
*Kita akan bersama meski kita terpisah. Aku akan ada bersama denganmu walau aku tidak di sisimu lagi. Apa yang terlukis tidak akan bisa terhapus. Apa yang sudah tergores membuat sebuah bekas yang tidak akan pernah bisa siapapun hilangkan.
Jika kita tidak bisa bersama sekarang, kita akan bersama nanti. Jika kita tidak bisa bersama di dunia ini, maka kita akan bersama di tempat yang lainnya kelak. Jika hidup tidak bisa menyatukan kita, mungkin saja kematian yang akan membuat kita bersatu*.
Tok tok tok
"Bangun bang!! Udah siang nih!!"
Suara gedoran pintu dan teriakan renyah seorang gadis membuka mata Tristan dan menyadarkan kesadarannya yang bangun dari pingsan di dalam tidurnya.
"Mau bangun kapan? Pas kiamat nanti?" Gadis yang ada di luar kamar terus saja berteriak dengan membuat kegaduhan.
Tristan Alistair S, pria berusia 27 tahun itu segera bangun dari posisi berbaring dengan mengusap wajah tampannya. Baru saja dirinya mendengar suara yang sangat ia rindukan di dalam tidurnya.
"Keluar Bang, kalau nggak, nggak gue tinggalin sarapan lho!!"
Suara sang adik membuat Tristan beranjak turun dengan malas dari tempat tidur. Digapainya ponsel yang ada di atas tempat tidur untuk melihat waktu, saat ini sudah jam tujuh pagi.
"Bawel banget lo, yam!!" Kesal Tristan pada adik tercinta. Wajahnya tertekuk pada Trisha, sang adik yang berusia 24 tahun di tahun ini.
Trisha Adelaine S, atau Sasha, alias Ayam, panggilan kesayangan sang kakak laki-lakinya karena tugas utama dirinya sejak masih jaman sekolah adalah berkokok membangunkan Tristan. Hingga saat ini mereka berdua tinggal berdua di rumah yang Tristan beli lima tahun lalu.
Sejak dua bulan yang lalu Trisha tinggal bersama dengan Tristan setelah pria itu mengalami suatu musibah. Tristan yang tampak putus asa selalu mengurung diri di kamar ataupun di rumahnya hingga tidak bekerja lagi dan hanya melakukan kerja freelance, itu pun jika dirinya mau.
"Mama bilang lo ke rumah sana karena besok ada saudara datang dari kampung." Ujar Sasha sambil menyambar tas kerjanya karena sebentar lagi dirinya siap berangkat bekerja.
"Males, gue di sini aja." Jawab Tristan sambil berjalan turun ke lantai satu mengikuti sang adik yang lebih dulu turun.
Rumah mereka memiliki dua lantai di mana lantai kedua hanya ada dua kamar dan ruang televisi serta balkon dan satu kamar mandi. Di kamar utama yang Tristan pakai terdapat kamar mandi yang melengkapi Hikikomori dirinya di dalam kamar selama sebulan belakangan ini.
"Di depan komplek cuma ada nasi uduk, itu juga sisa satu. Makan gih, abis itu ke rumah Papa." Seru Sasha sambil memakai flatshoes di dekat pintu keluar.
"Udah seminggu nasi uduk terus. Gue nggak pengen sarapan." Ucap Tristan dari arah dapur sedang mengambil air mineral botol dan langsung meminumnya dari botol, maklum pria itu lebih suka minum dari botol dan tidak suka minum di gelas.
"Lo makin kurus, bang. Mau saingan sama gue?" Ujar Sasha sambil berjalan masuk mendekati Tristan meski dirinya sudah mengenakan sepatu. "Nih pegang HP-nya, gue udah masukin satu karya lo di platform itu dan udah proses kontrak. Username-nya gue pake nama gue dan identitas pengajuan kontrak juga. Ga tau bisa diganti apa nggak. Kalau dibayar otomatis buat gue." Sasha nyengir memperlihatkan giginya yang berbaris rapi dengan terawat.
Tristan hanya menerima ponsel dari tangan adiknya itu tanpa kata.
"Mending lo revisi naskahnya biar makin panjang dan lo baca-baca ketentuan yang ada di sana. Soalnya gue nggak baca sama sekali." Lanjut Sasha.
Tristan hanya mendengus mendengarnya sambil memasukkan kembali botol minuman ke kulkas.
"Gue nggak bawa motor, nanti pas pulang lo jemput ya Bang?"
"Naik gojek aja! Males gue keluar." Jawab Tristan sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Sasha berdecak kesal pada kakak laki-lakinya itu. Namun apa mau dikata, ia juga mengerti apa yang sedang terjadi pada sang kakak, dan dirinyapun memakluminya.
"Yaudah nanti gue pulang bareng Nathan." Ujar Sasha.
"Terserah." Jawab Tristan dengan suara hampir tidak terdengar ketika dirinya sedang buang air kecil di dalam kamar mandi.
"Gue berangkat bang, di makan nasi uduknya!!" Seru Sasha.
