Wirapati

Wirapati
S2 E7 NAGAPATI



Malam yang gelap menyelimuti kota Jakarta seperti selubung misteri. Bintang-bintang di langit bersinar terang, menciptakan latar belakang yang sempurna untuk kedatangan Nagapati. Penampilannya begitu mengesankan, seakan diciptakan dari mimpi buruk.


Nagapati, makhluk yang pernah menjadi panglima terkuat di kerajaan Wiratama, muncul kembali dalam diri Naga Mahesa dengan penuh megah. Tubuhnya tertutup oleh jubah hitam yang memantulkan cahaya bulan. Matanya memancarkan kegelapan yang dalam. Topeng tengkorak yang menutupi wajahnya menambah aura misterius dan menakutkan.


Setiap langkah Nagapati menghasilkan getaran di tanah, seolah-olah alam itu sendiri menanggapi kedatangannya yang kuat. Ia mengendalikan angin malam dengan erat, memungkinkannya untuk bergerak tanpa suara seiring dengan bayangannya yang mengambang.


Di tengah-tengah kota yang sepi, Nagapati mulai mencari tahu identitas Wirapati, musuh bebuyutannya. Dia ingin menghancurkan Wiratama dan menguasai dunia dengan kekuatan yang dimilikinya. Dengan mata yang tajam, dia memeriksa wajah setiap orang yang bertemu dengannya, mencoba menemukan petunjuk tentang keberadaan Wirapati.


Namun, Wirapati adalah penguasa yang bijaksana. Dia telah menjaga identitasnya dengan sangat rapi, sehingga Nagapati tidak dapat menemukan jejaknya dengan mudah. Meskipun demikian, Nagapati tidak pernah putus asa. Dia merusak bangunan, mengacaukan kota, dan menciptakan kekacauan di mana pun dia pergi, dengan harapan bahwa Wirapati akan muncul untuk melawannya.


Ketika malam semakin larut, Nagapati memasuki pusat kota yang sepi. Dia melontarkan pukulan kuat, dan seketika itu, beberapa bangunan terbesar di kota itu runtuh seperti kertas yang terbakar. Api berkobar, dan asap hitam terbang liar mengepakkan sayapnya menyelimuti langit.


Tetapi yang lebih mengejutkan, suara dan aura yang kuat mulai terasa dari kejauhan. Wirapati telah muncul, dan dia sangat marah melihat puing-puing gedung yang dihancurkan oleh Nagapati. Ia tahu bahwa sekarang saatnya untuk menghadapinya.


Mereka berdua berhadapan, dengan pandangan tajam yang saling bertemu di bawah langit yang gelap. Nagapati dan Wirapati adalah dua kekuatan yang tak terhentikan, dua kekuatan yang saling melengkapi satu sama lain. Sementara kobaran api dan kepulan asap masih liar menari di sisa puing-puing gedung pencakar langit yang sudah runtuh.


"Perjalananmu akan berakhir di sini, Nagapati," kata Wirapati dengan suara tegas. Bima sudah menyadari kehadiran Nagapati, aura dendam yang gelap menyelimuti hati dan pikirannya.


Nagapati hanya tersenyum dengan kekejaman. "Ah, Wirapati, kita akan melihat siapa yang akan menjadi yang terakhir bertahan."


Mereka berdua bertarung dengan kekuatan yang luar biasa. Serangan cahaya dan kegelapan bertabrakan, menciptakan dentuman keras yang menggetarkan bumi. Bangunan-bangunan hancur di sekitar mereka, dan tanah gemetar di bawah kekuatan mereka yang begitu besar.


"Tinggalkan tempat ini!", teriak Wirapati kepada warga-warga kota yang berlarian. Seluruh warga berhamburan mencari tempat aman. Sementara pasukan polisi mengevakuasi korban-korban yang masih tertimpa reruntuhan.


Pertempuran berlangsung seolah tanpa akhir. Keduanya begitu kuat, sama-sama kuat. Mereka saling menyerang dengan pukulan keras, Nagapati melontarkan bola-bola api yang mematikan, dan Wirapati bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata manusia.


