You Are The Apple Of My Eye

You Are The Apple Of My Eye
004. TAKKAN TERGANTI



Rintik hujan tak lagi sama ketika dirimu hilang dalam redupnya langit kelam. Suara hujan terdengar seperti rintihan dan bahkan aroma khasnya menjadi sangat memuakan saat ini.


Setiap hari berlalu seperti hari biasanya, tidak bermakna dan hanya terasa sebuah kehampaan. Setiap detik bergulir tanpa arti seperti sebuah alunan melody tanpa suara namun terdengar lirih bagi siapapun yang mendengarkan.


Warna senja tak semewah saat itu ketika sepasang dua insan berdiri bersama dalam balutan ikatan istimewa. Dan lagu cinta mengalun seperti sebuah pisau yang menyayat hati seseorang yang ditinggalkan dalam kesendirian.


"Bang!"


Suara Sasha memecahkan lamunan Tristan ketika mereka berada di dalam mobil. Tanpa sengaja sebuah lagu terputar ketika saluran radio yang dihidupkan oleh pria itu menyiarkan sebuah lagu cinta yang penuh kenangan baginya.


Saat ini selain Tristan dan adiknya yang duduk di samping pria itu, Melissa juga berada di dalam mobil tersebut, duduk di kursi belakang. Itu pun karena Tristan yang meminta Sasha agar adiknya itu yang duduk di depan bersama dengannya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju supermarket atas perintah ibunda tercinta yang bertitah untuk pergi berbelanja kebutuhan satu bulan. Di mana saat ini hujan sedang turun rintik-rintik.


"Ganti lagu seventeen aja ya?" Tanya Sasha.


Pertanyaannya hanyalah basa-basi karena di waktu yang bersamaan adiknya itu sudah menyambungkan bluetooth ke pemutar musik di dalam mobil untuk menyetel lagu-lagu dari boyband favoritnya.


Bagi Tristan itu tidak masalah, malah dirinya bersyukur Sasha langsung mematikan lagu kenangan dirinya bersama wanita yang masih sangat berarti di dalam dirinya itu. Lagu cinta yang pernah ia nyanyikan di acara pertunangannya untuk wanita yang dicintainya. Sebuah lagu romantis yang dipopulerkan oleh boyband Irlandia dan juga dijadikan soundtrack dari suatu film animasi.


"Kak Lisa, aku dengar kakak mau buka praktek sendiri ya?" Tanya Sasha pada Melissa.


"Ya, tahun depan kalau nggak ada kendala sudah akan praktek di klinik sendiri. Perijinannya juga sebentar lagi selesai." Jawab Melissa.


Melissa Duma S, adalah seorang dokter gigi yang berusia sama dengan Tristan, 27 tahun. Merupakan anak satu-satunya dari keluarga advokat yang memiliki firma hukumnya sendiri.


"Kak, kalau gitu aku boleh dong dapat diskon buat scaling gigi?" Tanya Sasha menoleh ke kursi belakang pada Melissa.


"Datang aja ke rumah sakit tempat aku praktek sekarang, nanti aku kasih gratis buat kamu." Jawab Melissa.


"Tuh bang, ayo besok kita ke scaling gigi. Lumayan gratis." Seru Sasha menyenggol lengan Tristan yang sedang menyetir.


Tak ada yang diucapkan Tristan, ia hanya berdecak kesal dengan lirikan tajam pada adiknya yang menjadi terlihat sewot karena tatapannya itu.


"Ish! Biasanya lo paling cepet kalau ada gratisan, Bang!!" Seru Sasha semakin membuat Tristan kesal.


"Iya Tan, besok ke rumah sakit aja sekalian periksa gigi semuanya." Ujar Melissa menimpali. "Besok sabtu pasti nggak kemana-mana kan?"


"Dia nggak pernah kemana-mana, kak. Ngerem di kamar terus." Sahut Sasha.


"Nggak deh, aku mau di rumah aja melakukan hobi." Jawab Tristan yang akhirnya membuka mulutnya yang terus bungkam.


"Ish!" Desis Sasha dengan memicingkan matanya pada Tristan. "Yaudah, aku boleh kan kak besok scaling gigi?"


"Ya datang aja, aku praktek jam dua hingga jam enam sore di rumah sakit H." Melissa tampak tersenyum saat mengatakannya, Tristan yang melihat ke spion di depan memperhatikannya.


