
Kehadiran Melissa di rumahnya membuat Tristan menjadi kesal. Namun mau bagaimana lagi, tidak mungkin dirinya mengusir wanita itu dari sana.
Sebuah senyum merona di wajah oval wanita yang memiliki kulit putih ciri khas orang Indonesia tersebut. Tak ada balasan sebuah senyuman dari Tristan, pria itu malah berjalan masuk ke dalam rumahnya hendak menuju ke lantai dua untuk mengambil kaosnya.
"Tan, kamu sudah makan?" Tanya Melissa yang mengikuti langkah Tristan masuk ke dalam rumah.
Tristan yang berada di anak tangga kedua menoleh melihat pada wanita yang membawa sesuatu di tangannya.
"Ini aku bawakan makanan. Kamu pasti baru bangun ya? Baru mandi juga, kan?" Tanya Melissa. Sepertinya ia menebak dari rambut Tristan yang sudah mulai memanjang masih basah setelah mandi. "Aku siapkan dulu ya."
Tak ada yang dikatakan Tristan untuk menjawabnya, ia segera melangkahkan kakinya menaiki tangga ke lantai dua dan masuk ke sebuah ruangan. Ruangan yang seharusnya merupakan ruangan kamar tidur itu digunakan Tristan sebagai tempat ia menaruh lemari pakaiannya. Dirinya tidak menyukai kamarnya diisi dengan lemari pakaian sehingga meletakkan lemari tersebut di sana.
Ruangan tersebut juga dijadikannya sebagai ruangan televisi, di mana smart TV berukuran 55 inch berada di sana dengan di lengkapi sebuah sofa bed yang biasa digunakan ketika teman-temannya menginap.
Namun bukannya mengambil pakaiannya, Tristan malah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi adiknya. Tentu saja dirinya ingin agar Sasha segera pulang agar ia tidak bersama dengan Melissa hanya berdua saja.
Berkali-kali Tristan menelepon Sasha namun tidak langsung dijawab, hingga setelah belasan kali pria itu mencoba akhirnya adik tersayangnya menjawab.
"Kenapa Bang? Kenapa lo telepon gue terus? Jangan bilang nyesel nggak ikut ya? Sudah gue bilang mending tadi lo ikut ke sini. Hari ini juga sepi ternyata, nggak terlalu ramai, Bang. Banyak cewek-ceweknya juga lho. Kalau mau lo nyusul ke sini aja, si Claudia juga nanyain tuh..." Ujar Sasha yang langsung mengoceh.
"Ssstttt!!" Tristan berdesis untuk menghentikan ocehan Sasha. "Dek, pulang sekarang dong."
"Ah, lo Bang kalo ada maunya pasti panggil Dek!" Gumam Sasha yang sangat mengenal kebiasaan kakak laki-laknya. "Kenapa? Ada apa?"
"Lisa datang. Cepat pulang, gue nggak mau berdua sama dia di sini." Ujar Tristan terus terang seperti biasanya pada Sasha.
"Kenapa? Takut khilaf?" Seru Sasha meledek. "Gue nggak bisa pulang. Baru juga nyebur. Udah nikmatin aja berduaan sama dia, tapi jangan macam-macam lho, Bang, nanti gue minta pak Eko gerebek lo. Ya, satu macam aja nggak apa-apalah, dia juga pasti senang."
Dengan kesal Tristan berdecak pada ocehan Sasha. Sepertinya adiknya itu tidak akan mau mendengarkan permintaannya untuk segera pulang, sehingga mau tidak mau ia meladeni Lisa.
"Yam, cepat pulang nanti gue beliin—"
"Dah yah, Bang. Mau nyebur dulu." Potong Sasha setelahnya mematikan telepon secara sepihak.
Tristan hanya bisa menahan rasa kesalnya karena teleponnya langsung dimatikan. Beberapa kali ia mencoba menelepon Sasha kembali, namun tak ada jawaban. Itu membuatnya menjadi kesal.
"Tan, kamu belum pakai baju?"
Tristan yang masih berdiri di depan lemari pakaian terkejut. Ia menoleh dan melihat kehadiran Melissa dengan sebuah box makanan dibawanya.
"Sudah jam sebelas lewat, kamu pasti belum sarapan juga, kan?" Melissa mengambil remote pendingin ruangan dan menghidupkannya. "Pasti kamu ke panasan kan?"
"AC-nya dinyalakan jadi lebih baik tutup pintunya, kan?" Ujar Melissa menoleh pada Tristan yang menatapnya.
