Are The Apple Of My Eye

You Are The Apple Of My Eye
003. MANTAN KEKASIH



Oh sh*it!


Kalimat tersebut yang langsung terumbar dipikiran Tristan. Dirinya enggan bertemu siapapun sekarang, terutama dengan mantan kekasihnya yang masih saja mengejar-ngejarnya.


Melissa berpacaran dengan Tristan selama hampir dua tahun ketika dulu mereka berdua masih kelas dua belas di sekolah menengah atas. Hubungan mereka berakhir tidak lama setelah mereka berdua berkuliah di universitas yang berbeda.


Tristan yang berkuliah di sebuah negara beriklim dingin tidak tahan dengan sikap posesif Melissa yang selalu berperasangka buruk padanya. Meskipun ia memaklumi sikap wanita itu karena jarak yang terbentang memisahkan mereka berdua namun tuntutan-tuntutan yang diberikan Melissa membuat Tristan jengah. Karena itu ia memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.


Akan tetapi ketika Tristan kembali ke negara ini, Melissa terus menerus menghubunginya sedangkan saat itu pria itu sudah memiliki hubungan baru dengan wanita lain.


Tidak sampai disitu saja, meski tiga tahun lalu Tristan sudah bertunangan dengan kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya, Melissa masih terus berusaha masuk ke dalam kehidupannya. Hal itu yang membuat Tristan menjadi muak dengan mantan kekasihnya tersebut.


Beruntung tunangannya adalah wanita yang pengertian dan tidak mudah merasa cemburu. Hal itu yang membuat pria itu sangat mencintai tunangan yang sudah pergi meninggalkannya tersebut.


"Woi, Yam!" Seru Tristan saat Sasha hendak menutup pintu.


"Hhmm?" Sasha melongok masuk ke dalam kamar melihat Tristan yang sudah duduk di atas tempat tidur.


"Nanti gue bantu dapetin tiket konser para banci itu, tapi bilang ke dia gue tidur atau pingsan atau mati, apa ajalah!! Yang penting gue nggak mau turun nemuin dia!!" Ujar Tristan dengan wajah tampak berharap pada sang adik.


"Janji lho ya, Bang?!" Ucap Sasha dengan senyum lebar.


"Hoh, yang penting gue nggak mau ketemu Melissa lagi." Jawab Tristan.


"Oke."


Sepeninggalan Sasha, Tristan kembali berbaring dengan membuang napas leganya. Di ceknya sebuah aplikasi di ponsel di mana dirinya mengandalkan aplikasi tersebut dalam mengelola sejumlah uang yang ia investasikan ke dalamnya.


Melihat-lihat harga saham dan meneliti beberapa jumlah saham yang sedang mengalami penurunan namun memiliki potensi kenaikan. Akan tetapi rasa sakit di kepalanya membuat dirinya tidak fokus dan lebih untuk memejamkan matanya.


Ponselnya ia letakkan ke samping dirinya karena pria itu siap untuk memejamkan mata walau saat ini hari baru saja gelap.


Belum sempat Tristan masuk ke dunia mimpinya, pintu kamarnya terbuka lagi. Ia membuka mata dengan sangat kesal, untuk seorang Tristan yang sulit masuk ke deep sleep, hanya karena mendengar suara cicak berjalan saja mampu membuatnya terbangun dari tidur. Sedangkan sekarang ketika hampir saja dirinya terlelap, seseorang masuk ke dalam kamarnya.


"Argh!!" Kesal Tristan sambil bangkit duduk.


Namun dirinya lebih terkejut karena orang yang baru saja masuk ke kamarnya adalah wanita yang sangat tidak ingin dirinya temui, Melissa.


"Ke—kenapa kamu di sini?" Tanya Tristan dengan sangat tidak percaya kalau Melissa masuk ke kamarnya.


Tristan menoleh ke arah pintu di mana Sasha melongokkan kepalanya melihat pada Tristan. Adiknya seperti membisikkan sesuatu kalau Mamanya yang meminta Melissa membangunkan dirinya.


"Tante nyuruh bangun, kamu di suruh makan." Jawab Melissa.


Tristan sangat tidak habis pikir dengan ibunya yang meminta seorang wanita membangunkan dirinya. Ya, sejak dulu Melissa memang sudah berhasil mengambil hati ibunya Tristan karena orang tua Melissa juga berasal dari suku yang sama dengan ayah Tristan. Bahkan ibunya juga sering pergi bersama dengan ibunya wanita itu.


