Wirapati

Wirapati
S2 E1 PEMAKAMAN DAN PEMULIHAN



Malam telah kembali menyelimuti kota Jakarta, namun atmosfernya berbeda kali ini. Sembilan belas makam yang baru tergali menanti penduduk terakhirnya. Keheningan merajai suasana di pemakaman yang dilanda duka. Di antara kuburan-kuburan, Bima berdiri dengan mata terpaku pada satu kuburan khusus yang baru saja digali. Dia merasa berat melihat peti mati yang terbuat dari kayu itu.


"Kau adalah pahlawan kota ini, Adam. Aku berjanji akan menjaga kota ini apapun yang terjadi", bisiknya perlahan, dan ia merundukkan kepala sebagai penghormatan terakhir. Hujan perlahan turun membasahi kota ini.


Lestari dan Dion juga hadir dalam upacara pemakaman ini. Mereka menggenggam bunga-bunga putih yang mereka letakkan di atas setiap kuburan sebagai penghormatan terakhir.


Seiring langit mulai memancarkan sinar matahari pagi, kota Jakarta bersiap untuk membangun kembali dirinya yang hancur. Bangunan yang telah roboh dan hangus mulai dibangun kembali, dan jalan-jalan yang penuh dengan kerusakan akhirnya mendapatkan perbaikan. Semangat pemulihan menggema di seluruh kota ini. Warga kota memulai aktivitas mereka sehari-hari kembali. Tak banyak yang berubah kecuali monumen peringatan kecil yang mereka buat untuk mengenang mereka yang gugur.


Gubernur baru yang dipilih langsung oleh Presiden, Maya Wijaya, memimpin upaya pemulihan ini. Dia adalah pemimpin yang bijaksana dan tekun, dan orang-orang Jakarta merasa beruntung memiliki pemimpin seperti Maya dalam saat-saat sulit ini. "Kita akan bangun kembali kota ini!", teriaknya semangat menutup pidato sore itu. Warga kota menyambut hangat kehadirannya. Harapan baru kota ini mulai tumbuh kembali.


Sementara itu sebuah kedai kopi yang tenang di sudut kota, Bima, Lestari, Dion dan Naga berkumpul. Mereka merenungkan segala peristiwa yang telah mereka alami, tetapi rahasia mereka tetap terjaga rapat. Bima menyusupkan pandangannya pada naga yang kini pulih dari luka-lukanya, mengingatkan dirinya bahwa bahaya selalu mengintai. Naga berjalan menuju kedai kopi dengan kakinya yang belum pulih.


"Naga, sini aku bantu", Bima berlari lalu menopang tangannya untuk berjalan masuk dari mobilnya setelah melihatnya dari balik jendela kaca.


"Kau seharusnya istirahat", ucap Bima cemas. "Gapapa Bim, bosen dirumah", balas Naga.


"Naga, kamu bisa minta bantuan kami, kami akan bawa kamu jalan-jalan", kata Lestari sedikit kesal.


"Ah, aku gak mau ngerepotin kalian", jawab Naga singkat.


"Justru kami seneng Ga bantuin kamu", lanjut Dion.


"Makasih Bim, Tar, Dion", Naga lalu duduk di kursi.


"Hmm, emang kamu udah boleh ngopi Ga?", tanya Dion. Naga cuma tersenyum mengangguk.


"Oke Ga, aku bikinin, tapi kali ini dosisnya aku kurangin ya biar gak terlalu berat", kata Bima sambil mempersiapkan kopi kesukaan Naga.


"Iya Bim, Makasih", jawab Naga pelan.


Lalu ditengah pembicaraan itu terdengar suara berita nasional, "Pemirsa, Maya Wijaya sudah resmi dilantik sebagai Gubernur Kota Jakarta, dan perbaikan kerusakan kota sudah mulai dilakukan, jalan-jalan mulai diperbaiki di beberapa tempat dan gedung-gedung mulai dibangun kembali", ucap seorang pembawa berita.


Dion menyadap secangkir kopi dan berkata, "Semoga kota ini dapat pulih dengan cepat".


Lestari menambahkan, "Yang terpenting, kota kita sudah aman dari perampok-perampok itu".


Naga mendongakkan kepalanya, seakan-akan memahami pembicaraan mereka, mata birunya bersinar dengan bijak.


"Naga, bagaimana keadaanmu?", tanya Bima.


"Aku sudah pulih, tetapi setelah penculikan itu kakiku tak bisa lagi berjalan normal. Dokter sudah menyerah dengan kondisiku sekarang.", ucap Naga dengan wajah sedih.


"Tenang Ga, kamu pasti bisa pulih. Pasti ada cara lain diluar sana yang mampu mengobati luka-lukamu", Lestari memegang pundak Naga.


Naga hanya tersenyum tipis meski duka itu masih terlihat jelas dari matanya. Persahabatan mereka sangat erat.


