Without Looking

Without Looking
Berduaan



Suara acara televisi terdengar di sebuah kamar di lantai dua dan terihat juga seseorang Perempuan duduk menghadap meja belajar yang ada di samping tempat tidur ber-sprei merah muda.


Wanita berambut pendek sebahu itu menunggu teman sekelasnya yang akan berkunjung kerumahnya, terlihat ketika ia selalu melihat handphone yang ia pegang.


Sembari menunggu kedatangan temannya, ia sesekali membuka status di whatsapp dan sesekali juga membuka galeri fotonya.


Ketika sedang sibuk dengan melihat galeri foto, seketika muncul pesan whatsapp dari temannya yang bernama Jafar.


Dalam pesannya itu tertulis, "Aku sudah ada di depan rumahmu", tanpa membalas ia beranjak dari kursi dan berjalan cepat menuju pintu kamarnya.


Dengan menuruni anak tangga berkayu yang di sampingnya terdapat beberapa bingkai foto, ia bergegas menuju pintu depan.


Pintu itu pun mulai dia buka dan terlihat laki-laki memakai jaket dan tas sambil menenteng helm berdiri di depan pintu tersebut.


Perempuan itu mempersilahkan masuk, "Silahkan masuk Far" dan membiarkan pintu depan rumahnya terbuka.


Jafar duduk di kursi sofa panjang dan menaruh helm yang ia tenteng tadi dekat sofa, begitu juga perempuan berambut sebahu tadi turut duduk di sofa depan Jafar.


Jafar mulai membuka tas dan mengambil Notebook serta sebuah buku yang lumayan tebal yang disampulnya bertulisankan dengan jelas "Matematika Kelas 12".


Ia buka Notebooknya lalu mulai membuka obrolan malam itu dengan perempuan penghuni rumah, "Ris kok kamu sendirian di rumah?".


Sambil mengambil buku matematika yang ada di depan Jafar, perempuan yang bernama Carissa tersebut menjawab, "Ayah aku kan kerja di luar kota, tapi Ibu dan Kakak sedang berkunjung ke rumah Nenek, Nenek sedang kumat sakitnya".


Selanjutnya Carrissa yang biasa dipanggil Rissa kembali bertanya kepada Jafar, "kamu sendiri kenapa ke sini sendiri? mana Arfan?".


Jafar yang mulai membuka file tugas di Notebooknya menjawab pertanyaan Rissa, "Arfan sibuk gak bisa kesini, dia ada acara karena tetangganya tadi ada yang meninggal".


Jam dinding berwarna putih yang berada di atas pintu terbuka itu menunjukkan pukul 19.30 dan suasana di luar rumah Carissa terasa sepi.


Carissa yang tadi duduk di depan Jafar berpindah duduk di lantai samping Jafar dan bersandar sofa sambil mengajak Jafar mulai mengerjakan tugas matematika.


Lampu hias gantung yang ada di atas meja tamu itu menerangi mereka berdua yang sedang menjawab soal matematika yang sulit dikerjakan.


Setiba mereka mengerjakan 20 dari 25 soal tugas matematika, tiba-tiba suasana ruang tamu itu berubah.


Suara obrolan mereka sekarang tenggelam karena suara derasnya hujan masuk ke dalam rumah. Jafar nampak gelisah ketika hujan itu turun, karena ia sadar tidak membawa jas hujan dan jarak rumahnya dengan rumah Carissa cukup jauh.


Begitu juga dengan Carissa yang takut karena atap teras rumahnya terbuat dari bahan galvalum membuat suara hujan itu menjadi menyeramkan. Tidak pakai lama, Carissa beranjak dan menutup pintu rumahnya kemudian kembali duduk di samping Jafar.


Carissa dan Jafar melanjutkan lagi mengerjakan tugas matematika itu karena akan dikumpulkan besok di jam pelajaran awal.


Soal terakhir sudah mereka selesaikan dan Carissa meluruskan kaki mereka di kolong meja tamu. Mereka berdua terdiam dan hanya suara hujan yang masuk dari sela bawah pintu rumah.


Carissa merasa mendengar ada suara orang di lantai dua, tepatnya berasal dari kamarnya.


Carissa bertanya kepada Jafar, "kamu dengar suara gak dari kamarku?".


"Aku gak denger apa-apa, coba kamu lihat sana", jawab Jafar.


Carissa beranjak dari duduknya dan menarik salah satu tangan Jafar agar ikut terbangun dari duduknya.


"Far temani aku ke atas ya?", pinta Carissa.


Karena merasa bingung dari ajakan Carissa dan posisi tangannya masih di pegang oleh Carissa, ia pun berjalan menuruti permintan Carissa dan mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Setiba di depan pintu kamar, Carissa melepaskan tangan Jafar dan mulai memasukkan kepalanya ke dalam kamar untuk melihat situasi kamarnya dan tak lama menarik kepalanya keluar lagi.


