Wirapati

Wirapati
S1 E6 SIRKUS THE CLOWN



Di tengah malam yang sunyi, cahaya temaram lampu di ruang perawatan rumah sakit merangkaikan bayangan yang tenang. Naga, putra pewaris Santiago Industries, terbaring dalam keheningan, tubuhnya masih memulihkan diri dari luka dan trauma akibat penculikan oleh The Silent. Tangannya dan kakinya kini telah terbebas dari ikatan yang mencekik, tapi bayang-bayang kengerian masih merajai pandangan matanya.


Bima, Lestari, Dion, dan Naga, sahabat-sahabat seperjuangan, berkumpul di sekitar tempat tidur Naga. Mereka merasa lega bahwa Naga selamat dari kengerian yang mereka alami bersama.


"Kamu gapapa, Naga?" Bima bertanya dengan penuh kepedulian.


Naga mengangguk dengan lemah, "Iya, aku gapapa kok Bim, cuma luka-luka dikit, Terima kasih, kalian sudah datang menjengukku."


Lestari menatap Naga, "Kita akan selalu ada untukmu, Naga."


"Iya Ga, tenang saja. Rumah sakit ini sudah di jaga oleh ratusan polisi yang siaga akan serangan balik The Silent".


"Iya Ga, sebaiknya kamu gak usah kawatir lagi. Wirapati itu pasti datang untuk menolongmu lagi kan", kata Bima menyemangati Naga.


"Wirapati? Dia sangat kuat sekali, peluru pun tidak menembus ke kulitnya", ungkap Naga kagum.


"Oke Ga, sebaiknya kami pulang dulu, kamu harus istirahat", lanjut Lestari.


"Makasih Tar, Bim, Dion", kata Naga. Lalu Lestari, Dion dan Bima keluar dari rumah sakit yang sudah dijaga sangat ketat itu.


Lalu Lestari mengajak Bima pergi ke rumahnya. "Bim, ada sesuatu yang harus aku omongin", kata Lestari sembari menggandeng tangan Bima menuju rumahnya. Mereka berjalan bersama-sama melalui lorong rumah sakit yang sunyi. Kedua teman itu berhenti di depan sebuah rumah yang tampak sederhana dari luar.


Saat mereka memasuki rumah, seorang wanita yang cantik dan bijaksana menyambut mereka dengan senyum hangat. Wanita itu adalah Ibu Lestari, Sri Bumi Lestari. Dia telah lama mengetahui tentang kekuatan luar biasa yang ada dalam Bima.


"Bima, selamat datang di rumah kami," kata Ibu Sri dengan lembut.


Bima merasa sedikit canggung, belum pernah diajak ke rumah temannya. "Terima kasih, Ibu Sri. Rumahnya sangat indah."


Ibu Sri tersenyum dan berkata, "Ada sesuatu yang ingin aku ungkapkan, Bima."


Lalu Ibu Sri memandang Bima dengan mata penuh makna. "Aku adalah titisan Ratu Lestari, istri Raja Wirapati. Tapi ingat aku bukanlah istri sebenarnya, tetapi hanya titisan. Seperti yang mungkin sudah kamu ketahui, kekuatan penyembuhan dan kemampuan berinteraksi dengan alam semesta telah diturunkan padamu oleh para leluhur kita."


Bima tercengang mendengar pengakuan Ibu Sri. Dia tidak pernah menduga bahwa ada hubungan seperti ini di antara mereka. "Penyembuhan? Alam?, Ibu Sri. Aku belum tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan ini dengan baik."


Ibu Sri tersenyum lembut. "Kekuatanmu akan tumbuh dengan bijaksana, Bima. Dan bersama Lestari, yang adalah pewaris kekuatan Ratu Lestari, kamu akan belajar mengendalikannya dengan baik. Besok kita akan mulai latihannya".


Bima hanya tersenyum dan mengangguk. "Bim, kota ini sedang butuh bantuanmu", kata Lestari sembari menpadat kabar dari atasan redaksinya soal penyerangan The Silent di sebuah gudang penyimpanan perusahaan ekspedisi swasta JTrans ditengah kota. Lalu Bima dengan segera menggenggam kalungnya dan menjadi Wirapati. Dia berlari dengan kecepatan penuh.


...----------------...


Sementara itu di lain tempat, di balik sel penjara yang dingin, para anggota The Silent yang tertangkap tetap menjaga rahasia mereka dan hanya diam. Mereka menolak memberikan informasi apa pun, dan tak mau berkata satu katapun kepada polisi, sehingga hukum harus dijalankan sesuai prosedur yang berlaku yaitu hukuman penjara.


Shadowblade, salah satu pemimpin mereka yang pernah mengancam Naga, hanya tersenyum sinis ketika diinterogasi. "Katakan siapa dalang dari The Silent!", bentak seorang detektif polisi. Dia tahu bahwa The Silent tidak akan mengkhianati rahasia mereka dengan mudah. Shadowblade hanya diam.


...----------------...


Disisi lain ancaman The Silent belum berakhir. Mereka mulai muncul kembali di sebuah gudang penyimpanan dan tindakan mereka semakin brutal menculik semua orang yang ada disana. Wirapati merasa panggilan takdir untuk menyelamatkan para korban penculikan mereka dan mengungkap identitas sejati pemimpin The Silent.


