
Di lain tempat dan waktu yang sama, Arfan dan Cesar sedang mengobrol setelah capek bermain game online terus-menerus.
Cesar, "gimana Fan, Jafar mau kesini gak?".
Arfan, "dia bilang OTW ke sini".
Cesar, "ohh.. oh ya kamu bawa charger gak?".
Arfan, "gak bawa, tapi ni ada powerbank".
Cesar, "pinjem bentar ya".
"Iya", jawab Arfan sambil mengambilkan powerbank di dalam tasnya seketika itu juga dia berikan pada Cesar.
Suara sepeda motor Jafar terdengar oleh mereka dan Cesar menengok ke luar untuk memastikan itu Jafar.
Cesar, "bener Fan Jafar ke sini".
Arfan, "terus emangnya kenapa kalau Jafar dateng?".
Cesar, "ya gak kenapa-kenapa".
Jafar mulai menemui mereka berdua.
"Cie.. cie.. pacaran nih", ucap Jafar sambil menaruh tas miliknya.
Cesar, "tumben Far kamu mau dateng malem-malem ke sini".
Jafar, "kalau gak boleh ke sini ya aku pulang aja sekarang".
Cesar, "bukan gitu lah Far maksutku".
Arfan, "udah pesan minum?".
Jafar, "sudah barusan pesan".
Arfan, "hari ini Cesar ulang tahun loh.. jadinya ditraktir sama Cesar sekarang".
Dengan cepat Jafar menyalami tangan Cesar , "selamat ulang tahun ya Sar, semoga langgeng terus sama Arfan".
Cesar, "eh Fan jangan asal ngomong dong, ulang tahun ku masih lima bulan lagi".
Arfan, "gak papa lah dirayain sekarang".
Mereka bertiga pun tertawa bersama.
Sudah satu jam Arfan, Jafar dan Cesar berada di Cafe 86.
Jafar, "Far.. Sar.. aku pulang dulu ya dah malam nih apa lagi besok upacara".
Cesar, "aku juga ya mau pulang kok Far".
"ya dah yuk pulang, aku cuma minum es teh satu", ucap Arfan sambil menaruh uang lima ribu di meja.
"aku kopinya satu terus gorengannya empat", Cesar dengan menaruh uang sepuluh ribu di meja.
"Tolong bayarkan ya Far, kita pulang duluan", lanjut Cesar.
Jafar, "Oke.. kalian duluan aja gak papa, aku aja yang bayar ke kasirnya".
Arfan, "makasih ya Far, gak papa kan?".
Jafar, "udah gak papa kok, ati-ati ya kalian pulang".
Cesar, "iya Far, kamu juga".
Arfan dan Cesar pergi pulang dahulu meninggalkan Jafar yang sedang membayar makan dan minum mereka bertiga.
Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir dan berjalan menuju keluar, handhone Jafar bergetar di saku celananya.
Dia melihat siapa yang menelepon, tiba-tiba jantung Jafar berdetak kencang karena Bu Hana meneleponnya.
Dalam hatinya iya takut jika Bu Hana marah kepadanya karena membuat Carissa menangis.
Jafar, "halo bu..".
Hana, "Rissa masih sama kamu? Suruh pulang ya soalnya sekarang sudah malam".
Jafar, "loh tadi emang sama aku Bu, Jam 9 selesai makan langsung pulang kok".
Hana, "aduh.. la terus dia dimana sekarang? Ditelepon juga gak aktif".
Jafar, "coba telepon Indah Bu, mungkin dia ada di rumahnya".
Terdengar di telinga Jafar jika Ibu Carissa memanggil Bu Hana dengan kencang.
Hana, "dah dulu ya Far, Ibu ku manggil aku".
Tanpa salam Hana memutus obrolan telepon dengan Jafar.
Sambil berjalan menuju sepeda motornya, Jafar dalam hati berbicara, "apa terjadi sesuatu ya dengan Rissa.. apa gara-gara aku membuatnya menangis tadi".
Setelah menghidupkan mesin, handphone Jafar bergetar lagi dan dengan cepat dia angkat telepon itu.
Jafar, "Hallo..".
Hana, "Far, Rissa kecelakaan.. teman Ibu ku baru aja ngabarin".
Dengan panik Jafar menjawab, "sekarang posisi Rissa dimana Bu?".
Jafar, "eh iya Bu.. aku juga mau berangkat ke sana".
Hana, "udah kamu gak usah kesana".
Jafar, "loh emang kenapa Bu?".
Hana, "sekarang sudah malam, kamu di rumah aja. Besok Ibu kabarin keadaan Rissa".
"Dah ya Ibu mau berangkat", lanjut ucapan Bu Hana sambil mematikan obrolannya.
Dengan kesal Jafar berbicara dalam hati, "ugh.. pasti aku penyebabnya, bikin Rissa jadi gini".
Dengan cepat Jafar meninggalkan Cafe dan pergi pulang ke rumahnya.
Suasana rumah Jafar sekarang terlihat remang-remang karena Ibu dan Adiknya telah terlelap di kamarnya masing-masing.
