
Malam itu, kegelapan menyelimuti jalanan kota Jakarta. Tetapi dalam kegelapan ini, ada rencana busuk yang akan mengubah segalanya. Pak William, seorang kolektor benda-benda antik yang sering berurusan dengan pasar gelap, telah merencanakan pencurian besar-besaran.
Dia berkumpul dengan tim perampok yang dia sewa. Mereka telah merinci setiap langkah dengan hati-hati, memastikan bahwa tidak ada yang bisa menghentikan mereka.
"Kita hanya punya satu kesempatan," kata Pak William dengan suara berat. "Batu ini sangat berharga, dan kita akan mengambilnya dengan hati-hati, tak boleh ada lecet sedikitpun."
Tim perampok mengangguk setuju, mengenakan peralatan khusus untuk menghindari segala kemungkinan. Mereka tahu bahwa tugas ini bukanlah pekerjaan biasa.
Pada saat yang sama, di tempat yang berbeda, Pak Vincent menunggu dengan tidak sabar. Dia telah lama mengejar batu ini, dan saat ini, dia akan mendapatkannya. Tawaran untuk Pak William adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan, pikirnya.
Di malam yang gelap, perampokan dimulai. Tim perampok berjalan kaki perlahan menyusup ke dalam area sekitar goa, tempat batu itu berada. Mereka bekerja dengan cekatan, menjaga keheningan, walaupun merasa sangat tertekan. Tempat itu dijaga oleh puluhan pasukan kepolisian dua puluh empat jam non stop. Mereka bergantian berjaga setiap regu.
Perampok-perampok itu sudah merencanakan sebuah cara menembus penjaga-penjaga itu. Mereka melemparkan puluhan bom asap di sekitar area itu, bom asap ini dapat membuat orang yang menghirupnya tertidur lelap dalam waktu sekejap.
Dalam sekejap bom dilemparkan dan polisi-polisi itu tergeletak dalam lelap, tak satupun polisi yang tersisa. Perampok-perampok itu menggunakan helm masker gas khusus untuk masuk ke dalam area itu. Mereka berhasil masuk dan secara berhati-hati mengeluarkan batu itu perlahan.
Akhirnya, batu itu dalam genggaman mereka. Mereka berhasil mengambilnya keluar dari goa tanpa secercah kerusakan dan jejak. Sebuah helikopter muncul melemparkan tali kebawah. Semua perampok itu bergegas mengikatkan batu itu pada tali helikopter itu. Lalu helikopter itu pergi dengan tenang membawa batu itu ke tempat aman.
Pak William dan timnya berkumpul di lokasi yang telah disepakati dengan Pak Vincent, di sebuah gedung pribadi milik Pak Vincent. Mereka merasa keringat dingin mengalir di dahi mereka saat mereka menyerahkan batu itu.
Pak Vincent mengambil batu itu dengan ekspresi senang. "Kalian telah melakukan pekerjaan yang luar biasa," katanya. "Ini adalah awal dari kejayaan kita."
Beberapa jam kemudian...
"Pemirsa, saya sedang berada dilokasi sebuah pencurian terjadi di dalam situs purbakala nasional, mereka berhasil melumpuhkan puluhan pasukan polisi dengan bius dari bom asap", ucap seorang pembawa berita di lokasi kejadian.
"Mereka berhasil mengambil batu purbakala yang sangat tua. Batu ini diyakini memiliki mitos sebagai batu Watu Alas, yaitu makhluk mitologi purbakala yang di kutuk dalam sebuah batu". Berita itu menjadi berita nomor satu nasional.
"Watu Alas...?", ucap Bima lirih menonton berita itu secara live.
"Seberapa berharga batu berbentuk telur itu?", tanya Dion seketika sambil meminum kopinya.
"Kalo dari usianya yang sudah jutaan tahun, batu itu akan menjadi tak ternilai lagi harganya", jawab Lestari
"Hmm.. Aku tahu dimana batu itu akan di lelang..", ucap Naga dengan santainya.
"Di kota ini ada sebuah tempat pelelangan barang-barang antik dari black market. Tetapi tempat itu sangat tertutup dan dijaga dengan sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa masuk, mereka adalah mafia-mafia kota ini yang melelang barang antik hasil curian dari dalam maupun luar negeri. Mereka adalah kolektor-kolektor barang seni yang harganya sangat mahal. Aku tidak tahu identitas mereka, karena dalam pertemuan ini mereka semua menggunakan topeng, dan menggunakan nama samaran", Naga menjelaskan dengan serius.
