
Malam itu, di dalam laboratorium rahasia Abyssian yang tersembunyi di dalam gedung tua yang terabaikan di pinggiran kota Jakarta, atmosfer penuh dengan ketegangan dan antisipasi. Pada kursi yang dingin dan keras, seorang pria bernama Marcelus duduk terikat, tatapannya kosong, dan tubuhnya tegang dalam ketidakpastian.
...----------------...
Marcelus berasal dari masa lalu yang kelam. Namanya dulu dihormati di dunia militer, seorang prajurit ulung yang telah menghadapi kengerian perang, menyelesaikan tugas-tugas sulit, dan mendedikasikan hidupnya untuk melindungi negaranya. Namun, seiring berjalannya waktu, perang merusak jiwa dan pikirannya, meninggalkan luka-luka yang tak terlihat yang perlahan-lahan merenggut dirinya.
Masa lalunya dimulai sebagai seorang anak muda yang bersemangat dan penuh kehidupan. Marcelus tumbuh dalam keluarga yang bahagia di sebuah desa kecil di pedalaman Indonesia. Ayahnya adalah seorang petani yang gigih, sementara ibunya adalah sosok yang lembut dan penyayang. Marcelus memiliki adik perempuan yang menjadi kebahagiannya, dan dia memimpikan masa depan yang cerah.
Masa kecil Marcelus diwarnai dengan kenangan indah bermain di sawah, menyelam di sungai terdekat, dan mendengarkan cerita-cerita ayahnya di bawah bintang-bintang. Pada saat itu, dunianya adalah dunia kecil yang penuh cinta dan harapan. Dia tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan penuh semangat, bermimpi untuk melampaui batasan desanya dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Ketika konflik pecah di wilayahnya, Marcelus merasa panggilan tugas untuk melindungi tanah airnya. Dia mendaftar di militer dan menjalani pelatihan yang keras. Perang mengubahnya secara mendalam, merobek naifitasnya dan menggantikannya dengan ketakutan, kekecewaan, dan trauma yang tak terlupakan.
Ketika dia akhirnya kembali ke desanya, dia menemukan bahwa desanya telah menjadi reruntuhan dan keluarganya telah tiada. Kegelapan perang telah merampas segala-galanya yang pernah dia kenal. Marcelus merasa kecewa pada negaranya yang gagal melindungi rakyatnya dan kemudian merasa hampa, terpuruk dalam kebingungan.
Itulah saat dia pertama kali bertemu dengan Viper. Viper adalah seorang agen rahasia yang dikirim oleh Abyssian untuk mencari individu yang berpotensi untuk menjadi senjata mereka. Dia melihat dalam Marcelus potensi untuk menjadi alat yang sangat kuat dalam rencana jahat Abyssian. Marcelus tidak lagi mempercayai negaranya dan merasa hampa. Itu membuatnya menjadi sasaran sempurna bagi Viper.
Saat Marcelus mengembara tanpa tujuan, merasa terasing dan bingung, dia tiba-tiba didekati oleh seorang wanita yang misterius. Rambut hitamnya menjuntai seperti sutra, dan matanya memiliki kilau yang menarik. Namun, yang paling mencolok adalah aura kekuatan dan otoritas yang memancar darinya. Itulah pertemuan pertama Marcelus dengan Viper.
...----------------...
Marcelus berdiri di tengah malam di dekat batu nisan tua di pemakaman desanya yang hancur. Angin malam berbisik lembut, mengingatkannya pada kenangan masa lalu yang pernah begitu bahagia. Di bawah sinar rembulan, ia memandang batu nisan yang sudah hampir tertutup oleh semak belukar yang tidak terurus.
"Keluargaku, maafkan aku," bisiknya dengan mata berkaca-kaca. Kenangan masa kecil yang indah menyeruak kembali ke dalam pikirannya. Dia mengingat senyum ayahnya, kebahagiaan yang mereka rasakan saat bermain di sawah, dan canda tawa adik perempuannya. Semua itu telah hilang dalam badai perang yang mengerikan.
Tapi yang membuatnya paling berduka adalah ketika dia menyadari bahwa dia adalah yang tersisa. Ayah, ibu, dan adiknya telah pergi. Mereka menjadi korban perang yang tidak berkesudahan, dan dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi mereka.
Dalam keheningan malam, Marcelus merasa sesuatu yang tidak biasa. Sebuah bayangan hitam muncul di depannya, seakan-akan terlahir dari kegelapan itu sendiri. Itu adalah Viper, sosok yang pernah menawarkannya jalan keluar dari keputusasaannya.
