
Namun apa daya, tampaknya usaha Tristan yang mengatakan jika dirinya sudah menikah pada seorang wanita yang sudah terpesona dengannya sia-sia. Entah apa yang dipikirkan wanita bernama Rosi itu, meski Tristan sudah mengatakan agar tidak menghubunginya, ia masih saja mengirimkan beberapa chat yang mengatakan jika dirinya tidak mempercayai pengakuan Tristan tersebut.
Jangan bohong, Kak. Aku nggak yakin Kakak sudah nikah.
Walau udah pun, aku rasa nggak masalah kan kalau sekedar tahu nama kakak.
Cuma mau tahu nama Kakak aja.
Tapi aku juga masih nggak percaya Kakak sudah nikah.
Buktinya mana?
Kurang lebih begitulah isi chat dari Rosi yang Tristan dapatkan. Intinya wanita tersebut tampak tidak percaya jika Tristan sudah menikah atau lebih tepatnya ia tidak ingin tahu apakah itu benar atau tidak, yang hanya wanita belia itu inginkan adalah mengenal Tristan lebih jauh.
Usaha wanita muda itu sepertinya tidaklah percuma. Melihat kegigihannya membuat Tristan membalas chat tersebut.
Berapa usia kamu?
Setelah mengirimkan chat tersebut Tristan meletakkan kembali ponselnya. Ia ingin sekali lagi mengenang kedekatan dirinya bersama dengan wanita yang sangat ia cintai itu di awal-awal pertemuan mereka.
Setelah perkenalan singkat Tristan dengan wanita itu di bandara, kurang lebih dua minggu mereka tidak saling menghubungi. Meski mereka sudah bertukar kontak, dan rasanya Tristan juga tertarik dengan wanita itu namun kenyataan rasa sakit hati yang masih pria itu rasakan setelah dikhianati Melissa, membuatnya tidak ingin langsung mendekati wanita lainnya.
Bukan karena dirinya merasa trauma namun ia hanya tidak ingin merasa dibebani dengan pemikiran lain yang bisa mempengaruhi kuliahnya. Untuk saat itu Tristan hanya ingin memfokuskan diri untuk kuliah. Selain itu dirinya juga ingin menata kembali rasa percayanya pada suatu hubungan.
Meski begitu, selang dua minggu pertemuan mereka tanpa Tristan kira, wanita yang berkenalan di bandara dengannya, mengirimkan sebuah chat padanya.
Maaf mengganggu, Tristan. Apa kamu tahu di mana restoran Indonesia di kota ini?
Pesan yang merupakan sebuah pertanyaan ringan itu pada akhirnya membuat hubungan antara Tristan dan wanita yang selanjutnya mengisi hatinya mengawali segalanya.
Wanita itu mengatakan jika dirinya sangat ingin menyantap makanan Indonesia, membuat Tristan berpikir untuk mengundangnya ke tempat tinggalnya di sana. Kebetulan Tristan tinggal di sebuah apartemen sederhana seorang diri ketika berada di negara tersebut.
Mereka berdua menyepakati pertemuan mereka di apartemen Tristan akhir minggu depan. Dan selama itu juga komunikasi di antara mereka berdua sudah mulai intens mereka lakukan. Walau hanya sekedar percakapan basa-basi mengenai keseharian mereka berdua.
Akan tetapi setiap pesan yang ia dapatkan dari wanita itu selalu membuat mood Tristan menjadi membaik setelah menerima pesan dari Melissa yang masih terus menghubunginya.
Aku tidak sabar menunggu hari esok.
Sebuah kalimat yang dikirimkan oleh wanita itu di selang satu hari sebelum pertemuan mereka berdua membuat Tristan tersenyum senang saat membacanya.
Namun kalimat tersebut membuat pria itu mulai berkaca-kaca saat mengingatnya. Pesan yang bertahun-tahun ia terima dan masih sangat ia ingat setiap detail karakter-nya membuat dadanya terasa sesak saat ini.
Kalimat yang jika dulu menjadi sesuatu yang membahagiakan karena sebuah penantian pertemuan kedua kalinya antara dirinya dengan wanita yang sangat ia cintai begitu terasa menyayat hati pria itu rasakan sekarang.
Untuk Tristan yang sudah tidak ingin menanti apapun di dalam hidupnya, merasa apa yang akan terjadi di hari esok tidak pernah menjadi berarti lagi. Baginya perasaannya dulu yang ia rasakan saat membaca kalimat membahagiakan wanita itu, sekarang tidak akan pernah bisa ia rasakan.
Hari esok, aku ingin tak pernah ada lagi.
Kalimat tersebut yang terlintas di pikiran pria yang matanya sudah mengeluarkan butiran air mata yang tak mampu ia tahan meski seberusaha apapun ia menahannya.
Tristan hanya menutup mata setelah membaringkan tubuhnya. Rasanya hanya ingin tenggelam pada bayangan masa lalu yang begitu sangat indah dan membahagiakan dirinya.
Terbayang sebuah wajah cantik yang memulas sebuah senyuman manis ketika dirinya membuka pintu tempatnya tinggal. Pertemuan kedua kali dirinya bersama dengan wanita yang sudah menariknya masuk ke dalam lubuk hati wanita itu juga. Pertemuan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan meski sekalipun ingin ia lupakan.
