
Malam telah menggelapkan kota Jakarta, dan langit yang seharusnya cerah penuh bintang, kini terasa seperti malapetaka yang mendekat. The Silent terus menghancurkan kota, dan polisi dengan tekad bulat berjaga untuk menghadapi ancaman tersebut.
"Tangkap mereka!", teriak seorang komandan polisi yang sedang berhadapan dengan puluhan anggota The Silent.
...----------------...
Sementara itu di dalam sel-sel gelap yang tersembunyi, anggota The Silent yang sudah tertangkap tak tanpa identitas. Mereka adalah imigran gelap yang telah diselundupkan ke kota dan dicuci otak oleh organisasi tersebut. Tak ada lagi tanda-tanda identitas manusiawi yang tersisa dalam mereka. Mereka masih dikuasai oleh kendali The Whisperer.
Lestari, dengan mata penuh tekad, duduk bertapa dari dalam gedung tua yang gelap, tempat dia akan menghadapi The Whisperer, Evelyn. Pertarungan pikiran yang mendalam dimulai, meskipun jarak tubuh mereka sangat jauh.
"Lestari, ini bukan urusanmu," bisik The Whisperer dengan suara halus, suara yang seperti angin lembut merayapi telinga. "Menyerahlah! Pikiranmu hanya akan terjerat dalam gelap." Evelyn diam berada di dalam gedung gubernur.
Lestari menutup mata dan merenung sejenak. Dalam kegelapan pikirannya, dia memanggil kekuatan-kekuatan alam di sekitarnya, angin berhembus kencang dan hujan mulai turun membasahi kota.
"Kau tidak akan mampu mengendalikan aku, Evelyn" kata Lestari tegas, mata birunya bersinar terang. "Kebenaran akan selalu kupegang. Aku akan membebaskan seluruh warga kota ini."
Pertarungan pikiran ini adalah pertempuran dalam pikiran, dengan visualisasi gagasan yang membentuk medan perangnya. Lestari dan The Whisperer saling melancarkan serangan dan pertahanan pikiran. Bayang-bayang kegelapan berusaha menutupi kebenaran.
Namun, di tengah pertarungan mental yang sengit, Lestari menemukan celah dalam pertahanan pikiran The Whisperer. Dia mulai meretas lapisan-lapisan pengendalian pikirannya.
"Kau memiliki masa lalu yang kelam, Evelyn," kata Lestari dengan suara tegas. "Apa yang telah mereka lakukan padamu? Mengapa kau memilih kegelapan?"
Terlihat jelas gambaran masa lalu Evelyn Morgan, seorang anak yang di pasung dan di kucilkan oleh pasukan bersenjata. Dia di asingkan dalam sebuah pulau terpencil selama bertahun-tahun karena kemampuan pengendalian pikirannya yang sangat berbahaya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Robert Mahesa, seorang gubernur yang membebaskannya dari jeruji besi dan mengajaknya untuk bergabung menjadi asisten pribadinya.
"Evelyn, kau tak mampu mengendalikan kekuatanmu. Karena itulah mereka memanfaatkanmu", kata Lestari
The Whisperer, meskipun mencoba untuk menahan, mulai terguncang. Dia terlihat ragu, seakan-akan terdorong untuk membuka luka-luka masa lalunya yang dalam. Tiba-tiba air mata menetes di matanya yang merah menyala.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menguasai pikiranku!" teriak The Whisperer dengan susah payah. Dia berusaha keras mempertahankan pengendalian pikiran.
Tetapi, kekuatan kebenaran terus menguat. Lestari terus menggali ke dalam, mengupas lapisan demi lapisan pikiran The Whisperer.
Hujan deras turun dari langit yang tertutup awan, seperti air mata dari langit yang mencerminkan pertarungan dalam hati Evelyn.
Akhirnya, The Whisperer terjatuh. Kedengarannya erangan lemah dari wanita itu, saat dia mengingat masa lalunya yang kelam, kehilangan dan penderitaan yang dia alami. Pemulihan hatinya adalah harga yang harus dibayar oleh orang yang telah melakukan banyak kejahatan atas namanya.
