
Cahaya senja menyinari sebuah kamar yang masuk melalui jendela bertirai kuning.
Terlihat Jafar sedang duduk bersila di atas tempat tidur dengan memangku notebooknya.
Dia sedang menyelesaikan sebuah proyek Cerpen yang akan dikirim ke redaksi majalah sekolahnya Senin besok.
Di akhir mengetik cerpennya itu, Jafar teringat bila ada janji berkunjung ke rumah Gurunya.
Diletakkan notebooknya dan beranjak untuk mengambil handphone yang berada di meja tidak jauh dari tempat tidurnya.
Jafar mulai buka whatsapp dan mencari kontak bertulis, Bu Hana Guru.
"Selamat sore, saya Jafar murid kelas 12 IPA 3. Saya nanti ke rumah Ibu untuk mengambil buku.", isi pesan Jafar.
Sebenarnya Jafar merasa malas malam ini ke rumah gurunya karena lumayan jauh juga jaraknya, tapi karena kebaikan gurunya ia mau pergi.
Dia letakkan handphone-nya dan bergegas menuju kamar mandi.
Ketika Jafar sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, dia terkejut suara teriakan ibunya yang sedang di dapur bak suara petir di waktu hujan.
"JAFAR.. HANDPHONEMU BERBUNYI TERUS, BIKIN BRISIK AJA", teriak ibunya.
"Iya Ma..", sahutnya.
Jafar yang berkalung handuk berlari menuju kamarnya dan langsung melihat Handphone-nya. Terlihat tiga panggilan tidak terjawab, ternyata semua dari tadi Bu Hana.
Dengam cepat, ia telepon balik Gurunya dan telepon itu langsung dijawab.
"Halo... ini Jafar?", suara Hana dalam telepon.
"Iya Bu, ada perlu apa?, balasnya.
"Nanti jam tujuh aja ke rumahku, nih buku-buku yang ibu maksut kemarin udah siap", ujar Hana.
"Wah ngerepotin ya bu", Jawab Jafar.
"Sudah gak papa, dari pada buku-bukunya rusak gak kepakek", kata Hana.
"Terimakasih banget Bu, nanti aku kesana", jawab Jafar yang mulai duduk di kursi belajarnya.
"Oke ketemu nanti", ucap Hana yang berniat mengakhiri obrolannya.
"Iya Bu", balas Jafar dan seketika itu obrolan telepon mereka di akhiri oleh Hana.
Jafar bangun dari kursinya dan membuka lemari pakaian miliknya di samping meja belajarnya.
Dia pun memilih pakaian hem berwarna biru tua bermotif kotak dan celana jean pendek selutut sewarna dengan hem-nya.
Dia masukkan notebook miliknya ke dalam tas yang selalu dibawa kemana pun Jafar pergi, lalu keluar menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapur.
Suasana gelap nampak di kaca jendela dapur rumahnya.
Jafar duduk di meja makan persegi panjang itu bersiap untuk makan malam.
"Mau kemana Far? kok rapi banget terus bawa tas segala", tanya ibunya yang membawa handuk merah besar berjalan melewati dirinya yang sedang makan.
"Ni mau ke rumah Guru Bahasa aku Ma, hmm lumayan dapat buku gratis", jawab Jafar.
"Mama mau mandi dulu, nanti kalau Mama belum selesai mandi, kamu berangkatnya hati-hati ya", ucap Ibunya.
"Oke Ma", balas Jafar dan Ibunya pun pergi ke kamar mandi.
Setelah Jafar menyelesaikan makan dan mencuci piring bekas dia pakai, dia langsung mengambil tas miliknya yang ada di atas meja makan.
Ketika melewati kamar mandi, "MA, AKU BERANGKAT", teriak Jafar kepada ibunya yang masih di dalam kamar mandi.
"IYA", balas ibunya.
Jafar pun berjalan keluar dan pergi menggunakan sepeda motornya.
*****
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya Jafar tiba di Sebuah rumah modern bertingkat dua dan tidak berpagar.
Jafar mulai mematikan mesin motornya dan langsung berjalan menuju teras rumah itu tanpa melepas helm yang ia pakai.
Ketika tangan Jafar mau mengetuk pintu tersebut, seketika pintu itu terbuka dari dalam.
Muncullah Hana yang terlihat Cantik, berkacamata, berkaos merah muda dan rambut panjangnya yang terikat rapi.
Jafar hanya berdiri terpesona melihat Guru Bahasanya yang tidak pernah terlihat secantik ini.
"Ayo masuk", ajak Hana.
"Hei.. diem aja, Ayo masuk", ajakan ke-dua Hana dengan meningkatkan volumenya sambil tersenyum.
"Eh, iya Bu maaf", jawab Jafar sambil melepas helm yang dia kenakan.
Bu Hana yang terlihat cantik malam ini berjalan masuk dan kemudian disusul dengan Jafar.
"Carissa kemana Bu kok gak kelihatan?", ucap Jafar.
