Without Looking

Without Looking
Rahasia Hana



Orang di belakang Hana tersebut adalah Cesar teman sekelas Jafar dan Murid Hana.


"Loh Sar ngapain di sini? Katanya kamu mau ke Caffe 86?", tanya Jafar.


"Yah mau makan lah... gak ada temennya ke sana Far, terus aku di ajak sama kakakku ke sini", jawab Cesar.


"Duduk sini aja, kita sudah selesai makan kok", tawar Hana kepada Cesar.


Jafar, "La kakakmu mana?".


Cesar lalu duduk di kursi kosong antara mereka berdua dan menjawab, "di bawah masih antri pesen makanan".


"Far pulang yuk dah malam soalnya", ucap Hana yang terlihat gelisah.


"Oh ya Sar maaf ya Ibu pamit pulang dulu soalnya sudah dari tadi", pamit Hana kepada Cesar sambil mengambil handphonenya di meja.


"Iya bu silahkan", jawab Cesar


"Sampai ketemu besok ya Sar", ucap Jafar yang menyusul Hana karena mendahuluinya pergi.


"Oke Far", jawab Cesar.


Hana dan Jafar mulai turun menuju tempat parkir dan pergi meninggalkan restoran cepat saji itu.


Ketika di tengah perjalanan pulang ke rumah Hana, Jafar bertanya, "Kok ibu gak suka kalau ada Cesar tadi?".


"Nanti aja ceritanya, udah konsen aja dulu kalau jalan", jawab Hana.


Tak lama kemudian mereka berdua sampai di Rumah Hana.


"Masuk dulu gak Far?", tawar Hana.


"Udah malam nih bu, jadi aku harus pulang", jawab Jafar.


"Iya udah, Motorku taruh situ aja ya terus kalau pulang ati-ati", ucap Hana lalu pergi masuk rumah.


Jafar mengambil motornya dan langsung pergi pulang.


Ketika di dalam rumah, Hana langsung menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya.


"Kalau sampai rumah kabarin aku ya", isi pesan whatsapp Hana kepada Jafar dan kemudian muncul sebuah telepon masuk di handphone-nya.


*****


Nampak bulan yang mengintip di balik awan membuat siapapun ingin menikmati dipeluk malam.


Berbeda dengan Jafar yang terlihat belum bisa memejamkan matanya karena teringat-ingat salah satu orang yaitu Carissa.


Dia ambil handphone miliknya dan mulai membuka aplikasi whatsapp.


Dalam whatsapp-nya terdapat satu pesan yang belum dia baca yang berasal dari gurunya.


Dengan maksut hati mencari teman ngobrol di sepinya malam, dia balas pesan whatsapp itu.


"Maaf Bu Hana saya baru kasih kabar, saya sudah di rumah dari tadi", kata balas dari Jafar.


Tak lama terkirim, balasan yang ditungggu muncul.


"Iya gak papa Far, kok kamu belum tidur?", balas Hana.


Jafar, "Belum ngantuk, ibu sendiri?".


Tiba-tiba Jafar tidak memerima balasan whatsapp dari Hana melainkan sebuah telepon darinya.


Hana, "maaf ya Far malam-malam telepon, ibu juga gak bisa tidur soalnya".


Jafar, "iya bu, kenapa belum ngantuk bu?".


Hana, "kalau boleh cerita, Ibu habis bertengkar sama pacar Ibu"


Dengan terkejut Jafar menjawab, "kok bisa gitu? Ada masalah apa bu?"


Hana, "ya gitu lah emang pacar Ibu orangnya posesif banget".


Jafar, "maaf bu, aku gak tau namanya posesif".


Hana, "maksutnya, setiap ibu sama cowok lain pasti dia cemburu. Tadi dia tau waktu kita makan berdua".


Jafar, "aduh Bu.. Aku minta maaf bikin Bu Hana bertengkar dengan pacarnya".


Hana, "gak usah minta maaf segala Far, emang sifatnya aja dia gitu memperbesar masalah".


"Aku gak ngabarin kalau makan berdua sama kamu, soalnya Cesar itu adiknya Pacar Ibu", lanjut Hana.


Jafar, "Mas Andra maksut ibu?".