Lestari memandang The Whisperer dengan penuh empati. "Kau sudah terlalu lama dalam kegelapan, Evelyn. Aku akan membantumu pulih."
Setelah jatuhnya Evelyn, anggota The Silent kehilangan kendali, tanpa disadari mereka menjadi orang yang linglung. Polisi segera menangkap mereka dan meminta informasi.
...----------------...
Setelah mengalahkan Evelyn, Lestari berusaha mengungkapkan masa lalu The Clown.
Sebuah hujan deras turun di kota kecil yang terpencil. Jalan-jalan yang sepi tergenang air hujan, menciptakan cahaya reflektif dari lampu-lampu jalan yang jarang terlihat di kota ini. Di tengah hujan deras ini, seorang pria muda, bernama Adam, berdiri di pinggir jalan dengan bungkusan basah di tangannya.
Dia terluka, wajahnya tertutup luka lebam dan mata memerah karena menangis. Basah kuyup dan dingin, dia mencoba menjalani hidup yang tidak pernah dia bayangkan.
Tepat di depannya, ada seorang wanita tua yang membawa payung. Wanita bernama Siti itu menatapnya dengan penuh simpati. "Nak, apa yang terjadi padamu?" tanya wanita tua itu dengan suara lembut.
Adam menatap wanita tua itu dengan mata kosong. "Aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Mereka... mereka mengusirku. Mereka mengatakan aku tak berguna."
Wanita tua itu segera mengenali kebingungan dan ketakutan dalam kata-kata anaknya. Dia mendekatinya dan meletakkan tangan di pundak Adam. "Nak, jangan khawatir. Kita akan menghadapinya bersama-sama."
Mereka berjalan pulang menuju rumah kecil, di mana mereka tinggal sebagai orang miskin. Meskipun mereka miskin, mereka saling menyayangi satu sama lain. Itu sudah cukup. Bu Siti menganggap Adam seperti anaknya sendiri.
Namun, kebahagiaan mereka berdua hancur pada suatu malam. Sejumlah orang muncul di depan rumah mereka, wajah-wajah yang bengis dan brutal. Mereka adalah penjahat yang datang untuk mengambil harta mereka.
Wanita tua itu memeluk anaknya. "Tenang, kita memberikan saja apa yang mereka mau Adam."
Mereka memberikan semua yang mereka miliki, tetapi itu tidak cukup. Orang-orang itu mulai memukuli wanita tua itu, merampas apa yang ada pada mereka. Adam mencoba melawan, tetapi dia juga dianiaya.
Dan di tengah kekerasan itu, sesuatu yang patah dalam diri Adam. Dia merasa seperti dunia ini telah membuangnya, bahwa tidak ada tempat untuknya di sini. Ketika dia jatuh ke tanah basah dari hujan dan darahnya sendiri, dia tahu bahwa hidupnya telah berubah selamanya.
Pada saat itu, dalam cerita masa lalu yang kelam ini, The Clown lahir. Adam tidak lagi percaya pada kebaikan dalam dirinya. Dia merasa bahwa dunia ini adalah sirkus yang tidak adil, dan dia memutuskan untuk menjadi bagian dari kekacauan itu.
Demikianlah The Clown, seorang yang terluka yang telah merasakan penderitaan, menjadi bagian dari The Silent. Dia memilih untuk menyembunyikan identitas aslinya dan menutupinya dengan topeng yang aneh dan menakutkan. Dia menciptakan persona yang sangat berbeda dari dirinya yang dulu.
Dalam penyamarannya yang gelap, The Clown mendapatkan kekuatan untuk mengatasi rasa sakit dan kehilangan yang pernah dia alami. Dia menjadi anggota yang berbahaya dari The Silent, menambahkan kekerasan dan kekacauan ke kota-kota yang dia kunjunngi.
...----------------...
Di tempat lain di kota yang terbakar, Wirapati berdiri tegak di tengah jalan yang hancur, dengan langit yang dipenuhi asap dan suara ledakan yang menggelegar. Dia adalah satu-satunya harapan bagi kota ini.