Dengan berjalan Hana menjawab, "dia baru aja pergi, katanya tadi mau menginap di rumah temannya".
"Lah terus Ibu sendirian di rumah?", tanyanya lagi.
"Iya, ibuku beberapa hari ini di rumah Nenek", jawab Hana.
Tanpa tanya lagi, Jafar tau bila Nenek Bu Hana sedang sakit.
Jafar duduk di Sofa yang kemarin dia duduki ketika mengerjakan tugas matematika bersama Carissa.
Di atas meja setinggi lutut itu tertumpuk buku-buku berjumlah 6 buah, semuanya tentang Bahasa dan sastra.
Di saat Hana sedang mempersiapkan sesuatu di dapur, Jafar mulai mengambil salah satu buku dari tumpukan itu lalu melihat sampulnya.
Dia mulai buka buku bersampul warna hijau tua tersebut halaman-perhalaman.
Berselang beberapa menit, Bu Hana menghampiri Jafar dengan membawa dua cangkir kaca berisikan teh panas.
"Itu bukunya Far yang aku maksut kemarin", ucap Hana
"Terimakasih banyak Bu, kirain banyak", Jafar sambil tersenyum ke arah Hana.
"Ya cuma itu yang aku temukan, lainnya masih belum ketemu", jawab Hana sambil meletakkan cangkir.
"Gak papa kok bu, maaf ngerepotin", ujar Jafar
"Bu, aku minta tolong dong", lanjut Jafar sambil membuka tasnya dan mengambil notebook di dalamnya.
"Iya, minta tolong apa?", tanya Hana.
"Ini loh bu, saya buat cerpen buat majalah sekolah edisi bulan depan", tawar Jafar sambil menyodorkan notebook yang di layarnya terpampang tulisan cerpennya.
"Sebenarnya udah selesai, tapi tolong coba ibu cek Cerpenku biar tambah sempurna", tambahnya.
Hana mulai membaca Cerpen Jafar dari awal hingga akhir.
Setelah lama membaca, Hana memberikan kembali notebook milik Jafar.
"Kayaknya pemakaian imbuhan di dan ke ada yang kurang pas buat aku", ucap Hana.
Jafar pun mengecek yang dimaksud Gurunya itu dengan seksama.
"Udah minum dulu tehnya mumpung masih panas", tawar Hana sambil mengangkat cangkir teh miliknya dan meminumnya.
"Nanti aku cek lagi aja di rumah", jawab Jafar dan ikut mengangkat cangkir teh miliknya.
"Kok kamu tau kalau aku itu kakaknya Rissa?, apa Rissa cerita sama kamu?", tanya Hana.
"Waktu itu aku kesini, tapi Bu Hana gak ada katanya jenguk neneknya", ujar Jafar yang mulai membereskan notebooknya.
"Risssa waktu itu cerita, ketika itu lihat foto Ibu pakek baju toga di dinding anak tangga itu", tambahnya sambil menunjukkan anak tangga, tetapi foto tersebut tidak terlihat dari ruang tamu.
"Kok bisa tau kalau ada fotoku di situ?", tanya Hana yang penasaran.
"Aku sama Carissa ...", sebelum selesai menjawab pertanyaan Hana, handphone Hana yang berada di atas meja tamu berdering.
Dengan lekas Hana mengambilnya lalu beranjak pergi menuju teras rumah.
Jafar memasukkan buku-buku pemberian Gurunya itu ke dalam tas dan dengan samar mendengar percakapan telepon Hana.
Dalam percakapan telepon itu, Hana seperti berselisih dengan kekasihnnya itu dan membuat Jafar penasaran apa yang terjadi dengan Gurunya itu.
Setelah percakapan itu berakhir, Hana berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah sedih.
Hana berjalan menuju kamar mandi dan menghiraukan keberadaan Jafar yang sedang membaca salah satu buku yang belum ia masukkan ke dalam tas.
Kemudian Hana muncul dan wajahnya terlihat baru saja membasuh mukanya.
Tetapi itu tidak bisa membohongi wajah sedihnya dihadapan Jafar.
Hana duduk kembali di sofa depan Jafar dan mengangkat teh miliknya lalu meminumnya.
Dalam hati Jafar ingin bertanya keadaan Ibu Gurunya itu, tetapi menahannya karena takut mencampuri urusan pribadi Bu Hana.
"Jafar", Panggil Hana.
"Iya Bu", jawab Jafar yang telah memasukkan semua buku pemberian gurunya ke dalam tas.
"Maaf ya, ibu sedang ada masalah tadi", kata Bu Hana.
"Iya gak papa bu", Jafar yang tidak berani memandang wajah Gurunya itu.
Agar melupakan masalahnya itu, Hana melanjutkan obrolan yang terputus karena telepon, "tadi gimana kok tau kalau ada foto aku di situ?".
"Waktu itu aku sama Rissa ngerjain tugas Matematika berdua", jawab Jafar.
