
Langit gelap dan mendung menggantung di atas desa yang dulu damai, sekarang menjadi saksi bisu dari tragedi yang mengerikan. Pasukan asing yang datang untuk kedua kalinya telah menginvasi desa, mengubahnya menjadi medan perang yang berlumuran darah. Karmelia duduk di atas batu besar di pinggir desa, rambutnya yang dulu panjang dan indah kini terurai kusut, dan matanya yang dulu penuh kebaikan kini penuh dengan kegelapan dendam.
Sejak kematian Arwin, dunia Karmelia telah berubah menjadi suram. Perasaannya yang terluka dan kehilangan yang mendalam telah mengejarnya di setiap langkah. Kini, saat desa yang ia cintai direduksi menjadi reruntuhan berdarah, bahkan ketenangannya yang tersisa telah hilang. Sementara Cecillia ibunya juga telah pergi bersama penduduk desa lainnya.
"Karmelia," suara halus terdengar di sampingnya. Itu adalah suara ibunya, Cecillia, yang kini telah menjadi seorang roh yang melindungi putrinya. "Kamu harus menghentikan ini. Dendam hanya akan membawa kehancuran."
Karmelia menatap ke arah wajah roh ibunya dengan mata penuh air mata. "Mereka telah membunuh semuanya, ibu. Mereka harus membayar atas apa yang telah mereka lakukan."
Cecillia mencoba menyentuh tangan putrinya, meskipun dia hanya bisa menyentuhnya dalam bentuk roh. "Dendam tidak akan mengembalikan mereka, Karmelia. Ingat siapa kamu dulu. Ingatlah cinta dan kebaikan yang pernah ada dalam hatimu."
Tetapi Karmelia hanya menggelengkan kepala dengan penuh keputusasaan. Hatinya telah menjadi keras seperti batu. "Cinta telah membawa aku ke sini, dan cinta juga yang akan membawa mereka mati."
Sementara itu, di dekat reruntuhan rumah yang dulu pernah Karmelia dan Arwin tempati bersama, pasukan asing masih menjarah dan membakar. Mereka tertawa dengan penuh kekejaman, merasa telah mengalahkan penduduk desa dengan mudah.
Tiba-tiba, angin berhembus dengan kuat, dan awan gelap yang menutupi langit mulai berputar dengan ganas. Karmelia, yang telah mencapai puncak kegelapan dan kekuatannya, berdiri di tengah desa dengan mata yang memancarkan kemarahan.
"Kalian telah mencabut rasa kasih sayang dari hatiku," kata Karmelia dengan suara gemetar, tapi juga penuh dengan kekuatan magis yang mengerikan. "Dan kalian akan membayar dengan darah."
Sebuah ledakan besar menghancurkan beberapa tentara asing yang berada di dekatnya. Karmelia menggerakkan tangannya, dan api biru muda menyembur dari ujung jarinya, membakar pasukan asing itu menjadi abu.
Pasukan asing yang tersisa melarikan diri, ketakutan oleh kekuatan Karmelia yang luar biasa. Tapi Karmelia tidak memberi mereka ampun. Dalam kemarahan buta, dia memburu setiap dari mereka dan menghancurkannya. Desa itu kini hanyalah medan kematian, dengan mayat-mayat pasukan asing yang mengelilingi reruntuhan rumah-rumah penduduk.
Saat semuanya selesai, Karmelia duduk kembali di batu besar tempat dia berada sebelumnya. Dia merasa kelelahan, tidak hanya fisik, tapi juga secara emosional. Apa yang telah ia lakukan? Desa yang ia cintai telah hancur di bawah tangannya sendiri. Tapi dendam telah menguasainya sepenuhnya, dan tidak ada jalan kembali.
Sementara itu, roh ibunya, Cecillia, tetap berada di dekatnya. "Karmelia, kamu telah kehilangan dirimu sendiri dalam kegelapan ini. Dendam tidak akan membawa kebahagiaan."
