
Lestari, dengan matanya yang bersinar terang, merasakan getaran energi yang sangat kuat. Dia tahu dengan pasti bahwa Naga adalah Nagapati, dan Bima keberadaannya dalam bahaya. Tanpa ragu, dia segera bergegas menuju tempat di mana Nagapati dan Wirapati bertarung, Dion mengikutinya dengan penuh tekad.
Saat mereka tiba di tempat pertarungan, pemandangan yang mereka lihat sangat mengkhawatirkan. Wirapati, yang sudah tertusuk oleh tombak api milik Nagapati, lemah tak berdaya. Tubuhnya terbaring di tanah, dan luka-lukanya terlihat sangat serius. Bima tak ingin melukai sahabatnya Naga.
Naga, yang kini sudah kehilangan topengnya, tampak marah. Dia tidak tahu bagaimana menghentikan serangannya yang mematikan terhadap Wirapati, yang sekarang tidak lagi menjadi musuh, tetapi sahabat lamanya. Nagapati sudah mengendalikan tubuhnya.
Dion dan Lestari berusaha dengan keras untuk menghentikan pertarungan itu. Mereka berteriak kepada Naga, mencoba membuatnya sadar akan apa yang sudah terjadi. "Naga! Sudah cukup! Jangan lanjutkan ini!"
Namun, Nagapati masih dalam kendali gelap yang kuat. Dia tidak merespon terhadap kata-kata mereka, terlalu terobsesi dengan keinginannya untuk menghabisi Wirapati.
"Naga sudah mati!", teriaknya dengan tatapan kejam dan tajam.
Saat Nagapati mengayunkan tombak api itu untuk serangan terakhirnya, Dion mengambil tindakan nekat. Dia melompat dari tempatnya dan mendorong tubuhnya di depan Wirapati, menangkis tusukan tombak itu dengan tubuhnya sendiri. Tubuh Dion terbakar oleh api yang mematikan, tetapi dia tidak bergerak. Darahnya mengalir, dan matanya melihat Wirapati yang lemah.
"Jangan, Naga!" seru Dion dengan suara yang terpecah-pecah oleh rasa sakit. "Kalian adalah sahabatku... aku tidak akan membiarkanmu membunuhnya..."
Naga, melihat tindakan berani Dion, akhirnya mulai tersadar dari kegelapannya. Kepalanya terasa berat, dan perlahan dia melepaskan cengkramannya pada tombak api itu. Tombak itu jatuh ke tanah, dan dia berlutut di samping Dion yang terluka parah.
Lestari segera mendekati mereka dengan mata berbinar. "Dion, bertahanlah. Naga, apa yang telah kau lakukan! Dia sahabatmu!."
Naga, yang kini telah kembali menjadi dirinya yang sejati, menangis. Dia meraih tubuh Dion yang terluka parah. "Dion, mengapa aku melakukan ini? Aku sudah berubah menjadi monster"
Dion tersenyum lemah. "Karena kalian adalah sahabat-sahabatku... kalian lebih penting daripada apapun."
"Dion.. Bertahanlah..", ucap Bima yang sudah mulai bangkit. Lukanya masih terlihat jelas dengan darah yang menetes di tubuhnya.
Namun, cahaya dalam mata Dion mulai memudar, dan napasnya menjadi semakin lemah. Lestari mencoba menyembuhkan lukanya, tetapi luka itu terlalu serius.
Dalam detik-detik terakhirnya, Dion menatap sahabat-sahabatnya dengan senyuman. "Jaga kota ini dengan baik Bima. Terima kasih kalian sudah menjadi sahabatku".
Dengan kata-kata terakhir itu, Dion menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuhnya yang penuh luka berubah menjadi abu, seiring dengan angin yang berhembus perlahan.
Naga, Lestari, dan Wirapati berduka cita atas kehilangan sahabat mereka yang penuh pengorbanan. Mereka tahu bahwa pertempuran melawan kegelapan belum berakhir, tetapi mereka akan menghadapinya bersama-sama, untuk menghormati kenangan Dion yang telah meninggal demi cahaya dan persahabatan.
...----------------...
"Aku yang akan mengakhiri ini semua..", kata Naga tegas. "Garis keturunanmu telah berhenti ditanganku! Kekuatan ini akan mati bersamaku..", lanjut Naga dengan tegas.
"Naga! Jangan kau berani melakukan ini", ucap Nagapati dengan suara tertekan.
Lalu Naga dengan penuh kesadarannya ia mengambil tombak apinya.
"Naga, apa yang akan kau lakukan?", ucap Bima yang masih bersedih kehilangan Dion.
"Bima, Lestari, aku harus menghentikan ini semua sebelum terlambat. Garis keturunan Nagapati ada di tanganku. Aku harus melakukan ini untuk mengakhiri semuanya.. Dion maafkan aku...", Naga dengan wajah penyesalannya mengambil tombak dan menusukkan tombak itu ke dadanya sendiri.
"Naga! Jangan...", teriak Lestari dengan tangisan.
Namun semua sudah terlambat, Dion dan Naga sudah tak bergerak lagi. Jantungnya berhenti dengan pasti, sebuah pengorbanan yang tak ternilai harganya.
Hari itu matahari terbit menyinari kota dengan ditemani hujan rintik-rintik. Awan seakan menangis melihat kematian Dion dan Naga. Sementara Bima dan Lestari hanya bisa terduduk lemas tak berdaya sampai polisi datang menolongnya.
...----------------...
Keesokan harinya, hujan masih turun dengan rintiknya yang menyejukkan hari. Di dekat taman kota, sebuah pemakaman terlihat sebuah keramaian.
"Bim, mereka sudah berkorban untukmu dan kota ini", kata-kata itu keluar dari mulut Lestari dengan tangis yang tak ada ujungnya.
Bima hanya bisa terdiam saat Lestari memeluknya. Seakan duka itu bisa terbagi, tetapi Bima berusaha untuk tegar melihat semua proses pemakaman sahabat-sahabat dekatnya walaupun dalam hatinya sangat hancur.
"Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini...", kata-kata penyesalan Bima dalam hatinya. Sebuah penyesalan yang tiada ujungnya. "Seandainya waktu itu aku bisa menghentikannya.. Ini semua tak mungkin terjadi..", lanjutnya dalam hati, Bima merasakan seakan sebagian dari hidupnya telah pergi.
Sementara Lestari masih memeluknya erat, merasakan perasaan yang sama. "Seandainya aku bisa menyembuhkan mereka semua...", kata-katanya dalam hati.
Di hari itu hujan membasahi Jakarta seharian penuh, rintik-rintiknya menetes tiada henti. Sementara reruntuhan puing-puing bangunan gedung mulai di bersihkan. Dan jalanan mulai diperbaiki kembali. Kota Jakarta seakan tak henti berduka.