
Jutaan tahun yang lalu...
Sebuah bulan purnama menerangi langit malam di sebuah desa terpencil. Di sebuah rumah yang sederhana, seorang wanita muda yang sedang berjuang melahirkan. Bacaan mantra lembut terdengar di kamar sederhana tersebut. Kehadiran seorang bayi dengan mata yang bersinar terang menciptakan aura magis di dalam ruangan itu.
Bayi itu adalah Karmelia, lahir dalam cahaya bulan, dianggap oleh penduduk desa sebagai anugerah atau kutukan. Ibunya Cecillia, seorang wanita yang hidup dalam kemiskinan, merasa tercengang oleh keajaiban yang ada di hadapannya. Karmelia, dengan mata yang bersinar penuh kehidupan, adalah harapan ibunya untuk masa depan yang lebih baik.
Namun, tak ada yang tahu bahwa Karmelia telah membawa bersamanya potensi magis yang tak terduga. Bakat magisnya tumbuh dengan cepat, dan dalam beberapa tahun, ia mulai menunjukkan tanda-tanda kekuatan luar biasa. Tetapi di dunia yang konservatif ini, bakat seperti itu adalah kutukan.
Ketakutan dan kecurigaan pun muncul. Masyarakat desa mulai menjauhi Karmelia dan ibunya. Mereka memandang Karmelia sebagai ancaman, seorang penyihir yang membawa malapetaka.
Desa itu memandangnya sebagai kutukan hidup, dan Karmelia tumbuh dalam keterasingan dan isolasi.
Kehidupan mereka semakin sulit, tetapi ibu Karmelia berusaha keras untuk menjaga putrinya tetap aman. Dia adalah satu-satunya yang mempercayai bahwa Karmelia adalah berkah, bukan kutukan.
...----------------...
Pagi hari, di bawah sinar matahari yang jarang menembus kanopi pepohonan yang lebat, Karmelia kecil duduk di tepi sungai yang mengalir deras. Tangannya menyentuh permukaan air dengan penuh kekaguman, dan tiba-tiba, tetes-tetes air mulai mengambang di uCecillia di sekitarnya, membentuk lingkaran kecil.
"Karmelia, apa yang kau lakukan?" ibunya bertanya dengan lembut.
"Saya tidak tahu, Ibu," jawab Karmelia dengan penuh penasaran. "Apa ini?"
Ibu Karmelia tersenyum. "Ini adalah kekuatan khusus yang hanya dimiliki olehmu, Nak. Kau adalah anak yang istimewa."
...----------------...
Karmelia adalah seorang gadis kecil yang tumbuh di sebuah desa yang damai. Namanya menjadi cerita yang sering diucapkan oleh penduduk desa, meskipun tidak selalu dengan penuh kebahagiaan. Dia memiliki sesuatu yang istimewa, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di desa ini: kekuatan magis.
Suatu hari, Karmelia memutuskan untuk membantu penduduk desa. Dengan mata yang bersinar, dia berdiri di tengah-tengah ladang yang subur. Dengan cermat, dia mengeluarkan kekuatan magisnya yang masih terlalu liar.
Bunga-bunga di sekitarnya mulai mekar dengan indahnya. Kelopak berwarna-warni dan harum pun muncul, dan desa itu terlihat seperti surga kecil di bumi. Penduduk desa berkumpul dengan kagum, melihat pemandangan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Namun, Karmelia masih terlalu muda untuk mengendalikan kekuatannya dengan baik. Ketika dia merasa senang dan mencoba untuk memperindah bunga-bunga itu lebih banyak lagi, tanpa disengaja dia melepaskan terlalu banyak energi.
Tiba-tiba, bunga-bunga yang sebelumnya indah mulai membara dalam api yang mematikan. Kebun bunga itu, yang tadinya subur, kini terbakar menjadi bara. Karmelia berteriak ketakutan, tetapi dia tidak dapat memadamkan api yang membesar dengan cepat.
Penduduk desa yang semula kagum dan bahagia, sekarang berteriak ketakutan. Mereka mengambil ember dan berusaha mati-matian memadamkan api yang menjalar ke seluruh ladang. Pada akhirnya, mereka berhasil memadamkannya, tetapi ladang yang subur telah berubah menjadi medan gersang yang terbakar.
"Karmelia, kau telah merusak ladang kami!" teriak seorang penduduk desa dengan wajah penuh kemarahan. "Kau membawa malapetaka!"
Karmelia mencoba menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud merusak apa-apa, tetapi kata-katanya terdengar sebagai suara tangisan seorang anak kecil yang tak terkendali. Dia tidak bisa menjelaskan bahwa dia hanya ingin membantu.
Penduduk desa yang marah mengumpulkan diri mereka. Mereka merasa takut dan kesal dengan kekuatan yang dimiliki Karmelia. Dalam satu persatuan, mereka memutuskan untuk mengusir Karmelia dan ibunya dari desa itu.
Karmelia, walaupun masih sangat muda, merasa terhubung dengan dunia yang lebih besar. Namun, kekuatan magis yang berkembang dalam dirinya sulit untuk dikendalikan. Saat ia mencoba menggunakan kekuatannya untuk membantu desanya, hasilnya sering tidak seperti yang diinginkannya. Desa mereka semakin menderita, dan ketakutan atas Karmelia semakin mendalam.