Ketika pertarungan mencapai puncaknya, Wirapati mendapat kesempatan untuk memukul wajah Nagapati. Dengan serangan yang cepat dan presisi, tangannya menyentuh topeng itu, dan topeng itu retak dan terlepas dari wajah Nagapati.


Ketika topeng itu jatuh ke tanah, matahari mulai terbit dari ufuk timur. Sinar matahari yang hangat menerangi tempat itu, dan identitas Nagapati yang sebenarnya terungkap. Cahaya matahari terbit menerangi wajah Naga yang penuh dengan dendam.


Wirapati terdiam sejenak, kaget oleh apa yang ia lihat. "Naga?"


Bima, yang berdiri dihadapannya terkejut. "Naga, apa yang terjadi padamu?", Bima menggenggam kalungnya, dan kembali pada wujud aslinya.


"Bima?! Kau... adalah Wirapati?", Naga terkejut dengan apa yang telah dilihatnya. Musuh bebuyutan leluhurnya yang ingin dia bunuh ternyata adalah sahabat sendiri, sahabat yang selalu ada menemaninya dalam setiap kesepian. Bima adalah orang terdekat Naga.


Naga berlutut, tangannya menapak ke tanah dengan tatapan mata yang kosong, "Apa yang telah aku lakukan..."


Sementara hujan runtuh dari langit, membungkap setiap kobaran api yang tersisa di reruntuhan gedung. Ditemani dengan kepulan asap yang terbang dan menipis tertiup angin.


Tiba-tiba sinar kegelapan dalam diri Naga kembali muncul, kini sinar itu begitu terang. "Naga, kau telah menjadi milikku seutuhnya!", Nagapati berkata dalam dirinya. Seketika itu pula matanya menyala tajam, pupil matanya telah berubah menjadi merah. Dengan tangan yang menggenggam ia melepaskan kekuatannya. Api keluar dari sekujur tubuhnya, menyala hebat, meski hujan masih meruntuhkan airnya api itu tak padam.


Lalu Nagapati menghantamkan sebuah pukulan ke tanah, jalanan kota itu terbelah menjadi dua disertai dengan gempa yang sangat hebat. Gempa itu bisa dirasakan seluruh warga kota. "Aku adalah Nagapati, Naga yang kau kenal sudah mati!", tegasnya dengan suara yang dalam dan penuh dengan amarah.


Lalu Nagapati mengeluarkan sebuah tombak dari belakang punggungnya, tombak itu terlihat hanya seperti tongkat tak memiliki ujung yang runcing atau mata pisau. Tetapi seketika Nagapati menghentakkan tombak itu ke tanah, api keluar dari atas tombak itu dan membentuk seperti mata pisau yang tajam menyala-nyala. Api pada ujung tombaknya bisa berubah bentuk apapun.


Nagapati menghunuskan tombak itu dengan tangannya kearah Wirapati, dengan cepat Wirapati menghindar dengan cepatnya. "Kali ini aku akan menghancurkanmu, Wirapati!", teriaknya dengan nada yang mengerikan.


Wirapati membalas serangan dengan gerakan yang cepat, sebuah pukulan mendarat tepat di dada Nagapati. Nagapati terdorong mundur beberapa meter dari tempatnya dengan kaki yang masih kuat menahan.


"Naga! Hentikan ini semua, aku sahabatmu, Bima!", ucap Wirapati berharap Naga tersadar dari selimut kegelapan yang menguasainya.


"Bima, Bima, Naga yang kau kenal sudah mati!", Nagapati mengayunkan tombaknya seperti pedang. Api pada ujung tombak itu berubah bentuk menjadi rantai api yang panjang dan menyala. Wirapati yang menghindar terkena sambitan rantai api itu dan terhempas ke tanah.


"Aku akan mengakhiri ini semua! Dan mengambil kembali kekuasaanku!", tegas Nagapati menghunuskan tombak apinya ke arah Wirapati. Wirapati yang masih tak berdaya tertusuk oleh tombak api di perutnya. Tombak itu menembus tubuh Wirapati.


"Naga.. Hentikan semua ini...", ucap Wirapati lirih dengan tubuh yang terluka dan tombak yang masih tertancap di perutnya.


Bersambung...