Without Looking

Without Looking
Sahabat Hana



Suasana minggu pagi terasa segar setelah diguyur hujan semalaman dan sang surya menunjukkan kehangatannya.


Jafar terlihat duduk di salah satu kursi teras rumahnya sambil menikmati suasana pagi itu dengan memegang sebuah majalah bulanan yang dia beli ketika perjalanan pulang sekolah kemarin.


Jafar mulai membuka majalah tersebut dan membaca halaman-perhalaman dengan seksama.


Ketika sampai dihalaman pengumuman majalah itu, mata Jafar tiba-tiba terfokuskan.


Pengumuman itu berisi akan mengadakan lomba karya tulis berbentuk cerita pendek yang diselenggarakan oleh majalah itu sendiri. Yang membuat dia lebih tertarik lagi adalah pemenangnya mendapatkan hadiah sebesar lima juta rupiah dan karyanya dimuat edisi bulan Mei.


Adapun syarat cerpen yang turut serta dalam lomba itu diwajibkan menggunakan paling sedikit 10.000 kata dan paling banyak 15.000 kata serta wajib bertemakan tentang Hari Pendidikan Nasional.


Dia robek halaman pengumuman itu dan bergegas pergi masuk ke dalam rumah.


Sesampai di ruang tamu dia kembalikan majalah itu di tumpukan majalah dekat kursi tamu lalu pergi menuju kamarnya.


Setiba di kamarnya, dia buka notebooknya dan nampak lembar putih terpampang di layar notebook-nya kemudian Jafar mulai membuka memori otaknya untuk berfikir mengawali cerpennya.


Sewaktu jari Jafar akan menyentuh tombol keyboard, terdengar teriakan dari luar.


"JAFAR.. CEPAT MANDI", teriak ibunya dari ruang tamu.


"IYA MA", jawab Jafar.


Dengan menghiraukan perintah ibunya dia mulai mengetik cerpennya.


Dari terbit sampai tenggelamnya sang raja siang, Jafar masih sibuk dengan karya cerpennya.


Dia memasang target menang dalam lomba cerpen kali ini agar bersemangat menggapai cita-citanya.


Dari tadi pagi dia hanya menyelesaikan seperempat dari jalan ceritanya.


Karena lelah dia pun beranjak keluar dari kamarnya sambil membawa handuk menuju kamar mandi.


"Pagi gak mandi, seharian di kamar terus, mau jadi apa?", celoteh Ibu Jafar yang berada di meja makan.


"Ya mengejar mimpi lah Ma", jawab Jafar.


"Nih anak kerjaannya tidur melulu", ucap Ibu Jafar.


Jafar pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri karena tadi pagi tidak sempat mandi.


Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi, dia langsung menuju meja makan dan bersiap makan malam.


Ibu Jafar yang berada di dapur tidak jauh darinya bertanya, "gak kemana-mana Far? Mama mau minta tolong nih".


"Mau ketemu sama teman Ma", jawab Jafar sambil makan malam.


"Mama minta tolong ya nanti mampir belikan pulsa", ucap Ibu Jafar sambil merogoh uang di saku celananya dan berjalan menghampiri Jafar lalu memberikan uang itu.


"Iya ma nanti", jawab Jafar sambil meminum air di samping piringnya.


Selesai makan Jafar tidak lupa membersihkan perlengkapan makanannya.


Dalam keluarga Jafar, disiplin harus diutamakan karena ayah Jafar adalah seorang prajurit TNI yang telah gugur ketika bertugas membela negara.


Ibunya Jafar menanggung beban biaya sekolah dan kehidupan Jafar beserta adiknya. Demi menafkahi mereka berdua, Ibu Jafar bekerja sebagai Kasir sebuah rumah makan di kota Surajaya.


Jafar yang sudah berada di kamar mulai mencari pakaian yang akan dia pakai untuk bertemu dengan Carissa dan setelah menentukan pilihannya dia langsung memakainya.


Handphone Jafar berbunyi karena ada pesan whatsapp masuk lalu dia baca pesan itu dan ternyata berasal dari Cesar.


"Cafe 86", isi pesan Cesar.


"Maaf Sar, lagi ada acara nih", balas Jafar.


"Oke gak apa-apa kok", ucap Cesar.


Setelah itu dia masukkan notebook miliknya yang ada di atas meja ke dalam tas lalu berjalan keluar dari kamar.


