
Tristan tidak berkata apapun ketika dirinya hadir untuk menjemput Sasha, bahkan ia mengalihkan pandangannya ke samping karena malas melihat pria yang berdiri dekat dengan adiknya.
"Bang, kenapa lo jemput? Bukannya tadi bilang nggak mau?" Sasha tampak heran pada melihat kehadiran sang kakak.
Dengan tatapan malas, Tristan menoleh pada Sasha namun mulutnya tetap bungkam. Pria itu langsung masuk kembali ke dalam mobil untuk menunggu adiknya.
Di dalam mobil Tristan memperhatikan Sasha berbicara dengan Nathan, tatapannya sangat kesal pada pria yang merupakan teman di sekolahnya dulu itu. Karena tidak sabar ia menekan klakson beberapa kali agar adiknya itu segera masuk ke dalam mobil.
Wajah Sasha melirik kesal pada Tristan namun bisa dilihat jika ia langsung mengakhiri percakapannya dengan Nathan. Gadis itu meminta maaf karena sekali lagi dan lalu bergegas menghampiri mobil kakak laki-lakinya.
Tristan sangat tahu kalau Sasha menjadi kesal padanya, namun dirinya tidak memedulikannya. Itu sudah biasa baginya jika saudari perempuannya itu kesal padanya, malah ada perasaan puas yang dirasakannya ketika membuat Sasha kesal.
"Kenapa nggak balas WA kalau mau jemput? Gue jadi nggak enak sama Nathan!!" Wajah Sasha tertekuk ketika memasuki mobil dan duduk di kursi samping Tristan.
Tristan tidak menjawab dan langsung menggas mobilnya dengan keras, tatapannya pada Nathan yang masih berdiri memperhatikannya.
"Bang!! Ah! lo harusnya bilang kalau mau jemput!!" Seru Sasha semakin kesal karena tak mendapat respon dari Tristan. "Padahal gue udah senang mau pergi dengan Nathan."
"Jangan pergi dengan dia!! Dia itu berengsek!! Lo tahu kan kalau dia PK!!" Tristan tersulut emosi mendengar perkataan Sasha.
"Kayak lo nggak aja!!" Kesal Sasha namun Tristan tahu kalau adiknya itu langsung menghilangkan rasa kesalnya itu. "Tumben lo mau keluar rumah? Kirain bakal terus ngedekam di kamar dan rumah. Udah dua bulan lo nggak kemana-mana."
"Mama telepon, gue di suruh kesana. Mama juga masak daging rica-rica, nggak mungkin gue nggak pulang ke rumah Papa." Jawab Tristan tentunya mengarang karena sebelumnya dirinya enggan ke rumah orang tuanya tersebut.
"Besok Kak Evelyn datang mau ketemu lo, Bang." Ujar Sasha sambil mengarahkan pandangan ke ponsel miliknya.
Mulut Tristan kembali bungkam. Dirinya tahu apa tujuan saudari sepupunya itu datang ke kota ini dari luar pulau. Evelyn adalah seorang psikolog, orang tuanya pasti memintanya untuk berbicara dengan dirinya mengenai apa yang terjadi padanya dua bulan ini.
"Bang, Seventeen mau konser di Indonesia lagi, akhir tahun nanti. Lo harus bantu gue biar dapat tiketnya. Yang kemarin cepat banget sold out padahal gue udah mantengin terus." Ujar Sasha dengan antusias saat melihat kabar boyband Korea favoritnya akan menggelar konser kembali di Indonesia. "Nanti kalau dapat tiketnya, gue traktir lo."
Tristan tahu bagaimana adik perempuannya itu sangat menyukai boyband negeri gingseng tersebut, bahkan ia melihat ketika adiknya itu sangat merasa kecewa ketika bulan lalu gagal mendapatkan tiket yang konsernya di adakan bulan ini.
"Nggaklah, males banget... para banci!" Ucap Tristan dengan pandangan ke depan.
"Sialan lo! Biar kayak banci mereka juga jauh lebih keren dari lo!!" Tatap Sasha sangat kesal pada Tristan. "Lo bukan apa-apanya!"
"Kerenan gue lah!" Timpal Tristan tidak ingin mengalah. "Kalau mau gue juga bisa kayak mereka!!"