"Akhirnya kita bertemu kembali, Tristan." Ucap wanita itu dengan wajah memancarkan aura kecantikannya yang membuat dunia Tristan serasa terhenti sesaat. "Aku benar-benar sudah menunggu hari ini."
"Ah, maksudku... Aku sudah sangat menunggu untuk bisa memakan makanan Indonesia."
Kalimat penjelasan yang diucapkan wanita itu langsung membuat Tristan tersadar dari rasa berbunga-bunganya. Tampaknya wanita itu mengetahui Tristan yang salah mengartikan perkataannya sebelumnya. Hal itu membuat Tristan menjadi sedikit tertawa dengan rasa malu.
"Di luar sangat dingin, apa aku belum boleh masuk?" Tanyanya.
"Masuklah." Ujar Tristan segera membuka jalan untuk wanita itu agar ia masuk ke dalam kamar yang di tinggalinya.
Mata wanita itu mengitari seluruh isi ruangan yang hanya berukuran 6 x 10 meter persegi tanpa sekat, kecuali kamar mandi. Tristan hanya terdiam memandang si wanita karena baginya ini pertama kali dirinya mengajak seorang wanita masuk ke tempat tinggalnya itu. Bahkan bisa dibilang sebelum ini ia belum pernah berada berduaan saja dengan seorang wanita di suatu ruangan yang tertutup.
"Ini ruangan terbersih yang pernah aku masuki dari tempat tinggal seorang pria."
Perkataan wanita itu membuat Tristan sedikit merasa kecewa karena tampaknya wanita itu sudah sangat sering masuk ke ruangan pribadi seorang pria. Ya, itu sangat mungkin, untuk wanita secantik dirinya pasti sering berkunjung ke tempat tinggal seorang pria.
"Meskipun ini bukan pertama kalinya aku masuk ke ruangan seorang pria, tapi ini pertama kalinya aku datang seorang diri." Seru wanita itu sambil berbalik dan menatap Tristan. "Kenapa? Apa yang kamu pikirkan, Tristan?"
Tristan hanya menyunggingkan bibirnya pada ucapan wanita itu. Entah kenapa dirinya menjadi merasa sangat lega karena rasa senang yang ia rasakan. Segera ia berjalan melewati wanita itu dengan memulas sebuah senyum lebar agar wanita tersebut tidak melihat ekspresi kebahagiaannya saat ini.
"Kenapa tidak menjawab?" Suara wanita itu terdengar penasaran.
"Duduk saja dulu. Aku akan menyiapkan semuanya untukmu." Ujar Tristan yang berjalan menuju meja dapur untuk mempersiapkan makanan yang sudah dirinya masak untuk wanita tersebut.
Bukannya duduk wanita itu malah berjalan menghampiri Tristan dan melihat beberapa jenis makanan Indonesia yang sudah tersedia.
"Aku sudah tidak sabar memakannya."
Tristan menoleh pada wanita yang berada sedikit di belakangnya. Wajahnya terlihat menunjukkan ketidaksabarannya dengan sebuah senyum merona melirik pada Tristan.
"Ini harus dihangatkan dulu dengan microwave. Bersabarlah." Seru Tristan.
"Oke, aku akan menunggu dengan sangat sabar." Jawabnya sambil berjalan menjauh dan duduk di satu-satunya sofa dua seat yang ada di ruangan tersebut.
Tristan masih memperhatikan wanita itu dengan perasaan yang semakin senang. Hingga tanpa sadar ia tersenyum pada kehadiran wanita itu di tempatnya tinggal dan di hari itu. Hari yang membuat dirinya merasa bersyukur dilahirkan di waktu yang sama dengan wanita tersebut.
Rasa kebahagiaan yang dirinya rasakan ketika memandang wanita yang dicintainya terbawa saat ini. Tanpa sadar Tristan yang masih menutup mata dengan bulir air mata yang masih membasahi pelupuk matanya ikut tersenyum.
Tetapi itu tak bertahan lama, kenyataan membuatnya tersentak sadar sengan jantung yang terasa menyakitkan hingga pria itu membuka mata.
Segera Tristan bangun dari posisinya dan mengambil kembali ponselnya untuk membaca chat dari Rosi yang beberapa menit lalu sudah membalasnya.
18 tahun.
Aku ingin bertemu dengan, Kakak lagi. Apa boleh?
Perasaan datar atau lebih tepatnya Tristan tidak merasakan apapun ketika membaca jawaban tersebut. Ia tidak menjawab apapun lagi dan terdiam dengan bersandar di tempat tidur.
Hari itu, hari di mana semua hal terjadi membuat diriku merasa ingin kembali ke saat-saat tersebut. Hari dimana sebuah rasa kebahagiaan di mulai namun semuanya berakhir setelah bertahun-tahun kebahagiaan tersebut aku rasakan.
Sekarang, aku berharap diriku terhisap kembali ke masa lalu di saat pertemuan itu di mulai. Jika itu terjadi, aku tidak akan menyia-nyiakan setiap detik yang aku lewati tanpa dirimu. Setelah pertemuan pertama kita, dan pertemuan kedua yang membahagiakan itu, aku ingin memperbaiki semuanya dengan selalu menemani dirimu di setiap hembusan napasku.
Aku sangat merindukanmu, ....