Tristan tidak menggubris Melissa, ia langsung segera memakai kaos berwarna putih yang baru saja dirinya ambil.
"Kamu jadi kurusan, Tan. Ini makan dulu." Ujar Melissa meletakkan box makanan Jepang ke meja yang ada di hadapan sofa.
Tristan masih tidak mengeluarkan suaranya, namun kali ini ia menatap pada Melissa yang sedang menghidupkan televisi. Sangat ingin dirinya menyuruh wanita itu pergi dari rumahnya, namun ia juga tahu, pasti ibunya yang juga menyuruh wanita itu datang.
"Lisa, harus berapa kali aku bilang, aku nggak mau kamu berusaha mendekati aku lagi. Aku sudah nggak ingin punya hubungan dengan siapapun, apalagi denganmu." Ujar Tristan dengan terus terang.
Itulah janji yang diucapkan Tristan pada dirinya sendiri setelah kehilangan wanita yang dicintainya. Ia sama sekali tidak ingin menjalin hubungan baru dengan siapapun. Baginya ia ingin mengabadikan cintanya pada sang tunangan dengan tidak mengisi rongga di mana hatinya sudah menghilang, dengan mengganti hati tersebut dengan hati yang baru. Dirinya berencana untuk hidup seorang diri selamanya.
"Tan, aku ke sini hanya mau membawakan makanan untuk kamu. Mama kamu bilang, kamu belum makan dan baru bangun. Tadi Sasha menelepon mama kamu dan aku diminta ke sini." Jawab Melissa dengan nada bicara ciri khasnya yang sedikit cepat.
Wanita itu langsung berjalan mendekati Tristan yang masih saja berdiri di depan televisi, lalu menarik Tristan untuk menyuruhnya duduk di sofa.
"Ayo, kamu harus makan!"
Merasa kesal dengan perlakuan Melissa, Tristan menarik lengannya dengan kasar dan sebuah decakan terdengar dari mulutnya.
"Jangan memaksa!" Seru Tristan sangat kesal. Dirinya selalu merasakan sebuah kekesalan pada sikap Melissa—sang mantan kekasih yang sangat suka memaksanya melakukan apapun yang dimintanya. Dulu pun seperti itu, ketika mereka masih menjalin hubungan.
"Kamu harus dipaksa, kamu pasti nggak mau makan kan kalau nggak dipaksa?" Seru Melissa dengan nada yang mulai meninggi. "Bagaimana kalau kamu sakit? Kamu pasti nggak tau gimana mama kamu selalu khawatir sama kamu."
Kalau sudah seperti ini, Tristan tahu meski apapun yang dikatakan dirinya, Melissa tidak akan mau mendengarkannya. Padahal sebelumnya tidak perlu dipaksa olehnya pun, Tristan juga akan memakannya karena rasa lapar sudah terasa sejak tadi. Akan tetapi sekarang rasa kesal karena sikap memaksa diri Melissa membuat pria itu enggan mengikuti kemauannya.
"Kamu masih nggak mau dengar?" Tatap Melissa dengan tatapan kesal pada Tristan.
Tristan hanya menyunggingkan senyum herannya melihat reaksi berlebihan Melissa atas sikap dirinya yang masih tidak bergeming, dengan tidak mau menuruti keinginan wanita itu untuk segera makan.
"Kenapa kayaknya kamu nggak suka banget sama aku?" Ujar Melissa dengan wajah penuh drama bagi Tristan.
"Iya, syukur kalau kamu tahu itu." Ucap Tristan dengan terus terang. "Seperti yang aku bilang kemarin kan, kita nggak akan bisa seperti dulu lagi. Itu semua udah lama berlalu, dan sudah sangat lama juga aku nggak mempunyai rasa apapun padamu. Malah kalau boleh jujur, aku merasa sakit hati atas semua tuduhan kamu waktu itu. Tuduhan tanpa dasar hanya karena rasa ketidakpercayaan kamu padaku."
"Tan, itu sudah hampir sepuluh tahun berlalu. Kenapa kamu masih mengungkitnya?" Tanya Melissa, kali ini wanita itu menunjukkan raut wajah memelas yang minta dikasihani.
"Nggak mungkin aku melupakannya. Karena tuduhan yang kamu buat padaku itu nyatanya hanya untuk menutupi kelakuan kamu yang sering pergi dengan cowok lain." Ujar Tristan dengan tatapan dingin dan dengan nada bicara yang perlahan. "Kamu yang berkhianat tapi kamu yang meneriaki aku pengkhianatnya. Kamu penuh dengan kepalsuan."
...–NATZSIMO–...