Wajah Hana berubah menjadi penasaran karena mereka berduaan di rumah ditambah Carissa tidak memberitahukan kepadanya.
"Sebenarnya kita merencanakannya sama Arfan dan Indah, tapi Arfan gak bisa dateng terus Indah gak tau kemana soalnya Rissa gak cerita", lanjut Jafar bercerita.
"Terus?", Ucap Hana yang belum puas dengan jawaban dari Jafar.
"Ya akhirnya berdua aja sama Rissa di sini", jawab Jafar.
"Tapi gak terjadi apa-apa kan?", tanya Bu Hana.
"Ya gak lah bu, hanya saja kemarin aku ngantar Rissa ke kamarnya soalnya lupa matikan TV waktu hujan", tambahnya.
"Terus dia kira ada orang lain masuk ke kamarnya, jadi Rissa takut ngecek sendiri. Makanya dia ajak aku ke atas, lah waktu kembali ke bawah lagi aku lihat foto Ibu", lanjutnya.
"Oh gitu ceritanya", Hana yang merasa puas atas jawaban Jafar.
"Bu kamar mandinya dimana?", tanya Jafar.
Hana hanya menunjukkan arah kamar mandi dengan jarinya.
Sambil menunggu Jafar di Kamar mandi, Hana teringat kembali perselisihan dengan kekasihnya ketika sebuah pesan whatsapp masuk di handphonenya.
Wajahnya pun kembali terlihat sedih ketika membaca pesan itu dan tanpa sadar dia meneteskan air mata.
Karena terlalu memikirkannya, dia tidak sadar kalau Jafar telah kembali dari kamar mandi.
Lalu dengan tergesa-gesa dia bersihkan air mata yang menetes agar tidak diketahui Jafar.
Tetapi Jafar tidak bisa dibohongi karena mata Hana masih terlihat memerah dan berair.
Dengan memberanikan diri Jafar bertanya kepada Bu Hana, "hmmm.. Bu Hana sedang kena masalah apa?".
Tanpa menjawab, Hana dengan cepat beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Rasa panik berbuah dipikiran Jafar, dia berpikir kalau Bu Hana pasti akan marah karena mencampuri urusan pribadinya.
Terdengar suara notifikasi muncul dari handphone yang ada di saku Jafar.
Dia ambil handphone-nya itu dan ternyata Carissa mengirimkan pesan Whatsapp.
"Lagi sibuk gak?", isi pesan Carissa.
"Aku ni di rumah kamu. Kata kakakmu, kamu nginap di rumah Indah ya?", balas Jafar.
"Iya bener, terus ada perlu apa ke rumahku?", Tanya Carissa yang merasa panik karena Jafar tanpa mengabarinya berkunjung ke rumahnya.
"Lagi ada perlu aja sama kakakmu, kakakmu mau menghibahkan buku-bukunya ke aku, kamu sendiri ngapain whatsapp aku?", jawab Jafar.
"udah mengerjain tugas Fisika?, kalau udah besok pagi minta jawaban nomor 4", kata Carissa.
"Beres, besok pagi ketemu di sekolah", balas Jafar.
"Makasih. Kapan bisa ketemu berdua aja?", ucap Carissa dalam pesan whatsapp.
Tanpa menjawab pesan terakhir Carissa, Jafar meletakkan handphone miliknya di atas meja karena melihat Bu Hana berjalan kembali dari kamar mandi.
Pikiran Jafar kembali merasa takut jika Gurunya itu marah karena terlalu ingin tahu urusan pribadinya.
"Aduh Maaf ya Far, perut ibu tadi tiba-tiba sakit", ucap Hana yang akan duduk dan terlihat tangannya memegangi perutnya.
Kepanikan Jafar pun langsung hilang dari pikirannya.
Tetapi merah di mata Bu Hana tidak menghilang dan Jafar beranggapan kalau Bu Hana menangis waktu di kamar mandi.
Karena merasa tidak enak berlama-lama, akhirnya Jafar berpamitan, "maaf Bu, saya mau pulang dulu".
"Habiskan dulu minumannya", jawab Bu Hana.
Dengan sudah posisi berdiri, Jafar mengangkat cangkir teh miliknya dan menghabiskan seketika itu juga.
Hana berjalan menuju teras rumah dan jafar memakai helm lalu bergegas keluar.
"Makasih ya bu, maaf ngrepotin ibu", ucap Jafar ketika jalan melewati Hana.
"Hmmm... iya, Hati-hati kalau naik motor jangan ngebut. Sampai letemu lagu", jawab Hana.
"Iya bu", Jafar yang berjalan pergi menuju sepeda motornya.
Jafar yang bersiap pergi, terlebih dahulu menganggukkan kepalanya ke bawah kepada Hana kemudian Anggukan kepalanya pun di balas oleh Hana.
Kemudian suara sepeda motor Jafar terdengat pergi meninggalkan rumah Hana.
Sebelum Hana masuk dalam rumah, dia berbicara dalam hati "Anak yang pintar dan rajin".