
Tristan membuka matanya saat waktu menunjukkan pukul sepuluh siang. Ini kedua kalinya ia tertidur di hari ini setelah subuh tadi hanya tertidur tidak lebih dari dua jam. Dan baru saja sekitar lima belas menit lalu ia memejamkan mata, namun jantungnya lagi-lagi terkejut hingga membuatnya terbangun.
Di ambilnya ponsel miliknya yang baru saja menyala karena sebuah notif masuk. Ia membukanya dan melihat chat WhatsApp dari seorang wanita yang tidak benar-benar ia kenal masuk.
Wanita itu adalah si pemilik topi yang tempo hari bertemu dengan Tristan. Sudah satu minggu berlalu setelah pertemuan mereka dan selama itu juga wanita yang menyimpan nomer ponsel Tristan menghubunginya. Hampir setiap hari wanita itu mengirimi chat WhatsApp pada Tristan namun tak sekalipun pria itu menjawabnya.
Kali ini wanita itu hanya mengirim sebuah sticker tersenyum tanpa kata, padahal saat pagi menjelang tadi ia mengirim ucapan selamat pagi yang tidak Tristan jawab. Semua barisan chat wanita itu satu pun tak ada yang Tristan respon.
Melihatnya Tristan tak habis pikir dengan wanita itu. Meski satupun chat-nya tidak ada yang Tristan balas, wanita itu tetap terus menerus mengiriminya chat. Chat yang paling sering wanita itu kirimkan adalah pertanyaannya mengenai siapa nama Tristan. Tampaknya wanita itu sangat ingin mengetahui siapa namanya.
Tristan tidak membalas chat wanita yang nomernya ia simpan dengan nama Ababil Bertopi tersebut. Dan memilih untuk melihat fitur story di WhatsApp. Di perhatikannya story WhatsApp Sasha yang menuliskan Mau liburan, jalan-jalan yuk! Tristan tidak berpikiran apapun mengenai story adik perempuannya tersebut dan menurunkan story dari orang-orang yang nomer ponselnya dirinya simpan.
Sampai matanya terfokus ke arah sebuah story Ababil Bertopi. Dengan sedikit pertimbangan, Tristan membuka story tersebut. Terdapat dua kicauan yang di update wanita itu.
Weekend di rumah terus, pengen jalan keluar kota kayak orang-orang. Dan yang satunya bertuliskan Apa aku harus menyerah?
Entah apa yang dipikirkan Tristan saat membaca curahan hati wanita yang tidak dikenalnya itu. Terbersit untuk dirinya mengomentari status story terakhir WhatsApp tersebut.
Jangan pernah menyerah.
Hanya dalam beberapa detik muncul balasan dari wanita tersebut. Chat yang dipenuhi dengan emoticon di setiap kalimatnya.
Oke, aku nggak akan nyerah kak. Kalau gitu aku tanya lagi. Siapa nama Kakak?
Membacanya membuat Tristan tertawa kecil. Ia tidak mengira kalau status tersebut sesungguhnya ditujukan untuk dirinya yang selalu mengabaikan chat wanita itu. Namun tetap ia tidak ingin memberitahu siapa namanya dengan mudah.
Biasakan saat bertanya nama seseorang, perkenalkan diri sendiri terlebih dahulu. Itu etika dalam sebuah perkenalan.
Setelah membalas chat tersebut Tristan yang tadinya duduk bersandar di tepat tidur, kembali membaringkan tubuhnya dengan meletakkan kembali ponselnya ke meja kecil. Dirinya kembali teringat dengan pertemuan pertama kali pria itu dengan wanita yang dicintainya.
Itu terjadi saat Tristan hendak kembali dari Indonesia ke negara ia berkuliah. Ketika itu hubungannya dengan Melissa baru saja kandas.
Saat Tristan sedang menunggu kopernya ia melihat seorang wanita yang sedang sibuk mengangkat dua koper besar yang baru saja diambil dari conveyor belt. Selain itu si wanita juga sudah membawa koper kecil yang dibawanya ke dalam kabin pesawat. Sebelumnya ia juga memperhatikan wanita itu ketika transit di bandara lain sebelum menuju bandara tujuannya.
"Ribet banget." Gumam Tristan dengan sedikit tawa melihat wanita yang ada di dekatnya.
Tanpa dirinya duga, ternyata wanita itu mendengar gumamannya hingga melihat padanya, namun bukannya merasa kesal karena celotehan Tristan, wanita itu menanggapinya juga dengan tawa kecil. Awalnya pria itu menganggap jika wanita yang dikomentarinya tidak mengerti dengan Bahasa Indonesia sehingga hanya tertawa untuk meresponnya.
