
Malam ini, kota Jakarta tenggelam dalam kegelapan yang tidak alami. Hutan subur dan liar tumbuh dengan sekejap menggantikan jalan-jalan dan gedung-gedung perkotaan. Pohon-pohon raksasa merobohkan bangunan, tanaman liar merayap di sekitarnya, dan suara-suara binatang ganas mulai terdengar.
Di tengah kehancuran ini, Watu Alas muncul, tubuhnya menyatu dengan alam, kulit batu-batuannya menyerap cahaya rembulan, dan matanya menyala dengan kemarahan yang terpendam. "Hutan sudah terlalu sempit!" desisnya dengan suara guntur, suara yang mengguncang bumi.
Di sudut kota yang dulu ramai, sekarang ditutupi oleh hutan yang tumbuh liar. Pohon-pohon menjulang tinggi, dedaunan rimbun menyelimuti trotoar, dan binatang-binatang dari dalam hutan mulai bermunculan. Keheningan malam digantikan oleh derap kaki hewan liar, raungan singa, dan suara burung-burung.
Saat kehancuran yang melanda permukiman warga kota, Wirapati tiba di tengah-tengah kota yang berubah menjadi setengah hutan. Tubuhnya yang perkasa memancarkan aura ketenangan. Dia tahu bahwa hanya dia yang dapat menghadapi Watu Alas dan menghentikan kehancuran ini.
"Bukankah engkau ingin kembali tidur dalam damai, Watu Alas?" kata Wirapati dengan suara yang tenang.
Watu Alas berbalik, wajahnya penuh kemarahan. "Mereka telah mengubah alamku menjadi beton dan kaca! Mereka telah merusak keseimbangan yang harus aku jaga! Tugasku adalah menjaga wilayahku!"
Pertarungan pun dimulai. Watu Alas melepaskan serangan dengan kekuatannya yang luar biasa. Dia menghancurkan bangunan dengan satu pukulan. Lalu Watu Alas membuat akar-akar liat yang menjalar ke arah Wirapati, akar itu berusaha mengikat kakinya dengan kuat. Wirapati dengan kekuatannya mampu menghindar.
"Kau jangan menghalangiku! Hutanku harus kembali seperti dulu!", suara Watu Alas menggelegar bagaikan kilatan petir yang menghantam bumi.
Lalu Watu Alas terus menghancurkan bangunan kota di sekitarnya. Di depannya terdapat antrean kemacetan mobil, beberapa orang sudah melarikan diri tetapi beberapa yang lain masih ada di dalamnya tak mampu keluar karena terhimpit oleh mobil yang lain.
Watu Alas menuju antrean kemacetan mobil itu dia mengangkat bus yang sudah kosong lalu melemparkannya ke mobil-mobil itu. Wirapati dengan sigap dan kecepatan penuh menghalangi bus itu. Wirapati dengan kedua tangannya menangkap bus itu dengan sekuat tenaga. Lemparan bus itu hanya mendorongnya beberapa meter ke arah antrean mobil-mobil itu. Sementara pasukan polisi membantu warga yang terjebak disana.
"Menjauh dari sini!", tegas Wirapati kepada warga-warga itu sambil menahan lemparan bus.
Watu Alas lalu melemparkan batu-batuan ke arah nya. Wirapati dengan sigap menghindari serangan-serangan itu, melompat tinggi untuk menghindari pukulan Watu Alas. "Keseimbangan harus dijaga, tetapi kehancuran kota ini bukan cara yang benar!" Wirapati berbicara sambil terus menghindari.
Tetapi dengan cepat Watu Alas menangkap Wirapati. Akar-akar yang merambat itu menangkap kakinya lalu mengikat tubuhnya dengan sangat kuat. Wirapati tak mampu bergerak. Kemudian Watu Alas melontarkan pukulan ke perutnya. Wirapati tak mampu berbuat apa-apa, pukulan itu membuatnya terbatuk dan nafasnya menjadi sangat berat, tetesan darah mulai menetes dari mulutnya. Pandangannya menjadi kunang-kunang.
Peristiwa itu disaksikan seluruh warga kota melalui televisi nasional. Tiba-tiba pasukan polisi muncul menembaki Watu Alas, lalu Watu Alas menghadangnya dan menyerangnya. Puluhan polisi berjatuhan ketika Watu Alas melontarkan ratusan kerikil bebatuan ke arahnya.