Karmelia menatap roh ibunya, mata terisi oleh kesedihan. "Aku tahu, ibu, tapi aku tidak bisa lagi hidup dengan damai. Arwin... mereka telah merampasnya dariku."
Cecillia merasa putrinya jauh dari jangkauannya, terperangkap dalam kegelapan yang membutakan mata dan hatinya. Tapi dia tidak bisa meninggalkan putrinya. "Karmelia, aku akan selalu bersamamu, bahkan jika kamu berada di tempat yang gelap. Aku akan terus mencoba membawamu kembali ke jalan yang benar."
Karmelia hanya mengangguk, meskipun dalam hatinya, dia tahu bahwa ia telah menempuh jalan yang sangat berbahaya.
...----------------...
Bertahun-tahun berlalu sejak peristiwa mengerikan itu. Karmelia, yang sekarang dikenal sebagai penyihir kegelapan, menjalani kehidupan yang gelap dan sepi. Dia telah membalaskan dendamnya pada pasukan asing, tetapi hatinya tetap penuh dengan kekosongan. Tidak ada kebahagiaan yang tersisa dalam dirinya.
Dia telah pergi ke tempat-tempat yang jauh, menjalani kehidupan yang terisolasi, menjauh dari manusia. Hanya satu hal yang terus menghantuinya - cita-citanya untuk menguasai dunia. Hatinya yang keras dan gelap memiliki keinginan yang kuat untuk melihat kerajaan Wiratama runtuh di bawah kekuasaannya.
Di dalam gelapnya hati Karmelia, dia memanggil seorang pria bernama Mahesa. Mahesa adalah seorang panglima yang gagah dari Kerajaan Wiratama, dan dia telah terpesona oleh Karmelia sejak awal. Ketika Karmelia muncul di depannya dengan kemampuan magisnya yang memukau, Mahesa tunduk pada pesona gelapnya.
"Denganmu di sisiku, Mahesa," kata Karmelia dengan suara penuh pesona. "Kita akan menaklukkan Kerajaan Wiratama bersama-sama. Kau akan menjadi Raja, dan aku akan menjadi Ratu."
Mahesa, yang telah terpesona oleh Karmelia, tidak bisa menolak ajakannya. Dia membiarkan dirinya diakui oleh Karmelia dan diubah menjadi Nagapati yang kuat, dengan kekuatan magis yang luar biasa.
Karmelia menghilang dari pandangan manusia, dan hanya roh ibunya, Cecillia, yang tahu apa yang sedang terjadi. Cecillia mencoba mencari jalan untuk menyelamatkan putrinya dari gelapnya hatinya, tapi dia tahu bahwa tugas itu tidak akan mudah.
Karmelia tinggal di tempat terpencil yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang terpilih. Di tempat itu, dia melahirkan anak Nagapati, keturunan mereka. Dia tumbuh dengan cepat dan belajar dari ibunya, meskipun Karmelia tidak pernah memberinya kasih sayang atau cinta yang seharusnya diberikan seorang ibu.
Ketika anak itu mencapai usia yang cukup, Karmelia mengungkapkan rencananya padanya. Dia akan menjadi pewaris kekuatan Nagapati, dan akan menggantikan ayahnya sebagai penguasa dunia yang gelap. Karmelia mengajarinya segala jenis sihir gelap dan kekuatan magis yang membuatnya semakin kuat.
Dan kemudian, tanpa ampun, Karmelia meninggalkan anaknya dan pergi berkelana, meninggalkannya untuk menghadapi takdirnya sendiri. Dia tahu bahwa hanya dia yang mampu menghentikannya, dan dia akan berusaha untuk melakukannya, meskipun dia juga tahu bahwa anaknya telah terjebak dalam kegelapan yang sama seperti dirinya.
...----------------...
Karmelia menjalani hidupnya dengan kekuatannya yang semakin bertambah, menggunakan jantung naga api yang pernah dimakannya. Dia menjadi makhluk abadi, melintasi zaman dan tempat, mencari kekuatan yang lebih besar. Tetapi dalam kegelapannya, ada satu benih keraguan yang tumbuh di dalam dirinya, pertanyaan apakah dendamnya benar-benar membawa kebahagiaan yang dia cari.