Sesampainya mereka di supermarket, dengan cepat mereka melakukan tugasnya masing-masing. Sasha dan Melissa berkeliling supermarket untuk mengambil semua barang belanjaan yang ada di list yang diberikan Deborah tersebut.


Tristan hanya mendorong troli dengan perlahan karena dirinya memilih untuk melihat-lihat isi ponselnya yang penuh dengan aplikasi yang bermacam-macam.


"Dimana Sasha, Tan?" Tanya Melissa pada Tristan.


"Kemana dia?" Tanya Tristan dengan bingung, pertanyaannya itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri karena suaranya hampir tidak terdengar.


Secepatnya ia membuka ponselnya lagi dan mencari nama Sasha, hendak meneleponnya.


"Di mana lo?"


"Pas banget lo telepon. Gue di rak mie instan. Banyak produk baru, gue beli buat di rumah ya? Lo mau rasa kaya apa?" Tanya Sasha di ujung telepon.


"Cari aja yang pedas dan rasa terbaru. Cepetan lo ke sini!! Udah makin malam nih, gue udah ngantuk." Seru Tristan dengan kesal dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Di mana dia?" Tanya Melissa yang sejak tadi berdiri di samping Tristan.


"Itu di rak mie instan." Jawab Tristan sambil menunjuk ke arah rak mie instan yang jaraknya cukup jauh.


"Kamu udah ngantuk?" Tanya Melissa lagi.


"Hhmm..." Jawab Tristan. "Kayaknya kurang tidur dari kemarin."


Walaupun Tristan selalu berada di dalam kamar namun bisa dibilang dirinya tidaklah benar-benar tertidur karena pria itu hampir sulit memejamkan mata dalam waktu lama, apalagi sampai tertidur dengan berkualitas. Semua itu sejak ia kehilangan tunangannya tersebut, itu membuatnya tidak bisa benar-benar memejamkan mata dalam waktu yang lama.


"Tan, kenapa kamu nggak mau diajak Sasha ke klinik besok? Datang aja—"


"Nggak usah. Nggak enaklah nanti bikin rugi kamu. Sasha juga suruh bayar normal aja." Jawab Tristan kembali mendorong troli dengan berjalan perlahan.


"Nggak masalah, malah aku sangat ingin kamu dan Sasha mampir lho. Datang aja, abis itu kita bisa pergi nonton film. Kamu sangat suka nonton film kan? Dulu tiap bulan hampir tiap sabtu-minggu pergi nonton ke bioskop." Ujar Melissa.


"Semenjak covid udah nggak pernah nonton ke bioskop lagi. Terakhir film yang di tonton aja Harley Quinn waktu awal covid nyerang." Jawab Tristan mengingat di kala itu dirinya pergi bersama dengan sang tunangan.


"Kalau gitu kita bisa pergi nonton besok." Ajak Melissa.


"Aku males kemana-mana. Nggak usah, kamu sama Sasha aja. Sekarang aku lebih suka nonton dari Netflix dan yang lainnya." Tolak Tristan dengan sangat gamblang.


Sama sekali dirinya tidak ingin menjadi dekat kembali dengan mantan kekasihnya itu. Bukan hanya karena sikap posesif wanita itu saja, namun ia yang sudah tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita lainnya membuat Tristan enggan memulai semuanya lagi. Untuknya sosok sang tunangan terlalu berharga jika harus digantikan posisinya dengan wanita lain. Tristan tidak ingin itu terjadi. Baginya, wanita yang sudah mengisi hatinya selama delapan tahun ini takkan terganti oleh siapapun.


"Tan!" Tiba-tiba Melissa menarik lengan Tristan yang mendorong troli menuju Sasha.


Sasha yang sudah berjalan ke arah mereka dengan beberapa bungkus mie instan ditangannya menghentikan langkahnya ketika melihat Melissa tampak kesal pada Tristan.


Tristan berhenti dan melihat pada Melissa yang berdiri dengan wajah kesal melihat padanya.


"Apa nggak bisa kita kembali kayak dulu lagi?" Tanya Melissa dengan wajah menegang karena menahan rasa kesal hingga matanyapun memerah.


Tristan menatap Melissa dengan lekat untuk menjawab pertanyaan wanita itu. Pertanyaan yang tentunya tidak perlu ia pikirkan jawabannya.


"Nggak!" Jawab Tristan singkat dan dengan raut wajah penuh keyakinan.


...–NATZSIMO–...