
Matahari menyusup perlahan, melukiskan bayangan bangunan-bangunan tinggi di kota. Namun, bayangan-bayangan itu menjadi semakin gelap, mencerminkan kekacauan yang merajalela di dalamnya.
"Warga Jakarta yang aku cintai, saya Gubernur Robert secara pribadi akan memberikan sayembara berupa uang satu miliyar rupiah kepada kalian yang mampu menangkap Wirapati dalam keadaan hidup atau mati!", kata Gubernur Robert dalam konferensi pers di kantor gubernur.
Warga kota berkumpul di jalan-jalan, mengibarkan spanduk-spanduk berisi tanda-tanda protes dan marah. "Wirapati Pengkhianat!", "Usir Wirapati Dari Kota Ini!" dan "Tangkap Wirapati!" terpampang jelas. Polisi berjaga-jaga, mencoba menjaga situasi agar tetap damai, tetapi ketegangan ini tak terbantahkan.
Wirapati, yang sedang mengamati kerumunan dari kejauhan, merasa beban yang semakin berat di pundaknya. Dia tahu bahwa kesaksian palsu Gubernur Robert Mahendra telah mengubah pandangan publik tentangnya. Orang-orang yang dulu dia lindungi kini menghujatnya.
Di sampingnya, Lestari mengamati kerumunan dengan perasaan bercampur. Dia adalah salah satu orang yang paling dekat dengan Wirapati, dan saat ini, dia merasakan tekanan yang sama.
"Bim, aku tak tahu berapa lama kita bisa bertahan seperti ini", kata Lestari dengan nada sedih.
Wirapati menggeleng. "Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi sekarang. Yang bisa kita lakukan adalah terus berusaha membuktikan kebenaran Tar. Kita butuh bukti-bukti yang kuat untuk menghentikan Gubernur Robert dan bonekanya The Silent".
"Bim, kita butuh bantuan Dion untuk mencari bukti-bukti itu dari CCTV kantor gubernur, aku mendapat informasi dari informan jurnalis tentang CCTV gedung itu yang selalu menyala", kata Lestari. "Oke Tar, aku percaya Dion mampu menjaga rahasia kita", lanjut Bima.
Sementara itu, dalam gedung-gedung yang tinggi dan gelap di kota itu, The Silent sedang bersiap-siap. Mereka telah mengeksploitasi situasi ini untuk merampok dan mencuri tanpa henti. Mereka semakin kuat, dan Wirapati adalah satu-satunya yang mampu menghadang mereka.
"Kau tak usah ikut campur urusan kami penghianat kota! Hahahahaha! Lihatlah keluar, orang-orang itu menghujat namamu!", kata salah satu dari The Silent. Lalu seperti biasa Wirapati dengan kekuatannya menghentikan mereka dan membebaskan sandra walaupun diluar sana orang-orang sedang menghujatnya.
...----------------...
Dalam satu malam yang dingin dan hujan, Bima dan Lestari berkumpul di rumah Lestari. Dion, seorang ahli komputer yang hebat, juga hadir. Dia adalah sahabat dekat Bima yang mereka percayai akan membantu mengungkap kebenaran tentang The Silent.
Bima, dengan ekspresi serius, mengungkapkan identitas aslinya kepada Dion. "Sudah waktunya kau harus tahu semua ini, Dion. Aku adalah Wirapati, orang yang selama ini berusaha menyelamatkan kota ini dari The Silent", kata Bima sambil memegang kalungnya yang lalu merubahnya menjadi Wirapati.
Dion memandang Bima terkejut. "Bima!? Kamu Wirapati?! Tapi bagaimana bisa?"
"Tolong rahasiakan ini Dion, demi keselamatan kita. Tidak ada yang boleh mengetahui identitas Wirapati sebenarnya. Jika identitasku terbongkar orang-orang terdekatku akan menjadi dalam bahaya. Jadi tolong rahasiakan ini!", kata Bima.
"Naga sudah tahu?", tanya Dion.
"Naga tidak tahu apa-apa Dion itu semua demi keselamatannya, hanya kita disini yang tahu rahasia ini", lanjut Lestari.
"Maaf Dion, kami terpaksa memberitahumu karena kami butuh bantuanmu, kita memerlukan bukti yang kuat untuk mengungkapkan kebenaran", kata Bima sambil memegang pundak Dion.
"Dion, dalang dari The Silent sebenarnya adalah Gubernur Robert Mahendra, dia memanipulasi semua ini dan menjebak Bima dalam permainan manipulatifnya", lanjut Lestari.
