Without Looking

Without Looking
Guru Cantik



Suasana jam istirahat ke-dua di SMA Surajaya terlihat ramai, banyak para murid bercanda gurau membuat kegaduhan di berbagai ruang kelas begitu juga di kelas 12 IPA 3.


Di salah satu bangku terdepan di ruang kelas itu, Arfan sang ketua kelas berpawakan sedikit gemuk berbincang dengan Jafar yang duduk di belakangnya.


Bila mereka berdua terlihat dari depan kelas, Jafar lebih tinggi dari Arfan karena Jafar memiliki tinggi 170 cm sedangkan Arfan memiliki tinggi 165 cm.


"Heh far.. besok malam minggu bisa ke rumah aku gak? Terus langsunh ke Cafe 86 maen game online pakai Wiffi Cafe", Arfan menawari Jafar.


"Siap 86", sahut Jafar.


"Tenang aja, pokoknya aku bayarin kok parkirnya", ucap Arfan dan bersamaan itu juga bel berbunyi tanda jam istirahat selesai.


"ya udah besok jalan kaki aja", Jafar menjawab candaan Arfan.


"Ajak aku juga dong, kapan nih kesana?", kata Cesar salah satu teman sekelas mereka yang mendengar obrolan mereka.


"Boleh asal bayar sendiri, acaranya besok malam minggu ketemu di Cafe 86 jam setengah delapan", jawab Jafar.


"Sudah sana kembali ke bangkumu, guru bentar lagi datang", tambah Arfan


Cesar langsung menjawabnya, "siap Pak Ketua".


Di deret bangku yang berbeda, Carissa sedang mengobrol dengan Indah teman sebangkunya dan mencuri pandang ke arah Jafar yang sedang mencari buku di dalam tas yang ia pangku.


Dengan menghiraukan curhatan Indah, dalam hati Carissa berkata, "kenapa kemarin malam dia tidak menjawab ungkapkan cintaku? Apa dia sudah punya pacar? Atau ada wanita yang disukainya".


Karena merasa diacuhkan, Indah memukul bahu Carissa untuk mengagetkannya, "Hayo.. Kamu ternyata suka ya sama Jafar?".


"Eh Iya Eh bukan", jawab Carissa yang terbangun dari lamunannya.


"Hahahaha... Cinta se kelas nih", canda Indah.


"Udah ah.. jangan dibahas", jawab Carissa sambil mengalihkan pembicaraan dengan mencari buku di dalam tas.


"Iya iya, Ris besok jum'at malam menginap yuk di rumahku, kita kerjakan tugas Fisika tadi pagi", ajak Indah.


"Ya aku tanya dulu sama Ibuku" sahut Carissa.


Kemudian terdengar pintu terbuka kemudian muncul seseorang wanita berpakaian putih dan bercelana hitam masuk ke dalam kelas.


Dengan rambut terurai panjang sepunggung dan berkacamata, wanita itu mulai duduk di kursi biasa tempat guru duduk.


"Selamat siang semua", kata guru itu.


"Selamat siang juga Bu Hana", sahut semua murid di dalam kelas.


Guru yang berumur 24 tahun itu adalah guru mata pelajaran Bahasa di sekolah tersebut dan ia hanya seorang guru honorer.


Carissa adalah adik dari Bu Hana dan berselisih umur 6 tahun dengannya. Dengan begitu ketika di sekolah Carissa memanggil dengan Bu Hana tetapi jika di rumah Carissa memanggilnya dengan Kak Hana.


"Hari ini kita akan belajar tentang Kesimpulan atau kata lain Ide Pokok dalam suatu paragraf", Hana membuka pelajaran.


"Ide pokok ini disebut pula pikiran utama, pokok pikiran, ide pokok, gagasan utama atau kalimat pokok. Semua bermakna sama serta mengacu kepada pengertian kalimat topik", tambahnya.


Setelah selama 90 menit pelajaran bahasa, Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi.


Bu Hana yang sedang menata buku di mejanya memberikan tugas rumah kepada murid, "Cari 10 paragraf dalam surat kabar baik media cetak maupun elektronik dan cari kalimat pokok disetiap paragraf lalu dikumpulkan besok sabtu".


