
Seorang remaja SMA dengan memakai seragam bernuansa biru berjalan melalui teras kelas untuk menuju kelasnya.
Dengan model rambut Slick Back dia fokus memandangi layar handphone miliknya dengan menghiraukan karamaian yang timbul dari para murid lainnya.
Dia adalah Jafar, salah satu murid berwajah tampan di sekolahnya.
Bercita-cita sebagai penulis terkenal dan tidak mengenal namanya cinta karena sibuk mengejar cita-citanya.
Banyak cerpen miliknya dimuat di majalah sekolah bahkan pernah termuat di majalah nasional
Sesampai dirinya di mulut pintu kelasnya, dia tidak langsung masuk, akan tetapi menengok ke arah bangku Carissa yang kosong.
"Ugh.. Ayo masuk", suara Indah teman sekelasnya dari belakang dan mendorong dirinya masuk ke dalam kelas.
Jafar pun langsung membalikkan badan dan melihat Indah bersama Carissa.
"Ngapain berdiri di pintu sih.. nutupin jalan masuk aja", ujar Indah.
"Eh.. sorry", jawab Jafar sambil membuka tas miliknya dan memberikan buku yang berisi tugas fisika kepada Carissa.
Ucapan terima kasih hanya keluar dari mulut Carissa lalu melanjutkan jalannya bersama Indah menuju bangkunya.
Setelah Jafar duduk di bangkunya, terlihat Cesar menghampirinya dan bertanya, "Nanti malam jadi gak?".
Ketika Jafar ingin menjawab, Arfan yang duduk di depannya menjawab terlebih dahulu pertanyaan Cesar, "udah kamu kembali ke bangkumu sana, nanti aku kabarin".
"Siap pak ketua", ucap Cesar yang bersamaan dengan suara bel pelajaran pertama.
Berjarak 5 menit setelah bel berbunyi tadi, terdengar suara seseorang memakai sepatu ber-hak masuk melewati pintu kelas.
Teriakan muncul dari semua penghuni kelas itu, "Selamat Pagi Bu Hana".
"Selamat pagi juga anak-anak", jawab Bu Hana yang bersiap duduk di kursinya.
"Cesar, tolong kumpulkan tugas semua temanmu yang Ibu berikan kemarin", suruh Hana kepada Cesar.
Dengan mengerti maksut perintah Gurunya, Cesar beranjak dari duduknya dan berjalan berkeliling mengambil tugas milik teman-temannya.
Dengan tersenyum Hana memandang ke arah Jafar dan jafar pun membalas tersenyum kepadanya.
Di sisi lain, Carissa yang dari tadi melihat Jafar terkejut melihat Jafar berbalas senyum dengan kakaknya itu.
Banyak pertanyaan pun timbul dalam pikiran Carissa, Dia pun membuka halaman terakhir buku tugas milik Jafar yang ada di hadapannya lalu menuliskan sesuatu.
*****
Beberapa mata pelajaran sudah dilewati para siswa di sekolah tersebut dan tanda jam istirahat pun berbunyi.
Sebagian teman sekelas Jafar pergi ke luar kelas menuju kantin. Arfan dan Cesar yang sudah di mulut pintu kelas memanggil Jafar dengan keras, "AYO FAR OTW KANTIN".
Jafar yang masih sibuk dengan handphone-nya menjawab ajakan mereka, "NANTI AKU SUSUL", lalu mereka terlihat pergi meninggalkan Jafar.
Tiba-tiba dari samping dirinya, Carissa sambil menyodorkan buku berkata, "Jafar nih buku mu, makasih ya".
"Iya", jawab Jafar sambil menerima buku miliknya.
"Oh ya Far, kamu nanti malam ada acara gak?", tanya Carissa.
"Ada apa Ris? Nanti jam 4 aku futsal di GOR terus malamnya aku ke Cafe sama Arfan dan Cesar", jawab Jafar sambil beranjak dari duduknya untuk berniat menyusul temannya tadi.
"Gak apa-apa sih", kata Carissa sambil berjalan pergi meninggalkan Jafar.
Jafar pun menyusul berjalan keluar kelas ketika Carissa tidak terlihat lagi dari dalam kelas.
Dalam perjalanan menuju kantin, handphone miliknya bergetar di saku dada.
Jafar membuka dan membaca pesan whatsapp yang ternyata berasal dari Carissa.
"Minggu malam pokoknya temui aku di Cafe Rosse dekat perumahan Griya Sentosa dan harus sendirian", isi pesan Carissa.
"Ada apa nih?", balas Jafar.
Lalu Jafar pun berjalan sambil menunggu balasan dari Carissa, sesampai di kantin pun Carissa belum membalas pesannya.
"JAFAR, SINI", teriak Arfan dari dalam kantin, dia pun berjalan ke tempat temannya berada.