Akar-akar yang menjerat Wirapati mulai melepasnya karena energi dalam diri bima mulai muncul. "Bima bangkitlah, kota membutuhkan bantuanmu!", sebuah bisikan suara laki-laki yang penuh dengan wibawa, suaranya tak asing di kupingnya.
Lalu Bima membuka mata, Bima mendapati dirinya berada disebuah istana yang megah, penuh dengan taman hijau yang asri. "Bima..", sosok itu muncul lagi dalam alam bawah sadarnya.
"Raja Wirapati", Bima memberi hormat menundukkan kepalanya. "Lihatlah istana ini Bima, pada era kejayaan Wiratama manusia hidup berdampingan dengan alam", suaranya tegas namun sangat mendamaikan.
"Apa yang harus aku perbuat?", tanya Bima.
"Kembalikan Watu Alas ke hutan, kurung dia kembali dalam tidurnya..", ucap Raja Wirapati, lalu dengan sekejap Bima tersadar dari mimpinya dan bangkit berdiri.
Watu Alas yang mengamuk menghancurkan jalanan kota. Gedung-gedung di depannya runtuh oleh pohon yang tiba-tiba tumbuh.
Saat pertarungan berlanjut, Wirapati mencoba meredakan kemarahan Watu Alas. "Ada cara yang lebih baik untuk mengembalikan keseimbangan alam."
Watu Alas berhenti sejenak, mata merahnya kini mulai padam memancarkan keraguan. "Apa yang kau maksud?"
"Kita dapat bekerja sama untuk mengembalikan keseimbangan alam ini. Aku bisa membantu menjaga kota ini tetap hijau dan sekaligus memberikanmu tempat yang layak untuk beristirahat," ucap Wirapati dengan suara penuh keyakinan.
Watu Alas terdiam, merenungkan kata-kata itu. Sebentar kemudian, dia mengubah dirinya kembali menjadi kerikil-kerikil kecil dan melarikan diri ke dalam hutan liar yang telah dia ciptakan.
Wirapati mengikuti dengan cepat. Di dalam hutan yang kini menjadi tempat perlindungan Watu Alas, Wirapati mendekatinya. "Watu Alas, tugasmu sudah usai. Aku berjanji akan menjaga keseimbangan alam ini."
Watu Alas menoleh, kali ini dengan ekspresi yang lebih tenang. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Ikuti aku, dan mari kita mulai memperbaiki apa yang telah rusak," ujar Wirapati sembari membawanya ke sebuah lokasi hutan purba.
"Dahulu, hutan ini adalah tempat wilayahku", tegas Watu Alas dengan suara yang menggelegar.
"Tak ada satupun manusia yang berani mendekatiku, aku adalah penguasa hutan," suaranya bergema megah mengisi hutan yang kosong.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai dilokasi, hutan yang jauh dari permukiman warga. Hutan ini sudah tandus cukup lama.
"Kembalikan hutan ini dan beristirahatlah dengan tenang kembali", ucap Wirapati tenang.
Dengan kekuatannya Watu Alas mengubah hutan yang tandus menjadi subur, rumput liar mulai menjalar, pohon-pohon mulai tumbuh dengan subur, binatang-binatang liar mulai bermunculan di lokasi hutan ini.
Wirapati tersenyum melihat kembalinya hutan ini, melihat keajaiban yang diciptakan oleh Watu Alas. "Dunia sudah banyak berubah Watu Alas, kau harus kembali beristirahat. Tugasmu sudah selesai, aku berjanji akan menjaga hutan dan alammu", ucap Wirapati dengan suara tegas.
Perjanjian itu menjadi sebuah ikatan diantara mereka berdua.
"Aku akan kembali jika kau tak mampu menjaga janjimu melindungi alam dan hutan", suara Watu Alas menggelegar seluruh hutan. Lalu ia memecahkan dirinya menjadi kerikil-kerikil kecil dan membentuk dirinya seperti menjadi batu yang besar.
Wirapati tersenyum tangannya memegang batu itu, "Aku berjanji Watu Alas, beristirahatlah dengan tenang", ucap Wirapati sambil memandangi alam sekitarnya. Lalu Wirapati kembali ke kota di ikuti dengan tepuk tangan dan seruan warga kota yang menyambutnya. Jakarta beruntung memiliki pahlawan sepertinya.