Seluruh murid dalam kelas itu pun menyahut dengan kompak, "Siap Bu" dan Hana beranjak keluar dari kelas tersebut dengan raut wajah dingin.


***


Hari berganti kamis, Jafar terlihat sedang mampir di sebuah minimarket ketika pulang dari bermain futsal.


Di dalam minimarket itu, ia mengambil satu botol minumam dingin dan sebuah roti sobek kemudian langsung membayarnya dan langsung berjalan keluar


"Bu Hana", sapa Jafar.


"Eh Jafar... Sendirian?", sahut Hana.


"Sendirian aja, tadi dari GOR main futsal Bu", jawab Jafar.


"Oh iya, sebentar ya aku masuk dulu soalnya pulsa aku habis", Hana sambil beranjak masuk ke dalam minimarket.


Jafar tidak langsung pulang tetapi ia duduk sambil minum air dan makan roti yang ia beli di kursi depan minimarket.


Hana yang selesai membeli pulsa di kasir minimarket mulai keluar dan menghampiri Jafar.


"Nih permen kalau kamu mau?", Tawar Hana lalu duduk di kursi samping Jafar yang terpisah meja.


"Terimakasih", jawab Jafar.


"Gimana tugas dari Ibu?", Tanya Hana.


Sambil tersenyum Jafar menjawab, "sudah dong kan mudah".


"Menurut ibu, kalau aku kuliah mengambil jurusan sastra setelah lulus nanti gimana?", Jafar yang menceritakan rencana setelah ia lulus.


"Emang cita-cita kamu apa Far?", Tanya Hana.


"Penulis lah Bu, nanti nama Jafar tersebar di seluruh negeri", Jawab Jafar.


"Cita-cita itu harus dibarengi sama hobbi loh", Hana memberi masukan kepadanya.


"Aku suka menulis cerita dan cerita pendek aku berhasil 5 kali dimuat di Majalah", ucap Jafar sambil bercerita prestasinya.


"Masak ibu gak pernah baca cerpenku di majalah sekolah? Kan sering terbit", imbuhnya.


"Bagus itu, berarti kamu bisa jadi penulis sukses", Jawab Hana.


"Ternyata cerpen Jafar yang sering dimuat di majalah sekolah?", tambahnya.


"Iya Bu. boleh tanyagak bu? kok kemarin waktu mengajar Ibu seperti banyak pikiran gitu? terus tadi aku panggil kayak ngelamunin sesuatu, Ibu ada masalah ya?", Tanya Jafar.


Hana hanya terdiam dan bingung menjawab pertanyaan dari Jafar.


"Aduh.. Maaf ya Bu kalau aku tanya gitu", Jafar yang merasa bersalah karena terlalu ingin tahu masalah gurunya tersebut.


Dengan mengalihkan topik, Hana menawarkan sesuatu, "besok malam kamu ke rumah Ibu ya, aku ada buku sastra semoga saja berguna buat kamu".


"Iya bu akan aku usahakan", jawab Jafar.


Hana, "tenang aja itu buku aku beli waktu masih kuliah".


"Maaf bu, boleh minta nomer Ibu?", tambahnya.


"Tentu saja boleh", ucap Hana sembari mengambil handphone yang ada dalam tas kecil yang dia bawa.


Begitu juga dengan Jafar turut mengambil handphone miliknya yang dari tadi dia taruh di atas meja dekatnya dan mereka pun saling bertukar nomer telephon.


Setelah Jafar menghabiskan roti dan masih menyisakan sedikit air di botol minumannya, ia berpamitan dengan gurunya.


"Emm.. Maaf saya pergi duluan, makasih bu dan salam buat Rissa", ujar Jafar yang beranjak dari kursinya.


"Iya sampai ketemu besok" jawab Hana sambil berpikir Jafar kenapa tau kalau Carissa adiknya.


Jafar pun beranjak pergi meninggalkan Hana dan berjalan menuju sepeda motor miliknya.