"Gubernur kita?! Tapi mengapa dia..", kata Dion
"Motifnya adalah uang, dia sendiri yang bicara kepadaku Dion. Dia ingin menghancurkan semua bisnis-bisnis yang menghalangi bisnisnya, lalu dia akan memonopoli bisnis itu", potong Bima.
"Ini semua masuk akal, tapi bagaimana bisa Bim, kau terjebak mengangkat baju Gubernur di depan semua orang?", tanya Dion.
"Ini semua karena The Whisperer atau Evelyn, dia anggota dari The Silent yang mampu membaca dan mengendalikan pikiran. Aku tak mampu bergerak pada saat itu, mereka sudah merencakan ini sebelumnya", ucap Bima.
"Dion, bantu kami membobol rekaman CCTV kantor gubernur, banyak bukti yang bisa kita dapatkan disana", ucap Bima.
"Oke, Bim. Ini agak lumayan sulit dan menantang. Kantor gubernur punya sistem keamaan yang tinggi, tapi tenang aku akan usahain. Ini mungkin akan memakan waktu beberapa jam", jawab Dion.
"Dion, aku yakin kamu bisa. Tenang ntar kopinya aku bikinin", Bima menyemangati Dion.
Sementara itu, Bima memikirkan langkah selanjutnya. Dia tahu bahwa untuk menghentikan The Silent, mereka harus mengungkap identitas sebenarnya, yaitu Gubernur Robert Mahendra.
Beberapa waktu kemudian bukti-bukti mulai terkumpul, video rekaman CCTV, suara percakapan telepon, hingga bukti-bukti transaksi senjata sudah ada. Tetapi Bima tak bisa mengungkap ini dengan cara Wirapati. Dia memerlukan bantuan polisi untuk menyelidiki kasus ini lebih dalam.
"Kita tetap membutuhkan bantuan polisi", kata Bima.
"Tapi bagaimana bisa? Kau adalah buronan mereka Bim, ini resiko yang berat", lanjut Lestari dengan tatapan cemas.
"Hanya ada satu polisi yang aku percaya", ucap Bima tenang sambil tersenyum.
...----------------...
Dalam pertemuan gelap yang tersembunyi di dalam bangunan tua, Bima bertemu dengan seseorang yang bisa membantu mengungkap kebenaran. Dia adalah detektif polisi senior yang dia kenal sejak dulu, Pak Carles.
"Dulu aku bekerja bersama ayahmu, Bim," kata Pak Carles dengan nada yang tenang. "Aku akan membantu menelusuri bukti-bukti yang kau punya. Tetapi ini akan menjadi misi yang sangat berbahaya, karena Gubernur Robert mempunyai kuasa penuh di kota ini".
"Terimakasih Pak Carles anda adalah satu-satunya polisi yang bisa aku percayai saat ini", ucap Bima dengan hormat.
Bima menyerahkan bukti-bukti yang dia, Dion dan Lestari kumpulkan, terutama tentang peran Gubernur Robert dalam kasus The Silent. Dia juga harus membuka rahasia identitas aslinya sebagai Wirapati kepada Pak Carles.
Pak Carles mengangguk serius. "Kita harus berhati-hati Bim, jika bukti ini kuat, ini bisa mengubah segalanya. Dan kemungkinan kota Jakarta akan menjadin sangat kacau".
"Tapi bagaimana cara kita menyebarkan bukti-bukti ini?", Bima bertanya.
"Satu-satunya cara yang harus kamu lakukan adalah menyerahkan diri sebagai Wirapati Bim, tetapi sebelum semua itu kau harus mengumpulkan lebih banyak bukti", jawab Pak Carles sedikit cemas. Bima mengangguk dengan tenang.
...----------------...
Kota semakin dalam kekacauan. Sementara demo orang-orang yang anti kepada Wirapati terus berlanjut, The Silent semakin merajalela dengan serangkaian perampokan di malam hari. Mereka merasa seperti penguasa kota ini.
Bima, Lestari, Dion, dan Pak Carles bekerja dengan keras. Mereka tahu bahwa mereka harus mengungkapkan kebenaran dan menghentikan The Silent sebelum situasi semakin buruk. Tetapi mereka juga tahu bahwa risiko yang dihadapi sangat besar.
Pertarungan antara kebenaran dan kegelapan semakin mendekati puncaknya.
Bersambung...