Wirapati menghadapi pertarungan terakhir melawan The Clown, The Skillshifter, dan Shadowblade. Tiga kekuatan besar ini berkumpul untuk menghadapinya.
The Clown, dengan tawa jahatnya,"Haha haha haha! Wirapati menyerahlah!", dia melemparkan kartu-kartu itu ke Wirapati. Tetapi dengan cepat Wirapati menghindar. Sementara Lestari memberikan gambaran-gambaran masa lalu The Clown kepada Bima. Gambaran itu terlihat jelas seperti video yang berputar dalam dirinya.
"Bim, kegelapan akan selalu tunduk pada kebenaran", bisikan Lestari dari jauh kepada Bima. Bima hanya tersenyum.
The Clown kembali melemparkan sebuah kain panjang ke arah Wirapati, kain itu berubah menjadi rantai api yang menyala secara tiba-tiba. Dengan kecepatan tinggi Wirapati menangkisnya dan memukul balik The Clown ke arah tembok. The Clown terpental jauh hingga menabrak tembok, dia terbatuk dan darah keluar dari mulutnya.
"Sudahi ini Adam", kata Wirapati. "Sudahi semua pertunjukan sirkusmu, ini waktunya kau kembali menjadi Adam".
"Adam sudah mati!", teriak The Clown. "Jangan panggil nama itu lagi!".
"Adam, Aku sudah melihat semuanya, masa lalumu. Ingatlah dia yang mengorbankan hidupnya demi menyelamatkanmu. Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia.", kata Wirapati.
"Kau... Kau...Kau benar..", ucap Adam lirih melepas topengnya, tergeletak tak berdaya. Sementara hujan terus membasahi jalanan kota itu.
"Kau badut yang lemah!", teriak Robert di dekatnya, sembari melontarkan pukulan ke arah The Clown. Tetapi dengan kecepatan penuh Wirapati menghalangi pukulan itu dan mengenai perutnya hingga ia terpental ke sebuah tembok.
"Mengapa kau menolongku?", tanya Adam.
Wirapati bangkit berdiri dari pukulan Robert, "Karena kita mempunyai kesamaan Adam, bedanya aku lebih beruntung memiliki sahabat-sahabat di dekatku".
Wirapati bangkit berlari ke arah Robert dan melontarkan pukulan tajam. Pukulan itu tertahan oleh Robert, yang hanya menggeser posisinya beberapa meter.
Sementara Robert menahan serangan Wirapati, Shadowblade dengan kecepatannya menusukan pedangnya ke arah Wirapati dari belakang menuju pundaknya. "Terima ini!", teriak Shadowblade. Wirapati tak sempat untuk menghindar, tetapi Adam dengan tenaga dan kekuatan yang tersisa menghalangi tusukan pedang itu. Pedang itu tepat mengenai dadanya.
"Adam! Tidak!", teriak Wirapati terkaget akan keputusan terakhirnya. "Wirapati, tolong lindungi kota ini", kata-kata terakhir itu keluar dari mulut Adam yang tergeletak lemas. Detak jantungnya sudah tak terdengar lagi.
Suasana kelam menyelimuti kota, hujan turun semakin deras sementara Wirapati menangis dalam hatinya melihat pengorbanan Adam yang menyelamatkannya. "Adam, perjuanganmu telah berakhir, beristirahatlah dengan tenang", sambil membawa jasad Adam dan meletakkannya di pinggir jalan.
"Sudah sepantasnya dia seperti itu", ucap Shadowblade. Dengan penuh kekuatan Wirapati berlari secepat kilat, melompat ke arah Shadowblade dan melontarkan tendangan ke arah mukanya. Shadowblade tak mampu menghindar, hanya mengayunkan pedang dari serangan itu, pedang itu hancur berkeping-keping. Shadowblade terpental jauh dan tak sadarkan diri.
"Robert Mahesa! Menyerahlah!", teriak Wirapati di hadapannya.
"Aku takkan menyerah sedikitpun Wirapati, kekuatan ini sungguh luar biasa hahahaha, tak kusangka kau memiliki kekuatan sebesar ini." kata Robert
Pertarungan ini akan berlanjut....