Dengan yang terjadi sekarang, ia bisa mengambil kesimpulan kalau ibunya itu berniat untuk mendekatkan dirinya kembali dengan Melissa. Hal itu membuat Tristan menjadi kesal. Untuknya tidak semudah itu membuat dirinya menerima sosok lain setelah baru saja sang tunangan pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Ayo keluar, habis itu tante minta kita belanja ke supermarket." Ujar Melissa.


"Yaudah, aku cuci muka dulu." Jawab Tristan sambil bangkit berdiri.


"Oke deh." Ucap Melissa setelahnya berjalan keluar kamar.


Melihat Melissa keluar dari kamar kakaknya, Sasha langsung masuk ke dalam untuk menemui Tristan.


"Bang, kayaknya Mama mau lo sama dengan Melissa deh. Gue udah bilang kalau lo tidur tadi tapi Mama malah nyuruh dia naik bangunin lo." Ujar Sasha pada Tristan yang hendak keluar untuk ke kamar mandi.


Tristan hanya berdecak kesal walau dirinya sudah tahu akan hal itu. Kali ini dirinya sangat kesal pada perilaku ibunya tersebut. Meninggalkan rumahnya dan datang ke rumah orang tuanya, semakin membuat pria itu menyesal. Harusnya ia terus saja berada di rumah dan tidak pergi kemanapun.


"Ini semua salah lo!" Kesal Tristan pada Sasha sambil keluar kamar menuju kamar mandi.


Sasha tampak bingung mendengar ucapan kakak laki-lakinya. Kenapa Tristan jadi menyalahkan dirinya dengan semua yang terjadi saat ini? Ia tidak tahu kalau karena dirinya yang akan pergi dengan Nathan membuat kakaknya itu keluar dari rumah dan datang ke rumah orang tua mereka. Dan sekarang harus menghadapi keinginan ibunya yang ingin kakaknya dekat kembali dengan mantan kekasihnya.


"Tapi lo udah janji bantu gue dapetin tiket itu lho, Bang!" Seru Sasha mengingatkan, takut jika Tristan mengingkari janjinya tadi.


Langkah Tristan berat ketika menuruni tangga. Wajahnya cenderung tertekuk karena rasa kesal pada situasi yang dirinya lihat saat ini. Di mana Melissa sedang membantu ibunya menyiapkan makanan ke meja makan. Sedangkan Sasha sedang duduk di salah satu kursi meja makan, sibuk menonton variety show dari boyband favoritnya yang sering diceritakannya pada Tristan.


"Ayo makan, Bang." Seru Deborah ketika melihat Tristan turun dari lantai dua.


Dengan berat hati Tristan duduk di kursi samping Sasha yang baru saja melirik pada kehadiran kakaknya tercinta.


"Bang, mana yang paling ganteng? Ini atau yang ini?" Tanya Sasha menunjukkan layar ponselnya pada Tristan.


Tristan hanya melirik kesal pada sang adik. Moodnya sangat tidak bagus saat ini. Namun karena perutnya kosong dan lapar, ia enggan menanggapi pertanyaan bodoh dari Sasha.


"Ayo di makan, mau Mama ambilkan?" Tanya Debora berdiri di samping Tristan dengan menyendok nasi yang sudah tersedia ke piring untuk anak lelakinya itu. "Nanti habis makan belanja ke supermarket ya? Belanja bulanan."


"Nanti aku temanin, Tan." Seru Melissa duduk di hadapannya.


"Iya, biar Lisa yang bayar di kasir, kamu kan nggak suka ngantri." Timpal Deborah.


"Lo ikut, Yam." Ujar Tristan menoleh pada Sasha.


"Nggak ah, gue mau marathon drakor." Jawab Sasha dengan wajah tidak ramah.


"Nggak akan gue bantu dapetin tiket konser para banci itu." Seru Tristan dengan sedikit berbisik pada Sasha meski begitu Melissa dan ibunya bisa mendengar perbincangan kakak beradik tersebut. "Gue beliin deh tiketnya."


Mendengar kalimat terakhir Tristan membuat Sasha langsung menoleh padanya dan memberikan senyum lebar tanda setuju.


Meskipun Tristan harus mengeluarkan sisa-sisa uang yang dirinya miliki untuk membelikan adiknya itu tiket konser, itu tidaklah penting asalkan ia tidak pergi berdua saja dengan mantan kekasih yang sangat ingin dirinya hindari tersebut. Untuknya itulah yang terbaik.


...–NATZSIMO–...