You Are The Apple Of My Eye

You Are The Apple Of My Eye
011. PENYESALAN LUAR BIASA



Minggu pagi menjadi hal yang sama saja setiap hari. Tidak ada yang spesial dan istimewa. Sudah lebih dari dua bulan setiap hari menjadi hari biasa pada umumnya bagi Tristan.


Meski baru tidur dua jam, Tristan membuka mata tanpa menggerakkan tubuhnya. Ya, setiap hari selalu seperti itu. Ketika matanya terbuka setelah bangun dari tidur dengan sendirinya, ia akan selalu terdiam sesaat sambil merenungkan kemalangan yang menimpa hidupnya.


Rasa rindu yang amat sangat tidak tertahankan selalu menyelimuti dirinya hingga pandangannya menjadi kabur karena menahan air mata agar tidak tertumpah keluar.


Saat dirinya sudah tidak bisa menahan perasaan sedih, ia akan menutup mata sambil mengingat kenangan-kenangan indah yang pernah dilaluinya dengan wanita yang sangat dicintainya itu.


Dirinya mulai terbayang ketika ia mengantar sang kekasih hati menuju negara yang akan ditinggali selama kurang lebih lima tahun seorang diri. Sehabis melangsungkan pertunangan, Tristan ikut ke negara tersebut untuk menemaninya selama satu minggu. Memastikan agar wanita yang dicintainya itu memiliki tempat tinggal dan lingkungan yang aman ketika hidup seorang diri di sana.


"Tan, bangun. Kita harus ke gereja."


Suara lembut sang kekasih yang menggunakan bahasa di mana mereka berdua bertemu di negara tersebut membuat Tristan membuka mata. Tatapan favorit Tristan langsung terlihat di pandangannya. Bola mata berwarna Emerald yang diturunkan sang ibu menatapnya dengan lekat. Sesungguhnya Tristan pun tidak tahu pasti apa warna bola mata tersebut karena entah bagaimana warnanya terlalu sering berubah, sesuai dengan kondisi penerangan di mana wanita itu berada. Namun untuk Tristan itu adalah bola mata terindah yang pernah ia lihat selama dirinya hidup.


"Aku harus mencari gereja untuk beribadah setiap minggu saat di sini. Kamu pasti akan mengoceh saat aku tidak melakukannya." Ujar sang wanita.


Tristan yang beranjak duduk hanya tertawa kecil mendengarnya setelahnya mengambil sikap untuk berdoa pagi. Tristan memang dididik untuk tidak meninggalkan ibadah setiap minggu ke gereja, Keluarganya adalah keluarga yang taat beribadah, bahkan Tristan tidak pernah lupa untuk berdoa setiap pagi saat bangun dari tidur. Hampir setiap kegiatan ia dahulukan dan diakhiri dengan berdoa.


Namun itu dulu. Semua berubah setelah ia merasa hidupnya hancur ketika wanita yang teramat sangat ia cintai diambil dari rengkuhannya. Tak ada lagi ibadah, tak ada lagi doa pagi atau pun doa-doa lainnya. Untuk dirinya semua itu adalah hal yang sia-sia. Perasaan Tristan saat ini hanya ada kemarahan pada Tuhan. Ia merasa apa yang dilakukannya percuma karena sosok yang diidolakannya yang terukir besar di punggungnya memberikan rasa sakit luar biasa di dalam dirinya.


Pagi itu air mata mengalir dari matanya yang tertutup. Ia memilih untuk kembali tidur meski tidak benar-benar terlelap.


Dalam tidurnya ia kembali mengingat saat dirinya bersama wanita yang dicintainya duduk berdampingan di sebuah gereja di negeri asing tersebut. Meski mereka berdua tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh sang pendeta, mereka tetap mengikuti jalannya ibadah dengan sesekali berbisik karena merasa aneh.


"Apa kita menikah di sini saja?" Bisik Tristan pada wanita yang dicintainya. "Menikah siri, kayaknya bisa." Kali ini Tristan berbicara menggunakan Bahasa Indonesia dengan senyum yang tertahan. Tentunya dengan tidak bersungguh-sungguh mengatakannya.


Ayah sang kekasih adalah orang Indonesia yang berasal dari sebuah suku yang kental akan budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Meski Tristan dan tunangannya sudah lama menjalin hubungan namun karena wanita tersebut memiliki seorang kakak wanita yang belum mempunyai kekasih sehingga ayah tunangannya itu tidak mengijinkan mereka menikah. Mereka diminta untuk menunggu sampai kakak perempuan wanita itu menikah terlebih dahulu baru setelahnya mereka boleh untuk menikah.


