
Kamar yang gelap dan sangat dingin menemani Tristan dalam kesendiriannya hampir di setiap malam. Kebiasaan pria itu yang sangat menyukai udara dingin terbentuk setelah selama hampir Lima tahun berada di negara beriklim dingin yang ekstrim. Bahkan tak jarang juga dirinya sering kembali ke negara tersebut untuk menemui wanita yang dicintainya ketika sang kekasih melanjutkan kuliah di negara itu.
Sang kekasih hati yang merupakan anak dari seorang ibu yang berasal dari negara tersebut, kembali ke negara di mana dirinya dan Tristan dulu berkuliah. Setelah selama beberapa tahun mereka kembali ke Indonesia.
Wanita yang namanya terukir di sanubari Tristan itu mengambil jurusan kedokteran dan memutuskan untuk mengambil spesialis, sehingga mereka harus tinggal berjauhan selama beberapa tahun. Sampai akhirnya wanita itu lulus dan mendapatkan sebuah tawaran bekerja di negeri lain tiga tahun lalu. Tahun di mana mereka berdua memutuskan untuk bertunangan sebelum kepergian sang kekasih untuk bekerja di negeri kincir angin di tahun selanjutnya.
Jam dua pagi, Tristan masih saja terbangun dan memusatkan perhatiannya pada layar komputer yang berada di dalam kamar. Saat ini dirinya sedang mengerjakan pekerjaan paruh waktunya dengan fokus. Di samping komputer terdapat laptop yang juga menyala. Benda tersebut sedang memutar sebuah anime kesukaannya agar dirinya yang sedang bekerja tidak merasakan kebosanan. Meski salah satu telinganya tersumpal earphone bluetooth untuk mendengarkan percakapan anime yang ditontonnya, suara lagu yang diputar dari sebuah speaker bluetooth juga sayup-sayup terdengar.
Hampir tiap hari Tristan seperti itu saat dirinya berada di ruang pribadinya. Bahkan ketika ia tidak sedang mengerjakan kerjaan freelance-nya pun pria itu masih terjaga hingga matahari menyongsong. Sepanjang malam selalu menyibukan diri dengan segala macam hal, bukan karena sebuah kewajiban, hanya saja dirinya memang tidak merasakan sedikitpun rasa mengantuk.
Malam ini Tristan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya merasakan rasa panas yang melebihi sebelumnya. Efek sambal yang tercampur di mie ayam yang di makan olehnya membuat rasa haus terus menerus dan keringat keluar dari pori-pori tubuhnya.
"Kenapa panas banget?" Gumam Tristan sambil membuka kaos yang dipakainya memperlihatkan beberapa tato yang terukir di tubuhnya.
Sebuah tato dengan ukuran sangat besar yang merupakan gambar sosok yang diidolakannya berada di punggungnya. Dada kiri terukir sebuah kalimat favoritnya dan rusuk kanan yang terdapat tato inisial nama wanita yang dicintainya, huruf tersebut juga merupakan inisial namanya. Ya, pria itu memang menyukai karya seni tersebut, bahkan inisial dirinya dan sang kekasih juga terukir di bagian lengan kiri. Tato terakhir berada di betis kaki kanannya, sebuah foto dirinya sewaktu kecil dengan seekor anjing yang merupakan peliharaan kesayangannya. Namun sayang anjing tersebut sudah meninggalkannya sewaktu masih di sekolah menengah atas.
Karena merasakan panas dengan keringat yang bercucuran akhirnya Tristan menghentikan kegiatannya dan melepaskan earphone dari telinga kanannya lalu beranjak dari duduk. Ia berencana mandi lagi agar tubuhnya merasakan kesegaran. Dengan segera dirinya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Meski sekitar jam sepuluh malam sebelumnya dirinya mandi, ia tidak memedulikannya. Sangat sering Tristan seperti itu. Bahkan setiap malam dirinya selalu mandi di atas jam sembilan malam agar tidak merasakan kepanasan saat menjelang tidur.
Selesai mandi tanpa memakai kaos, ia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur sambil meraih ponselnya. Lagu yang ia putar di speaker masih terdengar karena memang pria itu selalu menghidupkan musik selama dirinya berada di dalam kamar bahkan ketika tidur sekalipun.
