
Panglima Mahesa atau Nagapati dengan kekuatannya yang berkali-kali lipat setelah memakan jantung naga api melaju ke arah pusat pemerintahan Kerajaan Wiratama.
Dia datang membawa bencana bagi Wiratama, seperti ombak yang menyapu pantai kekuatan Nagapati tak ada tandingannya dibandingkan pasukan Wiratama. Dia menghancurkan kota dengan mudah. Membunuh semua orang yang ditemuinya dan membakar segala isinya.
Saat kota Wiratama terkoyak oleh kekuatan gelap Nagapati, puing-puing bangunan yang hancur berserakan di seluruh penjuru. Rakyatnya yang pernah bahagia sekarang hidup dalam ketakutan, bersembunyi di tempat-tempat yang aman.
Namun, di istana kerajaan, Raja Wirapati berlutut di hadapan patung Dewa Aruna yang bercahaya. "Ya, Dewa Aruna, kami yang hancur ini memohon pertolonganmu. Nagapati mengancam segalanya yang kami cintai."
Cahaya yang bersinar dari mata patung dewa itu seakan menjawab doa Raja Wirapati. "Pemimpin yang bijaksana, demi kedamaian Wiratama, aku akan memberikan kekuatan yang tak terbatas."
Begitu kata Dewa Aruna, Raja Wirapati merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir melaluinya. Tubuhnya menjadi bersinar, seperti matahari yang bersinar di langit biru. Dia merasa penuh dengan keberanian dan wibawa untuk melindungi kerajaannya.
Tiba di tengah kerumunan rakyat yang menunggu dengan cemas, Raja Wirapati berbicara dengan penuh keyakinan. "Saudara-saudara, hari ini kita akan menghadapi kegelapan dengan kekuatan cahaya. Bersama-sama, kita akan mengusir Nagapati dan membawa kedamaian kembali ke Wiratama.
...----------------...
Raja Wiratama berdiri tegak di tengah reruntuhan kota, menghadapi kekuatan jahat yang merusak segalanya. Ia adalah penguasa yang kuat dan bijaksana, dan dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan Nagapati adalah dengan menghadapinya secara langsung.
Nagapati muncul di hadapannya, tubuhnya dibalut oleh bayangan hitam yang menakutkan. Dia memandang Raja Wiratama dengan mata yang memancarkan kegelapan dan kebencian.
"Pergilah, Raja. Tidak ada yang bisa menghentikanku," desis Nagapati dengan suara mengancam.
Raja Wiratama tidak bergeming. Dia tahu bahwa dia harus melindungi kerajaannya dan rakyatnya, meskipun itu berarti menghadapi kekuatan gelap yang begitu kuat.
Langit mendung menutupi langit Wiratama saat Nagapati yang telah terkutuk dengan kegelapan dan Raja Wirapati yang bercahaya melintasi matahari yang terbenam. Pertempuran terakhir dalam abad ini dimulai.
Nagapati yang menjadi monster ditakuti semua orang melancarkan serangan dahsyatnya ke arah Raja Wirapati. Bangunan hancur, tanah gemetar, dan cahaya dan kegelapan bersatu dalam pertarungan epik itu.
"Wirapati, menyerahlah! Ini adalah akhir dari Wiratama!", Nagapati bersuara lantang.
Raja Wirapati dengan kekuatan Dewa Aruna mengeluarkan serangan baliknya yang spektakuler. Pilar cahaya dan gelombang kekuatan melesat dari tangannya, menggempur Nagapati dengan pukulan kuatnya. Raja Wirapati mempertaruhkan segalanya, melawan kegelapan yang ingin menelannya.
"Demi rakyat-rakyatku aku rela mati untuk menghentikanmu dan memberikan kedamaian untuk Wiratama, Mahesa!", jawab Raja Wirapati.
"Mahesa yang kau kenal sudah mati! Aku adalah Nagapati!", teriaknya.
...----------------...
Ketika pertempuran mencapai puncaknya, Raja Wirapati, ia tahu bahwa dia tidak bisa mengalahkan Nagapati hanya dengan kekuatan, tapi harus menyegel kegelapan yang ada dalam diri Nagapati.
Dengan rasa tanggung jawab untuk menjaga Kerajaan Wiratama, Raja Wirapati mengumpulkan seluruh kekuatannya dan memusatkan kekuatannya ke batu kristal yang terletak di sebelah hati Nagapati. Batu kristal itu terangkat di udara, bersinar secerah matahari, menciptakan singkawang cahaya yang tak terbayangkan.
Nagapati berteriak keras saat kekuatan dalam dirinya dicabut dan disegel. Cahaya dan kegelapan dalam dirinya dipindahkan ke batu kristal itu. Secara bersamaan, Raja Wirapati juga harus menyegel kekuatannya sendiri ke dalam batu lainnya. Dia membuat segel ini dengan pengorbanan besar.
"Demi menjaga rakyatku, apapun akan aku lakukan!", teriak Wirapati.
"Ini semua belum berakhir Wirapati! Keturunanku akan menghancurkanmu!", kata Nagapati.
...----------------...
Langit gemetar saat segel itu terbentuk. Awan mendung yang sedari tadi menyelimuti Kerjaan Wiratama meneteskan air matanya. Seluruh rakyat Kerjaan Wiratama berduka. Raja Wirapati yang dicintai oleh rakyatnya, menghilang dalam cahaya terang yang menyatu dengan batu kristal. Nagapati yang jahat, bersama dengan kegelapan dalam dirinya, juga terperangkap dalam batu yang berbeda.
Kedamaian akhirnya kembali ke Wiratama, tetapi dengan harga yang sangat besar. Batu kristal itu menjadi peninggalan berharga yang dijaga dengan ketat oleh para penerus Raja Wirapati. Wiratama kembali bangkit, tanah subur, rakyat bahagia, tetapi mereka selalu mengenang legenda Nagapati dan Raja Wirapati yang mengingatkan mereka akan pengorbanan yang harus dibayar untuk kedamaian.
Sedangkan batu Nagapati disimpan dalam tempat tersembunyi dengan penjagaan yang sangat ketat. Karena sudah berkali-kali batu itu hendak dihancurkan tetapi tak bisa.
...----------------...
Ratu Lestari istri dari Wirapati melahirkan keturunan Wirapati setelah peristiwa yang mengerikan itu. Anak ini menjadi garis keturunan Wirapati. Dan penerus kekuatan Wirapati.
Sementara itu keturunan Nagapati baru saja akan lahir dari rahim Karmelia, penyihir kegelapan. Penyihir itu melarikan diri dari Wiratama dan bersembunyi dalam perantauan.
Setelah waktunya tiba, Karmelia melahirkan anak laki-laki tangguh keturunan Nagapati. Dia membesarkan anak itu menjadi anak yang kuat seperti ayahnya. Dan kemudian anak itu berhasil merebut kembali batu kristal yang menjadi warisannya.