"Ini memang merepotkan dan sangat ribet." Ucap si wanita dengan bahasa Indonesia sambil berusaha menarik koper-koper yang dibawanya dan berjalan pergi.
Mendengar jawaban wanita itu, membuat Tristan sadar kalau wanita itu mengerti dengan perkataannya yang dalam Bahasa Indonesia. Ya, itu terang saja karena wanita itu pun juga baru saja melakukan penerbangan bersama dengan dirinya. Tampilannya yang seperti wanita dari negara itu membuat pria itu berpikir kalau ia penduduk asli di negara tersebut.
Segera Tristan menyambar koper miliknya dan berjalan cepat. Dalam sekejap muncul perasaan dirinya untuk berkenalan dengan wanita itu.
"Mau dibantu?" Tanya Tristan yang merasa sedikit heran pada wanita itu.
"Boleh kalau nggak keberatan." Jawab si wanita langsung memberikan salah satu koper besarnya pada Tristan.
"Kenapa nggak pakai troli aja?" Ujar Tristan menanyakan apa yang sejak tadi ada di benaknya.
Wanita itu melihat ke sekeliling sesaat dan langsung tertawa kecil karena menyadari sesuatu hal yang seharusnya ia lakukan, yaitu menggunakan troli untuk membawa semua koper miliknya.
"Sepertinya udara dingin buat otak aku membeku." Jawabnya dengan sebuah senyum meski begitu Tristan tidak melihat raut wajah malu darinya. "Kamu dari Indonesia juga ya? Saat boarding pass di Jakarta aku melihatmu."
Tristan cukup terkejut mendengar ucapannya. Untuknya wanita itu terlihat sangat terus-terang sekali dengan perkataannya. Melihat wajah dan hanya berbicara sebentar saja dengannya membuat dirinya langsung terpesona.
"Bawaanmu sedikit sekali." Ujar wanita itu lagi sambil melirik pada koper Tristan yang ukurannya standar dan tas ransel yang ada di punggungnya. "Aku membawa semua buku-bukuku saat liburan dan sekarang juga harus membawanya kembali."
Ah, dia wanita yang luar biasa.
Saat itu kalimat tersebut langsung muncul di pikiran Tristan mengenai wanita yang pada akhirnya menjalin hubungan sangat lama dengannya.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu?" Tanya Tristan menghentikan langkahnya sambil menyodorkan jabatan tangannya.
Wanita yang membuatnya terpesona itu menatap Tristan dengan mengernyitkan dahinya. Mata mereka saling bertatapan dan itu kali pertamanya Tristan melihat kilauan bola mata terindah yang pernah dirinya lihat.
"Biasakan saat bertanya nama seseorang, perkenalkan diri sendiri terlebih dahulu. Itu etika dalam sebuah perkenalan." Ucap Wanita itu dengan raut wajah serius.
Mendengarnya membuat Tristan menjadi tertawa, lebih tepatnya ia sedikit merasa malu hingga mengusap wajahnya. Namun setelahnya ia kembali menyodorkan tangannya ke arah wanita itu.
"Namaku Tristan, usia 19 tahun dan saat ini aku berkuliah di tingkat dua." Ucap Tristan.
"Ternyata kita seumuran, Tristan. Akhir tahun ini tepat di hari terakhir setiap tahunnya, itu ulang tahunku." Jawab wanita itu dengan tersenyum dan langsung menyambut tangan Tristan. "Ah iya, namaku..."
Suara getar ponsel Tristan yang berada di atas meja memecah lamunan pria itu dari ingatannya saat bertemu pertama kali dengan wanita yang dicintainya. Pertemuan yang membawa awal kebahagiaan untuk dirinya. Namun kenyataan yang terjadi mengingat perkenalan dirinya dengan wanita itu membuat rasa sedih luar biasa ia rasakan sekarang.
Di ambilnya ponsel miliknya dan membuka sebuah chat yang masuk bertubi-tubi dari si Ababil Bertopi. Chat yang mayoritas adalah sebuah stiker karena Tristan tidak membaca atau pun membalas pesan tersebut. Segera ia men-scroll chat tersebut dan membaca sebuah pesan.
Nama aku Rosiana, Kak. Panggil aja Rosi. Siapa nama kakak?
Sebelum membalas pesan tersebut, Tristan membuang napas dalam-dalam lalu mengetik segera. Ia berniat mengakhiri chat itu karena tidak ingin kenal lebih jauh wanita yang pastinya usianya terpaut jauh darinya.
Mohon maaf, aku sudah menikah. Jangan chat lagi ya.
...–NATZSIMO–...