
Jafar melihat jam tangan yang dia pakai dan menunjukkan pukul 7 malam lebih 15 menit.
Dalam hatinya berkata, "Masih lama juga nungguin jam 8, omong-omong benar juga dikatakan Bu Aisha tadi, dua bulan lagi Ujian Nasional. Mulai besok aku harus belajar".
Sambil menunggu waktu berlalu, dia mulai mengambil sebuah buku yang dari kemarin Jum'at belum keluar dari tas nya.
Buku itu berisi Biografi tokoh yang membuat Jafar bersemangat menjadi seorang penulis, dia adalah Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal sebagai J.K. Rowling.
30 menit dia habiskan membaca buku biografi tersebut, walaupun suara kendaran berlalu-lalang melewati depan minimarket mengganggunya.
Dia tutup Buku itu dan memasukkan dalam tas lalu beranjak pergi meninggalkan sebotol teh bekas di atas meja.
*****
Sebuah cafe di pinggir jalan raya terlihat nyaman untuk menghabiskan waktu di malam hari karena Cafe tersebut bernuansa klasik dan dihiasi berbagai pernak-pernik jaman dulu, berjendela kayu lama dan berdinding bata.
Tak hanya itu, di atas pintu masuk terdapat tulisan nama dari Cafe tersebut, yaitu Rosse yang dihiasi lampu klasik berwarna kuning.
Terlihat sedikit orang yang berkunjung ke Cafe berlantai dua itu, sehingga sangat berbeda dibandingkan kemarin malam.
Jafar yang mengendarai sepeda motor telah sampai di Cafe tersebut.
Dia parkirkan sepeda motornya dan bergegas masuk karena takut Carissa sudah sampai dahulu.
Sesampai melawati pintu masuk, mata Jafar melihat bangku-bangku di dalam Cafe tersebut untuk mencari keberadaan Carissa.
Setelah melihat kesana-kesini dia hanya melihat tiga orang wanita, tetapi bukan orang yang dicari.
Dia mulai berjalan menuju salah satu bangku yang letaknya berdekatan dengan jendela kayu.
Ketika Jafar duduk, seorang waitres menghampirinya sambil menyerahkan buku menu dan sebuah bill kosong.
"Terimakasih", ucap Jafar kepada waitres tersebut dan waitres pergi meninggalkannya.
Jafar mengambil handphone miliknya dari saku celana dan terdapat 2 panggilan tak terjawab dari Carissa, dengan buru-buru dia menelepon balik Carissa.
Tidak berlama-lama Carissa langsung mengangkatnya.
"Hallo Far.. kamu di mana?", ucap Carissa.
"Aku udah di Cafe Rosse yang kamu maksut", jawab Jafar.
"Aku ada di lantai dua sekarang, kamu langsung aja ke sini", Kata Carissa.
"Iya aku OTW kesana", Jafar langsung menutup teleponnya dan beranjak dari kursi menuju lantai dua.
Carissa malam ini terlihat cantik dan menawan. Dia duduk sendiri di sudut sepi berhias lampu kuning di atas mejanya.
Dengan memakai kaos tanpa lengan berwarna merah bata dia lambaikan tangannya kepada Jafar.
Jafar yang baru sampai di lantai dua, seketika itu juga langsung mengetahui keberadaan Carissa.
"Kok sendirian?", tanya Jafar sambil duduk dan meletakkan tas miliknya di kursi samping yang tidak berpenghuni.
Dengan rasa sebal Carissa menjawab, "ugh.. kan aku udah bilang cuma mau bertemu berdua aja".
"Emang ada apa sih?", tanya Jafar.
Carissa memanggil seorang waitres yang mau turun ke lantai satu dan menghiraukan pertanyaan Jafar.
"Mbak pesen Chiken Hot Plate-nya dua terus minumnya lemon tea satu dan es capucino juga satu", pesan Carissa kepada waitres.
"Kok gak kamu tulis aja di kertas itu", ujar Jafar sambil menjukkan kertas itu.
"Ih.. sama aja", jawab Carissa kepada Jafar.
"Sama kentang goreng satu ya mbak, sudah itu aja dulu", lanjut pesan Carissa kepada waitres.