Carissa melihatkan wajahnya ke Jafar sambil tersenyum.


Jafar bertambah bingung apa yang dilakukan Carissa karena terlihat tersenyum sendiri setelah menengok ke dalam kamarnya.


Ketika Jafar ingin bertanya, tiba-tiba tangannya kembali ditarik oleh Carissa untuk masuk ke dalam kamarnya.


Tarikan kuat dari Carissa membuat Jafar ikut masuk dalam kamarnya.


Carissa dengan ketawa menunjukan kepada Jafar sebuah televisi menyala yang ia kira suara orang asing yang masuk kamar.


Dengan menggaruk kepalanya Jafar menjawab, "kan emang suara televisi dari aku datang tadi".


"Kenapa gak bilang dari tadi?", ujar Carissa.


Carissa mempersilahkan Jafar untuk duduk di kursi belajarnya dan ia sendiri mematikan televisi yang lupa dimatikan lalu menyusul duduk ke atas kasur.


Carissa membuka percakapan, "Di luar hujan, gimana pulang kamu nanti?".


"Ini masih dipikir soalnya aku lupa gak bawa jas hujan" , jawab Jafar sambil merubah badannya menghadap Carissa.


"Tunggu sampai reda saja paling sebentar lagi reda kok hujannya", tawar Carissa dan Jafar hanya menganggukkan kepalanya.


Jafar merasa tidak enak berduaan dengan Carissa dalam kamar, ia pun berucap, "lebih baik kita tunggu di ruang tamu saja yuk".


"Ada sesuatu nih yang mau aku ceritakan", ucap Carissa dan Jafar beranjak dari kursi.


"Kita lanjutin di ruang tamu aja", jawab Jafar dan mulai berjalan menuju pintu.


Sesampai di mulut pintu, Jafar terkejut tiba-tiba Carissa memeluknya dari belakang.


"Bolehkah aku memelukmu?" Mohon Carissa kepada Jafar.


Jafar tidak menyangka apa yang dilakukan Carissa kepadanya.


"Kenapa kamu begini?", tanya Jafar.


Carissa melepaskan pelukannya dari badan Jafar lalu berkata, "sebenarnya aku suka sama kamu".


Dengan ekspresi terkejut dan hangat Jafar membalikkan badan dan memandang wajah Carissa.


Dengan sadar Jafar memegang kepala Carissa yang berambut pendek itu lalu tanpa kata-kata ia pergi keluar dari kamar.


Jafar mulai menuruni anak tangga menuju ruang tamu dan Carissa mengikuti di belakangnya.


Tiba-tiba Jafar terhenti dari jalannya ketika menuruni anak tangga itu dan menunjuk sebuah foto wisudawan berbingkai yang berada di dinding.


"Loh.. ini bukannya guru bahasa kelas kita?", tanya jafar kepada Carissa yang ada di belakang.


"Benar itu kakak aku", jawab Carissa.


Tanpa tanya lagi Jafar melanjutkan berjalan ke ruang tamu dan kembali duduk di sofa tadi.


Dengan rasa canggung Carissa meminta tolong kepada Jafar, "Far, tolong tugasku di print juga ya terus beri namaku".


"Siap, besok sampai sekolah langsung aku kasih ke kamu", jawab Jafar.


"Far tolong ya jangan ada yang tahu kalau Guru Bahasa kita adalah kakak aku", ucap Carissa.


"Loh emang kenapa?", tanya Jafar dengan kaget.


"Aku dan kakakku berjanji merahasiakan ini di sekolah", jawab Carissa yang menambah kebingungan Jafar.


"Kenapa bisa begitu?", heran Jafar.


"Udah pokoknya kamu dan Indah aja yang tahu", ujar Carissa.


"Iya, tapi tolong bantu aku beresin ini", Ajak Jafar yang mulai membereskan notebook, buku dan peralatan tulis lainnya.


"Katanya ada yang ingin kamu ceritain?", tanya Jafar.


"hhmm.. gak jadi, kapan-kapan aja aku ceritain", jawab Carissa.


"Bisakah kita bertemu lagi tapi berdua aja?", Tambahnya.


"Ya tergantung kondisi", ucap Jafar.


Setelah membereskan perlengkapannya, Jafar mulai memakai jaket dan helmnya dan Carissa pun mendahului berjalan menuju pintu rumah yang tertutup.


Hujan sudah terlihat reda, Carissa membukakan pintu untuk Jafar yang membuat suasana dingin dari luar masuk ke dalam rumah.


Jafar terlihat berjalan keluar rumah melewati Carissa yang berdiri di samping pintu.


Dengan menutup setengah pintu rumahnya dan hanya hanya melihatkan kepalanya saja kepada Jafar, Carissa berkata, "hati-hati di jalan".


Hanya membalas dengan senyuman, Jafar mulai menghidupkan sepeda motornya lalu pergi meninggalkan rumah Carissa.