Jafar duduk bersebelahan dengan Cesar yang terlihat sedang sibuk mengerjakan tugas Fisika yang belum dia kerjakan.
Beberapa menit kemudian, handphone miliknya yang tadi ia taruh di atas meja bergetar dan cepat-cepat dia buka dan membacanya.
Sebuah pesan berisi pengumunan yang dikirim salah satu teman Futsal Jafar.
Jafar pun membalas dan mengatakan hadir.
Dia ambil dan buka sebotol air mineral yang ada di atas meja dan langsung diminumnya.
"Sudah selesai tugasmu", tanya Jafar kepada Cesar yang terlihat membereskan buku-buku di meja.
"Sudah dong... soalnya terlalu mudah buatku ini", Cesar dengan menyombongkan diri.
"Tinggal salin aja punya Arfan ya tentu mudah", kata Jafar sambil bangun dari kursi panjang dan pergi untuk membayar minuman.
"Aku ke kamar mandi dulu ya teman", Jafar yang berpamitan dengan teman-temannya yang masih mengobrol.
Jam pelajaran di hari Sabtu hanya sampai jam 12 siang, para murid berbondong-bondong keluar dari kelasnya menuju tempat parkir.
Carissa berjalan menuju pintu kelas dan buru-buru pulang tetapi sesampai di mulut pintu, Jafar memanggilnya, "RISSA".
Jafar sibuk memasukkan buku di loker miliknya dan sangat ingin menemuinya.
Hanya pandangan mata Carissa yang diterima Jafar karena Carissa pergi dan tak terlihat lagi.
*****
"Kring... Kring...Kring...", Suara handphone berdering diatas meja kamar.
Suara itu membuat Jafar yang sedang tidur siang terbangun dan terkejut kemudian dengan cepat mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo, Rio, ada apa?", Jafar menjawab telepon itu.
"Sudah sampek mana? Teman-teman sudah nungguin nih", jawab Rio yang merupakan teman futsal Rio.
Dengan cepat jafar melihat jam tangan miliknya yang berada di meja.
Jam tangan itu menunjukkan pukul 15.56 dan membuat Jafar terkejut karena terlambat.
"Ini masih di rumah lagi siap-siap mau berangkat", jawab Jafar dan mematikan teleponnya.
Dengan buru-buru dia mulai memasukkan sepatu, kaos dan celana futsal miliknya lalu beranjak pergi ke luar kamar.
Sesampai di ruang keluarga, jafar berpamitan dengan ibunya yang sedang melihat televisi dengan adiknya yang masih sekolah di bangku SMP.
"Ma, Jafar berangkat futsal", ucap Jafar.
"Tadi ada paket tuh.. terus Mama taruh di meja makan", jawab Ibu Jafar sambil menunjuk lokasi paket itu.
"Dari sapa Ma?", tanya Jafar.
"Gak mama lihat, kan kamu bisa lihat sendiri", geram Ibunya yang merasa acara nonton televisinya terganggu.
"Nanti aja pulang futsal, berangkat dulu Ma", ucap Jafar.
"Ya, hati-hati dan jangan buru-buru kalau di jalan", jawab Ibunya.
Jafar lansung keluar rumah, memakai helm dan bergegas berangkat menuju GOR.
GOR tempat Jafar bermain futsal terlihat sepi bila dilihat dari luar akan tetapi berbeda bila sudah ada di dalamnya.
Terlihat Jafar berlari mencari tempat duduk di dalam GOR.
Dia buka tas-nya dan mengeluarkan isinya. Jafar langsung mengganti kaos dan celananya karena merasa tidak ada perempuan di sekitar situ.
Sesampai akan memakai sepatu dia terkejut, dia ternyata lupa membawa kaos kaki dan cuma membawa sepatu .
Jafar pun bergumam dalam hati karena lupa mengambil kaos kaki gara-gara tergesa-gesa.
Akhirnya Jafar berlari menuju lapangan futsal tanpa memakai kaos kaki.
Langit di luar GOR itu sudah tampak berwarna biru gelap dan dia bersama teman-temannya duduk di sekitar lapangan futsal.
Rio yang semula duduk jauh dari Jafar kini berpindah duduk di sampingnya.
"Kenal Carissa gak Far?", tanya Rio membuka obrolan.
"Iya kenal lah.. Teman sekelasku, kenapa emang?", jawab Jafar sambil duduk bersandar karena merasa lelah bermain.
"Dia temanku waktu SMP, tapi sering komunikasi dengannya", ucap Jafar.
"Hmm.. terus kenapa cerita ke aku?", kata Jafar.
"Sebelumnya sih kita cuma temenan terus dua hari yang lalu aku mengungkapkan perasaanku kepadanya", Rio bercerita kemudian ia meneguk air minum miliknya.