"Waow banyak banget pesenan kamu Ris?", tanya Jafar.
"Ugh.. Itu udah sama makanan dan minuman punyamu, aku yang pilih pesananmu", jawab Carissa.
"Aku kira pesananmu semua", Jafar sambil tertawa.
Raut wajah Carissa terlihat sebal kepada Jafar.
Ketika waitres berjalan meninggalkan mereka berdua, tiba-tiba dipanggil lagi oleh Jafar.
"Mbak pasword wiffi-nya dong?", tanya Jafar.
"Itu mas di bawah nomer meja", jawab waitres.
"Makasih mbak", ucap Jafar lalu waitres melanjutkan jalannya.
"Far, menurutmu aku cantik gak?, Tanya Carissa.
Dengan memasang pasword wiffi di handphone-nya Jafar menjawab, "cantik kok".
"Biasa apa banget?", tanya Carissa lagi.
"Hmmm... Antara biasa sama banget", ucap Jafar.
"Oh ya Ris, napa kamu ngajak aku kesini?", Jafar balik tanya.
"Ya ada yang pengen aku ceritakan ke kamu Far", jawab Carissa.
Jafar, "apa itu?".
"nanti aja ceritanya, fotoin aku dulu dong..", jawab Carissa dengan menyerahkan handphone-nya.
Jafar mulai memfoto, "Siap ya... 1... 3... 5.... nih udah".
"Wih bagus kalau kamu yang fotoin", ujar Carissa.
"Loh kok dikirim ke aku?", tanya Jafar tau Carissa mengirim fotonya lewat whatsapp.
"Simpan aja", carissa sambil tersenyum.
Mereka hanya mengobrol dengan berisi candaan dan ejekan saja, tiba-tiba Jafar bertanya tentang Rio temannya membuat Carissa terkejut.
Jafar bertanya, "katanya Rio, dia nembak kamu ya?".
"Emang iya. Emang Kenapa?", Jawab Carissa.
"Diterima dong tembakannya Rio.. cie...", Jafar sambil tertawa kecil.
"Kenapa sih bahas dia segala, tuh pesenannya sampek", jawab Carissa.
Waitres menaruh pesanan mereka berdua di meja dan memberikan bill.
"Terimakasih mas", ucap Jafar.
"Ris minumanku yang mana?", tanya Jafar.
"Terserah yang mana", jawab Carissa sambil melihat kertas bill.
Jafar pun memilih Es Capucino dan memulai makan steak pilihan Carissa.
Carissa, "Enak gak Far?".
Jafar, "enak kok, sering kesini ya kamu?".
Jafar, "hmm.. kamu cerita ke kakakmu ya, sampai-sampai tadi aku kesini ketemu Bu Aisha juga tau".
Carissa, "iya bener, ketemu dimana?".
Jafar, "di minimarket".
"bentar lagi kita udah ujian nasional ya", lanjut Jafar.
Carissa, "kalau lulus kamu kuliah apa langsung cari kerja?".
Jafar, "kuliah deket-deket sini aja.. kalau kamu gimana Ris?".
Carissa, "paling langsung kerja aku Far".
Jafar, "kenapa gak kuliah dulu? Terus kamu mau kerja dimana?".
Carissa, "di tempat kerja ayahku. Kasian sendirian di luar kota".
"Nih kentang gorengnya", lanjut Carissa.
Jafar, "udah kenyang nih, kamu makan aja ya".
Carissa, "hmm Far, boleh aku tanya?".
Jafar, "ya boleh lah, emang mau tanya apa sampek minta ijin segala".
Carissa, "mm.. aku harus bilang gimana ya ke Rio?".
Jafar, "kok pakek tanya aku segala. ya itu keputusanmu. menurutku sih mending diterima aja, soalnya Rio anaknya baik kok".
Carissa, "tapi akunya suka sama cowok lain, gimana?".
Jafar, "tergantung orangnya baik apa gak ke kamu".
Carissa, "sebenarnya anaknya tuh sifatnya nyebelin, tapi aku suka banget dengannya".
Jafar, "kalau nyebelin gitu kenapa kamunya suka?".
"Rio kan orangnya baik loh, kamu juga kan berteman dengannya sudah lama", lanjut Jafar.