Wirapati berdiri di tengah gelapnya malam yang hanya diterangi oleh rembulan. Di depannya, sosok yang menyeramkan muncul dari bayangan. The Clown, dengan topeng badutnya yang mengerikan dan seragam hitam, tertawa dengan penuh kejahatan.


"Haha haha haha! Dari mana datangnya pahlawan kota ini?" tanya The Clown dengan nada yang mengejek.


Wirapati tetap tenang dan mantap, "Aku datang untuk menghentikanmu"


The Clown tertawa, "Kau pasti tidak tahu apa yang kamu hadapi, Wirapati." Lalu, dengan gerakan cepat, dia melemparkan pisau-pisau badut ke arah Wirapati.


Wirapati merespons dengan refleks yang luar biasa, dia menghindari pisau itu dengan loncatan ringan. Kepulan asap muncul dari tanah tempat pisau itu jatuh. "Aku tidak takut!" kata Wirapati.


Pertarungan dimulai, keduanya saling berhadapan, mata mereka memancarkan tekad yang kuat. Wirapati dengan keahliannya yang luar biasa dalam ilmu bela diri, dan The Clown dengan gerakan yang lincah, dan tiba-tiba, dia mampu memanipulasi benda seperti bermain sulap.


The Clown meluncur maju dengan kecepatan kilat, melemparkan serangan kartu bertubi-tubi dengan keahlian bela diri yang tinggi. Wirapati menghindar dengan lincah, membuat gerakan yang indah seolah menari di udara. Kartu-kartu itu meledak setelah mengenai benda.


"Kau harusnya tidak perlu ikut campur!" seru The Clown sambil melanjutkan serangannya. Dia mengeluarkan tipuan sulap yang mematikan, yaitu kain selendang yang dileparkan ke arah Wirapati, tetapi Wirapati dengan sigap melompat ke atas, menghindari serangan itu, selendang kain itu berubah menjadi rantai jeruji yang tajam. Tetapi Wirapati dengan kuat, dia memberikan pukulan balasan telak ke arah wajah The Clown.


Pukulan itu mengirim The Clown terpental beberapa langkah ke belakang, tetapi dia segera bangkit dan tertawa dengan kejam. "Haha haha haha! Kau cukup merepotkanku" katanya sambil menjilat darah yang menetes dari bibirnya sendiri.


Pertarungan mereka terus berlanjut, mengisi malam dengan pukulan dan gerakan lincah. Wirapati menunjukkan keahliannya dalam seni bela diri yang luar biasa, memukul dan menendang dengan presisi yang memukau.


The Clown adalah lawan yang tangguh, dia menghindari serangan Wirapati dengan kecepatan yang luar biasa. Dia menggerakkan dirinya seperti bayangan yang misterius, membuat Wirapati harus berusaha keras untuk mencapainya.


"Aku akan mengungkap siapa kau sebenarnya!!" kata Wirapati dengan tekad yang kuat. Dia melancarkan serangan terakhir, dengan kecepatan yang tak terduga, dia berhasil menghancurkan topeng badut yang dikenakan The Clown.


Topeng itu rusak berkeping-keping dan jatuh ke tanah, mengungkapkan wajah pria yang sangat berbahaya, wajahnya penuh dengan luka jahitan di mata, bibir, dan pipinya, matanya kosong tajam menatap Wirapati. The Clown terkejut, tetapi segera melanjutkan serangannya. Melepaskan pukulan ke arah wajah Wirapati.


Wirapati menghindar karena serangan terakhir The Clown. Wirapati mendapati pukulan itu bukanlah pukulan biasa melainkan setiap kepal tangannya terdapat benda tajam berupa pisau bening yang sangat tipis tak terlihat oleh mata. Pisau itu menggores pipi Wirapati, dan darah mengucur keluar dari sayatan itu. "Haha haha haha, kena juga kau!", ejek The Clown.


Wirapati menghiraukan luka dipipinya dan menggabungkan semua kekuatannya, dengan satu lompatan yang cepat pukulan upper cut yang mematikan, dia berhasil menjatuhkan The Clown ke tanah.


The Clown terdiam, dia tidak bisa berkutik lagi. Wirapati menatapnya dengan serius, "Sekarang, jawab siapa pemimpin The Silent yang sebenarnya!"


The Clown tertawa dengan mata yang dipenuhi kekosongoan dan tubuh yang tak berdaya lemas, "Haha haha haha, kau akan menemui kehancuranmu, Wirapati! Haha haha haha!"


Wirapati tahu bahwa The Clown tidak akan memberikan informasi apa pun. Dia mengangkat tubuhnya yang sudah tak mampu bergerak dan menyerahkan The Clown kepada polisi dan pergi untuk melanjutkan pencariannya terhadap pemimpin sejati The Silent.


Dalam kegelapan malam, Wirapati menghilang seperti bayangan, siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar lagi.


Namun, Wirapati dengan bijaksana menyembunyikan identitas aslinya. Dia tahu bahwa saat ini bukan waktunya untuk mengungkapkannya. Dia hanya ingin menghentikan keganasan The Silent dan menyelamatkan mereka yang menjadi korban.


"Tuan, Shadowblade dan The Clown sudah tertangkap", kata seorang ajudan berpakaian jas hitam rapi. Sementara di depannya seseorang yang duduk di kursi pimpinan, memakai jas rapi berkata, "Siapkan pestanya!"


Bersambung...