"Kalian adalah kutukan!" teriak seorang penduduk desa dengan wajah penuh kemarahan. "Tinggalkan desa kami!"
"Kalian adalah kutukan!" teriak seorang penduduk desa dengan mata penuh kemarahan. "Kembalilah dari tempat yang kalian datang!"
Ibu Karmelia mencoba membela anaknya, tetapi tatapan tajam dan amarah dari penduduk desa membuatnya terdiam. Dengan berat hati, mereka meninggalkan desa itu, terbuang begitu saja oleh orang-orang yang mereka anggap sebagai keluarga.
Dengan perasaan hancur, Karmelia dan ibunya dikeluarkan dari desa itu. Mereka hanya memiliki satu pilihan, yaitu meninggalkan tempat yang telah lama mereka panggil sebagai rumah.
Karmelia dan ibunya meninggalkan desa itu dengan hati yang hancur. Mereka berdua adalah orang asing di dunia yang tak dikenal. Apa yang terjadi pada hari itu akan meninggalkan bekas yang mendalam dalam ingatan Karmelia, menghantarkannya ke dalam perjalanan yang penuh dengan kegelapan, isolasi, dan penemuan akan identitas dan kekuatan sejatinya.
Mereka akhirnya menyimpulkan bahwa Karmelia adalah penyebab malapetaka yang menimpa desa mereka.
...----------------...
Perjalanan hidup Karmelia yang gelap dimulai. Ia tumbuh dalam keterasingan dan isolasi, mencoba mengendalikan kekuatan magis yang semakin berkembang dengan sendirinya. Tidak ada seorang pun yang dapat memberinya panduan atau bimbingan. Hanya dirinya sendiri yang harus mencari cara untuk mengatasi kegelapan yang mengancamnya.
Karmelia dan ibunya, Cecillia, meninggalkan desa yang telah mereka panggil rumah. Mereka berjalan jauh, menuju ke desa-desa lain yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya, berharap untuk memulai hidup baru. Namun, kabar tentang insiden ladang yang terbakar oleh kekuatan Karmelia telah menyebar seperti api liar, dan legenda tentang gadis kecil dengan kekuatan magis ini mengikuti mereka ke mana pun mereka pergi.
Di setiap desa yang mereka kunjungi, warga desa berbisik tentang Karmelia dan ibunya. Mereka melihat mereka sebagai kutukan, sebagai pembawa bencana. Karmelia, yang tak tahu bagaimana mengendalikan kekuatannya, menjadi lebih bersikap hati-hati setiap hari. Ia merasa seperti ibunya harus menderita karena kehadirannya.
...----------------...
Suatu malam, ketika mereka berhenti di sebuah desa kecil untuk beristirahat, mereka mendengar para penduduk desa berbicara tentang mereka di sebuah kedai. Mereka duduk di sudut, menutupi wajah mereka dengan tudung, berharap agar tidak dikenali.
"Kau dengar kabar terbaru tentang gadis ajaib itu?" bisik seorang penduduk desa dengan ketakutan di matanya.
"Ya, kabar itu telah sampai ke sini," kata yang lain. "Mereka mengatakan bahwa semua yang dia sentuh bisa terbakar!"
Karmelia menekan bibirnya dengan keras, mencoba menahan air mata. Ia merasa seperti hidupnya adalah kutukan bagi semua yang ada di sekitarnya.
Ibu Karmelia, Cecillia, meraih tangan anaknya dengan lembut dan memberinya senyuman. "Kita akan menemukan tempat yang aman, Karmelia. Jangan biarkan kata-kata orang lain merusak semangatmu."
Malam itu, mereka tidur di bawah bintang-bintang bersama-sama, berbagi cerita dan harapan. Cecillia mencoba memberikan dukungan kepada Karmelia, meskipun dia tahu bahwa hidup mereka sebagai pengembara akan terus sulit.
Hari demi hari, Karmelia dan ibunya Cecillia terus berkeliaran dari satu desa ke desa lainnya. Mereka menghindari konfrontasi dengan penduduk desa, berusaha menjalani hidup sederhana dengan bekerja sebagai penolong di ladang-ladang atau berdagang barang-barang kecil yang mereka bawa dalam tas mereka.
Namun, tak peduli sejauh mana mereka pergi, legenda Karmelia selalu mengejar mereka. Ia menjadi legenda yang mengembara di bawah langit yang sama yang dulu dia cintai. Terkadang, penduduk desa baik hati memberikan mereka tempat berlindung, tetapi selalu ada ketakutan dan ketidakpercayaan yang menghantui.
Dalam perjalanan mereka, Karmelia mulai memahami kekuatannya dengan lebih baik. Ia belajar untuk mengendalikan emosinya dan berlatih menjaga kekuatannya agar tidak meledak seperti api liar lagi. Ia merasa lebih kuat dan lebih bijaksana, tetapi juga lebih kesepian karena terisolasi dari teman-teman sebaya dan dunia yang dia kenal.
Karmelia dan ibunya berbagi banyak kebahagiaan dan kepedihan selama perjalanan mereka. Mereka tidak tahu di mana akhir perjalanan ini akan membawa mereka, tetapi mereka yakin satu sama lain adalah satu-satunya yang mereka butuhkan untuk tetap kuat di tengah badai kehidupan yang tak menentu.