
"Bim, tempat dan waktu yang sama", kata Pak Carles melalui telepon.
"Oke", singkat Bima menutup telepon.
Malam telah turun, dan kota Jakarta berada dalam kekacauan yang tak terkendali. Kobaran api menjilat langit-langit malam, dan asap hitam menari-nari di angkasa, mengiringi suara keras ledakan. Kerusuhan melanda kota ini, warga kota menjadi sangat radikal.
Malam itu Bima ditemani Lestari dan Dion menuju gedung tua kosong hendak menemui Pak Carles secara diam-diam. Pak Carles datang dengan diam-diam, menyerahkan bukti-bukti yang cukup kuat. Rekaman suara, video CCTV, bukti transfer antar rekening, bukti pembelian senjata gelap oleh Gubernur Robert Mahesa.
"Bim, bukti kita sudah sangat cukup, ini sudah waktunya Wirapati kembali. Kota ini butuh kamu!", ucap Pak Carles dengan tegas.
"Tapi apakah tidak ada cara lain selain menyerahkan diri? Ini terlalu beresiko", Lestari memandang mereka satu-persatu dengan muka cemas. Sementara kepulan asap muncul dimana-mana.
"Tar, Dion, Pak Carles tidak ada waktu lagi. Bukti kita sudah cukup kuat, lihat kepulan asap itu, aku harus menghentikan semua kekacauan ini", kata Bima berdiri sembari menggenggam kalungnya.
Wirapati langsung berlari menuju ke tengah kota, menuju massa kerumunan yang liar, dengan mengangkat tangannya. "Warga Jakarta, aku yang kalian cari! Tolong hentikan kekacauan ini!", segera polisi menangkapnya di depan umum. Peristiwa itu disiarkan oleh televisi nasional.
"Ijinkan aku menyampaikan kepada semua warga, aku sudah mengumpulkan cukup banyak bukti", sembari memberikan data drive berisi bukti-bukti tentang The Silent.
"Pemirsa Wirapati sudah hadir di tengah kota dan menyerahkan diri, demonstrasi warga telah membuahkan hasil", seorang pembawa berita membacakan berita malam itu dengan tegang.
Di tengah kekacauan itu, Bima, yang kini telah menjadi Wirapati, berdiri di depan kantor polisi yang dibangun di tengah kota yang hancur. Ribuan mata memandangnya, sebagian dengan kebencian, sebagian lagi dengan keraguan, dan yang lainnya dengan harapan. Langit yang dipenuhi kepulan asap menambah dramatisasi momen ini.
"Hukum dia! Usir dia!", teriak warga-warga kota yang anarkis di depan panggung itu.
Wirapati mengangkat tangan kanannya, mencoba meredakan kerusuhan dengan kehadirannya yang kuat. "Warga Jakarta yang saya cintai," ucapnya dengan suara tegas, "saya datang ke depan kalian hari ini dengan hati yang berat, membawa bukti kebenaran yang telah saya temukan. Gubernur kita Robert Mahendra adalah dalang di balik semua kejahatan yang telah terjadi di kota kita."
Sebuah gemuruh dan sorakan kecil pecah dari kerumunan. Namun, Wirapati melanjutkan, "Aku telah mengumpulkan bukti yang tak terbantahkan tentang peran Gubernur dalam operasi The Silent. Aku memiliki rekaman, dokumen, dan saksi yang memberikan bukti kuat."
Penduduk berdesir dan berbicara satu sama lain. Bagian dari kerumunan terlihat terkejut, sementara yang lain terlihat marah dan tidak percaya. Keadaan semakin memanas.
Wirapati memandang mereka dengan mata tegas. "Saya tidak meminta kalian untuk mempercayai kata-kata saya. Lihatlah bukti ini dengan mata kalian sendiri!" Dia menunjukkan proyeksi video besar di belakangnya, mengungkapkan rekaman-rekaman yang menggambarkan peran Gubernur dalam berbagai tindakan kriminal.
Penduduk melihat bukti-bukti tersebut, dan keraguan mulai memudar dari wajah mereka. Beberapa mulai merasa malu karena telah salah menilai Wirapati, sementara yang lain marah terhadap Gubernur yang telah memanipulasi mereka.
"Gubernur kita adalah dalangnya?!", kata seorang warga kebingungan. "Apa yang telah aku perbuat", kata warga lain penuh penyesalan.