"Dimana tempatnya?", tanya Lestari.
"Aku sendiri belum tahu tepatnya, karena mereka selalu berpindah tempat. Aku sering diundang untuk hadir tetapi aku selalu menolaknya", kata Naga.
Selanjutnya, batu itu dibawa ke tempat lelang pasar gelap yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu. Kehadiran batu ini menjadi pusat perhatian. Orang-orang kaya dan kolektor benda antik bersiap untuk menawar harga yang fantastis. Mereka semua mengenakan topeng untuk menjaga privasi dan identitas. Pakaian mereka sangat rapi, dengan kemeja jas yang mahal, perhiasan mahal dan pasti mereka mempunyai bodyguard masing-masing.
Di tengah sorak sorai para pembeli potensial, seorang pria tua dengan tampilan kaya mendekati batu itu. Harga penawaran terus meningkat hingga mencapai puncaknya. "Sepuluh Triliun Rupiah!", ucap seseorang di balik topeng berwarna emas.
Tiba-tiba, setelah host mengetokan palunya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Batu itu retak secara perlahan, energi yang besar terasa di ruangan tertutup itu menimbulkan sebuah goncangan gempa bumi kecil. Hingga akhirnya batu telur itu pecah dengan hebatnya, seolah melepaskan energi yang terkandung di dalamnya. Ledakan energi memenuhi ruangan, mengguncang para pelelang dan orang-orang di tempat itu. Semua orang di dekatnya terlempar jauh hingga tak sadarkan diri.
Di saat itu, Watu Alas, yang telah terbebas dari kutukan setelah batunya pecah, muncul dalam bentuk energi yang ganas. Dia adalah makhluk mitologis kuno, dan kemarahannya tak terbendung.
"Kalian telah mengganggu tidurku selama jutaan tahun!" bentaknya dengan suara gemuruh yang mengguncang struktur bangunan di sekitarnya. Dia juga menyerang semua orang di tempat itu.
Keributan dan kekacauan pun terjadi. Orang-orang berusaha melarikan diri dari sana sambil berteriak ketakutan. Watu Alas bergerak dengan cepat, tak menyisakan satupun orang, ia menghantam semuanya. Beberapa penjaga menembakinya dengan senapan peluru, tetapi tembakan itu tak menembus apapun. Lalu Watu Alas menuju ke pusat kota, membawa malapetaka dengan kekuatannya yang tak terbatas.
Bangunan-bangunan roboh, jalan-jalan terbelah, dan warga-warga berusaha menyelamatkan diri mereka dari kehancuran yang ditimbulkan oleh makhluk mitologis yang marah ini. Para polisi yang berjaga menembakinya, tetapi tembakannya selalu percuma karena Watu Alas terlalu kebal.
Malam yang gelap menjadi saksi ketika Watu Alas mengamuk dengan ganasnya. Tak ada yang bisa menghentikan kekuatannya yang luar biasa. Jakarta berada dalam bahaya besar, dan para pahlawan yang selama ini melindunginya akan menghadapi ujian terbesar mereka.
Sementara itu disebuah restoran, Bima, Lestari dan Dion sedang makan malam. Sebuah berita menyiarkan kejadian itu.
"Pemirsa, sesosok makhluk asing bertubuh batu menyerang permukiman warga. Makhluk ini diyakini sebagai Watu Alas, sebuah batu yang dicuri oleh sekelompok orang beberapa hari yang lalu. Hingga saat ini makhluk yang dipercaya sebagai Watu Alas ini sedang menuju ke arah kota, sementara pasukan polisi sedang berbaris di pintu masuk kota untuk menahannya", pembawa berita membawakan berita dengan muka panik dan tegang.
"Bim, lihat", kata Lestari dengan tatapan tajam. Bima sudah paham akan maksudnya. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Bima menggenggam kalungnya, cahaya itu menutup segalanya diruangan itu dan Wirapati hadir untuk melindungi kota ini.
"Aku akan menjaga kota ini!", ucap Wirapati lantang. Suaranya menggelegar sembari dia melompat keluar jendela gedung yang sangat tinggi dan mendarat ke jalanan. Lalu ia berlari dengan kecepatan tinggi menuju pintu masuk kota.
Bersambung...