Cecillia, roh yang selalu setia mendampingi putrinya, terus berusaha untuk mencapai hatinya yang tergelap. Dia tahu bahwa di suatu tempat dalam diri Karmelia, ada kebaikan yang pernah ada. Dan dia berharap bahwa suatu hari nanti, putrinya akan menemukan kembali cahaya itu.
Demikianlah, berlalu berjuta-juta tahun, dan Karmelia tetap menjalani hidupnya dalam kegelapan yang tak ada akhirnya. Di dalamnya, ada keraguan yang semakin tumbuh, meskipun dia selalu menekannya dengan ambisinya untuk menguasai dunia. Tapi dia juga merasa kesepian yang mendalam dan penyesalan yang tak terucapkan.
...----------------...
Sementara itu, di tempat terpencil yang telah lama ditinggalkan oleh manusia, anak Karmelia tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan bijaksana. Meskipun dia telah diajari oleh ibunya tentang sihir gelap, dia selalu merasa ada sesuatu yang salah dengan jalan yang telah ditempuhnya. Dia merasa cahaya kebaikan yang memanggilnya, meskipun dia belum tahu bagaimana mengikutinya.
Suatu hari, ketika matahari terbenam di langit dan anak Karmelia berdiri di tepi hutan yang lebat, seorang wanita muncul di depannya. Dia adalah roh ibunya, Cecillia, yang telah mencoba selama bertahun-tahun untuk mencapai putranya.
"Anakku," kata Cecillia dengan suara lembut, "Aku tahu bahwa hatimu belum terlalu terkontaminasi oleh kegelapan. Kau harus menemukan cara untuk menghentikan ibumu."
Anak Karmelia menatap ibunya dengan mata yang penuh pertanyaan. "Bagaimana aku bisa menghentikannya? Ibuku kuat sekali."
Cecillia tersenyum dengan lembut. "Kekuatan yang lebih besar daripada sihir gelap adalah kekuatan cinta dan kebaikan. Kamu memiliki potensi untuk mengubah takdir ibumu, tetapi kamu harus menemukan cahaya di dalam dirimu sendiri."
Anak Karmelia merenungkan kata-kata ibunya, dan dia merasa cahaya kebaikan yang tadi terasa samar mulai bersinar lebih terang di dalam hatinya. Dia tahu bahwa perjalanan untuk menghentikan ibunya akan sulit dan berbahaya, tetapi dia juga tahu bahwa dia tidak sendirian.
Sementara itu, Karmelia melanjutkan pencariannya untuk menguasai dunia, tetapi di dalam dirinya, ada keraguan yang semakin tumbuh. Dia telah mengumpulkan kekayaan dan kekuatan yang tak terbatas, tetapi dia merasa kosong di dalam hatinya. Apa yang dia cari selama ini?
...----------------...
Suatu malam, ketika dia berdiri di puncak gunung yang tinggi, dia merenungkan hidupnya yang gelap dan keinginannya yang tak ada habisnya. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia merasa sesuatu yang aneh - rindu pada masa lalunya yang damai dan cinta yang dia rasakan untuk Arwin.
Dia juga merasa bahwa ada sesuatu yang mengawasinya, sesuatu yang dia telah lupakan selama ini. Itu adalah suara lembut ibunya yang mencoba mencapainya di dalam hatinya. Cecillia berusaha mengingatkan putranya tentang kebaikan yang pernah ada dalam dirinya, meskipun itu telah tertutup oleh kegelapan.
Karmelia menutup matanya dan mencoba mendengarkan suara dalam hatinya. Dia merasa perasaannya yang terluka, kesedihannya yang mendalam, dan keraguan yang semakin tumbuh. Tapi ada juga getaran yang samar-samar, getaran cinta dan kebaikan yang selama ini dia tolak.