Meski Tristan sudah sangat ingin menikahi kekasihnya itu namun ia menyanggupinya, toh untuknya menikah hanyalah sebuah bentuk legalitas yang disahkan negara. Sejak awal keyakinan dirinya mengenai sebuah pernikahan memanglah berbeda. Untuknya dirinya yang sudah bersumpah pada Tuhan akan setia dengan wanita yang sangat dicintainya itu telah menganggap mereka menikah. Tentu saja tak ada niatan untuknya mengkhianati sumpahnya itu.


Tristan tertawa kecil mendengarnya. Tentu saja hari itu sehabis ibadah Tristan menemui si pendeta dan membicarakan maksud tujuannya. Meski awalnya ia hanya bercanda namun untuknya semua itu patut dicoba, apalagi negara tersebut melegalkan hubungan sesama jenis dan tidak jarang pasangan berbeda keyakinan memilih menikah di sana.


Namun sayangnya seperti halnya di Indonesia, negara tersebut juga membolehkan pernikahan secara agama jika kedua pasangan menikah secara sipil terlebih dahulu. Sehingga Tristan hanya meminta sang pendeta untuk memberkati dirinya bersama sang kekasih agar cinta mereka abadi untuk selamanya.


Setelah pemberkatan sang pendeta, Tristan dan kekasihnya tertawa dengan apa yang baru saja mereka lakukan ketika dalam perjalanan keluar dari rumah ibadah tersebut. Mereka bahagia, ya tentu saja. Setiap kali mereka berdua bersama dan apapun yang mereka lakukan selalu membuat kebahagiaan yang sangat besar bagi pasangan tersebut.


Mengingat kejadian tersebut tanpa sadar Tristan yang tertidur tertawa saat melihat wajah bahagia wanita yang dicintainya dalam tidur. Ia tersadar hingga membuka matanya kembali dengan perasaan bahagia yang masih terbawa namun lambat laun semuanya pudar kembali. Ia kembali teringat pada kenyataan pahit yang harus dirinya terima saat ini.


Entah bagaimana saat ini ia merasakan kalau apa yang terjadi pada dirinya karena ulahnya sendiri. Ia telah bersumpah pada Tuhan dan bahkan hubungan mereka sudah diberkati oleh sang pendeta agar abadi namun pengkhianatan yang dirinya lakukan membuat semuanya berakhir. Tristan harus menerima wanita yang sangat dicintainya itu pergi selamanya.


Pengkhianatan yang ia lakukan satu tahun lalu bersama seorang wanita yang sudah menipunya membuat Tristan merasa buruk hingga sebuah penyesalan yang besar terus menerus membuatnya ingin menghukum dirinya.


Karena keberadaan jauh sang tunangan yang tidak bisa kembali ke Indonesia saat wabah covid menyerang, membuat Tristan mudah tergoda dengan wanita lain. Wanita yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sang tunangan. Namun karena dirinya yang sudah lebih satu setengah tahun tidak bertemu dengan sang kekasih membuat Tristan tergoda dengan mudahnya.


Air mata penyesalan terurai begitu saja tanpa bisa pria itu tahan. Rasa cinta yang ditunjukkan wanita yang dicintainya itu dengan sebuah pengampunan luar biasa pada pengkhianatan Tristan, membuatnya begitu sangat menyesal. Bahkan perkataan sang tunangan yang malah menyalahkan dirinya karena berada jauh dari Tristan semakin menambah beban rasa bersalah Tristan.


Setelah pemerintah negara dimana tunangannya itu bekerja membuka penerbangan kembali, ia langsung kembali ke Indonesia untuk berbicara dengan Tristan mengenai pengkhianatan yang dilakukan pria itu.


Tidak ada rasa marah, dan malah wanita itu menunjukkan rasa kasihan dirinya pada Tristan yang ditipu oleh wanita yang menjadi selingkuhannya. Bahkan ia membuat hubungan antara Tristan dan ayahnya kembali baik. Yang lebih dari itu, Wanita itu sama sekali tidak menyudutkan Tristan dengan segala kesalahan yang dibuatnya.


"Itu semua bukan salah kamu, aku yang lebih bersalah karena berada jauh darimu. Seharusnya aku tidak menerima tawaran itu dan berada di sini bersamamu. Tapi aku egois karena hanya memikirkan diriku dengan ambisiku."


Kalimat sang kekasih itu masih terus terngiang dalam benak Tristan. Dan sekarang yang terjadi sepertinya Tuhan membalaskan rasa sakit sebuah pengkhianatan yang dilakukannya pada wanita yang sangat mencintainya tersebut.


Inilah hukuman yang pantas bagi si pengkhianat. Sebuah penyesalan yang sangat luar biasa.


...–NATZSIMO–...