Ketika melewati ruang keluarga, dia berpamitan kepada Ibunya yang sedang melihat televisi dan adiknya yang sedang maen handphone.


"Jangan lupa loh titipan Mama tadi", kata Ibunya tanpa menengok ke Jafar.


"Iya ma", jawab Jafar dan berjalan keluar rumah.


"Halo, Jafar", suara Carissa dalam telepon.


"Iya halo juga, gimana jadi gak kita ketemu?", tanya Jafar sambil berjalan ke arah sepeda motornya.


"Jadi lah Far, tapi maaf ya kita ketemunya Jam 8 soalnya masih disuruh Ibuku", ucap Carissa.


"Iya, kalau kamu masih repot ketemu besok aja juga gak apa-apa kok", jawab Jafar.


Dengan nada sedikit tinggi Carissa berkata, "gak mau, pokoknya ketemu jam 8 di Cafe Rosse".


"Iya iya, kalau udah sampek aku kabarin", Jafar sambil berpikir kenapa sampai Carissa sangat ingin bertemu dengannya.


"Hmm.. Sampai ketemu nanti ya", salam Carissa lalu obrolan telepon itu ditutup.


Jafar menyalakan mesin sepeda motor dan keluar dari halaman rumahnya.


Setelah menempuh perjalanan selama 5 menit, dia mampir ke sebuah minimarket untuk membelikan pesanan Ibunya.


Dia masuk ke minimarket itu lalu menuju lemari pendingin berkaca yang berada di sudut ruangan.


Sebotol minuman teh dingin dia ambil dan langsung beranjak ke arah kasir.


Dalam antrian di kasir itu Jafar bertemu seseorang yang dia kenal.


Wanita berjilbab kuning tersebut menyapa terlebih dahulu kepada Jafar.


"Hei Jafar, mau kemana?", sapa wanita itu.


"Ya ni mau bayar Bu", jawabnya.


"Titip ya dan ini uangnya, Ibu tunggu di depan", ucap wanita sambil menyodorkan sebuah sabun cuci muka beserta uang untuk membayar.


Tanpa Jafar sempat menjawab, wanita berjilbab kuning itu berjalan keluar minimarket.


Tak berselang lama Jafar langsung berhadapan dengan kasir dan membayar pesanan ibunya beserta barang yang ada di meja kasir.


Selesai membayar, dia berjaan keluar dan menemui wanita tadi yang sedang duduk sendirian di kursi minimarket.


"Maaf Bu Aisha ini barangnya tadi", Jafar sambil menyerahkan sabun cuci muka.


"Sini duduk dulu Far", tawar Bu Aisha yang mempersilahkan duduk di kursi samping dirinya tetapi tersekat sebuah meja kecil.


"Omong-omong dari mana? terus mau kemana?, ucap Bu Aisha.


"Dari rumah mau ke Cafe Bu, janjian ketemu sama teman", jawab Jafar.


"Carissa ya?", ujar Bu Aisha yang membuat Jafar terkejut.


Sebelum Jafar menjawab, Bu Aisha menjelaskan kepadanya, "Hana cerita ke aku tadi sore".


Seketika itu Bu Aisha memperlihatkan isi obrolan pesan whatsupp mereka berdua.


Dengan melihat nama kontak di atas layar Jafar percaya kepada Bu Aisha.


"Iya bener Bu, aku mau ketemu adik Bu Hana", ungkap Jafar sambil membuka botol minumannya yang dia beli.


"hmmm.. Kok ibu tau juga kalau Carissa adik Bu Hana?", tanya Jafar.


"Ya kan Hana itu sahabat dekat Ibu", jawab Bu Aisha.


"Hana banyak cerita loh tentangmu kepada Ibu", tambahnya.


"Oh ya maaf ya Bu saya minum sendirian", Jafar sambil meminum lagi minumannya.


"Iya gak apa-apa kok dan ini juga ibu mau pergi, makasih ya Far buat tadi", ucap Bu Aisha sambil mengambil handphone-nya di atas meja.


"Satu lagi, ingat loh jangan lupa belajar bentar lagi kamu ujian nasional", tambahnya.


"Iya Bu", jawab Jafar.


Bu Aisha terlihat berjalan dan masuk ke dalam sebuah mobil berwarna merah lalu pergi dari minimarket.