Wirapati

Wirapati
S2 E11 KARMELIA PART 3



Langit berwarna oranye dan merah tua saat matahari terbenam di atas desa yang pernah damai. Namun, ketenangan itu kini terganggu oleh bayangan perang yang mengerikan. Karmelia dan Arwin duduk bersama di bawah pohon besar yang telah menjadi saksi bisu dari perjalanan cinta mereka. Pada saat ini, saat matahari bersiap untuk pergi tidur dan bulan naik, Karmelia merasakan sesuatu yang mengganggu, sesuatu yang mengusik ketenangan mereka.


Arwin merasakan perubahan dalam ekspresi Karmelia dan bertanya dengan lembut, "Ada yang mengganggu pikiranmu, Karmelia?"


Karmelia menatap mata cokelat yang hangat milik Arwin. Dia tahu dia tidak bisa menyembunyikan ketidakpastiannya dari pria yang telah memenangkan hatinya. Dengan berat hati, dia mengangguk dan menghela nafas.


"Arwin, aku merasa ada perubahan di udara," kata Karmelia dengan lembut. "Aku tidak yakin apa itu, tetapi sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi."


Arwin menarik Karmelia lebih dekat ke pelukannya, mencoba memberikan ketenangan. "Kita akan menghadapinya bersama, Karmelia. Tak ada yang bisa memisahkan kita."


Mereka berdua berdiam diri di bawah pohon itu, merasakan debaran hati satu sama lain. Matahari akhirnya meredup, membiarkan bulan dan bintang-bintang menggantikannya. Karmelia dan Arwin melanjutkan untuk merenungkan masa depan yang misterius ini.


Beberapa bulan berlalu, dan meskipun kekhawatiran mereka, Karmelia dan Arwin tidak bisa memprediksi betapa cepat hidup mereka akan berubah. Pagi itu, saat mereka berjalan melewati pasar desa, mereka melihat beberapa penduduk desa sedang berkumpul dengan wajah khawatir.


Karmelia mendekati salah satu penduduk desa dan bertanya, "Ada apa?"


Penduduk desa itu menggelengkan kepala dengan murung. "Karmelia, Arwin, kabar buruk. Pasukan asing mendekati desa ini. Mereka telah menjarah beberapa desa tetangga dan tidak memberi ampun."


Karmelia dan Arwin memandang satu sama lain, ekspresi kekhawatiran melintas di wajah mereka. Mereka tahu bahwa desa ini akan menjadi sasaran berikutnya. Mereka berdua bersama-sama memutuskan untuk memberitahu penduduk desa tentang ancaman yang mendekati dan bersiap untuk pertahanan.


Penduduk desa yang tadinya damai menjadi panik. Mereka mempersiapkan diri untuk melawan pasukan asing yang tak dikenal, sementara Karmelia dan Arwin berusaha membantu dalam segala cara yang mereka bisa. Ini adalah ujian pertama bagi desa yang telah menjadi rumah kedua bagi Karmelia.


Hari demi hari berlalu, dan pasukan asing yang mengerikan itu semakin mendekat. Karmelia dan Arwin melatih penduduk desa, mempersiapkan pertahanan mereka, dan bersiap untuk pertempuran yang tak terhindarkan.


Namun, pada suatu malam, ketika bulan tinggi di langit dan hening melanda desa, mereka tahu bahwa pasukan asing sudah tiba. Desa mereka diserang dengan kejam. Pasukan asing membakar rumah-rumah, merampas harta, dan bahkan membunuh beberapa penduduknya.


Pada saat yang genting itu, Karmelia merasa dendam membara di dalam dirinya. Dia melihat Arwin bertarung dengan gagah berani, berjuang untuk melindungi orang-orang yang mereka cintai. Namun, dalam kekacauan pertempuran, Karmelia tidak menyadari bahwa Arwin telah terluka parah.


Ketika pertempuran mereda dan pasukan asing mundur, Karmelia berlari mendekati Arwin yang terluka. Darah mengalir dari lukanya yang serius, dan matanya yang pernah tajam kini terlihat lemah.


"Arwin!" Karmelia berteriak dengan nafas terengah-engah, menangis saat dia mencoba menghentikan perdarahan.


Arwin menatap Karmelia dengan lemah. "Karmelia, aku mencintaimu."


Karmelia menangis lebih keras, merasakan kehilangan yang mendalam. "Aku juga mencintaimu, Arwin... Bertahanlah..."


Tapi saat itu, mata Arwin mulai redup, dan napasnya perlahan-lahan mereda. Dia meninggal di depan mata Karmelia, di medan perang yang berlumuran darah.


Karmelia merasa dunianya runtuh. Keberanian Arwin yang telah memenangkan hatinya, kini telah menjadi kenangan. Kematiannya membuatnya merasa hancur dan penuh dendam. Dia memegang tubuh Arwin yang dingin dan bersumpah akan membalaskan kematian kekasihnya itu.


Dalam kegelapan yang menelannya, Karmelia merasa bahwa satu-satunya yang tersisa adalah dendam dan keinginannya untuk membalas dendam atas kematian Arwin. Dia tahu dia harus bertahan dan menghadapi pasukan asing yang akan datang lagi, tapi di dalam hatinya, api kegelapan telah menyala.


Pagi hari tiba, dan Karmelia yang dulu yang penuh kasih telah berubah. Dia tampil di depan penduduk desa yang masih ada, mata penuh dengan keputusasaan dan hasrat membara untuk membalaskan dendam.


"Dia telah mati," kata Karmelia dengan suara tegas. "Arwin telah mati, dan darah kita akan menjadi harga yang harus dibayar oleh pasukan asing itu."


Penduduk desa yang masih tersisa tercengang mendengar kata-kata Karmelia. Mereka melihat perubahan dalam dirinya, dari wanita lembut menjadi seorang pejuang yang penuh dendam. Mereka tahu bahwa perang itu akan datang lagi, dan kali ini, Karmelia tidak akan berhenti sampai dia membalaskan dendam atas kematian Arwin.


Kisah cinta yang indah antara Karmelia dan Arwin telah berubah menjadi kisah dendam yang membara. Karmelia telah memasuki gelapnya dunia, dipenuhi oleh keinginan untuk membalas kematian kekasihnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, dan bagaimana nasib desa ini akan berakhir, hanya waktu yang akan memberitahu.