"Marcelus," bisik Viper dengan suara halus yang merayap ke dalam telinganya. "Kau ingat saat pertama kita bertemu di sini?"
Marcelus mengangguk, matanya terpaku pada sosok Viper. "Kamu adalah satu-satunya yang tahu kehancuran yang aku alami. Kamu menawarkan aku sesuatu... sesuatu yang bisa memberiku kekuatan."
Marcelus merasa emosinya berkobar. Ia ingin membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan keluarganya, pada perang itu sendiri, dan pada negaranya yang gagal melindungi rakyatnya. Tetapi ada ketidakpastian dalam hatinya. "Apa yang harus aku lakukan?"
Viper tersenyum dengan tulus, tetapi senyumnya penuh dengan kegelapan. "Ikuti aku, Marcelus, dan aku akan memberikanmu kekuatan yang tak terbatas. Kita akan mengubah dunia sesuai keinginan kita."
Masa lalu Marcelus yang kelam dan luka-lukanya yang dalam memainkan peran besar dalam keputusannya untuk mengikuti Viper. Dia merasa bahwa inilah satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali kekuatan dan keadilan yang telah dirampas darinya.
...----------------...
Beberapa bulan kemudian, Marcelus ditemukan di laboratorium rahasia Abyssian, mengikat pada kursi yang tidak manusiawi. Dia adalah subjek eksperimen Viper yang dirancang untuk menghasilkan senjata baru yang kuat dalam rencana Abyssian untuk menghilangkan Wirapati, Bima.
Viper dan Marco, petarung kuat yang juga adalah hasil eksperimen Abyssian, berdiri di depan Marcelus yang terikat. Viper memandangnya dengan ekspresi yang dingin, sementara Marco menanti dengan antisipasi. Marcelus merasa perubahan besar dalam dirinya, tubuhnya yang sekarang lebih keras dari besi dan jiwa yang berdebat dengan kemungkinan kekuatan yang bisa dia miliki.
"Marcelus," kata Viper dengan suara yang tajam, "kau akan menjadi senjata baru Abyssian. Dengan kekuatan yang kami berikan padamu, kau akan menjadi satu-satunya yang dapat menghadapi Wirapati."
Marcelus mengangguk, meskipun ada kebingungan dan keraguan dalam matanya. Dia merasa seperti dia telah menjual jiwa dan martabatnya sendiri kepada kekuatan yang jahat, tetapi obsesi untuk membalas dendam dan kekuatan yang telah dia raih terlalu kuat untuk diabaikan.
Viper memegang jarum suntik yang berisi serum yang akan mengubah tubuh Marcelus. "Ketahuilah, Marcelus, bahwa ini adalah saat perubahan yang tidak dapat diubah lagi. Kekuatan ini akan menghapus batasan-batasan manusia yang ada padamu. Bersiaplah."
Dengan jarum suntik yang menyilaukan, Viper menusukkan serum itu ke dalam tubuh Marcelus. Rasa sakit yang luar biasa melanda Marcelus. Tubuhnya terasa seperti terbakar dalam api biru yang melonjak-lonjak. Dia merasa sel-selnya berubah, memutarbalikkan dirinya menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
Dalam kegelapan yang mendalam, dia merasakan kekuatan mengalir melalui dirinya. Kulitnya mengkilap seperti logam, dan dia bisa merasakan kemampuannya yang baru dengan segera. Tidak ada lagi batasan fisik, ia bisa mengubah tubuhnya menjadi besi yang tak terkalahkan.
Namun, selain kekuatan itu, ada juga sesuatu yang mengerikan yang dia rasakan. Suatu perasaan bahwa sebagian dari dirinya sendiri telah hilang dalam proses ini. Ketika ia melihat ke cermin di laboratorium yang penuh dengan asap dan cahaya biru, ia merasa seperti melihat wajah yang sudah lama hilang.
Viper dan Marco melihat hasil eksperimen mereka dengan senang hati. Marcelus adalah ciptaan baru mereka, senjata yang akan digunakan untuk menghilangkan Wirapati. Tetapi apa yang tidak mereka ketahui adalah bahwa dalam diri Marcelus, ada perang batin yang sedang berkecamuk. Suatu bagian dari dirinya menolak menjadi alat pembunuhan yang dinginkan Abyssian.
Marcelus dibiarkan terikat pada kursi laboratorium, menghadapi pertarungan dalam dirinya yang lebih besar daripada yang pernah ia alami sebelumnya. Apakah ia akan terus menjadi alat Abyssian atau mampukah ia menemukan jalan untuk menggunakan kekuatannya demi keadilan yang sejati? Apakah Wirapati akan kembali?