Tristan tidak menjawab. Pemuda itu mencuci wajahnya di wastafel dan bercermin. Bisa ia lihat bagaimana dirinya mengalami penurunan berat badan yang drastis selama dua bulan ini. Sebanyak sepuluh kilogram beban tubuhnya menyusut karena beban pikiran yang melanda dirinya setelah kehilangan sosok wanita yang ia cintai.
Tidak ada yang dirinya lakukan selain hanya berbaring di atas tempat tidur setelah adiknya pergi bekerja. Ia hanya mengutak-utik ponselnya dan membaca pesan WhatsApp yang diterimanya dari beberapa teman serta dari sang ibu.
Rumah orang tuanya masih berada di kota yang sama, jarak dari rumah orang tuanya itu ke rumah Tristan tidak mencapai sepuluh kilometer. Namun dirinya sangat enggan untuk ke sana, ditambah saudaranya dari kampung akan datang. Moodnya sedang tidak bagus sama sekali untuk meladeni apapun ucapan dari siapapun.
Ponselnya bergetar dan muncul panggilan WhatsApp dari sang ibu. Karena Tristan tidak membalas pesan itu, ibunya langsung menelepon.
"Itan, kenapa nggak balas chat Mama?" Tanya ibunya. "Datang ke sini, mama masak daging rica-rica kesukaan Abang."
"Itan males, Ma. Sakit kepala." Jawab Tristan tidak semangat.
Setelah menolak permintaan ibunya dengan tegas di telepon, Tristan beranjak bangun sambil melihat ponsel pemberian Sasha, ia hanya membuka aplikasi platform yang diucapkan Sasha padanya sesaat namun tidak ada niatan untuknya melakukan apapun. Di taruhnya kembali ponsel itu ke sampingnya dan segera dirinya berbaring untuk melanjutkan tidurnya.
Tristan baru bisa tidur ketika pagi menjelang, itu membuatnya menjadi mengantuk lagi saat ini. Ia berniat tidur hingga sore hari saja, dan menjadikan nasi uduk yang dibelikan Sasha tadi pagi untuknya sebagai satu-satunya ganjalan perutnya hari ini.
Suara ponsel berbunyi membuat Tristan membuka mata. Adiknya—Sasha menelepon, sempat ia melihat kalau saat ini sudah jam empat sore sebelum menerima panggilan WhatsApp dari Sasha.
"Lo udah makan apa Bang hari ini?" Tanya Sasha di ujung telepon. "Mau gue belikan makanan? Nanti pas pulang gue mampir beli dulu."
"Nggak usah." Jawab Tristan langsung menutup telepon.
Muncul pesan WhatsApp dari Sasha tidak lama setelah dirinya menutup telepon, semula ia enggan membaca pesan tersebut namun ketika melirik ke arah ponsel, bisa ia baca ada nama Nathan di pesan itu. Secepatnya Tristan membuka chat dari adiknya.
Gue pulang malam, Nathan ngajak pergi. Lo GO-FOOD aja ya bang.
Membacanya membuat Tristan kesal. Sejujurnya dirinya tidak menyukai pria bernama Nathan yang mendekati adiknya itu karena ia tahu sepak terjang Nathan yang suka bergonta-ganti kekasih.
Segera Tristan beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Secepat kilat pemuda itu membersihkan dirinya yang belum mandi hari ini. Ia mengejar waktu sebelum jam pulang kerja Sasha karena dirinya berubah pikiran dan berniat menjemput adik perempuannya itu di tempatnya kerja.
Dengan melajukan mobil SUV berwarna putih gading, Tristan berpacu dengan waktu karena jalanan sedang macet sekarang. Jam pulang kerja di kawasan pabrik yang ada di kota tersebut membuat Tristan harus mencari celah untuk membawa mobil besarnya meliuk-liuk mencari celah agar dirinya tidak terlambat. Sengaja dirinya tidak memberitahu Sasha kalau akan menjemputnya.
Suara ban berdecit keras ketika Tristan menginjak remaja mobil. Bisa dirinya lihat adiknya saat ini hampir saja masuk ke dalam mobil pria bernama Nathan.
Tristan langsung keluar mobil dengan tatapan malas pada Sasha dan Nathan. Sedangkan adiknya tampak terkejut dengan kehadiran sang kakak yang sudah hampir dua bulan ini enggan keluar rumah.
Tatapan Sasha tampak heran pada Tristan yang berdiri menatapnya setelah keluar dari mobil.
...–NATZSIMO–...
Kamus Author :
Hikikomori adalah istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Dr. Tamaki Saito, yang mendefinisikan bahwa Hikikomori adalah suatu situasi pengasingan diri saat tidak adanya partisipasi sosial, yang berlangsung setidaknya 6 bulan berturut-turut.
...----------------...
Follow IG Author untuk visual character dari tokoh yang ada di sini ya.
@natzsimo.author
...****************...
Disclaimer:
Cerita hanyalah fiktif belaka walau dibuat dari beberapa keadaan yang ada namun sepenuhnya tidaklah nyata.
Silakan berkomentar mengenai karya dan bukan mengenai yang lainnya ya. Terimakasih.