You Are The Apple Of My Eye

You Are The Apple Of My Eye
008. BERHATI MALAIKAT



Semua kehampaan yang selalu terasa di dalam jiwa membuat semua hal menjadi sesuatu yang sia-sia dijalani. Tak ada harapan dan keinginan apapun lagi, hanya sesuatu kekosongan dan kesunyian yang ada di dalam benak yang terasa membelenggu hasrat untuk hidup.


Setiap hari berlalu, aku selalu berharap kalau hari itu adalah hari terakhir di dalam hidup ini. Semuanya terasa semakin buruk hingga setiap malam aku berdoa hari esok tak pernah ada.


Ya, aku terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan, bukan karena aku merasa tidak mampu namun aku sadar hidup tanpamu sama halnya dengan sebuah akhir zaman.


"Kak Eve!!"


Teriakan Sasha mengejutkan Tristan yang sedang berjalan dengan tatapan fokus ke layar ponselnya. Pria itu segera mengangkat pandangannya dan menoleh ke arah depan di mana kakak sepupunya yang terpaut usia tiga tahun tersebut melambaikan tangan dengan bibir yang tersenyum lebar.


Sasha langsung berlari dan memeluk Evelyn dengan penuh kebahagiaan. Tristan teringat kalau dirinya sudah hampir lima tahun tidak bertemu dengan kakak sepupunya yang berprofesi psikolog tersebut.


Evelyn berdecak dengan menyunggingkan bibirnya ketika melihat Tristan berjalan mendekat. Sifat pria itu yang terlihat selalu santai atau lebih tepatnya dingin memang membuat banyak sanak saudara yang menganggap Tristan terlalu apatis. Meski begitu untuknya, itu bukanlah hal yang penting. Tristan tidak pernah mau memikirkan anggapan siapapun mengenai dirinya.


"Apa kabar Tan?" Tanya Evelyn sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


Tristan menyambutnya hanya dengan menyunggingkan sebuah senyum simpul, malas mengeluarkan suara meski sekecil apapun.


"Kakak bawa bolu yang aku pesan kan?" Tanya Sasha pada Evelyn.


"Iya dek, nih, ada di dalam tas semuanya." Jawab Evelyn menunjuk tas yang ditentengnya.


Sasha langsung mengambil tas berisi bolu pesanannya dan menilik sedikit ke dalam, memeriksanya.


"Bang, kemarin lo bilang mau satu kan?" Sasha melihat pada Tristan. "Tapi lo belum ngasih uangnya ke gue, jadi nggak usah aja ya? Gue mau bawa ke kantor buat teman-teman."


Tristan tidak menjawab dan hanya menatap kesal pada Sasha. Dalam hatinya tentu saja merasa malu karena adiknya membahas hal seperti itu di depan sepupu mereka yang tidak tahu bagaimana interaksi kedekatan kedua kakak beradik itu.


"Itu kan ada banyak dek, lagi pula nggak usah bayar. Ini kan oleh-oleh." Ujar Evelyn.


Mendengar jawaban Evelyn, dalam hati Tristan tertawa senang. Jika tidak ada sepupunya itu, ia pasti sudah akan tertawa di depan wajah adiknya tersebut, tepat di depan mukanya. Begitu cara Tristan meledek sang adik biasanya.


"Mending buruan pulang sebelum kesorean, malam minggu pasti jalanan macet." Seru Tristan hendak berbalik dan berjalan.


"Bang, bantu bawa koper!" Seru Sasha.


Tristan kembali menoleh mencoba menunjukkan wajah yang biasa saja sambil mengambil koper tersebut meski sesungguhnya dirinya malas melakukannya. Maklum saja, untuk Tristan yang tidak suka menunjukkan kebaikan dan menganggap semua kebaikan yang terlihat oleh orang lain hanyalah sebuah hal basa-basi atau tindakan formalitas yang tidak bermakna tulus, itu menurutnya.


"Gimana Tan, sibuk apa sekarang?" Tanya Evelyn yang duduk di kursi belakang.


"Nggak ada, kak." Jawab Tristan singkat.


"Abang ngerem di kamar terus, kak. Main games terus tiap malam. Berisik lagi, 24 jam nyetel musik di speaker. Kalau nggak di suruh keluar kamar dia nggak akan keluar kamar. Makan aja harus di suruh, kadang harus diteriakin dulu baru mau makan." Oceh Sasha yang pada dasarnya sangat suka berceloteh ditambah membahas sang kakak, itu adalah topik utama yang membuatnya bersemangat untuk menjatuhkan image cool yang dibangun oleh Tristan.


"Lho, nggak bantu Papa lagi? Bukannya kata Papa kamu yang udah urus doorsmeer?" Tanya Evelyn dengan nada suara terdengar heran.