Namun, tiba-tiba keheningan datang. Sebuah konvoi besar kendaraan hitam muncul dari kegelapan, diikuti oleh kelompok-kelompok The Silent yang bersenjatakan lengkap. Mereka datang dengan maksud jahat, membawa teror dan kekacauan ke kota yang sudah terluka.
Namun, perang yang mengerikan ini tak bisa dia hadapi sendirian. Bima memang memiliki kekuatan luar biasa, tetapi The Silent terlalu banyak dan terorganisir. Itu adalah pertarungan yang berat.
Wirapati melihat mereka dengan mata yang berkilat. "Mereka ingin memanfaatkan kekacauan ini! Kita harus menghentikan mereka bersama! Semuanya berlindung!" Dia berlari menuju ke arah The Silent, siap untuk bertempur. Sementara pasukan polisi mengarahkan warga kota untuk berlindung di tempat aman, beberapa polisi bersenjata sudah siap menghadapai mereka membuat barisan pertahanan.
...----------------...
Sementara itu, Lestari tak ingin tinggal diam, dia duduk bersila di sebuah gedung tua yang aman dan mencoba menghadapi The Whisperer, salah satu anggota paling berbahaya dari The Silent. Dalam pertarungan pikiran yang epik, Lestari harus melawan pengaruh The Whisperer yang meracuni pikiran semua warga kota.
"Lestari, ini semua bukan urusanmu" bisik The Whisperer dengan suara halus, "Menyerahlah! Pikiranmu hanyut dalam gelap."
Lestari menutup mata dan merenung sejenak. Kemudian, dengan tekad yang tak tergoyahkan, dia membuka mata dan berkata, "Kau tidak akan mengendalikan aku, kebenaran akan selalu kupegang. Aku akan membebaskan seluruh warga kota!"
Kemudian, ada kilatan cahaya yang menyilaukan, pertempuran pikiran melibatkan berbagai permainan mental yang sulit. Lestari harus menggunakan kekuatan dalam dirinya untuk menghadapi The Whisperer, dan pertempuran ini adalah pertaruhan antara pikiran.
...----------------...
Sementara itu lagi, Gubernur Robert Mahendra muncul dengan jas hitam rapi dan sangat formal.
"Gubernur Robert," kata Wirapati dengan suara tegas, "tidak peduli seberapa banyak anggotamu, kebenaran akan mengalahkan kejahatan."
"Clap! Clap! Clap!", suara tepuk tangan perlahan Gubernur Robert, "Wirapati, Wirapati, sungguh aku terlalu meremehkan kemampuanmu seharusnya aku menghabisimu terlebih dahulu".
"Haha haha! Wirapati kau dalam masalah besar!", kata The Clown, di ikuti Shadowblade dibelakangnya.
"Kali ini tidak akan semudah itu kau mengalahkanku, Wirapati!", Shadowblade berkata dengan lantang.
Mereka bertiga mengepung Wirapati di tengah jalan pusat kota. Sementara polisi berperang melawan anggota The Silent lainnya dan menangkapnya. Malam ini menjadi malam yang mengerikan bagi warga Jakarta.
Pertarungan hebat terjadi, cahaya dan bayangan berkejaran, serangan dan pertahanan yang menakjubkan. Puncak dari semua pertempuran ini adalah saat ketiga kekuatan besar ini bertemu dalam pertempuran yang epik dan mendebarkan.
Kota Jakarta yang menjadi saksi mata kebenaran dan kejahatan ini menyaksikan pertarungan yang akan mengubah takdir kota ini selamanya.
"Aku takkan membiarkan kalian menghancurkan kota ini!", teriak Wirapati tegas sambil meyalangkan pukulan ke arah Gubernur Robert.
Sekejap pukulan itu mendarat, tetapi Robert Mahesa menyimpan kemampuannya dalam dirinya. Dia berhasil menahan pukulan Wirapati dengan tangannya. "Wirapati, jangan terburu-buru", kata gubernur robert.
Terkaget dengan kekuatan Robert Mahesa, "Apa ini? Kau mampu menahan pukulanku!?"
Robert hanya tersenyum, "Dahulu, orang memanggilku sebagai The Skillshifter, karena aku mampu menyalin kekuatan siapapun yang ada di dekatku, hahaha".
"Aku juga ingin bersenang-senang malam ini Haha haha haha!", tawa The Clown sembari melemparkan kartu sulap ke arah Wirapati. Wirapati dengan cepat menghindar ke belakang, kartu-kartu itu meledak saat mendarat ke tanah.
Pertarungan ini akan berlanjut...