Carissa, "iya sih dia baik, tapi aku sukanya sama orang lain gimana?".
Jafar, "ya terserah kamu yang mana, yang penting baik buat kamu".
Carissa, "kalau cowok yang aku suka itu menolak ku gimana ya Far?".
Jafar, "eh bentar, emang cowok yang kamu suka tuh siapa orangnya?".
Carissa, "ihh.. jawab dulu pertanyaanku tadi".
"kalau ditolak ya cari lagi", ucap jafar sambil tersenyum.
Carissa, "ditanya serius kok jawabnya bercanda".
Jafar, "hehehe.. maaf".
dengan nada lembut Carissa berucap, "aku minta maaf ya Far".
Jafar, "loh kok kamu yang minta maaf?"
Carissa, "maaf kalau kemarin gak bales Whatsapp sama angkat teleponmu".
Jafar, "udah gak usah minta maaf segala cuma masalah gitu".
Carissa, "coba sini aku pengen lihat telapak tanganmu".
Jafar, "heh ngapain mau lihat telapak tangan ku segala".
Carissa, "ihh udah nurut aja kenapa sih".
Jafar pun menyodorkan telapak tangannya di hadapan Carissa lalu dengan cepat Carissa menggenggam telapak tangan Jafar.
Jafar, "loh kenapa Ris?"
Dengan langsung memandang mata Jafar, Carissa berkata, "Far, mau gak kita lebih sekedar teman?".
Jafar, "eh maksutnya apa nih Ris?".
Carissa, "ini kedua kalinya aku ngungkapin perasaanku ke kamu, please jawab Far".
Dengan lembut Jafar melepaskan genggaman Carissa.
Dia berdiri dari duduknya dan seketika itu juga Jafar mengambil kertas bill pembayaran di depan Carissa. Tak lupa dia mengambil tas miliknya di kursi sebelah dan langsung turun ke lantai dasar menuju kasir.
Air mata Carissa pun mengalir tak terindarkan. Dia pakai jaketnya dan berlari menyusul Jafar turun ke arah kasir sambil membersihkan air matanya.
Jafar terlihat sudah berdiri di depan meja kasir, kemudian Carissa datang dan berdiri di samping Jafar.
"Udah biar aku yang bayar soalnya aku yang ngajak kamu", ucap Carissa sambil menundukkan kepala karena tidak mau terlihat habis menangis di depan petugas kasir dan Jafar.
Setelah Carissa membayar semuanya mereka bersama-sama berjalan keluar tanpa kata yang terucap dan Carissa tetap menundukkan kepalanya.
Setelah sampai di tempat parkir, Carissa dengan sengaja menarik tangan Jafar agar berhenti dari jalannya.
Carissa sambil menangis berucap, "please jawab Far".
Dengan itu juga Jafar mengetahui kalau Carissa sedang menangis.
"Udah dong jangan menangis di sini", ucap Jafar dengan memohon.
"Gak mau, pokoknya jawab dulu", Carissa sambil membersihkan air mata pakai tangannya.
Jafar, "Dengar ya Ris, kita kan sudah kelas 12 dan bentar lagi ujian nasional".
"Aku gak mau terganggu dan gak mau mengganggu", tambah Jafar.
Carissa, "tapi kan kita bisa saling menyemangati".
Jafar, "kan ada Rio yang selalu ada buat kamu".
Carissa sambil tersedu-sedu, "aku sukanya sama kamu".
Jafar, "mmm.. maaf Rissa, aku gak mau pacaran dulu".
"terserah kamu aja", ucap Carissa sambil pergi meninggalkan Jafar.
Jafar pun juga berjalan pergi ke arah sepeda motornya berada.
Setelah ia bersiap bergegas pergi pulang, dia cari keberadaan Carissa tapi sudah tak terlihat lagi.
Setelah menempuh setengah perjalanan pulang, handphone Jafar bergetar dalam saku.
Dia tepikan sepeda motonya dan mengambil handphone miliknya.
Jafar, "halo Fan.. ada apa?".
"Masih sibuk gak? Ni aku lagi sama Cesar di tempat biasa", jawab Arfan dalam telepon.
Jafar, "oke.. oke... aku OTW ke sana sekarang".