Untuk Tristan itu hal yang aneh, ia tahu kalau sepupunya tersebut pastinya sudah diberitahu mengenai dirinya selama dua bulan ini yang sudah tidak mengurus usaha sang ayahnya tersebut. Tentu saja kedua orang tuanya pasti sudah memberirahu sebelum memintanya datang.


"Kasihan Papa dong yang urus sendirian, ada tiga doorsmeer kan?" Tanya Evelyn.


"Kalo yang di sini sih tiga kak, tp ada satu di kota X. Kakak There yang urus." Jawab Sasha lagi mewakili Tristan.


There atau lengkapnya Theresia Agatha S, adalah kakak perempuan Tristan yang sudah menikah dan tinggal di kota sebelah. There terpaut usia lima tahun dari Tristan.


"Kakak dengar tahun kemarin karena covid rental mobil ditutup ya? Terus gimana dek?" Tanya Evelyn dengan suara yang mengarah ke Tristan.


Tristan menoleh pada Sasha agar adiknya itu yang membantunya menjawab pertanyaan tersebut namun kali ini Sasha diam saja.


"Di mana mobil-mobilnya?" Tanya Evelyn lagi.


"Sebagian udah di jual kak, ada beberapa yang dititip jual ke showroom teman aku. Sisanya dua masih di rumah Papa." Akhirnya Tristan menjawab setelah merasa tidak enak jika dirinya hanya diam saja sedangkan Evelyn terus bertanya padanya. "Sebenarnya bukan karena covid juga ditutup cuma Papa udah nggak mau ngurusnya."


"Ya kamu yang urus dong, Tan." Seru Evelyn.


Tristan merasa salah bicara barusan, seharusnya ia tidak berbicara seperti itu, dan sekarang dirinya bingung harus menjawab apa.


"Tahu tuh kak! Abang nggak pernah mau ngurusin rental mobil semenjak temannya bawa kabur salah satu mobil." Sahut Sasha.


Perkataan Sasha mengingatkan Tristan kembali pada kejadian dua tahun lalu di mana salah seorang teman Tristan membawa kabur salah satu mobil di rental mobil usaha keluarganya. Padahal temannya tersebut sudah dibantu olehnya agar bekerja di tempat tersebut namun ternyata bukannya berterimakasih temannya itu malah menyalahgunakan kebaikan Tristan dengan mencuri mobil. Lebih parahnya lagi nama Tristan juga dipakai untuk membeli kredit sebuah mobil sehingga cicilan yang tidak dibayar tersebut harus Tristan sendiri yang membayarnya hingga saat ini.


Kesalahan temannya itu harus pria itu tanggung hingga mendapatkan amukan dari sang ayah. Hal itu ya membuat Tristan dicoret dari kartu keluarga atau lebih tepatnya, ia memutuskan tinggal seorang diri di rumah yang sudah lima tahun ia beli. Tadinya ia hanya ingin tinggal di rumahnya tersebut hingga kemarahan sang ayah reda namun ternyata ia merasa sudah nyaman dengan tinggal sendirian di sana.


"Teman kamu yang waktu itu pernah kamu ajak ke pesta nikahan Abang Ronny kan?" Tanya Evelyn lagi. "Sampai sekarang belum tahu dia di mana? Siapa namanya? Selvi?"


Tristan hanya bisa membuang napas dalam hati karena diingatkan kembali pada wanita yang sangat dirinya benci sekarang ini. Bukan saja karena wanita itu mencuri mobil atau pun menggunakan namanya untuk kredit mobil, namun ia juga sempat membuat hubungan Tristan dengan wanita yang dicintainya berantakan.


Wanita bernama Selvi tersebut menggoda Tristan hingga pria itu melupakan segalanya sampai-sampai menuruti semua perkataannya. Memberinya pekerjaan, menggunakan namanya untuk kredit mobil dan bahkan diam-diam berselingkuh dengannya.


Saat semuanya sudah terjadi, sang tunangan itu masih saja mau memaafkannya dan bahkan membuat hubungan Tristan dengan ayahnya membaik kembali. Kenyataan tersebut yang semakin membuat Tristan merasa bersalah hingga tunangannya itu pergi selamanya.


Apa yang terjadi saat ini, Tristan selalu berpikir jika itu adalah hukuman untuknya karena kesalahannya tersebut. Kesalahan yang amat sangat ia sesali meski wanita yang sangat ia cintai itu sudah sering mengatakan kalau dirinya sudah memaafkan dan melupakan pengkhianatan Tristan sepenuhnya.


Hingga saat ini pun Tristan masih tidak habis pikir dengan kebodohan dirinya yang mengkhianati wanita berhati malaikat seperti tunangannya tersebut.


...–NATZSIMO–...