Sebuah pesan muncul dari sang adik yang berada di kamar tidurnya. Kamar yang berada di samping kamarnya.
Lo mandi bang? Dibilang jangan keseringan mandi jam segini!! –Sasha–
Jam segini kenapa lo belum tidur? –Tristan–
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar Sasha terbuka, Tristan langsung bangkit berdiri dan keluar untuk menjahili adiknya. Ia berpikir kalau Sasha akan ke toilet sehingga dirinya berniat menakut-nakuti adiknya tersebut yang pada dasarnya bukan seorang pengecut. Hal itu yang membuat Tristan ingin membuat adiknya itu menjadi takut.
Namun ketika ia membuka pintu bukan Sasha yang ia lihat melainkan kakak sepupunya Evelyn. Ia tidak tahu kalau Evelyn berada di rumahnya karena adiknya tidak memberitahukannya tadi ketika mereka berdua mengobrol sambil makan dirinya mie ayam.
"Kamu beneran mandi jam segini, Tan?" Tanya Evelyn dengan wajah heran menatap rambut Tristan yang masih basah dan tidak mengenakan kaos. "Nggak kedinginan?"
"Dasar aneh." Gumam Evelyn sambil berjalan mengarah tangga dengan botol minuman yang dibawanya. Ia ingin mengisi botol minumannya di dapur.
Tristan langsung membuka pintu kamar Sasha dan melihat Sasha masih duduk di atas tempat tidur sambil menonton Drama Korea di smart televisi yang tergantung di tembok.
"Kenapa lo nggak ngomong Kak Eve nginep di sini?" Tanya Tristan pada Sasha.
"Gue pikir lo udah tahu, Bang." Jawab Sasha dengan wajah heran.
Ketika Tristan turun ke lantai satu untuk makan mie ayam bersama Sasha, Evelyn sudah berada di dalam kamar Sasha sehingga pria itu tidak melihat keberadaannya di rumahnya.
"Bang, Claudia nyuruh lo ikut nanti." Seru Sasha menatap sang kakak yang masih berdiri di ambang pintu kamar. "Ikut aja bang, gue sama kak Eve jadi nggak enak kalau ada Claudia. Dia nanti jadi nggak ada temannya." Ujar Sasha meyakinkan Tristan agar ikut ke waterpark hari ini bersama dengan dirinya.
"Nggak akan!" Jawab Tristan setelahnya menutup pintu kamar tersebut dan masuk kembali ke dalam kamarnya.
Tristan segera masuk kembali ke dalam kamar miliknya dan memakai kaos segera, setelah itu ia duduk kembali di depan layar komputer untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.
Hingga rasa mengantuk menyerangnya, waktu pukul empat pagi. Ia melihat jam di layar ponselnya. Di sana juga tertulis kalau hari ini adalah hari Minggu.
Biasanya setiap hari, di jam tersebut dirinya akan menelepon sang kekasih yang sejak tiga tahun lalu bekerja di negara yang memiliki perbedaan waktu enam jam dari negara dirinya tinggal. Wanita yang di cintainya atau pun Tristan akan menelepon untuk mengucapkan selamat malam dan selamat pagi.
Hari minggu biasanya menjadi hari spesial karena mereka akan lebih lama mengobrol melalui panggilan video untuk menceritakan banyak hal. Biasanya percakapan berakhir ketika sang wanita sudah mengantuk atau sudah saatnya untuk Tristan pergi beribadah.
Akan tetapi tentunya semua itu tidak akan terjadi lagi. Saat-saat seperti itu tidak mungkin bisa ia rasakan kembali karena wanita yang berencana di nikahinya dua tahun lagi, sudah pergi meninggalkannya.
Tristan memilih merebahkan tubuhnya untuk tidur. Hari ini menjadi hari biasa seperti hari-hari lainnya. Wanita yang sangat dicintainya sudah berada sangat jauh darinya, bukan saja berjuta-juta milimeter lagi jarak yang memisahkan mereka berdua melainkan sesuatu hal yang disebut ketidakmungkinan untuk mereka bertemu ataupun hanya sekedar mengucapkan selamat malam dan selamat pagi.
Bagi Tristan, wanita yang sudah membawa hatinya pergi tersebut, hilang di antara bintang-bintang langit malam. Sedangkan dirinya lenyap di bawah bara api kehidupan.
...–NATZSIMO–...