Sasha hanya menatap muak melihat pada Tristan dengan ucapannya itu. Walaupun memang ia juga tahu saat di sekolah bahkan kuliah dulu, banyak wanita yang mencoba mendekati kakaknya itu dan bahkan tidak sedikit yang berusaha menjadi dekat dengan Tristan dengan cara meminta bantuannya, tapi untuk Sasha tetap kakaknya itu tidak ada apa-apanya dibanding para member boyband favoritnya tersebut.
"Pengangguran mau nyaingin cowok-cowok keren gini, mana bisa." Gumam Sasha sambil mengarahkan tatapannya kembali ke layar ponsel.
Setelah mengalami keterpurukan karena akibat kisah cintanya berakhir, Tristan tidak bekerja lagi di usaha yang ayahnya punya. Ia memilih untuk menjadi penulis freelance di portal berita dan sebuah perusahaan E-commers, itu pun ia lakukan dengan sesuka hatinya sesuai dengan moodnya.
Hal itu membuat dirinya merasa seperti seorang pecundang sekarang. Tak ada lagi yang diinginkannya, ia hanya ingin menjalani hidup sedatar mungkin dengan tidak melakukan apapun. Beruntung sang adik yang sebelumnya tinggal dengan kedua orang tua mereka memutuskan pindah dan hidup bersama dengan Tristan di rumahnya. Pria itu tahu maksud dan tujuan Sasha memutuskan hal itu. Semua itu agar dirinya tidak semakin merasa kesepian.
"Anterin gue ya Bang kalau gue dapat tiket konser itu?!" Ujar Sasha.
"Males! Lo bisa pergi dengan Nathan, kan?" Jawab Tristan tanpa menoleh.
Sasha hanya berdecak kesal mendengar jawaban Tristan. Namun dirinya juga tahu kalau kakaknya tidak mungkin mau mengantarnya.
Tidak berapa lama mereka sampai di rumah kedua orang tua mereka. Sang ibu—Debora tampak senang melihat kehadiran anak laki-lakinya tersebut, bahkan Tristan bisa melihat bagaimana ibunya itu langsung berlari keluar rumah saat dirinya membunyikan klakson agar dibukakan pagar rumah.
"Mama sudah tunggu dari tadi, Mama kira kamu nggak akan datang. Ayo makan dulu, Mama siapkan makanannya sekarang." Seru Debora dengan sangat senang ketika menyambut kehadiran Tristan.
"Astaga, Mama kalau ada Abang, aku jadi anak tiri." Ujar Sasha dengan raut wajah tertekuk.
"Nanti aja Ma, Itan mau rebahan dulu." Jawab Tristan sambil berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya di rumah itu.
Secepatnya Tristan masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dengan membuang napas dari mulut.
Ia ingin tidur saja lagi hingga nanti. Dirinya menjadi menyesal kenapa harus keluar dari rumahnya hanya karena pria seperti Nathan menjemput adiknya itu.
Belum sempat dirinya memejamkan mata, pintu kamarnya diketuk seseorang dan langsung dibuka begitu saja karena tidak terkunci. Muncul Sasha dari luar sambil membawa bucket es krim besar.
"Mau makan es krim, Bang?" Tanya Sasha tanpa memedulikan Tristan yang hanya ingin tidur.
"Keluar sana! Kalau mau gue bisa ambil sendiri." Kesal Tristan melihat kedatangan Sasha di kamarnya.
Sasha malah ketawa mendengar rasa kesal Tristan. Namun ada tujuan lain kenapa ia ke kamar kakaknya itu.
"Bang, Melissa datang. Dia ada di bawah nunggu lo."
Mendengar perkataan Sasha, Tristan langsung mengangkat kepalanya karena terkejut. Dirinya tidak menyangka jika mantan kekasihnya dulu di sekolah menengah atas datang ke rumahnya. Tidak, seharusnya dirinya tidak heran karena wanita itu masih tinggal di komplek perumahan yang sama dengan rumah orang tuanya tersebut, dan sudah berkali-kali pula Melissa mengiriminya chat yang hanya dijawab Tristan sekedarnya, itupun saat dirinya ingin membalas.
"Kayaknya Mama yang minta dia datang. Mama telepon dia tadi, bilang lo ada di sini." Ucap Sasha dengan terkekeh sambil berjalan keluar.
...–NATZSIMO–...