Jutaan tahun yang lalu, pada era ketika dunia masih dipenuhi mitos dan dewa-dewi yang berjalan di antara manusia. Hiduplah sebuah batu perkasa penjaga alam. Dalam bahasa kuno, ia disebut sebagai "Watu Alas," makhluk yang dihormati namun juga ditakuti. Wujudnya seperti manusia raksasa setinggi lima meter, mempunyai kaki dan tangan terbuat dari batu, dia juga mampu memecah dirinya menjadi butiran-butiran kerikil lalu kembali lagi menjadi manusia batu yang utuh.


Salah satu dialog dewa tertua, Dewa Aruna, bergemuruh seperti guntur di malam hari. "Watu Alas, penjaga alam, kami berikan padamu tugas mulia untuk menjaga keseimbangan ini. Namun, ingatlah, kekuatan besar yang engkau miliki juga dapat menjadi kutuk jika disalahgunakan."


Watu Alas menjawab dengan suara gemuruh, yang merasuk ke dalam tanah dan langit. "Aku akan menjalankan tugas ini dengan setia, untuk melindungi alam dan semua makhluk yang hidup di dalamnya."


Selama berabad-abad, Watu Alas memegang janjinya. Dia menjaga hutan belantara dan sungai-sungai, memastikan kehidupan berjalan seimbang. Tapi seperti semua makhluk, kekuatannya membuatnya ingin lebih.


Suatu hari, godaan jahat merasuki hatinya. Dia mulai menggunakan kekuatannya untuk memperluas wilayahnya, membuat hutan tumbuh subur di luar wilayahnya. Ketidakseimbangan pun muncul, dan manusia mulai menderita karena invasi hewan-hewan liar yang buas ke permukiman manusia.


Para dewa yang marah dengan tindakan Watu Alas akhirnya memutuskan untuk menghentikannya. Mereka menciptakan segel kuat yang mengikat Watu Alas ke dalam batu raksasa berbentuk telur lalu meletakkannya di dalam sebuah goa terpencil. Watu Alas tersegel di dalamnya, terhukum untuk menjalani masa tahanan abadi selamanya.


Selama jutaan tahun, dia terperangkap dalam kegelapan dan kehampaan. Cerita ini terkabar dan masih tercatat hinggi jutaan tahun. Sampai seorang arkeolog menemukan keberadaannya.


"Pak, ini akan menjadi penemuan terbesar di abad ini", kata Siska asistennya.


"Kita tidak boleh terlalu gegabah, karena naskah purba menuliskan bahwa batu ini terkutuk. Batu ini tidak boleh dipindahkan", ucap Dr. Gunawan dengan tegas.


"Bos, lihat ini! Kami berhasil menemukan pintu masuknya", seru seorang pekerja yang menggali goa tua.


"Mengagumkan", ucap Dr. Gunawan setelah melihat pintu masuk goa itu terbuka.


"Aku akan masuk terlebih dahulu", tegas Dr. Gunawan di depan timnya. "Tapi Pak ini sangat berbahaya, goa ini bisa runtuh kapan saja", Siska mencemaskan keselamatannya.


"Ini sudah menjadi resiko seorang arkeolog sepertiku Siska, berikan aku senternya", Dr. Gunawan menegaskan kepada timnya. "Ini Pak", seorang pekerja memakaikan helm pengaman dengan senter.


Perlahan Dr. Gunawan memasuki celah pintu goa itu. Dia merasakan getaran energi yang sangat kuat di dalamnya. Dia memasuki goa itu lebih dalam dan mendapati sebuah batu besar berbentuk telur berdiri tegak ditengah-tengah goa.


"Akhirnya aku berhasil, seperti dugaanku selama ini batu ini nyata!", Dr. Gunawan terharu akan keberhasilan penemuan batu besar itu.


Penemuan itu menjadi berita hangat dunia, dan informasi ini sampai kepada para kolektor dan pecinta benda antik.


"Pak William, batu ini usianya sudah jutaan tahun, pasti harga jualnya pasti sangat tinggi Pak", kata Pak Vincent dari dalam telepon.


"Tapi Pak Vincent, batu ini memiliki mitos terkutuk, aku tak mau mengambil resikonya", kata Pak William seorang kolektor benda-benda antik.


"Hmm... Oke begini saja, bagaimana jika Bapak bawakan batu itu untuk saya maka hutang-hutang bapak selama ini saya anggap lunas", Pak Vincent menawarkan.


"Ta.. Tapi Pak, batu itu dijaga sangat ketat oleh pemerintah kita", lanjut Pak William.


"Pak William, Pak William, Bapak adalah pemain lama. Bapak pasti sudah tahu caranya. Bawakan aku batu itu.. Segera!", bentak Pak Vincent keras sambil menutup teleponnya.


"Tampaknya aku tak memiliki pilihan lain..", gumam Pak William dalam hati.


Bersambung...