Hana, "iya benar".


Jafar, "Mangkanya tadi kok ketemu Cesar, ibu terlihat gelisah ingin cepat pulang".


Hana, "Ibu bingung sendiri sama sifatnya. Kemana saja harus laporan dan lagi cemburunya itu sangat berlebihan".


Jafar, "Ibu juga harus berani mengutarakan keresahan ibu dong, ibu kan gak mau selamanya gitu?".


Jafar, "emang dia pernah mengancam ibu?".


Hana, "sering sih Far ketika kita bertengkar. Padahal udah berpacaran satu tahun lebih".


Jafar, "maaf bu, ibu harus segera bertindak".


Hana, "kalau aku pisah dengannya bisa-bisa Ibu gak mengajar lagi".


Jafar, "ibu pernah cerita ke sapa selain aku?".


Hana, "Bu Aisha teman Ibu".


Jafar, "terus kata Bu Aisha gimana?".


Hana, "ya sama kayak kamu".


Dalam hati Jafar muncul rasa prihatin kepada gurunya tersebut.


Jafar, "Bu Aisha ja juga bilang begitu. Ibu harus bertindak".


Hana, "ibu harus pikir matang-matang dulu Far. Makasih ya dah mau dengerin curhat ibu".


Jafar, "Jafar selalu membantu Ibu kok".


Hana, "dah yuk tidur, besok pagi harus jemput ayahku di terminal".


Jafar, "iya bu, kalau butuh teman curhat kabari saja, Jafar siap membantu kok".


Hana, "makasih ya Far".


Jafar, "iya sama-sama. met rehat ya Bu".


Hana, "iya".


Obrolan mereka pun berakhir dengan meninggalkan rasa prihatin di benak Jafar.


Hana yang terlihat duduk bersandar di atas kasur mulai merasa tidak ada kebahagian di dirinya bila melanjutkan kehidupan dengan pacarnya.


***


Matahari mulai merangkak naik dari timur, Hana terlihat duduk di kursi dan menunggu Bis yang ditumpangi ayahnya datang.


Pagi itu bukan kabut dingin yang dia rasakan, melainkan kabut asap knalpot dari Bis-bis di terminal.


Sekian lama dia tunggu, bis yang dinantinya akhirnya tiba.


"Ayah..", panggil Hana ketika ayahnya keluar dari pintu Bis.


"Lama ya nunggu?", ucap Ayah Hana yang sudah 2 bulan tak bertemu dengannya.


"Maksut ayah, lama nunggu ayah pulang apa nunggu ayah sampek?", tanya Hana.


"Ya sama aja terserah kamu Han", jawab Ayah Hana dengan mengajak Hana berjalan sambil menarik koper.


"Gimana kondisi Adikmu sekarang? Terus gimana pekerjaanmu?", lanjut Ayah Hana dengan bertanya.


Hana, "Adik sudah boleh pulang hari ini, kalau pekerjaan lancar-lancar aja Yah".


Ayah Hana, "kamu gak ngajar hari ini?".


Hana, "nanti agak siang yah jam mengajarku".


Ayah Hana, "Terus Andra calon menantu ayah gimana kabarnya?".


Hana, "baik-baik aja Yah".


Ayah Hana, "kapan dia melamarmu?".


Hana, "aduh Yah, kan masih proses".


Ayah Hana, "ya kan ayah gak sabar punya cucu".


Hana, "semua harus ada prosesnya yah".


Ayah Hana, "umurmu sudah 24 tahun loh Han, ibumu aja ayah lamar waktu umur 21 tahun".


Hana, "Doakan aja yang terbaik buat Hana yah".


Ayah Hana, "pasti dong Han".


Hana, "Ayah sudah sarapan pagi?".


Ayah Hana, "belum lah Han, kan tadi berangkat dari sana jam 3".


Hana, "nanti mampir ke rumah makan dulu ya yah sama beli buat sarapan Ibu dan Rissa".


Ayah Hana, "oke Han".


"Tuh yah motor Hana", ucap Hana sambil menunjukkan motornya yang terparkir.


Hana dan ayahnya pun berboncengan lalu pergi meninggalkan terminal.