Jafar buka pintu rumah dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa dan langsung menutup kembali tak lupa menguncinya lagi.
Sesampai di dalam kamarnya, dia taruh tas yang dibawa tadi di atas kursi belajarnya. Tanpa mengganti pakaiannya Jafar langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Pikiran Jafar sedang kacau balau dan di malam yang panjang itu dia tidak bisa memejamkan matanya.
Hanya berisikan kekhawatiran dan ketakutan yang ada dalam otaknya. Dia khawatir jika keadaan Carissa sangat parah karena kecelakaan dan dia pun takut bila keluarga Carissa membencinya karena dia lah penyebab semuanya.
Jafar berniat telepon Bu Hana tapi takut mengganggu karena pasti dia sedang mengurus Carissa.
Setelah jam menunjukkan pukul 3 dini hari, Jafar yang sejak tadi pikirannya kacau balau akhirnya bisa tertidur pulas.
Terdengar suara ayam jantan bersautan dan bunyi kendaraan melintas menghiasi suasana pagi hari di luar rumah Jafar, tiba-tiba alarm dari handphone Jafar berdering kencang dan membuat pemiliknya bangun dari tidurnya.
"Ughhh.. udah pagi ternyata", ucap Jafar sambil mematikan alarmnya.
Dengan sekejap otak Jafar teringat jika tadi malam Carissa mengalamai kecelakaan.
"Apa aku telepon Bu Hana sekarang aja", ucap Jafar yang ingin tau keadaan Carissa.
Dengan mencari kontak bernama Bu Hana Bahasa dia langsung mulai menelepon.
Sekali tidak diangkat teleponnya dan begitu pun juga ke-dua dan ke-tiga kalinya.
"Pasti Bu Hana marah denganku dan tau kalau aku penyebabnya yang membuat Rissa jadi begini", ucapnya dalam hati.
"Seharusnya aku menerima Rissa jadi pacar aku dan semua ini gak kan terjadi", tambahnya dalam hati.
"tapi aku kan berniat baik kepadanya agar sama-sama fokus belajar", lanjut Jafar.
ketika melamun, tiba-tiba Jafar dikejutkan suara dari luar kamarnya.
"JAFAR CEPAT BANGUN DAN MANDI", teriak Ibu Jafar dari dapur.
"IYA MA", jawab Jafar.
Jafarpun melepas pakaiannya sampai menyisakan celana pendek dan kaos dalamnya lalu mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi.
"Habis mandi bukannya seger kok malah lemes gitu?", ucap Ibu Jafar yang sedang menyiapkan sarapan adiknya ketika melihat Jafar keluar dari kamar mandi.
"Apa kamu sakit? Makanya kalau malam jangan keluyuran aja", Ibu Jafar melanjutkan bertanyanya.
"Gak kok Ma cuma tadi malam gak bisa tidur aja", jawab Jafar.
"Udah malam-malam keluyuran ditambah lagi waktunya tidur malah begadang, jaga kesehatanmu Far.. soalnya bentar lagi kamu itu ujian", ujar Ibu Jafar yang memarahi Jafar.
"Iya Ma", jawab Jafar sambil mengambil piring dan bersiapan sarapan.
Ibu Jafar pergi ke kamarnya dan meninggalkan Jafar bersama adiknya di meja makan.
"Ka...kak....", panggil adik Jafar.
Jafar, "apa?".
Adik Jafar, "pernah pacaran gak kak? Gimana sih rasanya punya pacar?".
"heh.. masih bocah bahas pacaran segala. Pikir dulu sekolahmu", jawab Jafar dengan memarahi adiknya.
Adik Jafar, "kok marah gitu, kan aku cuma tanya aja".
Adik Jafar pun beranjak dari meja makan dan menaruh piring kotornya di tempat cuci piring tanpa mencucinya.
"HEH BOCAH... Cuci dulu piringmu, main pergi aja", ujar Jafar.
"Nanti pulang sekolah", jawab adiknya yang berjalan menuju kamarnya.
Setelah Jafar selesai makan, ibunya menghampirinya dengan mengenakan seragam kerjanya.
"Far, ibu berangkat kerja sama ngantar adikmu sekolah. Jangan lupa kalau berangkat pintunya dikunci", kata Ibu Jafar.
"Iya ma", jawab Jafar sambil bersiap berjalan ke tempat cuci piring.
Satu jam telah berlalu, terlihat semua murid, guru dan karyawan SMA Surajaya menggelar upacara bendera rutin di hari senin.
Jafar yang hari ini menjadi komandan regu kelasnya terlihat berdiri di depan barisan.
Dengan penasaran keadaan Carissa, Ia menengok di barisan guru tetapi tidak terlihat Bu Hana dan hanya terlihat Bu Aisha yang biasanya mereka selalu bersama.
Di dalam barisan di belakangnya juga pun tak terlihat Carissa dan Jafar mengetahui bila dia tidak masuk sekolah dari surat ijin di atas meja guru.
Pada hari ini hanya dia seorang di kelasnya yang tau jika Carissa tidak sakit biasa tetapi sakit karena kecelekaan dan belum berani cerita ke teman-temannya.